Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 174 : Pemuja Pohon Beringin (Bagian 2)


__ADS_3

"Pak, saya sudah katakan pada Bapak! Sudah saya bilang, gak perlulah kita pakai mainan barang negatif kayak gitu! Tapi, bapak itu pengkuh! Kegilaannya sama harta itu buat dia seperti ini sekarang. Ibuk kami mati, malam itu gantung diri di pohon beringin dekat danau sama pemakaman yang letaknya cukup jauh dari pemukiman!" ujar seorang gadis bercerita sambil menangis di hadapan Mas Suhu dan Bella.


Ya, mereka saat ini sudah sampai di kediaman Bapak dari gadis ini. Di samping gadis ini ada satu gadis lagi yang lebih kecil umurnya daripada gadis ini. Kedua gadis ini tak lain adalah Tania dan Vio.


Sang Bapak bernama Eko. Dia terduduk mendengarkan keluh kesah sang anak. Sungguh dia benar-benar tidak tau bahwa pesugihan yang dia jalani ini akan memakan korban jiwa yaitu istrinya sendiri.


Padahal saat pertama kali datang sang dukun. Dukun itu berkata kepadanya bahwa pesugihan yang dia ambil ini aman. Tidak akan meminta nyawa manusia.


"Maafkan bapak, nak! Bapak benar-benar tidak tau bahwa pesugihan ini akan seperti ini. Persetujuan dari awal dengan dukun itu tidak ada perjanjian di mana sang iblis akan meminta nyawa manusia!" ujar Pak Eko menyesal.


Buliran air mata keluar dari dalam kelopak matanya. Istri tercintanya sudah pergi. Dia hampir frustasi rasanya. Bahkan tak jarang banyak sekali cibiran mengarah kepada keluarga Pak Eko.


Sebab kehidupan mereka itu bahagia. Dengan berlimpah kekayaan yang terus menerus ada. Tetapi, istrinya malah ditemukan bunuh diri di pohon beringin.


"Bapak itu pembunuhnya ibuk! Secara gak langsung, bapak sudah makankan ibuk ke iblis itu, Pak!" ujar Tania yang saat ini juga menangis.


Bagaimana tidak, ibu tercinta mereka mati mengenaskan. Sudah selang sekitar dua Minggu lebih sejak kepergian ibunya. Kepedulian dan cinta kasih ibu terhadap mereka sudah hilang dan mereka merindukannya sungguh.


Melihat uneg-uneg keluarga saling dilemparkan itu membuat Bella sejenak menghela nafas.


"Sudah!" ucap Bella.


Ketiga anggota keluarga itu sontak fokus menatap Bella. Vio menatapnya dengan tatapan sedih lalu Tania yang masih menangis dan Pak Eko yang juga menangis.


"Jadi, bapak mau dibantu apa?" tanya Bella pada Pak Eko.


Mendengar itu Pak Eko pun kembali menatap kedua putrinya.

__ADS_1


"Tolong saya mbak! Awalnya pesugihan ini yang meminta itu ibuk mereka. Kamu melakukannya berdua. Dulu kami miskin cuma bergantung sama usaha bunga yang lakunya jarang. Sampai buat beli susu dan popok adek saja kami gak mampu. Mbak, harta dulu di mata kami itu penting. Sampai rela melakukan kebejatan ini lalu ingkar pada Tuhan. Malam itu iblisnya minta tumbal. Dia minta salah satu dari anak kami. Tapi karena Sri istriku ndak tega, dia mengajukan diri! Selama satu tahun istriku dibuat gila mbak. Dia ngelihat makhluk itu selalu datang menyerangnya. Cuma dia saja yang bisa liat makhluk itu! Mbak, saya takut! Saya takut keluarga saya akan dirampas lagi dari saya. Anak-anak saya bagian dari diri saya. Saya gak mau mbak kalau sampai harus kehilangan mereka, mbak. Tolong bantu saya mbak, tolong!" ujar Pak Eko menjelaskan perihal keluh kesahnya juga permintaannya.


Mas Suhu iba sekali melihat apa yang Pak Eko lakukan. Seorang bapak yang menyesal menangis di hadapan mereka sambil mengatupkan kedua tangannya. Sungguh menyedihkan.


"Iblis, selalu punya caranya sendiri buat memanipulasi manusia Pak!" ujar Mas Suhu yang saat ini mulai angkat bicara.


Bella diam, dia mencoba mendengarkan apa yang akan Mas Suhu katakan. Musuh mereka saat ini cukup berat memang. Sebab berurusan langsung dengan atasan setan yaitu iblis.


Sungguh, mungkin jika mereka berdua di sini membantu Pak Eko. Maka mereka harus melakukan pengorbanan. Merelakan sesuatu yang entah apa itu nanti?


