Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 163: Cerita dari Masa Lalu dan Pertengkaran Sesama Setan


__ADS_3

Setelah cukup berolahraga pagi ini. Rachel duduk di sekitar area Monas. Sambil menyeruput minuman yang tadi dia beli. Dia melihat juga memperhatikan area Monas itu.


Kedua mata ghaibnya bisa melihat banyak sekali sosok astral yang berkeliaran di area itu. Beberapa prajurit Belanda juga masih terlihat di sana.


Rachel memperhatikan dari kejauhan ada seorang wanita tua bungkuk yang sejak tadi menatapnya. Rachel yang ditatap demikian tentu saja merasakan energinya.


Dar kejauhan itu melalui batinnya Rachel pun berkata,


"Kenapa kamu memandangi seperti itu wahai wanita tua?" tanya Rachel melalui batinnya.


Wanita tua bungkuk itu mendongak memperhatikan Rachel yang duduk di sana sambil menatapnya. Wanita tua itu tidak percaya bahwa Rachel bisa melihat kehadirannya.


"Kamu bisa melihatku!" ucap wanita tua itu mendekat.


Dia tidak berlari dan gerakannya cepat sampai tepat di hadapan Rachel saat ini.


"Ya, aku bisa melihatmu!" jawab Rachel padanya.


Wanita tua itu lalu menangis ketika mendengar jawaban yang Rachel ucapkan.


"Apa masalahmu wahai wanita tua?" tanya Rachel lagi padanya.


"Aku menangisi nasibku yang pedih anak muda!" ujar Wanita tua itu.


"Apa kamu mau berbagi denganku perihal kisahmu?" tanya Rachel padanya.


Wanita tua itu menganggukkan kepalanya. Dia kemudian bercerita pada Rachel. Jika semasa hidupnya dahulu dia adalah seorang gelandangan.


Untuk makan dan minum pun susah segalanya. Saat itu jaman penjajahan Jepang. Dulu dia masih sangat cantik rupanya. Masih tetap tubuhnya.


Dia hanya sebatang kara yang tinggal di gubuk kumuh. Saat itu gubuk ya ditemukan oleh beberapa orang Jepang.


Beberapa dari mereka lalu masuk ke dalam. Awalnya wanita tua yang ketakutan itu diam tak bergeming. Dia sedikit paham bahasa Jepang.


Wanita tua itu mulai menjamu beberapa penjajah itu. Mereka meminta makanan dan minuman. Dengan sabar dan diliputi rasa takut wanita tua yang masih muda itu membuatkannya.


Pada akhirnya komplotan penjajah itu sering datang. Bejatnya saat itu ketika mereka dipengaruhi oleh arak. Maka wanita tua ini semasa mudanya digilir oleh lima orang tiap malam.

__ADS_1


"Kekasihku Parman, dibunuh oleh mereka secara kejam! Padahal dia membelaku!" ujar wanita tua itu.


Parman adalah kekasih dari wanita tua ini. Setelah berulang kali digilir. Wanita tua ini semasa mudanya tak sengaja bertemu dengan salah satu pedagang ubi.


Tiap pagi pedagang ubi itu sering datang lalu ketika siang dia akan berpamitan pulang. Namum ada satu hari di mana pedagang ubi itu bertamu ke rumah Wanita tua ini saat malam.


Ketika berada di depan pintunya dia mendengar suara ******* beberapa orang laki-laki. Sebab penasaran maka Parman pun mencari taunya.


Ketika dia melihat gadis yang dia cintai digilir oleh para penjajah itu. Maka murkalah Parman. Dia tidak peduli dengan nyawanya. Dia masuk dan menghajar mereka dengan batu.


Tapi tembakan dari satu senapan membuat Parman terjungkal. Dia mati di tempat dan mayatnya dimutilasi.


Kepalanya dilepaskan dari tubuhnya. Kepalanya ditancapkan tepat di ujung tombak meruncing. Kepala itu kemudian dibawa oleh para penjajah itu.


Pembunuhan pada jaman itu rasanya biasa saja. Jepang membunuhi pribumi adalah hal yang wajar. Jepang membuat Pribumi sebagai budak hasrat mereka juga adalah hal yang wajar.


Sungguh jaman dahulu adalah jaman-jaman kelam. Jaman yang ngerinya luar biasa seram.


