
Sepatu mereka berpijak di atas rerumputan liar. Rumput itu rimbun. Tingginya selutut mereka. Ketika mereka masuk ke dalam bangunan lalu membuka pintunya. Mereka disambut oleh hembusan angin dari dalam.
Wushhhhhhhh
Bau Danur!
Ya, itulah yang mereka cium saat ini. Dan Naufal masih enggan percaya bahwa ponselnya tidak ditemukan di halaman. Padahal semalam dia menjatuhkannya di sana.
Tapi, kata Cak Dika. Ada kemungkinan bahwa ponsel itu disembunyikan oleh mereka masuk ke dalam bangunan ini.
Besinya mulai berkarat. Itu sebagai bukti bahwasannya area itu sudah lama tidak berpenghuni. Untuk meruntuhkannya dibutuhkan nyali juga ilmu.
Sebab semakin tua bangunannya maka akan semakin kuat pula kemistisannya. Ditambah bangunan ini dahulu adalah bekas penjara.
Siapa yang tidak mengenal bangunan ini dulu? Kemegahan juga Kesadisannya terkenal sampai ke telinga-telinga orang.
Sosok ilusi bertubuh mungil terbang di sisi Marsya. Sosok itu tentu saja Barend. Adik ghaib Marsya dan Rachel.
"Hei Marsya!" panggil Barend padanya.
Marsya lantas menoleh ke samping lalu menaikkan satu alisnya.
"Apa?" tanya Marsya padanya. Dia masih berjalan.
Barend lalu memperhatikan sekeliling bangunan ini. Luar biasa rasanya. Ini mencekam sekali. Banyak kekerasan terjadi di sini.
"Orang yang berada di tempat ini seluruhnya kasar! Apakah kau tidak takut Marsya?" tanya Barend dengan polosnya.
Marsya terkekeh kecil mendengarnya. Lantas dia pun menggeleng.
"Kenapa aku harus takut pada mereka, Barend? Jika aku takut pada mereka. Lalu agamaku kemana? Imanku ada, kenapa aku harus meringkuk takut jika Tuhan selalu berada di sisiku?" ujar Marsya bijak.
Barend pun mengangguk dia mengiringi rombongan Cak Dika masuk ke dalam. Mereka berhenti tepat di sebuah sel yang sudah rusak. Pintunya berkarat dan di dalam ada tanaman liar.
Thariq yang berada di samping Rachel mulai merasakan pusing. Rachel tau itu, dia segera menggenggam tangan Thariq.
Itu adalah bantuan energi. Supaya masuknya Thariq menjelajah tidak terlalu menguras energinya. Thariq membalas genggaman tangan itu. Di sana rasanya dia mendapat energi yang cukup untuk masuk jelajah lagi.
Para kameramen mereka di belakang sudah siap. Kamera di papah di punggung. Mereka mulai merekam tiap apa yang akan Thariq katakan. Sambil memejamkan mata Thariq berkata,
"Di sel ini kelam! Di dalam sini banyak tahanan yang saling pukul. Mereka bunuh diri sebab tidak kuat dengan kehidupan penjara. Bahkan mereka yang baru saja masuk, ditendang, dipukul, didorong ke tembok berulang kali! Sadis!" ujar Thariq mengkisahkan perihal apa yang terjadi di dalam sel itu beberapa tahun yang lalu.
Cak Dika mengangguk dia pun juga sama merasakan aura yang begitu kelam dalam sel itu. Sel itu lebih berbeda dari sel lainnya. Ini jauh lebih pekat auranya.
"Gila sih ini!" umpat Thariq lagi.
__ADS_1
"Banyak yang disiksa. Orang yang membangkang sama petugas. Banyak yang dibunuh, ditindas. Ruang penyiksaan. Ada orang bunuh diri karena dihajar orang satu sel. Dikucilkan akhirnya bunuh diri. Karena dari keluarga sendiri dibuang, tidak dianggap. Di dalam sel ada yang disiksa oleh sesama tahanan. Di dalam sel saling baku hantam. Sebelum masuk sel sudah dihajar! Ini seperti neraka bagi para Napi!" ujar Thariq lagi menjelaskan perihal apa yang dia lihat di alam sana.
