
"Arghhhhhhhh... Arghhhhhhh..." suara teriakan itu berasal dari satu manusia remaja. Dia berusia sekitar lima belas tahun.
Sudah dua hari remaja itu berada di dalam kandang monyet. Tiga puluh monyet mati di dalam kandang itu sebab ulahnya.
Dia menenteng pisau sambil mengeram. Kedua matanya kadang memutih. Kadang kembali seperti semula. Mulut itu tak henti-hentinya berteriak.
Siapa saja yang masuk ke dalam sana nantinya akan disakiti. Seperti halnya Herman, ya, orang ini adalah saudaranya Rara. Herman ini pemilik dari seluruh monyet yang dihabisi oleh Jason.
Jason adalah dia yang saat ini kerasukan. Dia masih menjadi saudara Rara. Tak henti-hentinya Herman mengucapkan istifar. Kelakuan brutal yang terjadi pada Jason membuatnya kehilangan akal rasanya.
Entah apa yang membuat dia bertingkah semacam itu. Tangannya penuh darah. Darah itu jatuh sampai ke kakinya. Kaos putih yang bersih berubah warnanya menjadi merah kelam.
"Ya Allah, Le! Kamu ini kenapa toh, Le? Kok jadi kayak gini, Le?" tanya Pak Herman tak percaya menatap ke arah Jason.
"Sabar, Rara pasti pulang! Jason pasti balik, kamu yang tenang!" ujar Pardi selaku kakek dari Rara.
Berulang kali Pardi mendatangkan orang pintar. Tapi nyatanya tak ada satupun yang berhasil membuat Jason kembali normal.
Pemandangan di dalam sana sangat mengerikan. Kepala monyet itu berceceran bak sebuah kelereng. Ke sana ke mari memenuhi jalanannya.
Melihat kejadian itu Pardi sedikit teringat perihal satu manusia yang brutal kala itu. Dia adalah seorang petani berinisial W.
Kisah ini nyata terjadi di area Banyuwangi. Tapal Kuda lagi, ya, benar, tidak ada tragedi yang tidak kelam pada masa tua saat itu. Masa di mana membunuh dan dibunuh itu adalah hal lumrah.
Jaman itu manusia sangatlah keji sifatnya. Tidak ada belas kasih dalam hatinya. Jika dendam maka akan tuntas dengan saling membunuh. Jika salah satu dari mereka mati maka ada satu hati yang akan puas.
Namun ini berbeda lagi. Kisah ini dari seorang petani berinisial W. Kala itu dia membantu habis tiap leher manusia yang dia temui.
Atas nama frustasi dia mengembara ke sana ke mari sambil menenteng celuritnya. Tidak begitu diketahui pasti apa penyebab dari kegilaan manusia itu sampai saat ini.
Namun kegilaan dari manusia berinisial W itu kisahnya tersebar luas di area Tapal kuda. Dan menjadi urban Legend sampai saat ini. Pembantaian massal yang dilakukan oleh seorang petani gila.
Entah mengapa, Pardi ini yakin sekali bahwa hal yang menimpa Jason ada kaitannya dengan peristiwa itu. Terlihat di sana, ketik Jason melihat keberadaan mereka yaitu Pardi dan Herman.
Bocah itu semakin menggila. Dia membentur-benturkan kepalanya di kaca sambil meracau. Kedua tangannya mencakar-cakar kaca seolah ingin menggapai Herman dan Pardi.
Di sela-sela kegaduhan besar itu. Terdengar suara langkah kaki dari ambang pintu. Suara lain itu tentu saja membuat Pardi dan Herman langsung menoleh. Senyum mereka mengembang seketika. Itu adalah Rara beserta rombongannya.
Rara menaruh tas ranselnya asal di tanah. Lalu dia berjalan masuk mendekati Pardi dan Herman. Rara lalu mencium kedua tangan dua lelaki itu.
"Assalamualaikum!" ucap Rara pada mereka.
"Waalaikumsalam, nak!" ujar keduanya.
Tanpa sepatah katapun lagi. Suara erangan di sampingnya membuat Rara memutar bola matanya. Dia menatap sendu ke arah Jason di sana.
