Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 150: Ketika Gerbang Ghaib dibuka


__ADS_3

Ini adalah proses meraga Sukma. Ketika mata mereka terpejam. Maka Rachel juga Cak Dika sudah berada tepat di alam sebelah.


Suasana suram itu menyambut mereka. Senandung suara tangis mbak Kunti juga menggema.


"Manusia? Kenapa kalian datang kemari?" tanya suara-suara wanita dengan rambut panjangnya.


Mereka berada tepat di ujung jalan. Para Kuntilanak itu menembus dinding-dinding rumah. Mereka melakukan itu berulang kali seperti menjaga pintu masuk rumah itu agar tidak dimasuki.


"Apa Nyai Ratu sudah kamu panggil?" tanya Cak Dika pada Rachel di sampingnya.


Rachel mengangguk namun matanya tetap fokus menatap lekat ke arah bidadari ghaib yang sekarang sedang cosplay satpam.


"Digaji berapa mereka sampai mau berlalu lalang gitu?" tanya Rachel ngawur.


Cak Dika terkekeh mendengar apa yang Rachel tanyakan. Sambil menunjuk ke arah Kuntilanak itu Cak Dika pun berkata,


"Jadi gimana? Battle Royal aja kita sama mereka?" tanya Cak Dika pada Rachel.


"Hah... Siap!" jawab Rachel yakin.


Keduanya kemudian membaca beberapa doa. Ini adalah rapalan ilmu kejawen. Sambil tetap membaca rapalan ilmu kejawennya.

__ADS_1


Baik Cak Dika dan Rachel melangkah semakin mendekati para rombongan kuntilanak yang masih berdiri membelakangi sebuah pintu.


Samar-samar di antara helaian rambut sang bidadari ghaib itu. Bibir pucatnya nampak tersenyum.


Suaranya semakin melengking tawanya tiap kali Cak Dika dan Rachel mendekati mereka. Hingga tiba ketika jarak demi jarak itu terkikis.


Hanya menyisakan lima langkah lagi kemudian. Beberapa sosok kuntilanak itu lantas bersimpuh di hadapan mereka.


Mereka tidak bicara sepatah katapun. Perlahan tubuh ghaib itu berangsur-angsur pergi dari hadapan Cak Dika dan Rachel. Menyisakan satu pintu yang masih tertutup.


"Kita buka, Cak?" tanya Rachel pada Cak Dika.


Ketika pintu itu didorong. Sungguh apa yang mereka lihat di dalam sana membuat mereka terbelalak.


Ada sosok tinggi besar menghadap ke arah mereka. Dia berpakaian jawara. Dia menatap kehadiran Rachel dan Cak Dika datar.


Wewangian dari dalam ruangan itu semerbak. Ketika Cak Dika dan Rachel mengalihkan pandangannya ke bawah kaki sosok besar itu.


Nampak seorang wanita dengan pakaian pengantin menangis di sana. Entah apa yang dia tangisi di sana?


Gaun putihnya dipenuhi noda bercak darah. Tubuhnya kurus dan dia tinggi. Rambutnya terurai berantakan. Tangannya juga kurus. Bibirnya pucat begitu pula dengan wajahnya.

__ADS_1


"Kamu yang mengambil dia bukan?" tanya Cak Dika mulai bersuara.


"Hihihihi.." sosok wanita itu masih menangis di sana seakan dia tidak peduli pada apa yang Cak Dika katakan.


Rachel dan Cak Dika saling bertatapan sebentar. Kemudian mereka kembali fokus menatap sosok itu.


"Kami tau kamu bukanlah pemilik asli rumah ini! Kami melihatmu di antara jendela rumah ini sebelum kami menjelajah kemari. Jadi sebenarnya apa yang kamu inginkan?" tanya Rachel padanya kali ini.


Lantas pertanyaan itu membuat kepala sosok itu yang tadinya menunduk mulai terangkat. Kedua bola matanya putih. Tak ada titik hitam di sana.


"Aku ingin kalian melepaskan dua anak kecil ini untukku!" jawab sosok itu sambil tersenyum dengan bibir pucatnya.


Tunggu, sosok setan ini baru saja mengatakan dua anak kecil. Cak Dika dan Rachel tertegun. Ketika melihat Barend yang muncul di balik tubuh sosok itu.


"Rachel tolonglah aku!" teriak Barend pada Rachel di sana.


Sungguh Cak Dika tak habis pikir. Bagaimana maungnya bisa kalah dengan setan seperti ini. Padahal maungnya adalah maung kerajaan.


Seharusnya setan sekelas teri ini tidak bisa mengalahkan maungnya. Tapi ini apa? Maungnya hilang dan Barend ditangkap.


"Aku tau kau pasti sangat terkejut bukan?" ujar sosok setan pengantin.

__ADS_1


__ADS_2