
Di alam bawah sadarnya. Lagi-lagi si Marsya ini mendapatkan gangguan. Entah bagaimana saat ini tubuhnya sedang berada di luar tenda.
Marsya terkejut melihat dirinya mampu melihat kedua tenda mereka yang berdiri di sabana luas itu. Di sana hanya ada tenda mereka. Tidak ada tenda lain lagi.
"Loh kok aku bisa di sini?" ujar Marsya kebingungan melihat dirinya berada di luar.
"Aku tadi tidur! Terus kenapa bisa pindah ke sini?" tanya Marsya lagi.
Dia yang panik kemudian samar-samar melihat sesuatu. Seorang wanita berpakaian kebaya menatap lekat ke arah kedua tenda milik mereka.
Samar, ada satu sosok kecil muncul juga berdiri di samping wanita itu. Asumsi Marsya mengatakan, mungkin saja itu adalah anak dari wanita itu.
Marsya hendak maju mendekati. Tapi, rupanya kakinya tak mampu digerakkan. Ketika matanya menengok ke bawah. Ada tangan-tangan yang menahan kakinya.
Di sana dia paham bahwa dia sedang ditarik kemari oleh sesuatu. Lantas saat itu dia ingat. Ketika para setan laknat ini mengganggu, katanya kita tidak boleh panik.
Marsya terpejam kemudian mencoba memaksa dirinya untuk masuk kembali ke dalam tubuhnya. Dalam hitungan detik kesadaran Marsya pun kembali.
Di dalam tenda dia kembali membuka kedua matanya. Ketika dia terduduk. Dia terkejut melihat bayangan seseorang di depan pintu tenda.
Bayangan itu seperti orang sedang duduk. Entah dia menghadap tenda atau tidak, Marsya tidak tau. Bayangan itu hanya diam di sana. Dia tidak bergeming sama sekali.
Marsya menengok ke arah Rachel dan Bella yang masih saja terlelap. Kata Bella, dia tidak boleh keluar tenda sendirian. Tapi gimana, kalau hati kecilnya itu penasaran.
Dalam kepalanya dia berinisiatif untuk memanggil Barend. Di panggillah setan kecil itu kemudian. Tapi nyatanya tidak ada jawaban atas panggilannya.
Marsya lebih geram lagi ketika saat itu tenda miliknya digoyang-goyang oleh sesuatu. Namun hal itu tidak membangunkan Rachel dan Bella. Mereka tidur seperti orang mati saja.
"Mbak, bangun!" ucap Marsya sambil menggoyangkan tubuh Rachel.
Satu kali, Rachel sama sekali tidak merespon itu. Dia kali dia juga tidak merespon itu. Tiga kali, Marsya menggerakkan tubuh itu cepat dan kencang.
"Opo toh dek?" tanya Rachel yang sudah membuka matanya lebar.
"Iku loh!" jawab Marsya sambil menunjuk ke arah pintu tenda.
Rachel duduk lalu dia yang masih menyipitkan matanya mencoba melihat apa yang menjadi masalah mereka saat ini.
"Wis ora usah direken dek! Ayo tidur lagi aja!" ucap Rachel sambil menguap.
"Aku pingin pipis!" ucap Marsya padanya.
__ADS_1
Rachel menghela nafas panjang mendengar itu. Rachel mengambil sesuatu dari dalam tas Bella. Dua buah senter dan sekop, juga tissue basah. Sebelum pergi, Rachel membangunkan Bella.
"Bel... Bella!" panggil Rachel sambil menggoyangkan tubuh Bella.
"Hmm..." jawab Bella yang masih merem.
"Kamu tak tinggal di sini sendiri gapapa ya? Marsya minta pipis itu, loh!" ujar Rachel.
"Hmm..." jawab Bella lagi tanpa membuka matanya.
Melihat itu Rachel pun memutuskan untuk segera pergi. Bayangan sosok manusia yang duduk itu masih ada di sana.
Ketika Rachel membukanya, tidak ada siapapun di sana. Langitnya masih gelap dan ini masih pukul tiga pagi. Hanya ada suara jangkrik dan hewan-hewan lain saja yang berkumandang.
Rachel menyerahkan satu senter lagi pada Marsya. Mereka mulai menyalakannya.
"Kamu jalan dulu gih!" ucap Rachel pada Marsya.
Marsya yang sudah cukup kebelet itu pun mengangguk. Lalu dia berjalan mendahului Rachel. Tentu saja, Rachel sebagai kakak yang baik mengekori Marsya dari belakang.