Saat ketika bangunan itu masih beroperasi. Rachel memperhatikan wajah Thariq yang memucat. Sepertinya memang apa yang dilihatnya teramat sangat mengerikan. Jika bicara perihal sejarah maka tidak akan luput dari darah dan nyawa.
Kekelaman yang ada di dalam bangunan itu membuat Thariq tak mampu berada dalam jelajah waktu semakin lama.
Thariq kemudian memutuskan untuk kembali. Jelajah waktunya usai. Bersamaan dengan itu terdengar suar langkah kaki.
Suara itu berasal di ujung lorong. Di ujung lorong sana ada persimpangan ke kanan juga ke kiri. Suara itu membuat mereka yang ada di sana memusatkan perhatian mereka ke arah lorong itu.
Di ujung sana tidak ada apapun. Hanya bangunan dengan tembok berlumur yang mulai lapuk. Hanya ada belukar di sana. Juga sisi tiap lorong itu ada banyak sel penjara.
Penjara ini dulunya dibangun oleh pemerintahan Belanda pada tahun 1808 dan itu memakan biaya sebesar 8000 Gulden. Apa kalian masih ingat mata uang negara kita saat dijajah? Ya, mata uang Belanda pada saat digunakan. Dan itu adalah Gulden.
Penjara ini memang disebut-sebut sebagai tempat yang paling ditakuti para narapidana. Hal itu dikarenakan tempatnya yang sempit, gelap dan pengap.
Satu ruangan di sana hanya berkapasitas 20 orang. Namun kala itu dipaksa agar mampu ditempati 90 orang. Dinding antar biliknya pun dibuat sangat tebal. Benar-benar suram rasanya berada di sini.
Dari ujung lorong itu nampak bayangan hitam terpantul. Dari tubuh bayangan itu. Mereka bisa menyimpulkan bahwa pemilik dari bayangan itu adalah seorang wanita.
"Bayangannya siapa itu?" tanya Naufal tak percaya. Seharusnya ada orang di sana jika ada bayangannya.
Thariq dan seluruh pemilik mata batin hanya menatapnya datar. Bayangan itu kemudian bergerak masuk ke arah sisi kanan lorong. Sebelum mereka memutuskan untuk mengikutinya. Dari belakang Melissa menepuk bahu Cak Dika.
"Hei!" sapa Melissa pada Cak Dika.
Melissa menatap ke arah bayangan itu tadi. Lalu dia pun berjalan mendahului mereka. Sambil berjalan dia mengatakan sesuatu dengan bahasa Belandanya.
"Hé dame, we wilden u niet lastig vallen! Maar geef terug wat je hebt meegenomen. Zeg, waar is het nu?" ujar Melissa semakin maju mendekati ujung lorong.
(Hei nona, kami tidak ingin mengusikmu! Tapi kembalikan benda yang kau ambil. Katakan, di mana itu sekarang?)
Mendadak satu energi berpusat di tengah lorong itu. Energi itu membentuk sesuatu. Ketika sesuatu itu berkumpul menjadi satu di sana. Mulai nampak secara perlahan sosok wanita Belanda itu.
Refleks saja Naufal mengangkat tangannya. Dia tercengang tak percaya rasanya menyaksikan apa yang ada di hadapannya sekarang.
Jari telunjuknya tepat mengarah ke arah wanita itu. Rachel tau, setan wanita yang saat ini berdiri di lorong itu adalah setan yang sama yang muncul menakuti Naufal malam kemarin.
"Jij bent Nederlands! Maar jij, aan de kant van de Inlanders! Uw mensen zijn onze mensen! Niet hun!" ujar suara sosok itu berkata bahasa Belanda.
(Kamu orang Belanda! Tapi kamu, memihak orang Inlander! Kaummu kaum kami! Bukan mereka!)
Melissa terdiam mendengar itu. Dia lalu berhenti melangkah. Jarak antara dirinya dan setan itu sekitar sepuluh langkah.
"Jullie kolonisten eerst! Maar nu is het moeilijk voor hen om onafhankelijk te zijn. Je bent dood, jouw rijk is anders dan het onze! Dus stoor de levende ziel niet. Want als ze pieken, word je misschien gedwongen om hier weg te gaan. De opbouw van onze natie is comfortabel voor u, nietwaar? Maar als je hier nog steeds wilt zijn. Zeg, waar is dat ding?" tanya Melissa lagi padanya.
