Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 118: Menemui Laras


__ADS_3

Waktu terus berputar. Di tengah deras hujan di luar Aldo bersama satpam berlari mengikuti Dimas. Dalam kepala Aldo ada satu perintah dari Laras.


Bakar selimutnya!.


Itulah apa yang dikatakan Laras untuknya. Hatinya sungguh berat meninggalkan Laras di sana seorang diri. Di tambah ketika mereka dalam perjalanan berlari menerjang hujan itu Aldo sempat bertanya pada Sang Satpam.


Rupanya hanya dia yang menjaga Mall itu malam ini. Yang artinya Laras di sana sendiri. Laras masuk ke dalam kandang setan itu.


Sungguh Aldo tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu pada Laras. Dia berusaha meyakinkan dirinya bahwa Laras akan baik-baik saja.


"Itu Mas rumah kami sudah dekat!!!" teriak Dimas di depan mereka sambil berlari menunjuk ke arah gubuk kayu yang cukup tua.


Bau busuk sampah yang basah membuat mereka menutup hidung. Sungguh malang sekali nasib bocah ini hidup berdampingan dengan sampah.


Sambil memperhatikan sekitar Aldo terus berjalan. Intinya dia harus menyelesaikan apa yang Laras katakan.


Pintu kayu itu masih terlihat terbuka. Sepertinya Dima lupa menutup pintu itu tadi. Ketika mereka masuk ke dalam. Anehnya selimut yang mereka pakai bersama saat itu hilang.


Padahal Dimas ingat betul bahwa selimut itu masih berada di sana. Tapi di mana selimut itu? Apakah ada yang mengambilnya?.


"Di mana selimutnya?" tanya Aldo penasaran. Kedua bola matanya menari-nari ke sana ke mari mencoba mencari selimut yang Laras maksudkan.


Dimas menunjuk ke arah ranjang. Dia yakin bahwa selimut itu tadi di sana.


"Kami meletakkannya di atas ranjang! Tapi tiba-tiba tak ada bagaimana ini?" tanya Dimas yang ikut juga frustasi.


Di tempat lain terlihat seorang kakek tua berjalan pelan. Dia membawa bungkusan hitam di tangannya. Kakek tua itu berjalan santai di atas trotoar.


Tangan kirinya memegang tongkat. Tubuhnya sudah lapuk tak mampu menahan berat tubuhnya sendiri. Cukup lama bagi dia berjalan.


Kemudian dia berhenti lalu mengangkat bungkusan itu sejajar dengan wajahnya. Kakek itu mengamati bungkusan itu. Ya, dialah kakek yang menjadikan Joko tumbal dari suster itu.


"Kalian gak akan bisa nemukan ini! Suster itu pasti dapatkan tumbalnya. Dan akan ada yang mati dari keturunan Gautama setelah ini!" ujar kakek itu pelan sambil berseringai.


Kembali lagi pada Aldo. Dia yang sibuk mencari itu tak sengaja menoleh ke arah halaman TPS. Di sana ada pohon pisang kecil. Aldo terpaku menatapnya entah kenapa?

__ADS_1


Perlahan Aldo berjalan mendekati pohon itu. Sedangkan Sang Satpam dan Dimas sibuk mencari. Ketika tubuhnya hampir dekat dengan pohon itu.


"Uwahhhh!!!" teriak Aldo terkejut melihat sosok kakek-kakek mendadak muncul di depannya.


"Si... Siapa kamu?!!" pekik Aldo sambil masih memperhatikan sosok kakek itu.


Namun sang kakek hanya tersenyum. Dia menatap kedua mata Aldo dalam kali ini. Ketika kakek itu maju mendekati Aldo. Detik itu juga raga Aldo di isi oleh kakek tua itu.


Seorang kakek tua berpakaian putih saat ini masuk ke dalam tubuh Aldo. Mimik muka yang tadinya tercengang terkejut berubah menjadi berseringai.


Dimas dan Satpam itu kembali menoleh ke arah Aldo yang sempat berteriak tadi. Mereka memperhatikan Aldo yang saat ini menghadap ke arah pohon pisang dan membelakangi mereka.


"Mas!" panggil sang Satpam pada Aldo.


Namun tak ada jawaban. Kedua tangan Aldo ke belakang seperti orang istirahat di tempat. Tanpa menjawab sapaan dari satpam itu. Aldo pun berjalan masuk lebih jauh ke arah kebun pisang.


Sejenak Dimas dan Sang Satpam itu saling menatap satu sama lain. Tapi ini genting mereka berinisiatif mengikuti Aldo kali ini.


Pohon pisang besar itu mereka jelajahi. Rerumputan liar setinggi lutut. Entah siapa yang menanam pohon sebanyak ini di area TPS (Tempat pembuangan sampah).


