
Jalanan yang tadinya sedikit lebar perlahan mulai mengecil. Dari dalam bus hujan nampak turun sangat deras. Suara gemuruh petirnya cukup mencekam.
Tidak ada pengemudi lain di jalan ini. Hanya bus mereka saja yang gila lewat jalur angker ini saat malam gelap.
Rara yang sejak tadi menikmati musik dalam earphonenya. Mulai berdiri. Dia melepas Earphonenya lalu berjalan ke depan ke arah Cak Dika yang sedang berdiri di sana bersama sopir dan kernet.
"Berhenti di sini Pak!" ucap Rara berdiri sambil berjalan mendekati Pak Sopir.
Kernet dari bus itu sontak menoleh ke belakang ke arah Rara. Pikirnya dalam kepalanya adalah, Rara sudah gila. Hujannya lebat sekali. Apakah mereka ingin meregang nyawa di sini?
"Mbak tapi di sini sepi! Dari sini juga desa masih jauh!" ujar Sang Kernet pada Rara.
Saat ini Rara berdiri tepat di samping Cak Dika. Cak Dika memperhatikan Rara yang menatap Sang Kernet sambil tersenyum.
Cak Dika tau, ada sesuatu yang membuat Rara ingin berhenti di sini. Sesuatu itu pasti tidak akan normal bagi mereka yang tidak melihat. Satu alasan yang tidak akan diterima oleh orang biasa.
Lantas Rara mencoba merangkai argumen matangnya. Sambil menatap Pak sopir Rara berkata,
"Tujuannya kami ke sini bukan untuk pulang, Pak! Kami ini para peliput Kematian dan kami mau cari kebenaran yang sedang viral sekarang!" ujar Rara menjelaskan.
Seringai itu penuh dengan keyakinan. Setelah mendengar itu, dengan berat hati bus itu berhenti.
Sejujurnya Pak Sopir ini khawatir terhadap mereka. Bocah-bocah ini masih remaja. Sayang jika mereka mati konyol di alas baluran.
Jalanan ini sepi sunyi. Hanya gemercik suara hujan dan petir yang terdengar. Tak ada siapapun orang di sana.
Hanya ada belantara jati yang tinggi. Penerangan pun tak ada di sana. Hanya lampu bus mereka saja di sini yang menyala sebagai penerangan.
"Kita udah sampai nih!" ujar Rara pada Cak Dika.
Ah, akhirnya Cak Dika tau alasan kenapa Laras berhenti di sini. Rupanya ini tempatnya. Tempat potongan mayat itu ditemukan.
"Ah... Ini lokasinya ya?" ujar Cak Dika sambil memandangi area luar yang gelap gulita.
Mendengar itu, Rahman dan Deni mulai sibuk dengan kameranya. Untuk pertama kalinya mereka bakalan jadi seorang kameramen. Di sini saatnya mereka mengungkap misteri.
"Eh, tapi di luar hujan dek!" ujar Rahman yang baru saja sadar jika di luar sedang hujan.
Niatnya untuk membuka kamera sekejap berhenti.
"Kenapa berhenti?" tanya Rachel pada Rahman dan Deni yang diam sambil memandangi kaca bus. Mencoba melihat keluar air hujan yang masih mengguyur deras.
"Di luar hujan! Kameranya rusak nanti kalau kena air!" ucap Deni pada Rachel.
Rachel menggeleng pelan. Sebelum Rachel menjawabnya lagi, suara pak kernet membuatnya urung mengatakan sesuatu.
"Kalian yakin mau turun di sini?" tanya Pak Kernet.
Cak Dika berseringai sekilas melirik ke arah Rara. Wajah itu sama sekali tidak menampakkan rasa takutnya. Rara turun lebih dulu mendahului semuanya.
__ADS_1
Ajaibnya, hujan yang tadi mereka lihat dari dalam kaca. Ketika Rara keluar, rupanya di luar terang. Tidak ada rintikan air hujan yang turun. Kecohan setan seperti ini sudah biasa bagi mereka.
Melihat Rara yang sudah turun dari dalam bus. Cak Dika pun juga ingin menyusulnya. Sebelum pergi keluar, Cak Dika pun berpamitan pada Sopir dan Kernet.
