
Berhati-hatilah selagi hidup. Sebab segala sesuatu yang kita lakukan nanti akan ada balasannya. Sebab kita ini diawasi oleh sang pencipta kita.
Maka jangan anggap hirupan nafasmu ini adalah milikmu. Ini ada biaya sewanya. Biaya itu adalah ibadah dan rasa syukur kita.
Jika hidupmu sampai melenceng di jalan kesesatan. Maka, Tuhan akan menamparmu sangat keras hingga mati. Seperti halnya kaum Sodom, kaumnya nabi Luth.
Yang diberikan banyak sekali kenikmatan tapi nyatanya malah beralih ke arah jalan kemaksiatan. Karma seperti warga sodom saat itu tidak berhenti hanya di masa itu.
Masa yang berjalan pun masih ada manusia bejat yang bertindak sama seperti mereka para kaum Sodom. Maka yang menimpa desa Legetang ini diberi nama Sodom Gomoroh.
Matahari pagi saat itu mulai nampak teriknya. Beberapa petani berlalu lalang menuju area persawahan. Letaknya ada di area dusun Legetang.
Ini sudah dua hari mereka berlalu lalang sambil menatap sebuah tenda yang berdiri di dekat tugu peringatan musibah Legetang.
Salah seorang dari mereka berhenti tepat di depan tenda itu. Sambil membawa cangkul dan celurit dia Anam, memperhatikan tenda yang kosong itu.
"Nam!" sapa seorang teman Arman yang juga petani. Sebut saja namanya adalah Reyhan.
Anam menoleh sekilas lalu kembali memperhatikan tenda kosong itu.
"Enek opo toh, Man?" tanya Reyhan ketika sudah berada di sampingnya Anam.
(Ada apa, Man?)
"Itu loh, kenapa ada tenda di sini dan ini udah dua hari loh! Pemiliknya kemana, ya?" tanya Anam bingung.
Reyhan tersenyum miring mendengar itu.
"Palingan wonge mlayu, Man! Kan, Iroh dewe toh? Yen ndeso Iki biyen wargae mati kabeh. Palingan yo diwedeni cah e!" jawab Reyhan pada Anam.
(Mungkin orangnya lari Man! Kan, tau sendiri? Kalau desa ini dulu warganya mati semua. Mungkin ya ditakuti orangnya!)
"Tetep wae Rey, Iki aneh! Kudue tendo dipundut toh, tapi Iki ora!" ucap Anam pada Reyhan.
(Tetap aja Rey, ini aneh! Harusnya tenda diambilkan, tapi ini ngga!)
"Lah nek bocah e wedi, wis ora mikir sampe kunu loh!" jawab Reyhan lalu berbalik sambil memanggul cangkulnya di bahu.
(Lah kalau orangnya ketakutan, ya gak mikir sampai kesana loh!)
"Heh..." ucap Reyhan berhenti sejenak lalu menoleh ke arah Anam.
"Ha?" tanya Anam menoleh ke arahnya.
"Ayo wes, garapan akeh ki! Ndang dicandak selak mandor ngoceh!" ucap Rey padanya.
(Ayolah, pekerjaan banyak ini! Cepat dikerjakan sebelum mandor ngomel!)
Anam mengangguk dia pun juga ikut berbalik berjalan ke arah Reyhan. Baru sepuluh langkah kaki mereka menjauhi tenda itu.
Seorang kakek tua berpakaian putih seperti ulama datang mendekati tenda itu. Dia datang bersama dengan beberapa rombongan orang.
Hal itu membuat Reyhan dan Anam berhenti lalu menoleh lagi ke belakang. Ke arah rombongan dan kakek tua yang menuju ke arah tenda itu.
Reyhan dan Anam saling tatap. Rombongan itu sudah tidak asing di mata mereka. Mereka seperti mengenal rombongan itu.
__ADS_1
Lama mereka mencoba mengingat akhirnya mereka tau siapa rombongan yang baru saja datang itu. Itu adalah Gautama Family, rombongannya Cak Dika dan Rachel.
