Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 26: Gunung Arjuno 2 (Via Lawang)


__ADS_3

Pendakian mereka sudah di mulai. Cak Dika yang notabennya jarang sekali mendaki. Sesekali meminta istirahat lagi dan lagi.


Mereka sudah berjalan sekitar dua jam lamanya. Jarum jam tangan mereka menunjukkan tepat pukul setengah lima. Lagi dan lagi Cak Dika yang berada di belakang Bella meminta untuk istirahat sebentar.


Bella melihat jarum kompas miliknya. Lalu dia berbalik memperhatikan Cak Dika yang saat ini sedang duduk sambil terengah-engah.


Bella menaikkan satu alisnya melihat itu lalu tak lama dia pun menggelengkan kepalanya.


"Mas kok jadi jompo gini kamu?" tanya Rachel asal pada Cak Dika yang duduk.


"Alamat gowo wong tuo jompo ngene iki!" tambah Marsya menimpali.


Bella tertawa mendengar itu. Lalu dari samping Carriernya tepat di tempat minumnya. Bella mengambil botol miliknya.


Botol itu berisi wedang jahe. Minuman kesukaan Bella ketika Break di jalur saat mendaki.


"Ini Cak! The Best ini!" ucap Bella sambil menyodorkan botol minum miliknya.


Dari baunya Cak Dika tentu saja tau apa itu. Dia juga sangat menyukai wedang jahe. Di tambah di sini hawanya juga sangat dingin. Dia sampai rangkap dua baju di sini sangking dinginnya.


"Mbah... Mbah..." ucap Marsya lagi ketika Cak Dika membuka botol minum itu lalu meminumnya pelan-pelan.


Laras meminta turun dari gendongan Aldo di sini.


"Kenapa turun?" tanya Aldo pada Laras.


Laras hanya menggeleng pelan. Lalu dia duduk di tempat.


"Cak, tadi di Basecamp ada yang bilang katanya kita gak boleh sampai di pos 4 saat malam. Itu kenapa ya?" tanya Laras penasaran.


Bella tersenyum mendengar itu. Tentu saja, itu adalah satu mitos di sini. Katanya di pos itu adalah area ghaibnya Arjuno. Di mana para pendaki di larang untuk bermalam atau lewat di sana saat gelap.


"Iya ras, itu titik angkernya di sini!" jawab Bella sambil memasukkan kembali botol minum yang baru saja Cak Dika nikmati.


Cak Dika kembali berdiri kemudian. Dia meregangkan otot-ototnya.


"Oke, lanjut yuk! Keburu gelap nanti!" ucap Cak Dika pada mereka.


Ajakan itu membuat mereka serentak mengangguk. Kaki mereka pun kembali menapaki jalur pendakian. Senja saat itu mulai datang. Menit demi menit mereka lewati.


Belantara rerumputan kembali mereka susuri. Hingga malam gelap itupun tiba. Jalur sudah sangat gelap ketika jamnya tepat menunjukkan pukul enam sore.


Sebagai seorang muslim jam enam sore adalah waktu adzan. Ponsel Dika juga berbunyi. Suara adzan mulai menggema dari dalam ponsel itu.


Kebiasaan para pendaki adalah ketika waktu adzan berkumandang di gunung. Maka para pendaki wajib berhenti dan mendengarkan.


Hening di sana, hanya ada suara adzan dari ponsel Dika. Memang sudah disetting demikian oleh Dika. Ponsel itu akan berbunyi tiap adzan apapun. Entah itu dhuhur, ashar, magrib ataupun isya'.


Di antara keheningan itu mereka mendengar beberapa suara bersaut-sautan. Suara itu cepat tapi kata atau kalimatnya sama sekali tidak jelas.


Suara itu berasal dari kiri kanan jalan mereka. Sisi kanan kiri mereka adalah belantara rapat.


Terdapat pepohonan besar yang cukup rapat. Bahkan di sana sama sekali tidak ada jalur. Mereka kembali mengingat bahwa hanya ada sepuluh orang yang naik hari ini. Termasuk rombongan mereka.


Dan rombongan itu sudah mendaki lebih dulu daripada mereka. Lalu perihal suara yang muncul saat ini. Tentu saja itu bukan suara manusia.


Terdapat suara teriakan besar. Mereka tau, teriakkan apa itu dan makhluk apa yang sedang berteriak itu. Tepat di depan mereka berdiri satu sosok besar.


Besarnya melebihi pepohonan yang ada di dalam hutan ini. Namun mereka cuek seakan tidak melihat itu. Karena bagi mereka percuma mereka mengurus itu.

