
Langit mulai menggelap. Cahaya lampu warna-warni dari Suramadu mulai menyala. Cak Dika dari arah Kenjeran berbinar menatap itu. Indah sekali sungguh!
Rara yang sejak tadi berada agak jauh darinya hanya mampu menggeleng pelan melihat ekspresi wajah Cak Dika yang terlihat senang bahagia seperti halnya anak kecil ketika sudah mendapatkan permen.
Mereka menyewa tiga mobil malam ini. Hanya untuk sekedar berkelana ke sana kemari mengarungi jembatan Suramadu.
"Wah, panjang sekali ya jembatan itu!" ujar Melissa sambil menatap ke arah jembatan.
Rachel di sampingnya hanya tersenyum melihat ekspresi wajah Melissa yang sangat terpukau ketika menatap megahnya jembatan Suramadu.
"Ya inilah, kebanggaan warga Surabaya dan Madura!" ujar Rachel menjelaskan.
"Hahahaha..." Melissa tertawa mendengar itu. Itu membuat Rachel menarik satu alisnya. Ada apa dengan gadis bule ini mendadak tertawa setelah mendengar jawaban darinya.
"Ada apa, Melissa?" tanya Rachel padanya.
"Indonesia punya jembatan Gate Way!" ujar Melissa.
Ah, hal itu tentu saja membuat Rachel paham lalu mengangguk. Terlihat Cak Dika dan Rara berjalan mendekati mereka.
"Udah, ayo kita jalan-jalan lagi!" ajak Cak Dika lalu berjalan keluar dari pantai kenjeran.
Mereka pun keluar dari sana. Tepat di depan area Kenjeran itu. Sudah siap tiga mobil grab. Rahman dan Deni lah yang memesannya. Atas pinta dari ketua tim yaitu Cak Dika.
Mereka masuk ke dalam mobil itu. Mobil pertama di isi oleh Deni, Rahman, Mas'ud, Cak Dika dan Aldo. Mobil kedua di isi oleh Rachel, Marsya dan Bella.
Sedangkan mobil ketiga di isi oleh Rara, Laras dan Melissa. Juga empat hantu Belanda siapa lagi jika bukan Barend, Albert, Melissa dan Gelanda.
Mobil mereka melaju dengan kecepatan sedang menyusuri jalanan kota dan lalu lintasnya. Sampai ketika ketiga mobil mereka hampir masuk ke kawasan Suramadu.
Para pemilik mata ghaib itu dibuat terperangah. Bukan sebab karena keindahannya. Melainkan, di sana ada keberadaan gerbang ghaib yang cukup besar keberadaannya.
Maka, saat itulah ketika mobil mereka sudah masuk ke kawasan itu. Bersamaan mereka mengucapkan salam. Kecuali Melissa yang notabennya adalah gadis bule non muslim.
Melissa juga melihat keberadaan dari gerbang itu. Dan dia bersikap biasa saja. Menurutnya itu wajar saja. Sebab laut adalah pusatnya Jin.
Memasuki Suramadu hawa yang mereka rasakan juga tidak biasa. Aura mistisnya benar terasa. Mereka menikmati tiap apa yang ada di sana dari balik kaca mobil.
__ADS_1
Sampai ada satu hal yang membuat Cak Dika menatap heran dari kejauhan. Dia melihat sesuatu yang menepi di jalanan itu.
Itu sebuah mobil. Tapi arahnya berlawanan dengan mobilnya. Seharusnya mobil itu berada di arus sebelah kanan. Jika pengendaranya cukup waras dan tidak ingin ditabrak.
"Pak, berhenti Pak!" ujar Cak Dika pada supir.
"Hah?" lirih Supir itu ketika mendengar perintah dari Cak Dika.
"Ada apa, Mas?" tanya Pak Supir.
"Udah berhenti dulu aja, Mas! Menepi!"' perintah Cak Dika lagi pada Pak Supir.
Dia merasa ada sesuatu yang salah dalam mobil kosong itu. Mendengar perintah dari Cak Dika sang supir pun mengangguk.
"Oh okeh, Mas!" jawab Pak Supir padanya.
Mobil Cak Dika pun mulai menepi. Itu tentu saja membuat dua mobil saudaranya di belakang juga ikut menepi.
"Kenapa dia berhenti?" lirih Rara ketika melihat Cak Dika keluar dari dalam mobil.