"Sejak saat itu aku terus digilir! Sampai menderita sakit yang tak kunjung sembuh. Ketika mereka tau aku sakit maka mereka berhenti. Mereka tidak lagi datang padaku. Aku mulai mengurus diriku yang lemah seorang diri. Tubuhku semakin tua dan kurus. Ketika usiaku mendekati maut. Aku mati di dalam gubukku! Sungguh tragis sekali nasibku wahai anak muda. Di jamanmu, tiap pagi para gadis berseri-seri datang kemari. Sungguh beruntung kamu hidup di jaman ini anak muda. Kamu bisa memilih pasanganmu sendiri dan kamu tidak dilecehkan oleh siapapun!" ujar wanita tua itu.


Rachel iba mendengar cerita yang wanita tua itu bagi padanya. Sungguh malang sekali nasibnya.


Wanita tua itu tersenyum kemudian dia menjawab,


"Aku Sri!" jawabnya wanita tua itu pada Rachel.


Rachel menganggukkan kepalanya kemudian dia memejamkan kedua matanya. Rachel berdoa untuk nama itu. Doa-doa itu lantas membuat arwah Sri seketika menghilang.


Ketika Rachel membuka kedua matanya sosok Sri di depannya sudah tak ada. Rachel kemudian menatap langit-langit dengan teriknya cahaya mentari yang memancar. Dia teringat pada Thariq.


"Rasanya sudah waktunya aku menjawab seluruh isi hatinya padaku, kan?" ujar Rachel menatap ke arah langit sambil tersenyum.


Dia ingat selama ini Thariq susah cukup lembut padanya. Dia tau bahwa Thariq ini menyukainya.


Kemudian Rachel teringat perihal kejadian beberapa jam lalu. Ketika dirinya bertemu Thariq di lift.


Sialan sekali rasanya ketika dia bertanya bahkan Thariq tidak menjawabnya. Sungguh Rachel murka sekali akan itu.

__ADS_1


Ditambah Rara pagi ini juga bersikap demikian. Bukankah orang-orang ini mengesalkan bagi Rachel pagi ini?


"Sebenarnya orang-orang ini kenapa?" tanya Rachel lalu berdiri berjalan mendekati tempat sampah dan membuang botol minumnya yang sudah kosong.


Rachel kemudian kembali melanjutkan aktivitasnya yaitu berolahraga pagi. Rachel yang berlari sejak tadi diikuti oleh Gelanda dan Melissa.


Keduanya sengaja mengikuti Rachel tanpa sepengetahuan Rachel. Sebab Cak Dika lah yang menyuruh mereka memantau keadaan Rachel.


"Gelanda ini membosankan! Aku tidak menyukai ini. Bisakah kita pulang sekarang?" tanya Melissa kesal. Dia jenuh sekali dengan tugas yang Cak Dika berikan untuknya.


"Kamu pikir aku tidak?" ungkap Gelanda pada Melissa.


Sejujurnya dia pun juga sama-sama bosan dengan tugasnya.


"Ya sudah kita pulang saja! Lagi pula Rachel itu maskot. Dia yang paling kuat di antara mereka. Kenapa kita harus menjaganya?" tanya Melissa lagi pada Gelanda.


Gelanda yang menerima segala ocehannya Melissa pun berkata,


"Kalau kita pulang nanti kita dimakan Maung! Memangnya kamu mau dimakan Maung?" ujar Gelanda memberitahu bahwa Cak Dika adalah pemilik khodam lima maung.


Mendengar itu Melissa pun diam. Dia pasrah menerima tugas membosankan yang dibebankan untuknya.


"Ingatlah kalau setan-setan besar itu banyak menginginkan kita setan Belanda yang cantik ini sebagai koleksi! Berkat Cak Dika dan Rachel kita tidak tergapai oleh mereka! Jadi apa salahnya membalas perbuatan baik mereka pada kita, Melissa?" ujar Gelanda lagi.


Omelan dari Gelanda membuat Melissa menutup telinganya.


"Jangan tutup telingamu!" perintah Gelanda kesal melihat tingkah laku Melissa.


"Kamu terlalu banyak bicara Gelanda! Aku membencimu!' ujar Melissa mengomel.


Gelanda yang tak mau kalah pun berkata pada Melissa.


"Sama aku juga membencimu!" ucap Gelanda.


"Dasar makhluk mati!" ejek Melissa padanya.


Gelanda melotot ke arah Melissa ketika mendengar itu.

__ADS_1


"Kamu sadar, kamu juga makhluk mati? Dasar Setan tidak tau diri!" ucap Gelanda membalas ejekan dari Melissa untuknya.


Mendengar umpatan itu keduanya pun kembali terdiam dan melakukan tugas yang Cak Dika perintahkan.


__ADS_2