Cak Dika yang masih berdiri bersama dengan saudaranya itupun maju mendekati. Dia lalu berdiri di samping Rara. Hawa sejuk itu membuat Cak Dika terkejut. Ini setan apa? Kenapa menyeramkan sekali gambaran masa lalunya.
Bangsat! Setan Penjanggal!. Ujar Cak Dika dalam hatinya.
"Dek..." lirih Cak Dika pada Rara di sampingnya. Cak Dika tidak menoleh ke arah Rara. Kedua bola matanya masih fokus menatap ke arah Jason.
"Apa?" tanya Rara padanya.
"Ini aura pembunuh?" jawab Cak Dika mencoba bertanya pada Rara.
Di sana, Rara hanya mengangguk. Kemudian Thariq datang menghampiri mereka dari belakang. Thariq, di sana langsung mendekati kaca itu.
Sungguh miris rasanya melihat keberadaan monyet yang mati sia-sia padahal dia tidak bersalah. Keji benar seseorang yang sudah membuat Jason seperti ini.
__ADS_1
"Aku akan masuk!" ujar Thariq lalu mengarahkan telapak tangannya ke arah jendela kaca itu.
Cak Dika sejenak memperhatikan Thariq. Lalu ketika tatapan mereka bertemu dia pun mengangguk. Dia mengizinkan Thariq untuk masuk menyelami apa yang terjadi pada Jason di sini.
Energi mulai Thariq kumpulkan. Di awali dengan bacaan Basmallah dia pun memejamkan kedua matanya. Para Crew kamera tentu saja memulai tugasnya.
Merekam tiap moment itu. Mereka tidak akan melewatkan apapun. Sebab tiap hal yang Gautama Family ini katakan. Akan me jadi sorakan meriah penonton di YouTube.
Ketika kegelapan dari alam lain menyambut. Thariq dibawa masuk menemui tahun lama. Di sana dia menemukan seorang petani yang duduk di depan teras rumahnya.
Thariq melihat hawa kelam dalam diri orang itu. Dia melihat bahwa orang ini hobi mabuk-mabukan juga berjudi.Suatu ketika dia datang ke ibunya.
Dia berkata pada ibunya mengapa hidupnya sengsara sedangkan adik-adiknya hidup bergelimpangan harta.
Orang ini berinisial W. Dahulu dia pernah hidup di area Tapal kuda. Inisial W ini akhirnya dilanda frustasi akibat hutang yang menumpuk.
Setibalah dia di dem kediamannya yang kecil kumuh namun masih mampu ditempati. Pagi itu, dia sedang duduk. Dia duduk sambil mengasah celurit kesayangannya.
Di depan rumahnya nampak dua orang anak kecil. Di sana anak-anak itu nampak riang bermain pasir. Bahak tawa mereka kencang sekali.
Permainan sederhana itu membuat keduanya bahagia. Itu adalah anak tetangga dari desa sebelah. Entah, mungkin karena rasa frustasi itu masih belum usai lamanya. Inisial W itu menatap benci keduanya.
Kekesalan yang membara dalam dadanya membuat dia hampir gila rasanya. Ketika celurit sudah cukup tajam dia pun berdiri. Dia berjalan secara perlahan mendekati anak itu.
Kedua bocah yang didekati oleh inisial W ini hanya mampu menatap polos ke arah W. Mereka tidak tau bahwa W sedang memberi undangan maut pada mereka.
Ketika celurit mulai diacungkan. Tebasan pertama menebas leher salah satu bocah itu hingga hampir putus.
Melihat itu salah satu dari mereka pun kabur. Dia ketakutan stok setengah mati. Mungkin itu adalah trauma terbesarnya nanti sampai besar nanti.
"Aku melihat seorang pria bernama W datang menebas leher-leher manusia. Celuritnya berbanjir darah. Dia haus darah! Frustasi dalam dadanya membuat dia berjalan menyusuri area Tapal Kuda. Orang itu, kejam, matanya gelap gulita. Dia manusia rapuh yang gila menggila!" jelas Thariq.
Setelah membunuh korban pertamanya yang berusia 4 tahun itu. Manusia berinisial W mulai mengembara. Dia seakan tidak puas membunuh satu nyawa. Saat itu pada tahun 1984-an. Inisial W dengan celuritnya yang haus kepala berjalan ke sana kemari.