__ADS_1


Sosok itu memiliki sepasang bola mata berwarna merah. Sorot matanya menatap tajam ke arah rombongan Cak Dika. Taring panjang itu menjulang dari dalam mulutnya.


Sesekali dia mengeram atau berteriak. Mungkin itu karena suara adzan yang sedang berkumandang. Benar-benar mencekam. Bahkan Laras saja sampai mencengkram baju Aldo.


"Kamu takut, Ras?" tanya Aldo pelan padanya.


Tapi di sana Laras hanya menggeleng pelan. Dia bukannya takut. Hanya saja hawa kelam atas keberadaan mereka rasanya berat sekali menekan tubuh Laras.


"Ini pos berapa dek?" tanya Cak Dika pada Bella di depan.


"Ini baru mau pos tiga Cak! Ini kita masih di Savananya!" jawab Bella padanya.


"Kalo ke Alas Lali Jiwo kira-kira masih jauh gak?" tanya Cak Dika lagi padanya.


"Ya masih toh, Cak!" jawab Bella lalu dia menurunkan tas Carriernya.


Di jalur itu dia membuka tasnya. Lalu mengeluarkan penerangan. Beberapa headlamp yang sudah mereka siapkan tadi di rumah.


"Kita tidur di sini aja dulu! Besok kita lanjut lagi!" ucap Bella sambil mengeluarkan penerangan.


"Boleh! Lagian juga tadi udah dibilangin sama Pak e di bawah. Kita gak boleh masuk area pos 4 waktu malam!" ujar Rachel menimpali.


Cak Dika mengangguk mendengar itu. Jika voting untuk berhenti di sini sudah didapat. Ya sudah, dia hanya ngikut saja.


Aldo mulai menurunkan Laras. Cak Dika dan Aldo memasang dua tenda. Satu tenda muat tiga orang. Sementara para lelaki sibuk menyiapkan tenda. Para gadisnya sibuk memasak makanan.


Biar nanti kalau memang tempat neduh mereka sudah rampung mereka biar tinggal makan saja. Indomie goreng, telur, dan beberapa camilan mulai di keluarkan.


Untuk minumannya mereka sudah sedia dua renteng susu dan kopi. Sekitar setengah jam setelahnya barulah tenda mereka selesai.


Cak Dika dan Aldo ikut duduk bersama para gadis. Harumnya mie goreng saat itu menggugah selera mereka.


Jika diperhatikan di area itu hanya tenda mereka saja yang berdiri. Tidak ada tenda lain selain tenda milik mereka.


"Luwe ta doyan Iki!" ujar Cak Dika meratapi dirinya sendiri.


"Hahahaha... Dua-duanya Cak!" jawab Aldo menimpali guyonan itu.


"Cak, aku masih kepo! Sebenarnya di pos empat itu ada apa?" tanya Laras pada Cak Dika.


Ketika yang lain bercengkrama saling hahaha hihihi. Laras dengan frontalnya mempertanyakan lagi hal keramat di pos 4. Cak Dika lalu menatap sambil tersenyum tipis.


"Dek, kita gak berhak jawab itu di sini! Karena ini masih rumahnya mereka. Kalau memang ada pantangan di gunung. Maka jangan pernah melanggar itu!" jawab Cak Dika menjelaskan pada Laras.


"Semakin ke atas semakin berat auranya!" ujar Laras pelan lalu menyeruput susu hangat di cangkirnya.


Cak Dika dan Rachel lalu saling tatap satu sama lain. Rupanya bukan mereka saja yang merasakan itu.


"Itu hal biasa, Ras! Kita yang peka ini pasti bakalan ngrasain itu. Asalkan mereka gak ganggu, yaudah gapapa! Cuek aja!" jelas Bella padanya.


Hening kembali menyelimuti mereka. Cak Dika memilih melipir sejenak dari kerumunannya. Dia ingin menikmati seputung rokok sebentar.


Baru lima hisapan rokok. Cak Dika dibuat terkejut. Jauh di hadapannya sekitar tiga meter. Dari balik pepohonan besar. Ada satu sosok memperhatikannya.


Awalnya hanya bajunya saja yang terlihat. Lama kelamaan sosok itu mulai berani menampakkan dirinya.


Seorang perempuan bermuka rata dengan rambut yang sangat panjang sedang memperhatikannya. Cak Dika tidak berpaling dari itu. Justru dia malah melihatnya datar.


Mereka berdua saling tatap satu sama lain. Seakan itu adalah tatapan cinta pertama. Sama-sama tak mau saling melepaskan atau berpaling satu sama lain.