"Makasih pak ya, sudah mengantar kami!" ucap Cak Dika pada Sopir dan Kernet.
Setelah mengatakan itu Cak Dika langsung turun menghampiri Rara.
"Masmu loh, tumben ngibrit kaya' gitu?" ujar Aldo pada Bella. Hal itu tentu saja membuat Bella terkekeh.
"Dia kasmaran kayaknya itu!" ujar Bella frontal.
Mereka mulai keluar dari dalam bus satu persatu. Ketika mereka sudah berada di luar. Pak Kernet pun berkata,
"Hati-hati ya, Cong!" ucap Pak Kernet pada Cak Dika.
Pak kernet melambaikan tangannya ketika bus itu mulai dijalankan. Cak Dika hanya manggut-manggut sambil tersenyum melepas kepergian bus yang mulai menjauh.
"Huft.." Rachel mulai membuang kasar nafasnya. Benar sekali apa yang Rara katakan. Aura tempat mereka berpijak kelam. Sangat kelam dan gelap.
Ini adalah tempatnya. Bau anyir menyengat Indra penciumannya. Rahman dan Deni mulai merekam seluruh anggota keluarga Gautama.
Laras maju, lalu dia berdiri sejajar bersama Cak Dika dan Rara. Rachel juga ikut maju, dia berdiri tepat di belakangnya Laras. Ini adalah bagiannya Laras. Yaitu jelajah kilas balik.
"Aku melihat tukang becak itu berhenti di sini bersama seorang wanita. Kakinya tidak menapak, kulit tubuhnya pucat pasih. Ada satu benda yang dia bawa. Saat itu bendanya dibungkus. Di dalam belantara jati ini, ada seorang cenayang. Dia baru saja melaksanakan meditasinya di dalam belantara. Auranya gelap sekali, cenayang itu berjalan keluar dari dalam belantara. Itu bersamaan dengan berhentinya becak itu dan penumpangnya. Wanita itu lalu berjalan masuk ke dalam belantara. Hingga berpas-pasan dengan wanita itu. Saat itu juga, parang. Bukan, itu samurai! Samurai itu ditebaskan di kepala cenayang itu. Sekali, dan membuat kepala itu terlepas dari tubuhnya!" jelas Laras.
Dia semakin dalam menjelajahi alam sebelah. Laras menemukan satu fakta bahwa wanita itu benar bukan manusia.
Satu rumah kayu tak bertetangga. Satu rumah kayu yang senyap. Dan ada satu anak muda dengan pakaian hitam berseringai di depan ajiannya.
Anak muda itu menebar tanah di depan rumah itu. Kemudian, dia berseringai.
"Ini direncanakan!" ujar Laras lalu membuka kedua matanya.
Rara terkejut mendengar itu. Dia menatap Laras yang ada di sampingnya.
"Teluh, ini Teluh sepertinya! Dan setan wanita itu jin samber nyowo!" jelas Laras lagi.
"Kalau Teluh, artinya itu nyerang satu keluarga juga. Yang artinya, dia gabakalan berhenti sampai membabat habis seluruh nyawa satu keluarga cenayang itu!" ujar Cak Dika.
Laras mengangguk. Di tengah adu argumen itu. Semilir angin kencang tiba-tiba menghembus menerpa wajah mereka.
Angin itu datang dari dalam belantara. Suara Gending Jawa mulai terdengar. Jauh di sana berdiri satu orang wanita. Dia berdiri di dalam belantara sambil menatap mereka.
Wanita itu sendirian. Pakaiannya putih lusuh. Terdapat bekas-bekas coklat dan merah pada pakaiannya.
Cak Dika membulatkan mata ke arah sosok itu. Bukan hanya dia saja yang melihat keberadaan setan itu. Tapi semua anggotanya juga. Termasuk Rahman, Deni dan Aldo.
"Siapa kamu?" tanya Cak Dika maju lalu menatapnya berani.
__ADS_1
Sosok itu berseringai lalu tangan kanannya yang mengepal itu dia tunjukkan. Sosok setan itu membuka tangannya, ada sesuatu yang jatuh dari dalam tangan itu.
