
Mentari pagi ini terlihat cukup megah di atas sana. Cak Dika baru saja bangun dari tidurnya. Selepas shubuh tadi dia memilih untuk lanjut tidur. Dia bersama dengan seluruh keluarga Gautama masih mendekam di rumah Rara.
Bapaknya Rara, Pak Puji. Beliau itu sangat menyukai Cak Dika. Selain ramah, santun, dan berkharisma. Cak Dika ini rasanya sudah memenuhi kriteria mantu di mata Bapak dan Ibuknya Rara.
Di depan sumur, tepat di belakang rumah Rara Cak Dika sedang menimba air. Dia akan cuci muka. Kebetulan dia juga berniat mandi setelah itu.
Tapi ini pedesaan. Jadi untuk mandi Cak Dika harus bersusah payah menimba air. Cak Dika hanya memakai celana pendek. Sedangkan atasannya tidak ada, dia bertelanjang dada dengan handuk yang ia kalungkan di lehernya.
Di tengah dirinya yang saat ini sedang mengumpulkan kesadaran. Rara menghampirinya. Tapi Rara menunduk sambil membawa beberapa peralatan mandi. Seperti sabun, sikat gigi, dan gayung.
Suara langkah kaki di belakangnya membuat Cak Dika menoleh. Ketika ditoleh, di sana Cak Dika tersenyum. Kesadarannya yang tadi hanya setengah rasanya langsung terkumpul melihat kehadiran Dek Rara kesayangannya.
"Adek..." lirih Cak Dika sambil berseringai.
"Iyo!" jawab Rara tanpa menoleh padanya. Dia masih menunduk enggan melihat Cak Dika saat ini.
"Nyapo toh kok kemari?" tanya Cak Dika pada Rara.
(Kenapa kok kemari?)
Rara diam dan dia hanya menjawab itu dengan sodoran peralatan mandi. Cak Dika memperhatikan itu sejenak.
"Widih, udah kaya' istriku aja kamu siapin beginian?" goda Cak Dika lalu maju mengambil barang itu dari tangan Rara.
Rara hanya mendengus kesal mendengar itu. Dia memang mengagumi Dika. Dia memang memiliki perasaan terhadap pemuda ini. Tapi, jika Cak Dika sudah seperti ini rasanya Rara muak.
Mengantar perlengkapan mandi ini juga sebab perintah dari Ibuk dan Bapaknya. Rara anak yang baik dia tidak menentang perintah orang tua.
"Dahlah... Aku mau pergi aja! Dah sana mandi, katamu Rachel hari ini boleh keluar dari rumah sakit!" ujar Rara kembali mengingatkan Cak Dika perihal Rachel.
Ketika Rara berbalik dia tak sengaja berpas-pasan dengan Thariq yang sudah bersih wangi dan rapi.
"Eh... Mbak Rara, kenapa kok di sini?" tanya Thariq sambil memperhatikan Rara.
Kemudian bola mata Thariq berputar ke arah Cak Dika. Pikiran setan dalam kepalanya membuat Thariq curiga. Ketika Thariq kembali menatap Rada di sana Rara menarik sudut bibirnya.
"Apa, aku gak mungkin ngelakuin hal goblok sama dia ya di sini! Udah kalian para cowok emang mesumnya keterlaluan! Wes mboh!" ujar Rara lalu pergi dari sana.
"Loh kan, Riq!" pekik Cak Dika pada Thariq. Bola matanya memperhatikan Rara yang pergi dari sana.
"Opo toh, Mas?" tanya Thariq dengan raut wajah tak bersalah pada Cak Dika.
"Ah... Koe garai dek Raraku nesu, kan!" ujar Cak Dika.
(Ah... Kamu buat Dek Raraku marah, kan!)
Thariq tertawa mendengar itu. Dia lalu menghampiri Cak Dika dan mengajaknya bersalaman.Cak Dika hanya mampu memperhatikannya.
"Nyapo Koe?" tanya Cak Dika sambil memperhatikan. Tangan Thariq.