Mereka masuk ke dalam belantara. Sedikit keluar dari jalur. Kira-kira jaraknya sepuluh langkah dari tempat Rachel berdiri. Marsya mulai memulai ritualnya, buang air kecil.
Rachel berdiam diri membelakangi satu pohon yang saat ini sedang dipakai oleh Marsya untuk buang hajat.
Namun Rachel tetap acuh. Dia tau para makhluk alam sebelah sedang memperhatikannya.
"Dek, kamu sudah selesai belum?" tanya Rachel tanpa menoleh.
"Belum, mbak!" jawab Marsya sedikit berteriak pada Rachel.
"Hihihihihih..." suara tertawa khas dari satu makhluk mulai menyapa Indra pendengaran Rachel.
Dia terkejut ketika mendengarnya.
"Hihihihihi... kalian kenapa kemari manusia?" ucap suara itu tanpa adanya wujud fisiknya.
Rachel hanya diam mendengar itu. Tapi, diamnya itu malah dibalas oleh lemparan batu dari sisi kanan tempat dia berdiri.
Rachel mundur mencoba menghindari itu. Batu-batu kerikil itu dilempar ke arah Rachel. Tapi, satu sosok pelempar itu hanya melempar ke arah tanah. Tempat di mana Rachel berdiri.
Lemparan itu berasal dari semak-semak. Rachel yang lelah pada akhirnya memutuskan untuk menyinari semak-semak itu dengan cahaya senter.
__ADS_1
Tidak ada siapa-siapa di sana. Rachel mencoba menyipitkan matanya. Barangkali memang di sana ada hewan atau orang yang usil.
Dia semakin fokus menatap ke arah itu. Fokus, fokus dan fokus.
"Mbak!" panggil Marsya sambil menepuk bahu Rachel.
"***!" pekik Rachel lalu menoleh ke arah Marsya.
"Istighfar mbak!" tutur Marsya ketika mendengar mantra khas Jawa Timur itu diucapkan.
"Kamu iku! Kaget aku!" ucap Rachel syok.
"Lagian kamu lihat apa sih, Mbak?" tanya Marsya padanya.
"Itu loh!" jawab Rachel sambil menunjuk ke arah satu semak yang bergerak.
Baru itu masih tetap dilempar ke arah Rachel. Marsya yang sudah cukup muak. Pada akhirnya mengambil lagi baru kerikil yang dilempar ke arah mereka.
"Heh, koen kape lapo, dek?" tanya Rachel terkejut saat melihat Marsya yang berancang-ancang sambil memegang batu.
"Wis, menengo mbak! Ancen durjana setan-setan Iki!" jawab Marsya penuh emosi lalu melempar kerikil itu ke arah semak-semak.
Lemparan seketika berhenti. Satu detik, dua detik, tiga detik tidak ada balasan apapun. Hingga ketika mereka memutuskan untuk pergi, mantra yang tadi diucapkan oleh Rachel terdengar.
"Jancok!" teriak suara dari dalam semak.
Mereka yang saat ini sudah membelakangi area itu sontak menoleh ke arah semak. Tapi, ternyata di sana tidak ada apapun.
Kemudian keduanya terkekeh kecil lalu kembali ke arah tenda. Sesampainya di sana, Rachel ingat bahwa dia tidak menutup tenda Bella tadi.
Nampak di sana tenda itu masih terbuka. Rachel yang takut barangkali ada binatang melata yang masuk ke dalam pun berlari.
Ketika dia sampai. Dia pun mengecek keberadaan Bella. Rupanya dia di sana masih terlelap. Beruntungnya tidak ada hewan melata yang masuk ke dalam.
"Ada apa, Mbak? Kamu kenapa lari?" tanya Marsya pada Bella ketika sudah sampai di depan tenda mereka.
"Gapapa, cuma aku lupa tadi gak tutup pintu tenda. Takutnya ada ular masuk!" jawab Rachel pada Marsya.
Keduanya malam itu kembali masuk ke dalam tenda. Hingga pukul setengah lima tepat, suara adzan dari ponselnya Cak Dika di sebelah mulai berbunyi.
Mereka semua terbangun lalu melaksanakan sholat berjamaah. Sabana luas itu hanya ada mereka. Setelah sholat berjamaah usai. Kemudian mereka sarapan.
__ADS_1
Namun mereka hanya makan roti-rotian saja, untuk mempersingkat waktu agar tidak terlalu lama menuju alas lali jiwo.
Setelah doa sudah dipanjatkan, barulah mereka pagi ini pukul lima kurang lima belas menit. Kembali berjalan menyusuri Gunung Arjuno.