"Kamu Ndak pernah masuk kemari dek?" tanya Sang Satpam pada Dimas di sampingnya.


Aldo berhenti sejenak. Di sini dia mulai memejamkan kedua matanya. Kedua tangannya bergerak bak Prabu Siliwangi yang memainkan jurus.


Ada bahasa Jawa kuno yang dia lafalkan. Semacam bahasa Jawa kerajaan jaman dahulu. Di sana baik Dimas dan Satpam langsung gemetar.


Mereka di sana hanya bertiga. Dan langit semakin gelap. Guyuran hujan pun deras. Mereka saat ini paham bahwa Aldo sedang dirasuki oleh sesuatu.


"Pen jalukmu kui opo? Koe niat mateni uwong? Koe sadar ora nek koe Iki cuma ciptaan. Koe duduk pencipta tapi ciptaan. Koe ora duwe hak mundut nyowone menungso! Kulo teng mriki niat e apik! Balikno arek iku! Bismillah... Pangeran semerap niatku! Yen ora mok balikne koe bakalan narimo ganjarane!" ucap Aldo sambil masih menggerakkan kedua tangannya.


(Mintamu itu apa? Kamu niat membunuh orang? Kamu sadar gak kalo kamu ini hanya ciptaan. Kamu gak punya hak ambil nyawanya manusia! Aku di sini niatnya bagus! Kembalikan anak itu! Bismillah... Tuhan tau niatku! Kalau kamu gak mau mengembalikan kamu akan menerima resikonya!)


Seorang kakek tua yang tadi mengambil selimut itu terhenyak. Seperti ada yang menusuk dadanya kali ini. Tapi dia tidak melihat siapa yang melakukan itu. Dia seperti ditikam namun tidak berdarah.


"Ughhh..." pekik kakek tua itu kelopak matanya membulat penuh.

__ADS_1


Sungguh ini sangat sakit. Ketika dia mencengkram selimut itu. Darah segar keluar dari dalam mulutnya. Ada sesuatu yang menohok dadanya sangat keras hingga terbatuk.


"Arghhh... Uhukkk... Uhukkkk..."


Suara kakek itu mengerang kesakitan hingga deritanya didengar oleh Dimas dan Satpam itu. Mereka menoleh ke arah kiri. Didapati seorang kakek tua yang kesakitan sambil terlentang.


"Itu!" ucap Dimas sambil menunjuk ke arah selimut yang dipegang oleh kakek tua itu.


"Apa?" tanya satpam itu pada Dimas.


"Itu selimut yang dimaksud mas ini! Ayo bakar pak!" jawab Dimas padanya.


Satpam itu pun paham. Dia kemudian mendekati kakek tua itu.


"Jadi ini selimutnya!" ujar satpam itu sambil memperhatikan selimut yang masih dicengkram keras oleh kakek tua itu.


"Gautama!!!" teriak kakek tua itu murka sambil menatap Aldo yang sama sekali tidak menatapnya.


Ya... Dia yang saat ini berada dalam tubuh Aldo adalah Simbah Gautama.


"Gautama! Sialan kau!" ujar Kakek tua itu.


Satpam itu mencoba menarik selimut itu. Namun sang kakek masih tetap kukuh berusaha mempertahankan selimut itu dalam tangannya.


Melihat itu Simbah Gautama yang berada dalam tubuh Aldo pun tersenyum. Kemudian dia menoleh ke arah kakek tua itu.


Sambil tersenyum dia pun mengulangi kalimat Jawa yang dia ucapkan. Sebuah mantra kuno yang hanya ada dalam ilmu kejawen.


Bangsat!. Batin kakek tua itu. Mantra kuno itu membuat jari jemarinya yang tadi kuat mencengkram terbuka.


Selimut itu berada dalam genggaman tangan satpam itu kemudian. Cuaca masih hujan. Ketika Simbah Gautama menatap ke arah selimut yang dipegang oleh satpam itu. Dengan ajaib selimut itu terbakar.


"Loh.. Loh.. ******!" pekik sang satpam terkejut melihat selimut yang dia pegang terbakar. Sontak dia melepaskan selimut itu.


Hanya beberapa menit sampai selimut itu menghilang tak berbekas ditelan api ghaib. Ketika selimut itu usai terbakar. Sebelum pergi meninggalkan raga Aldo. Simbah berkata padanya,

__ADS_1


"Jaga Laras!"


Sebuah kalimat perintah itu mengiringi Aldo kembali masuk dalam tubuhnya. Mendengar itu Aldo langsung berbalik berlari menuju ke dalam mall. Dia tidak ingin sampai terjadi hal buruk pada Larasnya.


__ADS_2