Sontak para saudaranya juga ikut keluar dari dalam mobil. Cak Dika mendekati mobil kosong itu. Tidak ada siapapun di sana. Hanya sebuah mobil mati mesinnya. Tapi masih dalam keadaan bagus.
Ditambah arah jalannya yang bertabrakan dengan arus mobil mereka.
"Tapi hadapnya kenapa ke sini Yo?" tanya Rahman yang merasa aneh juga.
Cak Dika memperhatikan mobil itu dari atas sampai bawah. Dia mengecek satu persatu barangkali ada petunjuk yang bisa dia temukan. Tapi nyatanya tak ada.
Thariq ingat sesuatu. Dia tidak menemukan keberadaan Rachel dalam rombongan mereka. Lantas Thariq memutar kepalanya ke belakang ke arah tiga mobil mereka yang terparkir di sana.
Terlihat di dalam mobil itu. Tepat di mobil kedua. Rachel masih di sana. Dia duduk memperhatikan mereka dari dalam mobil.
Thariq lalu berjalan ke belakang menghampiri kembali mobil mereka. Ketika Thariq berhenti tepat di mobil kedua. Thariq mengetuk kaca mobil itu. Hal itu membuat Rachel yang masih fokus memperhatikan menengok ke samping ke arah Thariq.
"Kamu kenapa?" tanya Thariq pada Rachel.
Kaca mobil yang masih tertutup membuat suara Thariq samar menyapa Indra pendengarannya. Rachel tanpa keluar dari dalam mobil mulai membuka kacanya.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" tanya Thariq lagi padanya.
Di sana Rachel hanya tersenyum tipis lalu memperhatikan sekelilingnya. Sepoi angin di jembatan itu membuat bulu kuduknya berdiri. Aura mistis di atas jembatan ini jelas terasa.
Sebab keberadaan gerbang ghaib berdiri besar di sini. Tapi bukan itu yang Rachel takuti. Bukan keberadaan dimensi sebelah ataupun makhluk astral di sini.
"Tumben kamu diam aja, Hel?" tanya Thariq lagi padanya.
Lagi, Rachel hanya tersenyum tipis lalu mengangguk. Dia pun berkata pada Thariq.
"Aku takut laut!" jawab Rachel padanya.
"Aku pengidap Thalassophobia, akut!" jawab Rachel masih dengan senyuman tipisnya.
Itu membuat Thariq terkejut. Perasaan tadi sejak di Kenjeran Rachel tidak seperti ini. Padahal tepat di depan mereka adalah laut.
Thalassophobia adalah rasa takut berlebih (phobia) terhadap air dalam jumlah besar, entah itu di danau, laut, kolam, dan lain-lain.
"Tapi, kami tadi tidak setakut ini waktu di Kenjeran loh!" ujar Thariq lagi padanya.
"Hahahaha..." Rachel tertawa kecil mendengar itu.
"Riq, tadi kita duduk agak jauh dari laut! Sekarang kita berada tepat di atas laut. Sekalipun masih berpijak di atas jembatan!" ujar Rachel menjelaskan.
Thariq tersenyum lembut padanya lalu terkekeh. Dia kemudian membuka pintu mobil Rachel.
"Kamu mau apa?" tanya Rachel padanya ketika Thariq berdiri di depannya sambil menatapnya penuh.
Bismillahirrahmanirrahim, Ya Allah! Saya hanya mau membantunya. Saya tidak memiliki nafsu apapun, jadi jika ini dosa maka maafkan saya. Saya terpaksa menyentuhnya!. Ujar Thariq dalam hatinya lalu mengulurkan tangannya pada Rachel.
Ukuran tangan itu sejenak membuat Rachel terpaku. Lalu ketika dia menatap Thariq kembali. Di sana Thariq tersenyum dan mengangguk mantap.
"Iya..." lirih Rachel lalu membalas uluran tangan itu.
Thariq membawanya berjalan bersamanya mendekati saudaranya. Ketika dia sampai tepat di depan mobil kosong itu.
Lagi-lagi hanya dirinyalah yang merasakan aura buruk dalam mobil itu. Rachel merasakan ada sesuatu dalam mobil itu.
__ADS_1
Tangannya yang masih terpaut dengan Thariq dia lepas begitu saja. Lalu dia membuka pintu mobil itu. Dia memeriksa tiap isi mobil itu. Tapi, tidak ada siapapun.
Di situ Rachel memutuskan untuk masuk ke dalam mobil itu lalu duduk. Ketika dia memejamkan mata. Alamnya langsung pindah ke alam lain.