Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 42: Peliput Kematian


__ADS_3

Salah satu bus dari kejauhan mulai mendekati halte. Itu adalah bus yang datang di hadapan mereka tepat pukul enam sore. Sesuai dengan planning mereka.


Hanya ada rombongan mereka di dalam bus. Pikirkan saja siapa yang akan naik bus malam-malam melewati alas baluran. Tidak ada.


Kata Pak sopir, busnya ini kena sial harus lewat alas baluran saat malam menjelang. Tidak ada jalur lain selain itu untuk menuju kembali di rumah sang sopir.


Kernet bus juga berulang kali menenangkan Pak Sopir. Sejujurnya ini adalah kali ketiga mereka melewati alas baluran.


Satu kali lewat saat pagi dan matahari masih perkasa di atas sana. Kedua kalinya adalah saat malam tiba. Mereka bercerita bahwa destinasi kedua ketika mereka melewati alas baluran.


Mereka melihat penampakan makhluk di luar nalar manusia. Seperti lima bocah dengan kepala separuh. Seorang kakek tua yang tergeletak tanpa kepala. Juga rombongan kuntilanak yang berpindah dari satu pohon jati ke pohon jati lainnya bak Spiderman.


Jika kernet dan sopir was-was. Berbeda dengan Cak Dika dan yang lain. Penciuman Laras semakin peka terhadap bau anyir ketika bus itu masuk ke dalam jalur tengkorak.


Dari balik kaca mobil, Bella juga memandangi ada banyak sekali makhluk di luar sana yang menatapnya. Bella hanya diam tapi tetap memperhatikannya.


"Sosok-sosok itu kenapa anggota tubuhnya gak lengkap?" tanya Bella lirih.


Bella yang kebetulan duduk bersama Rara kemudian bahunya ditepuk.


"Iya!" ujar Rara sambil menepuk bahunya Bella.


"Ya Allah!" pekik Bella menoleh ke samping ke arah Rara.


"Kamu ini, jangan ngagetin aku!" ujar Bella padanya.


Rara di sana hanya tersenyum. Lalu dia menunjuk ke arah sosok bapak-bapak di antara hutan jati yang sedang menenteng kepalanya.


"Itu, dia dulu korban pembunuhan! Jasadnya dibuang di sini. Semua hantu yang kamu lihat di alas ini. Mereka adalah manusia yang bernasib malang dulunya!" jelas Rara.


Rachel yang kebetulan berada di sampingnya Ng kursi mereka tersenyum mendengar itu. Rara ini sakti juga rupanya.


Di sampingnya Rachel ada Marsya, saat ini gadis itu menunduk dan mengeram. Rachel sesekali meliriknya tapi itu adalah hal biasa.


Marsya memang rawan kesurupan. Dan saat ini yang sedang mengisi tubuhnya adalah Sang Cakar kepunyaannya Laras.


Laras menutup hidungnya ketika satu bau menyengat mulai datang mengusik Indra penciumannya. Bersamaan dengan itu bus itu berhenti tepat Jurang Tangis.


"Ya Allah, kok bisa berhenti gini gimana ini?" ujar Pak Sopir yang mulai ketakutan.


"Coba cek mesin pak!" ucap sang kernet.


Pak sopir menoleh ke arah kernet itu. Tatapannya benar-benar sulit diartikan.


"Gak berani aku Cong!" ujar Pak Sopir.


Cong adalah sebutan untuk laki-laki dalam bahasa Madura. Cak Dika yang berada tak jauh dari tempat sopir dan kernet berdebat pun mendatangi mereka.


"Ada apa Mas?" tanya Cak Dika pada sopir itu.


"Ini Mas, rewel kayaknya mesinnya!" jawab Kernet padanya.


"Yaudah tinggal dilihat aja masalahnya mas!" ujar Cak Dika.


Sang kernet berseringai sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


"Anu mas..." ucap Sang kernet sambil menatap Cak Dika.


"Saya gak berani turun sendirian di sini Mas!" ujar Kernet itu pada Cak Dika.

__ADS_1


"Hahahaha..." Cak Dika terkekeh lalu menepuk bahunya kernet.


"Tenang wae mas! Mari, saya temani!" ujar Cak Dika lalu mendahului Sang kernet turun.


Sang Kernet mengambil dua senter di laci mobil. Setelah mengambilnya dia pun turun menghampiri Cak Dika.


Di luar sana gelap sekali. Tidak ada penerangan sama sekali. Kiri kanan jalanan ini adalah hutan jati. Pepohonan jati yang ditanam rapi itu pohonnya besar dan tinggi.


Mereka berdua berjalan ke arah tengah bus. Sang kernet di sana mulai mengecek tiap mesin bus. Sedangkan Cak Dika, dia di sana adalah sebagai penerangnya.