__ADS_1


Baginya memang penampakkan kelas teri semacam ini sudah biasa. Bahkan kalau dilihat lagi ke atas rimbunnya pohon ini.


Ada banyak sekali makhluk yang bahkan jauh lebih menyeramkan daripada rupa setan di hadapannya itu.


Coba keluar kalau memang kamu berani! Jangan sembunyi-sembunyi gitu! Aku bukannya mau nantang kamu di sini. Kami datang niatnya baik! Jadi jangan ganggu kami!. Ucap Cak Dika melalui ilmu batinnya.


Setelah perkataan selesai perlahan sosok itu memudar keberadaannya. Bersamaan dengan itu Putung rokoknya Cak Dika sudah hampir habis.


Cak Dika mematikan putung rokok itu. Lalu dia kembali pada saudaranya. Jarum jam terus berputar. Hingga pukul tujuh malam. Mereka memutuskan untuk tidur.


Sebelum terlelap, mereka sudah menyepakati satu hal. Bahwa setelah sholat shubuh mereka akan melanjutkan perjalanan ke atas.


Malam semakin larut. Yang tersisa saat ini hanyalah suara-suara serangga kecil. Tepat pukul sepuluh malam. Tenda yang dihuni Rachel, Bella dan Marsya mendapatkan gangguan.


Brakkkkkk


Gangguan pertama, tenda mereka seperti sedang ditimpuk sesuatu. Sontak saat itu juga Marsya terbangun. Samar-samar dia membuka kedua matanya lalu mengerjap beberapa kali.


Brukkkkkk


Gangguan kedua, kembali ada yang menimpuk tenda mereka. Marsya pun merubah posisinya menjadi duduk sekarang.


Marsya melihat ada bayangan sesuatu yang sepertinya jatuh dibatas tenda mereka. Melihat itu Marsya berinisiatif untuk keluar dan melihat.


Ketika dia membuka sleeping bagnya lalu mencoba keluar. Bella yang baru saja bangun itu menahannya.


Bella mencengkram tangan kanan Marsya. Sedang tangan kirinya masih mengucek-ucek matanya sendiri.


"Mau ngapain?" tanya Bella pada Marsya yang duduk.


"Itu, loh!" jawab Marsya sambil menunjuk ke arah bayangan sesuatu yang jatuh di atas tenda mereka.


Bella menguap lalu dia ikut duduk. Bella mengambil tas Carriernya. Dari dalam sana dia mengambil sesuatu. Semacam tanaman.


Konon katanya tanaman itu mampu mengusir makhluk halus. Tanaman itu adalah daun Bidara.


"Buat apa bidara?" tanya Marsya pada Bella heran.


"Buat dia!" jawab Bella lalu menunjuk ke atas.


Daun Bidara itu dia pukul-pukulkan ke arah bayangan hitam itu. Tujuh kali pukulan sambil membaca Basmallah. Sekejap menghilangkan sesuatu yang hitam itu.


"Gak semua yang ada di gunung itu beneran manusia atau benda sungguhan. Beberapa dari mereka itu sering ngecoh kita. Jadi, usahakan buat gak keluar sendirian! Kalau emang ada masalah bilang. Jangan kapan sendirian!" tutur Bella padanya.


Bella lalu kembali tertidur. Melihat Bella yang sudah cukup pulas. Marsya pun memutuskan kembali tidur. Namun ketika tubuhnya sudah berbaring lagi dan sleeping bag ia tarik ke atas. Ada satu suara yang berucap,


"Hati-hati di jalan ya!" ucap suara itu.


Tapi di sana Marsya mencoba berpikir jernih. Mungkin saja itu adalah Albert atau jika tidak itu adalah Barend.


________


Nah, karena aku suka hiking! Aku lupa naruh lembar peta Gunung Arjuno dulu di mana. Jadilah aku browsing dan dapat ini! Arjuno via Lawang ini bener-bener ekstrim sekali jujur.


Banyak pengalaman yang gak bisa tak lupain sampai sekarang. Alam itu keren, indah menenangkan. Menikmati keindahannya dan datang itu boleh! Tapi, hormati adat dan budaya setempat.


Kalau memang ada pantangan jangan dilanggar. Seindah apapun alam, disana bukan hanya kamu saja yang tinggal. Hormati tempat kamu berpijak! Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Salam lestari! 🏃


Peta jalur pendakian persisi Iki rek! 👇👇👇👇

__ADS_1


Jadi Gautama family sekarang ada di Sabana, mau ke Mahapena.



__ADS_2