Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 156: Oh jadi ini alasannya!


__ADS_3

Ketika Simbah Gautama tadi mengajaknya. Cak Dika dan Marsya sampai di sebuah tempat.


Tempat itu elegan sekali bangunannya bak sebuah kerajaan. Indra mata mereka yang terbuai membuat mereka tidak menyadari bahwasannya tepat di hadapannya kali ini ada penguasa dari area itu.


"Anakku!" panggil Simbah Gautama pada Cak Dika dan Marsya.


"Huh!" pekik Marsya dan Cak Dika mereka fokus kembali pada sosok Simbah Gautama.


"Ya, Simbah?" tanya mereka berdua.


Kemudian Simbah Gautama menunjuk ke arah satu singgasana yang di sana telah duduk satu sosok manusia tampan dengan mahkotanya.


"Wah muridmu sudah datang rupanya, Nimas!" ujar sosok bermahkota itu.


"Sultan, bawa kembali Nyai Ratu!" ucap Simbah Gautama padanya.


"Wah berani sekali kau berkata seperti itu padaku! Nyai Ratu ini adalah kekasihku! Aku tidak akan memberikannya padamu. Sudah lama aku mencari kekasihku! Ternyata dia datang sendiri! Lalu katakan, bagaimana aku akan melepaskannya?" ujar Sang Sultan pada Simbah Gautama.


"Tetapi Nyai Ratu menolak lamaranmu dahulu! Kamu tidak berhak mengurungnya!" ujar Simbah Gautama mengingatkan perihal kisah semasa hidupnya Sang Sultan bersama Nyai Ratu.

__ADS_1


Mengingat itu sontak saja Sang Sultan berdiri. Dia menatap benci ke arah Simbah Gautama beserta kedua cucunya.


"Berani sekali kau mengingatkan padaku perihal kejadian itu! Alam yang sekarang berbeda dengan yang dulu. Di sini yang paling kuat yang berkuasa! Maka tunduklah kau di bawah kekuasaanku! Wahai murid Sang Nyai!" ujar Sang Sultan murka sambil menunjuk Simbah Gautama.


Wajah keriput itu hanya tersenyum. Dia kemudian menatap Sang Sultan dengan tatapan tenangnya.


"Tunduknya kami hanya pada Jagat Dewa Batara! Dan tunduknya para cucuku. Adalah kepada dia yang Esa!" ujar Simbah Gautama.


Sang Sultan memicingkan kedua matanya. Kebencian dalam dirinya semakin membara. Sungguh dia murka sekali atas kedatangan Simbah Gautama dalam istananya.


"Jadi kau ingin beradu kekuatan denganku?" tanya Sang Sultan kepada Simbah Gautama.


"Hahahahahaha," tawa Sang Sultan di sana.


Dia melipat kedua tangannya sambil menatap lekat ke arah Simbah Gautama.


"Nyai Ratumu saja tunduk dan kalah! Sekarang kalian mau menantangku? Sultan dari istana ini? Tidak, kalian tidak akan menang!" ujar Sang Sultan menyombongkan diri.


Dia merasa bahwa dirinyalah yang paling hebat daripada para cecunguk yang sedang berdiri di depannya.

__ADS_1


"Kesombongan itu tidak baik Sultan! Sebab ada yang lebih mampu darimu!" ucap Simbah Gautama.


"Baiklah, jika aku yang memenangkannya! Maka kalian semuanya tidak akan pernah bisa keluar dari dalam istanaku! Kalian akan menjadi budakku pengikutku! Apa kalian setuju?" tanya Sang Sultan pada mereka.


"Kami setuju!" ucap Simbah Gautama.


Jawaban itu membuat Cak Dika dan Rara melongo. Rasanya saat ini mereka tidak yakin akan kemampuannya. Cak Dika masih kurang ilmunya daripada Simbahnya.


"Kenapa Dika?" tanya Sang Simbah pada Dika. Simbah Gautama tidak menoleh ke arah Cak Dika. Tapi dia merasakan ada kegundahan dalam hati Cak Dika.


"Simbah, tapi kami ini tidak ada apa-apanya dibandingkan ilmumu!" ucap Cak Dika sadar diri.


"Dika, Marsya! Kekuatan pencipta selalu ada! Kekuatan itu bisa kita minta padanya. Jika hati kita percaya padanya maka tidak akan ada kekuatan yang bisa mengalahkan kekuatannya Sang Pencipta! Kepercayaan di jamanmu pakailah! Aku akan memakai kepercayaanku sendiri!" ucap Simbah Gautama.


Beliau mulai mengambil kuda-kuda. Melihat itu Sang Sultan pun juga sama melakukan apa yang Simbah Gautama lakukan.


Sambil bergerak tangannya ke arah sang Sultan. Mulut Simbah Gautama tidak berhenti komat-kamit. Ajian mantra Jawa dia baca.


Tentu saja Cak Dika dan Marsya juga melakukan hal itu. Mereka membantu Simbahnya dengan bacaan doa.

__ADS_1


__ADS_2