Berbekal dua senter Cak Dika menyorot cahayanya ke arah mesin bus itu. Sang kernet mulai bekerja di sana membetulkan tiap bagian yang sekiranya rusak dan butuh diperbaiki.


"Emang biasanya suka gini ta mas?" tanya Cak Dika sambil memperhatikan mesin bus yang mengepulkan asap.


"Iya Mas, tapi gak sering sih!" jawab Sang Kernet sambil mengangguk.


Sambil menunggu Cak Dika yang penasaran pun mulai memutar bola matanya ke segala penjuru hutan. Memang benar, berdiri di sini sudah seperti berada dalam Taman Safari Ghaib.


"Satu RT kumpul di sini!" ujar Cak Dika.


"Opo toh, Mas!" pekik Sang Kernet sontak menoleh terkejut menatap Cak Dika.


Cak Dika yang di tatap seperti itu pun juga sama terkejutnya. Kernet itu terdiam ketika melihat sesuatu melayang di atas kepalanya Cak Dika yang saat ini sedang menatapnya.


"Nyapo toh Cak?" tanya Cak Dika bingung. Dia semakin dibuat bingung ketika melihat ekspresi dari wajah sang kernet berubah menjadi pucat pasih.


Kedua matanya membulat penuh menatap lekat ke arahnya. Wajah itu seperti orang yang terkejut. Mulutnya juga gemetar mencoba bersuara namun sulit.


Bulu kuduk sang kernet meremang ketika melihat sosok melayang itu kepalanya jatuh begitu saja.


Lantas perlahan sang kernet mulai memaksakan tangannya yang kaku terangkat. Memberi isyarat pada Cak Dika bahwa ada sesuatu di belakang tubuhnya.


Brakkkk


Brakkkk


Cak Dika lalu menoleh ke belakang. Perlahan matanya menangkap satu sosok dengan rambut menjuntai. Baunya busuk sekali. Ketika Cak Dika menatap wajah pucat itu, kedua matanya bolong.


Cak Dika yang sudah terbiasa akan hal seperti itu malah diam dan hanya menatapnya biasa. Sosok itu menangis tersedu-sedu.


Tapi apa daya Cak Dika di sini. Hal yang sudah menimpanya tidak mampu Cak Dika cegah lagi. Di depannya ini adalah makhluk mati. Makhluk mati dengan banyak kisah perihal kehidupannya dahulu.


"Saya gak bisa bantu banyak! Tapi saya, cuma bisa doain mbak dari sini!" ujar Cak Dika lalu dia memejamkan kedua matanya dan mulai berdoa.


Ketika matanya kembali terbuka. Sosok perempuan dengan mata bolong itu hilang dari hadapannya. Detik itu juga mesin bus mulai menyala. Tapi lampunya tidak menyala.


Lantas sang sopir dari ambang pintu berteriak ke arah Cak Dika dan Kernet. Sang Sopir itu mengatakan untuk mereka agar segera bergegas masuk ke dalam lagi.


Baik Cak Dika dan Kernet pun kembali naik masuk ke dalam bus lagi. Mesin kembali dipanaskan, lalu dijalankan kembali menyusuri alas baluran yang sudah cukup sepi sunyi ini.


Suara jangkrik dan beberapa serangga masih terdengar ramah di telinga mereka. Seratus dua puluh detik kemudian. Suara-suara serangga itu tergantikan oleh suara teriakan.


Apabila kalian pernah mendengar perihal siksa neraka. Kalian boleh uji nyali di sini. Lewatlah ke alas baluran tepat di Jurang Tangis saat malam gelap menerpa.


Maka malam itu juga, kuduk kalian akan dibuat merinding. Ketakutan akan menyelimuti diri kalian. Kepala kalian akan dibuat menunduk tak akan berani menatap ke sisi manapun seperti Aldo, Pak Kernet, dan Sopir.


Mereka bertiga adalah mereka yang tidak memiliki kemampuan pawang Ghaib seperti halnya Gauta Family dan Rara.


Mulai dari suara teriakan bapak-bapak. Suara teriakan anak kecil. Hingga suara teriakan wanita. Bercampur menjadi satu menemani perjalanan mereka.

__ADS_1


Mungkin itulah alasan Rara saat ini duduk sambil menikmati Earphonenya.


"Oh jadi ini alasan kamu pakai earphone ya?" tanya Bella sambil memperhatikan Rara yang sedang bersenandung.


Rara yang terlalu asik pun mengacuhkannya. Ketika bus mereka berhasil melewati area Jurang tangis. Suara-suara neraka itu tadi hilang sekejap. Seperti dimute saat itu juga.


"Kamu tadi dengar gak?" tanya Sang Kernet pada Si Sopir.