"Asuh! Kok isok ketemu artis nak kene Nam!" ujar Reyhan sumringah setelah mengucapkan sumpah serepah.
Anam juga ikut senang melihat itu. Tapi sepertinya ada sesuatu yang gak beres perihal tenda itu di sana. Jika Cak Dika dan tim dipanggil, maka ada sesuatu yang buruk terjadi di situ.
"Wis nanti aja kita minta foto sama tanda tangannya! Sekarang kerja aja dulu!" ucap Anam pada Reyhan di sampingnya.
Anam berjalan mendahului Reyhan. Reyhan pun juga sama, dia berjalan menjauh dari tenda itu.
Kembali pada Cak Dika dan kakek tua yang dikenal dengan nama Abdullah di sini. Dia adalah salah satu penduduk di sini.
Pak Abdullah lah yang memanggil Cak Dika dan rombongannya kemari. Sebab sudah sejak dua hari lalu dia melihat keberadaan tenda ini.
Pak Abdullah ini orang awam. Orang taat agama dia adalah seorang kyai di sini. Sambil bertasbih sesekali Pak Abdullah menjelaskan pada Cak Dika dan Rachel jika dia merasakan kalau ada hawa hidup di dalam tenda itu.
Dua hari tepatnya pukul tiga pagi. Pak Abdullah diminta oleh kepala desa untuk memeriksa daerah sengkedan tepatnya di sini.
Ketika Pak Abdullah melewati tugu dan melihat tenda ini. Pak Abdullah mendengar ada suara teriakan di dalamnya. Merasa ada yang tidak beres, Pak Abdullah pun berlari menghampiri tenda itu.
Tapi, ketika dibuka nyatanya tak ada apapun di dalam tenda itu. Hanya ada beberapa makanan ringan berserakan dan lampu atap tenda yang menyala.
Ketika dia kembali ke desanya. Pak Abdullah pun melapor pada kepala desa perihal kejadian itu. Saat itu, salah satu warga memberi usul untuk mendatangkan Cak Dika ke area ini.
"Iya Pak, saya juga merasakannya kok!" jawab Rachel setelah Pak Abdullah menceritakan perihal apa yang dia rasakan di depan tenda itu.
"Lah nggih, mbaknya ini sama masnya kan terkenal suka bantu orang. Jadi kalau memang ada yang dibawa ke alam sebelah saat ini. Tolong bantu mereka keluar ya!" ucap Pak Abdullah pada Rachel.
Cak Dika sejak tadi memeluk tubuhnya sendiri sambil sesekali mengusap-usap tangannya. Ini pagi, tapi Dieng adalah dataran tinggi. Ini lebih dingin dari rumah Rachel yang berada di kaki gunung.
"Iya, kita bantu Pak! Malam ini kita bakalan nginap di sini! Tapi pak, saya butuh beberapa persediaan selama bertahan hidup di sini!" ujar Cak Dika pada Pak Abdullah.
"Opo toh, Le? Ngomong aja gapapa!" jawab Pak Abdullah sambil tersenyum pada Cak Dika.
"Saya butuh kompor dan kopi pak! Selimut juga sleeping bag!" ucap Cak Dika yang langsung ditoyor kepalanya oleh Bella.
"Aduh!!!" pekik Cak Dika terkejut lalu menoleh ke samping ke arah Bella yang menatapnya datar.
"Abah Iki ora dodolan ngunu! Abah iki kyai, mok jaluki ngunuan!" ucap Bella padanya.
(Abah ini gak jualan gituan! Abah ini kyai, kamu minta gituan?)
"Lah piye, aku katuken ikiloh! Mati ngadek isok-isok aku, dek!" jawab Cak Dika.
(Lah mau gimana, aku mengigil ini loh! Bisa-bisa mati berdiri aku dek!)
Rahman tertawa mendengar itu, dia pun berkata.
"Ben e nanti kamu dipeluk sama mbak Rara aja! Hangatkan nanti?" jawab Rahman menimpali.