Bocah yang tadi berhasil kabur dari keberingasan W. Menuju ke area sawah. Di sana nampak beberapa petani sedang beraktivitas. Anak kecil ini berinisial R. Dia datang menghampiri ibunya yang status mata pencahariannya adalah seorang petani.
R yang sudah ketakutan langsung menghampiri ibunya. Dia bercerita perihal apa yang menimpa temannya si A yang mati dengan kepala yang hampir putus akibat ulah W.
R ini rupanya adalah anak angkat dari W. Entah setan apa yang masuk dalam diri bapaknya itu sampai ingin mengincar kepalanya. R beserta ibunya langsung naik ke jalanan. Mereka berinisiatif akan mencari pertolongan.
Sementara mereka sedang mencari pertolongan. W berhenti di depan rumah tetangganya. Dia berjalan mendekati pintu itu. Pemilik dari rumah itu bernama Maskur.
Tanpa permisi berbekal celurit berlumuran darah yang dia genggam. W masuk ke dalam. Dia masuk ke dalam rumah itu hingga menemukan istri dari Maskur yang sedang memasak nasi.
Tanpa banyak berkata apapun. Wanita yang sedang sibuk itu ditebas begitu saja lehernya hingga hampir putus akibat sabetan W.
Sedangkan Maskur yang berada di rumah juga ikut mati menyusul istrinya. Setelah membunuh sepasang suami istri itu. W lanjut menuju ke area persawahan.
Dia membabat habis leher orang yang ia temui di sawah. Untungnya beberapa orang yang masih bernafas itu berhasil melarikan diri dari sabetan celurit Si W.
Dari sanalah mulai beredar kabar dari desa ke desa perihal kegilaan W. Saat itu para warga pun berkumpul dalam satu area. Tujuan mereka adalah persawahan tempat di mana W saat itu mengeksekusi nyawa.
Para warga berbondong-bondong ke sana. Dengan amarah pula mereka menuju ke sana. Mereka ingin meringkus W saat ini. Beberapa dari mereka rasanya ingin mengeksekusi W juga sekarang.
Namun sayang sungguh sayang. Ketika mereka berada di TKP. Yang mereka temukan adalah beberapa mayat petani yang mati tergeletak memenuhi jalanan dengan kepala yang hampir putus. Sedangkan W dia tidak ada di sana.
Melihat itu para warga rasanya semakin mengamuk. Beberapa dari mereka mulai menguburkan para mayat. Sedangkan setengahnya lagi. Mereka berjalan ke arah Barat sesuai dengan isu yang dikatakan beberapa saksi.
Banyuwangi saat itu suram. Mereka benar-benar dibuat pusing kepalang akibat ulahnya W. Di sisi lain mereka takut sebab W masih belum ditemukan. Dan di sisi lain pula mereka direpotkan dengan para korban yang berjatuhan.
__ADS_1
Di suatu tempat saat itu. W perpas-pasan dengan salah satu keamanan rakyat. Lelaki itu bernama Pak Jam'i.
Pas lagi berpas-pasan itu, Pak Jam'i merasa ada yang aneh dengan W di sana. Lalu dia mundur mencoba mengambil jarak dari W yang semakin mendekat.
Tapi karena Pak Jam'i memiliki basic silat dalam dirinya. Benar saja apa yang Pak Jam'i rasakan. W mengangkat celuritnya ke arah Pak Jam'i dia berusaha membunuh Pak Jam'i di sana.
Bagaikan pendekar Wiro sableng saat itu Jam'i berhasil menepis celurit dari W. Ketakutan dengan kebrutalan W. Wiro Sableng KW inipun mengeluarkan jurus kaki seribu ya alias melarikan diri dari tempat itu.
Lelaki bernama Jam'i ini berhasil selamat walaupun dua jarinya putus akibat ulah W. Banyuwangi saat itu kehilangan delapan belas orang. Mereka mati sia-sia di tangan W saat itu.
Thariq diperlihatkan akhir hayat dari W. Pembunuh gila itu mengikat lehernya sendiri. Membuang celurit jahanamnya itu asal. Ikat pinggang miliknya dililitkan di leher.
W naik ke salah satu pohon. Mengikat ikat pinggang yang tersambung dengan lehernya itu ke dahan pohon. Setelah sudah cukup rapat.