Si Sopir yang sudah ketakutan hanya diam saja. Sedangkan Cak Dika, dia terkekeh sambil melipat kedua tangannya di dada.


Rachel melihat jam tangannya sejenak. Ini pukul tujuh malam. Yang artinya adzan isya' sudah berkumandang. Dia berinisiatif untuk sholat.


Kebetulan di dalam bus ini ada toilet. Rachel bangkit dari duduknya lalu dia menatap ke arah Marsya yang masih dirasuki. Rachel menghela nafas sebentar melihat itu. Senopati cakar ini benar-benar posesif.


Wahai Ratu, tolong katakan pada Senopatimu! Tolong lepaskan adikku sebentar. Aku mau melaksanakan ibadah dulu. Senopatimu, begitu posesif. Aku takut, jika hadirku tidak di sampingnya Marsya. Aku takut dia akan melompat dan keluar dari dalam bus!. Ujar Rachel berbicara pada Nyai Ratu melalui mata batinnya.


"Ya, nduk!" jawab Nyai Ratu.


Beberapa saat setelah jawaban itu. Sosok cakar itu hilang dari diri Marsya. Marsya kembali tersadar kembali.


"Wuihhhhh... Cakar ngfans aku mbak kayaknya! Dia punya Laras, tapi mesti hinggapnya di aku!" ujar Marsya pelan sambil melirik ke arah Rachel.


Kedua mata Marsya sayu. Lelah memang jika barang halus itu masuk ke dalam tubuh manusia. Energi rasanya terkuras.


Aneka ragam efek sampingnya. Ada yang mual seperti orang hamil. Ada juga yang pucat. Intinya ketika makhluk alam lain masuk, maka energi kita juga pasti bakalan terkuras.


"Ya baguslah, kamu jadi dijagain sama dia sekarang! Kamu kan gak punya khodam!" ujar Laras dari balik kursinya Marsya.


"Ada kok, wong buyut sama Abah selalu sama aku juga!" jawab Marsya menimpali Laras.


"Tapi mereka itu sayangnya ke Rachel doang!" ujar Laras lagi.


"Udah, mending sekarang kalian sholat aja dulu sana!" ucap Rachel, setelah mengatakan itu dia pun berjalan ke arah toilet bus yang letaknya di tengah.


Sebelum ke sana dia sempat mengambil botol air mineral besar di tasnya. Itu untuk berwudhu. Rachel masuk ke dalam lalu berwudhu.


Setelah itu dia duduk di kursi setelah Laras. Dia duduk di sana mulai berniat untuk ibadah. Takbir pertama tidak ada pengganggu. Tapi di balik punggungnya dia mulai merasakan panas.


Takbir ketiga, ekor matanya melirik sekilas ke arah kiri. Di situ kursinya kosong. Tepat di depan kursi itu adalah kursi Bella dan Rara.


Nampak seorang wanita menunduk dengan pakaian putih. Rachel mencoba acuh sekalipun panas di punggungnya masih belum hilang.


Ketika takbir keempat, tepat rakaat terakhir. Setan sialan itu masih berada di sana. Hingga ketika sholatnya akan berakhir.


Sosok laknat itu datang tepat di depan wajahnya. Rachel berteriak kencang sambil beristigfar. Dia terkejut. Cak Dika menoleh ke belakang kemudian. Begitupun dengan saudaranya yang lain.


Rara melepas earphonenya lalu berdiri dan berbalik. Rara mendekati Rachel di sana. Entah dengan ajian semacam apa yang ada dalam diri gadis itu.


Kepala kuntilanak yang terbalik itu dijambak begitu saja olehnya. Sedangkan kuntilanak itu hanya mampu tertawa mencoba menakuti Rara.


"Medi goblok! Ora usah ganggu wong sembahyang!" ujar Rara.


*Setan bodoh! Jangan ganggu orang sembahyang!.


Cak Dika berdecak kagum melihat apa yang Rara lakukan. Dia sebenarnya tadi hendak datang mengusirnya. Tapi rupanya Rara lebih dulu mendahuluinya.


Rara mulai membaca beberapa ayat. Perlahan sosok itu memudar diiringi teriakan kesakitan. Setelah melakukan itu, Rara kembali duduk di kursinya. Dia kembali memasang earphonenya sambil melipat kedua tangannya.


"Sebentar lagi TKP-nya! Itukan yang kalian cari? Mas, yang di sana! Coba cari tau, siapa sosok samurai yang bapakku lihat itu?" ujar Rara memberitahu sambil sorot matanya menatap tepat ke arah Cak Dika yang berdiri di depan sana.

__ADS_1


Cak Dika berseringai mendengar itu. Gadis semacam ini, sumpah, dia sangat menyukainya.


__ADS_2