Sambil tersenyum Thariq berkata,
__ADS_1
"Cak, aku kan sekarang udah ambil hatinya Rachel! Jadi aku mau ijin, hari ini yang jemput Rachel aku aja! Kalian di rumah jangan ganggu aku!" ujar Thariq pada Cak Dika.
Di sana Cak Dika tersenyum. Dia tau Thariq mencintai Rachel sangat tulus dari dalam hati. Cak Dika mengangguk menyetujui itu. Dia lalu membalas uluran tangan Thariq.
Ketika kedua tangan itu bersatu. Thariq membulatkan kedua mata. Cak Dika memberi tiga khodam Maung miliknya pada Thariq.
"Jaga adikku Yo! Itu para Senopatinya ratu aku kasih di kamu sementara. Buat kalian agar selalu terhubung sama aku! Dah... Pergilah!" ucap Cak Dika lalu berbalik membelakangi Thariq.
Itu ibarat restu bagi Thariq. Dengan wajah yang berseri-seri Thariq pun mengangguk cepat lalu pergi dari sana. Dalam hati dia mengatakan satu hal, begini kata hatinya,
Hel, aku datang! Kita Qtime, aku gak mau tau pokoknya hari ini aku mau nyenengin kamu!. Ujar Thariq dari dalam hatinya.
Kedua kaki itu menuju halte bisa. Dan di sanalah sebuah bus bertujuan ke arah rumah sakit Rachel membawanya.
Sementara di lain tempat tepatnya di atas pohon. Tiga orang Netherlands sejak tadi memperhatikan Thariq yang menunggu bus dan hilang saat ini.
"Manusia itu kelihatannya bahagia sekali!" ucap Albert sambil menggelengkan kepala.
Barend tersenyum senang. Dia lalu menghilang dari sana. Sedangkan Melissa dia hanya tersenyum.
"Dia sedang bahagia sebab kekasihnya akan pulang!" ujar Melissa lalu menghilang.
Hal itu tentu saja membuat Albert pergi mengikuti kedua temannya itu.
Sedangkan di rumah sakit saat ini Rachel sedang duduk di depan Farmasi. Dia sudah bisa berjalan sendiri. Tubuhnya bugar, hanya saja sabitan luka di perutnya itu masih membekas.
Sambil menikmati permen lollipop mini di dalam mulutnya. Rachel bersenandung. Antrian farmasi cukup panjang. Dan dia duduk di sana sendiri dengan beberapa orang asing yang sama sekali tidak dia kenal.
"Mbak, saya titip Abang saya Yo! Saya mau ke toilet sebentar!" ujar sang pendorong kursi roda.
"Ah, iya mbak silahkan!" ucap Rachel padanya.
Sang pendorong itu cukup muda sepertinya masih gadis. Dan yaz sepertinya umurnya sama seperti Rachel.
"Terima kasih ya mbak!" ucapnya lalu pergi.
Rachel hanya mengangguk. Sepertinya gadis itu dari sana. Rachel memperhatikan pemuda yang duduk di kursi roda itu. Kakinya diperban.
Ketika Rachel menatap matanya yang sayu itu. Tepat di telinga kirinya dia mendapat satu bisikan. Suara wanita berkata padanya,
Kamu anak dari pria beruban itu? Hahahahaha... Aku tidak akan bisa kamu kalahkan semudah itu!. Ujar suara itu.
Rachel membulatkan kedua matanya. Itu suara perempuan. Tepatnya itu adalah nenek-nenek. Rachel mencoba menembusi lebih jauh melacak keberadaan pemilik suara.
Namun keberadaannya di alam sebelah tidak dia temukan. Rachel kembali memejamkan kedua matanya lalu memanggil Nyai Ratu.
Ketika dia bertemu dengan Nyai Ratu. Sang Nyai pun tersenyum. Dia mengangkat tangannya ke atas. Ke arah langit yang selalu hitam warnanya di alam sebelah.
"Ada apa Nyai?" tanya Rachel padanya.