Iblis ini bukan setan yang seperti Laras dan Aldo hadapi dahulu. Ini iblis dengan tingkatan kemampuan tinggi. Entah apa yang akan diminta iblis itu sebagai penggantinya?


"Jika saya katakan pada Bapak realita yang sedang bapak hadapi saat ini. Apakah, anda bersedia menerimanya dengan lapang dada?" tanya Mas Suhu serius kali ini sambil menatap ke arah Pak Eko.


"Adakah berita duka dari ucapan kamu setelah ini selain kehilangan lagi, Mas?" tanya Pak Eko yang masih menangis.


Mencegahnya akan membuat pertempuran yang menyangkut pautkan nyawa. Mas Suhu akan berpikir dua kali untuk mempertaruhkan nyawanya. Tapi sungguh, jika satu anak lagi dikorbankan mungkin Mas Suhu bisa menolong keluarganya Pak Eko.


Dengan berat hati maka Mas Suhu menatap Tania. Dia kemudian menatap Bella di sampingnya. Hatinya teriris-iris rasanya tiap kali melihat kesedihan di dalam mata Tania. Anak itu tidak tau bahwa dia saat ini sedang menjadi tumbal kedua.


"Tolong, bawa anak-anak ini keluar dulu, dek!" perintah Mas Suhu kepada Bella yang duduk di sampingnya.


Bella tidak banyak berprotes. Mendengar itu dia pun bangkit dari duduknya lalu menghampiri dua gadis remaja itu.


"Ayo ikut kakak sebentar!" ajak Bella kepada Tania dan Vio.


Mendengar itu baik Tania dan Vio pun menurut. Mereka bertiga pun pergi dari ruang tamu itu membiarkan Mas Suhu dan Pak Eko menikmati privasinya.

__ADS_1


"Jadi, Mas?" tanya Pak Eko kepada Mas Suhu.


Mas Suhu membuang kasar nafasnya lalu menatap lekat ke arah Pak Eko.


"Pak, saya masih banyak waktu yang belum saya nikmati. Saya masih punya keluarga. Saya mau membantu bapak tetapi saya tidak ingin melibatkan nyawa saya. Tapi.."


Ucapan Mas Suhu terpotong ketika akan menjelaskan perihal kenyataan pahit itu.


"Bapak masih bisa menyelamatkan anak bapak. Dengan syarat, korbankan anak sulung bapak untuk iblis itu. Untuk anak bapak yang kedua, saya masih sanggup menolongnya. Walaupun nanti sepertinya, saya akan terluka parah setelah menolong bapak. Juga, kekayaan bapak ini akan lenyap. Ditambah, mungkin bapak akan menderita penyakit setelah ini berhasil!" jelas Mas Suhu.


Pak Eko tak percaya rasanya. Benar dugaannya bahwa tidak ada yang bisa dia perbuat lagi. Selanjutnya keluarganya juga akan diambil oleh iblis itu.


"Jika untuk menyelamatkan kedua anakku nyawaku harus dikorbankan, mas! Maka tolong lakukan!" ujar Pak Eko memohon lagi.


Sendu rasanya melihat keadaan bapak ini ketika memohon.


"Maaf, Pak! Pesugihan ini sudah terjadi. Anak bapak Tania, sudah diintai oleh makhluk itu. Dia sudah meninggalkan tanda kepada Tania. Tidak lama lagi, anak bapak itu akan ikut pergi! Makhluk itu, menginkan anak anda. Bukan anda! Saya hanya bisa menyelamatkan satu saja! Saya hanya manusia, Pak! Kemampuan saya terbatas. Tuhan titipkan pada saya kemampuan ini. Maka saya akan menggunakannya sebaik yang saya bisa!" jelas Mas Suhu kepadanya.


Hati orang tua mana yang tidak hancur ketika dihadapkan dalam dilema itu. Bukan Ayah adalah pelindungnya anaknya? Tetapi sekarang peran sebagai pelindung buah hatinya, tidak mampu Pak Eko jalankan.


Penjelasan Mas Suhu membuatnya menangis sesenggukan. Mas Suhu memfokuskan matanya ke arah satu lorong. Di sana berdiri sosok yang membantu Pak Eko selama ini. Dia tinggi besar dengan lidah yang menjulur hingga pusar.


Makhluk itu menatap benci ke arah Mas Suhu sekarang. Suara berat itu masuk ke dalam pendengaran Mas Suhu. Makhluk iblis di sana itu lantas berkata,


"Kau bantu dia, kau akan mati!"


Sebuah gerakkan yang cukup berat rasanya. Tapi sungguh, setelah pertolongan ini mungkin Mas Suhu akan terluka cukup parah. Mas Suhu tersenyum kecil kemudian dia teringat kepada Bellanya.

__ADS_1


Setidaknya akan kusampaikan sebelum itu terjadi!. Lirih Mas Suhu dalam hatinya.


__ADS_2