__ADS_1
(Kamu penjajah dulu! Tapi sekarang, mereka susah merdeka. Kamu sudah mati, alammu berbeda dengan kami! Maka jangan usik jiwa hidup. Karena jika mereka melunjak, kamu mungkin akan dipaksa pergi dari sini. Bangunan bangsa kita nyaman buatmu bukan? Tapi, jika kamu masih mau di sini. Katakan, di mana benda itu?)
Sosok itu menatap benci ke arah Melissa. Dia ingin melawan Melissa di sini. Namun Melissa yang memahami kebencian itupun. Memanggil para kawanan setannya.
Dia lah Gelanda, Melissa, Barend dan Albert. Para hantu Netherlands berdiri tepat di belakang Melissa. Mereka menatap aneh ke arah setan wanita itu.
Setan itu diam sejenak lalu memandang ke arah Rachel. Di sana dia terdiam ketika melihat sosok Nyai Ratu lengkap dengan pasukannya.
Merasa terancam akhirnya dia pun mengatakan,
"Je kunt het aan! Ik heb het ondergronds verplaatst. Martelkamer!" ujar sosok itu lalu memudar dan pergi.
(Kau bisa mengambilnya! Aku memindahkan itu di bawah tanah. Ruang penyiksaan!)
"Dank Je!" ucap Melissa yang artinya adalah terima kasih dalam bahasa Belanda.
Melissa kemudian memutar tubuhnya. Di sana dia tersenyum. Cak Dika paham perihal senyuman itu begitupun dengan yang lain.
"Di mana dia meletakkannya?" tanya Rachel pada Melissa.
Sosok Barend dan Albert tiba-tiba muncul tepat di depan Rachel. Itu membuat Rachel terkejut.
"Dasar bocah setan! Bisa tidak kalian munculnya yang smooth gitu. Jangan tiba-tiba langsung nyembul, serangan jantung aku nanti!" ujar Rachel murka.
Marahnya itu disambut tawa oleh Barend dan Albert. Kemudian mereka pun tersenyum senang.
"Kami akan menunjukkannya pada kalian!" ujar Barend dan Albert bersamaan.
Keduanya lalu terbang ke arah lorong. Tepat di persimpangan lorong mereka berbelok ke kiri. Dan di sana ada satu sel. Satu sel dengan lubang kotak. Lubang itu ada tangga. Sepertinya itulah ruangannya.
"Gelap banget!" ujar Thariq yang merasakan pusing lagi.
Rachel mengambil ponsel dalam sakunya. Dia menyalakan flashlightnya. Dia lalu memilih untuk masuk lebih dulu. Lihatlah betapa tidak ada rasa takutnya anak itu. Sebelum masuk lebih jauh Rachel berkata.
"Thariq gak usah masuk! Kamu udah cukup banyak keluar energi. Di sini lebih suram daripada di atas. Jadi tunggu aja!" ujar Rachel.
Thariq tersenyum mendengar itu. Apa yang Rachel katakan itu benar. Jika dia memaksa masuk mungkin kesadarannya akan hilang.
Melissa, Cak Dika dan Marsya masuk. Mereka membawa Rahman bersamanya. Sedangkan Mas'ud dibiarkan berada di atas bersama dengan Naufal dan Thariq.
Cukup lama mereka mencari di bawah sana. Pada akhirnya ponsel itu ditemukan. Mereka pun kembali naik lalu memberikan ponsel itu pada Naufal.
Terlihat di sana Naufal sangat bahagia ketika barang yang dia cari dia dapatkan kembali. Berulang kali Naufal mengatakan terima kasih pada Cak Dika beserta saudaranya.
Ketika Naufal memberikan lembaran uang pada mereka. Cak Dika pun dengan halus menolaknya. Di sana Rachel dan Cak Dika berkata,
__ADS_1
"Kami tidak membutuhkan ini! Kami ada di sini nolong kamu itu ikhlas. Jadi, simpan saja ya!" ujar Cak Dika dan Rachel.