(Biar nanti kamu dipeluk sama mbak Rara aja! Hangatkan nanti?)
"Hangat mbahmu! Ngadek engko anu!" jawab Rara di belakangnya Rahman.
(Hangat mbahmu! Berdiri nanti anu!)
__ADS_1
Cak Dika melongo tak percaya mendengar jawaban dari Rara yang menurutnya cukup berani itu.
"Apane sing ngadek?" tanya Rahman pada Rara.
(Apanya yang berdiri?)
"Wonge!" jawab Rara asal. Rachel dan Marsya hanya mampu menggelengkan kepalanya mendengar itu.
(Orangnya)
"Mbak..." panggil Marsya lalu mendekati Rara. Marsya mengusap punggung Rara yang berada di sampingnya saat ini.
"Apa?" tanya Rara dengan nada kesalnya.
"Sabar, ada pak kyai di sini! Kalau mau brutal nanti aja di hotel. Jawa arekanmu tokno kabeh gapapa di sana!" tutur Marsya pada Rara.
(Sabar, ada pak kyai di sini! Kalau mau brutal nanti aja di hotel. Jawa arekanmu keluarkan semua gapapa di sana!)
Rara membuang kasar nafasnya lalu dia mengangguk mengerti. Melihat Rara yang sudah cukup tenang itu mereka pun terkekeh.
"Yaudah nanti saya siapkan ya! Nanti saya suruh anak desa untuk datang kemari membawakan. Hati-hati ya buat kalian! Semoga berhasil!" ucap Pak Abdullah pada mereka.
Bella menghela nafas panjang lalu berkata,
"Udah pak, kami aja yang belanja sendiri. Bapak tenang aja!" ucap Bella pada Pak Abdullah.
Bella merasa iba melihat kondisi fisik Pak Abdullah yang sudah tua itu. Sekalipun beliau tinggal di dataran tinggi Dieng dan kedua kakinya sudah terbiasa dengan tanjakan. Tapi fisik manusia akan melemah seiring berjalannya waktu.
"Yok Sya, kita beli perlengkapan dulu di bawah!" ajak Bella pada Marsya.
"Loh kok aku?" tanya Marsya pada Bella tak percaya. Kakinya pegal rasanya naik turun tanjakan.
"Wis ayo!" ujar Bella lalu menarik tangan Marsya untuk ikut bersamanya.
Namun di luar nalar. Marsya yang pergelangan tangannya diseret oleh Bella malah menoleh kebelakang sambil menatap Rachel, selaku mbak kandungnya.
"Mbak tulong tulong aku diculik!" teriak Marsya pada Rachel di sana.
Mendengar itu Rachel hanya tersenyum padanya sambil melambaikan tangan merelakan Marsya dibawa pergi oleh Bella. Marsya membuang kasar nafasnya lalu pasrah ikut turun kembali bersama Bella.
"Ya sudah, saya pamit pergi ya nak!" ucap Pak Abdullah pada rombongan Cak Dika.
"Ya, Pak silahkan! Matur Suwon nggih, sudah diantar sampai ke sini!" ucap Aldo pada Pak Abdullah.
Sambil mengatupkan tangan Pak Abdullah pun tersenyum dan mengangguk.
"Assalamualaikum!" ucap Pak Abdullah lagi.
"Waalaikumsalam!" jawab Rachel dan yang lainnya.
Setelah Pak Abdullah pergi dari lokasi. Cak Dika memutuskan untuk masuk ke dalam tenda itu. Di sana dia duduk sambil memeluk dirinya sendiri.
Selang beberapa menit duduk di sana. Cak Dika mendengar sesuatu. Itu jelas sekali berbisik tepat di belakang tubuhnya dan berkata,
"Siapapun tolong kami!" teriak suara itu diiringi dengan suara tangisan yang cukup histeris.
__ADS_1
Pemilik suara itu seperti sedang ketakutan setengah mati. Cak Dika membulatkan kedua matanya. Sepertinya benar, pemilik tenda ini hilang dibawa sesuatu masuk ke alam sebelah.