Jika dilihat itu semacam tanah. Suara Gending Jawa juga masih terdengar.
"Aku Samber Nyowo! Sampean, gabakalan iso menghentikan saya! Karena Teluh Jawa ini, akan terus memangsa mereka yang ditargetkan! Nyawa-nyawa itu milikku. Dan itu makananku!" ujar sosok itu.
Rahman dan Deni juga melihat sosok itu. Mereka syok, bulu kuduk mereka juga meremang. Anehnya sosok itu tidak terekam dalam kamera.
Sudah berulang kali Deni dan Rahman melirik bergantian pada sosok itu dan layar kamera. Sosok itu nampak di depan mata mereka. Tapi keberadaannya tidak terekam dalam kamera.
"Siapa yang mengirimmu?" tanya Cak Dika.
Tapi pertanyaan itu hanya dijawab dengan cengiran. Kemudian sosok itu memudar dan pergi.
"Apa kamu tau wajah dukun itu, Laras?" tanya Rara pada Laras di sampingnya.
"Aku melihatnya, aku mengenalinya dan hafal! Tapi aku tidak bisa melihat dalam dunia nyata ini. Aku buta!" ujar Laras menjelaskan.
Rara tentu saja paham akan hal itu. Tapi, dia juga istimewa sama seperti mereka. Sekarang adalah gilirannya.
"Kalau begitu, kemari kan tanganmu! Bagilah apa yang kamu lihat denganku!" ujar Rara sambil menatap penuh pada kedua bola mata Laras.
Rachel memperhatikan itu begitu pula dengan Cak Dika. Rara mulai meraih kedua tangan Laras. Dia terpejam di sana. Gadis ini rupanya mampu masuk ke dalam apa yang Laras lihat.
Sebab Rara adalah warga desa S. Maka dia sangat mengenali perihal korban itu. Sampai saat ini kepalanya masih belum ditemukan. Dan jasadnya yang hanya tinggal tubuh itu juga masih belum teridentifikasi.
Ini adalah Pak Sukirman. Salah satu juragan cengkeh yang ada di desa sebelah setelah desanya. Pak Sukirman ini memiliki dua orang anak.
Satu putri dan satu putra. Istrinya Bu Lina, dia adalah pemilik usaha catering makanan. Laras membuka kedua matanya bersamaan dengan Rara. Saat itu juga mereka berkata,
"Jauh di dalam Belantara ini, Teluh itu dikubur!" ucap keduanya.
Ini bukan kemampuannya Laras. Tapi ini, campur tangan kemampuan Rara. Gadis ini, rupanya mampu melacak sumber keberadaan energi mistis dari Teluh itu.
"Ikut aku!" ucap Rara pada mereka semua.
Mereka terkejut mendengar itu. Pasalnya Rara langsung bergegas masuk ke dalam hutan jati. Sebelum Rara masuk, Marsya menepuknya. Akibatnya aliran energi dari Teluh itu juga dikenali oleh Senopati Cakar.
Dia masuk lagi ke dalam tubuh Marsya. Bak seekor anjing. Marsya mulai mengeram, mengendus-endus baunya lalu masuk mendahului Rara di depannya.
"Waduh, bahaya ini!" ujar Rachel lalu berlari menyusul adiknya.
"Dia emang selalu gitu, ya?" tanya Rara pada Cak Dika di sampingnya. Mereka berlari mengejar Marsya saat ini.
Aldo dan Laras memilih untuk berjalan santai saja. Sebab ini hutan, jika mereka lari. Aldo takut Laras akan tersandung.
"Kenapa kita harus ikut masuk juga sih?" tanya Bella yang berada tepat di belakang Aldo dan Laras.
"Lawannya Teluh loh, bahkan Cak Dika dan Rachel saja belum tentu bisa nangani itu. Jimat kita mungkin bakalan digunakan sama-sama nanti!" ujar Laras padanya.
__ADS_1
Bella menghela nafas panjang. Dari jauh dia memperhatikan Rahman dan Deni yang berlari sambil membawa kamera.