Dia pun melompat. Suara kretekan dari tulang kepalanya saat ini membawanya mati menghentikan jantungnya.
"Aku melihat Jason mengambil celurit di area hutan dekat persawahan. Dia menemukan itu lalu mengambilnya. Celurit yang dia pegang saat ini adalah kepunyaannya W. Jadi, bisakah kalian katakan di mana celurit itu sekarang?" tanya Thariq lalu membuka kedua matanya dan kembali menatap Jason yang masih sama kondisinya.
Pardi dan Rara saling tatap sejenak. Mereka benar, rupanya ini berkaitan dengan peristiwa saat itu. Pembunuhan massal yang terjadi di Banyuwangi pada tahun 1984.
"Celurit?" tanya Pardi pada mereka.
"Ya, celurit! Apakah anda tau?" tanya Cak Dika pada Pardi.
Pardi menoleh ke samping.
"Biasanya benda tajam akan kami letakkan di dalam gudang, Mas! Mari ikut saya!" ujar Pardi mengajak Cak Dika untuk ikut bersamanya.
Cak Dika mengangguk mendengar itu. Dia pun mengikuti langkah kaki Pardi. Cukup jauh letaknya dan mereka hanya berjalan kaki. Sekitar sepuluh menit Cak Dika diarahkan ke sebuah gubuk kayu.
Ya, itu katanya adalah gudangnya. Sebuah gudang yang menyimpan alat-alat untuk bercocok tanam. Lantas Pardi pun berjalan mendekat. Cak Dika tentu mengikutinya.
Setelah kunci dibuka. Masuklah kedua orang itu ke dalam. Nampak Cak Dika membulatkan mata ketika melihat sosok W berdiri di sana bermandikan darah. Ya, itu adalah setannya. Yang artinya di sanalah letak dari celurit itu.
Setan W mengacungkan celurit pada Cak Dika. Sebagai isyarat agar tidak mendekat.
"Bapak tunggu aja di luar! Ini urusan saya sama bajingan itu!" ujar Cak Dika sambil menunjuk ke sudut ruangan.
Pardi menengok arah yang Cak Dika tunjuk. Namun dia adalah manusia normal. Dia tidak bisa melihat ada apa di sana. Namun wajah Cak Dika saat itu membuatnya yakin.
Sehingga Pardi pun keluar dari dalam sana membiarkan Cak Dika sendirian menghadapi sosok penjanggal brutal nan gila di dalam sana.
"Kenapa kamu masih di sini? Kamu sudah mati, jangan usil jiwa hidup. Alam kita beda!" ujar Cak Dika padanya.
Namun sosok itu malah murka. Dia berteriak-teriak tak karuan melampiaskan kebenciannya.
"Sekeras apapun kamu bengak-bengok koyok bayi jalok susu! Aku Iki ora Wedi!" ujar Cak Dika padanya.
(Sekeras apapun kamu berteriak seperti bayi minta susu! Aku gak takut!)
Ketika sosok itu semakin memperkuat auranya. Cak Dika hanya tersenyum tipis. Dia pun sama, melawan sosok itu dengan kehadiran para Maung.
Hawa keberadaan sosok itu langsung lemah. Ketika melihat lima maung muncul dari belakang tubuh Cak Dika. Geraman dari maung itu lebih besar dari teriakannya.
Kelima maung itu .aku mendekatinya. Perlahan keberadaan sosok itu pun pergi. Setelah aman, Cak Dika pun langsung mengambil celurit itu. Membungkusnya dengan kain seadanya yang ada di sana. Cak Dika keluar dari dalam sana.
Dia minta diantar di kali. Kali itu adalah danau. Orang Jawa biasanya menyebutnya kali. Pardi mengantar Cak Dika ke salah satu kali yang dekat dengan area itu.
Dengan bacaan doa. Cak Dika pun membuang celurit itu jauh masuk tenggelam di dalam danau. Bersamaan dengan itu pula. Jason yang berteriak-teriak langsung diam. Dia kehilangan kesadarannya di sana.
__ADS_1
Rara beserta yang lainnya sudah tidak merasakan kehadiran hawa negatif dalam diri Jason. Mereka pu. Masuk ke dalam dan menolongnya.