"Itu nduk! Dia sudah melacak kalian sampai kemari!" ujar Nyai Ratu menunjuk sosok kuyang yang terbang kesana kemari.
__ADS_1
Ah, tentu saja Rachel ingat kuyang ini. Kuyang ini adalah neneknya Aldo. Orang yang membuat Aldo saat ini berada dalam keluarganya.
Rachel menatap benci ke arah kuyang itu. Dia mengepalkan tangannya. Kembali dia teringat pada sumpah Cak Dika ketika menangkap kuyang itu.
Di sana Cak Dika mengatakan akan menggoreng kuyang itu jika dia mencari gara-gara lagi dengan keluarganya.
"Nyai, aku mau mengeksekusinya!" ujar Rachel kedua matanya dipenuhi amarah.
Di sana Nyai pun tersenyum.
"Bocah kesayanganku! Nyai Ratu ini akan selalu ada di belakang keturunan Gautama!" jelas Nyai Ratu.
Rachel mengangguk mendengar itu. Dia kemudian teringat pada orang yang duduk di kursi roda.
"Tapi Nyai, orang yang ada di sebelahku itu kenapa?" tanya Rachel pada Nyai ratu.
Di sana Nyai Ratu pun tersenyum. Dia meraih tangan kanan Rachel. Detik kemudian Rachel diperlihatkan satu kejadian kelam perihal orang yang saat ini duduk di kursi roda tepat di samping Rachel.
Di sana Rachel melihat bahwa pemuda itu adalah seorang penjaga basemen. Dia terjatuh dari tangga lalu beberapa matrial berat menimpa kakinya.
Dan di sanalah Rachel melihat sosok busuk itu. Kuyang bangsat yang pernah diberi kesempatan oleh Cak Dika agar bertobat.
Kuyang itulah yang menyebabkan pemuda ini terjatuh. Dan sepertinya itu disengaja. Ketika Rachel kembali, Nyai Ratu pun mengangguk. Rachel mengartikan. Itu sebagai persetujuan.
Dia pun kemudian kembali ke dalam raganya. Ketika dia membuka mata. Thariq sudah berada di belakangnya. Rachel merasakan bahunya sedikit berat.
Ketika dia menoleh dia terkejut mendapati Thariq dibelakangnya.
"Kamu sejak kapan sampai?" tanya Rachel terkejut atas keberadaan Thariq.
Thariq hanya mampu menghela nafas lalu mengusap lembut puncak kepala Rachel. Sejujurnya ketika Rachel melakukan perjalanan di sana.
Thariq sempat melihat kejadian lalu yang menimpa pemuda yang kini duduk tak berdaya di atas kursi roda. Sepertinya mencintai seorang cenayang harus lebih sabar lagi.
Rencananya hari ini menghabiskan waktu berdua dengan Rachel gagal sepertinya. Ditambah manusia yang dia cintai ini adalah dia pemilik simpati paling tinggi.
"Thariq aku mau..." ujar Rachel terpotong ketika Thariq meletakkan jari telunjuknya di atas bibir Rachel. Dengan berat hati Thariq pun berkata,
"Iyo! Ayo kita bantu!" jawab Thariq padanya.
Rachel tersenyum senang mendengar itu. Dia yang gembira itu pun langsung mengacungkan kedua jempolnya. Sedangkan Thariq hanya mampu menghela nafas saja.
"Tapi ingat Yo! Kalau energi dan kekuatan mereka jauh di atas kita. Tahan! Aku gak mau kamu luka lagi sampai kaya' gini!" ujar Thariq.
Rachel mengangguk mendengar itu.
"Iya, pasti kok! Kamu tenang aja!" ucap Rachel meyakinkan.
Rachel lalu kembali menatap pemuda itu. Di sana Rachel menyentuh tangan kiri pemuda itu. Lalu berkata,
"Aku akan hukum kuyang guguk iku! Kamu tenang aja!" ujar Rachel padanya.
__ADS_1
Pemuda yang duduk di sana. Raut wajahnya kosong sekali. Seperti sudah tidak memiliki semangat hidup saja.