Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 62: Metu Rek!


__ADS_3

Ketika Rachel dimasuki oleh sang Nyai Ratu. Rara sejak tadi memperhatikan kedua tangan Ilham. Mengerikan, kemanakah jari tangan itu. Kenapa bisa sampai putus dan hilang seperti itu.


Ya, kedua tangan Ilham tidak berjari. Jarinya seperti diputus begitu saja. Tak ada bekas darah berceceran di sana.


Ilham yang masih ketakutan itu hanya mampu bersimpuh sambil menatap tegang ke arah tanah yang ia pijaki.


Rara di belakangnya hanya mampu menatapnya iba. Dia mengusap pelan punggungnya Ilham yang masih syok di sana.


Perlahan Rachel mulai kembali. Lalu dia menatap ke arah Ilham. Tatapannya sayu menatap kedua tangan Ilham yang kehilangan jari. Bagaimana bisa sampai seperti itu?


"Mas, ayo kita pergi dari sini!" ucap Rachel bersimpuh sambil memperhatikan raut wajah Ilham yang pucat pasih membeku itu.


Tak ada yang mampu Ilham katakan di sini. Ketakutan benar-benar melahapnya. Tubuhnya seakan membeku, sebab terlalu syok atas apa yang sudah menimpanya.


Bahkan dia tidak sanggup menggerakan kedua kakinya untuk sekedar berdiri ataupun berjalan.


"Udah gabisa ini!" ujar Rara sambil memperhatikan raut wajah Ilham yang pucat pasih dengan tubuh mematung seperti tak bernyawa.


Hirupan nafasnya masih ada. Tapi ketakutannya terlalu besar menguasainya.


"Yaudah, kita bantu dia Ra! Kamu topang sisi kanan, aku topang sisi kiri!" ucap Rachel memberi aba-aba.


Rara mengangguk mereka pun mulai membopong tubuh Ilham. Bukan digendong, tetapi mereka membantu Ilham berdiri lalu memaksanya berjalan bersamanya.


Kegelapan belantara diiringi dengan rintik hujan berjatuhan namun panas saat tersentuh kulit. Masih membuat Rachel dan Rara tetap berjalan.


Mereka mencoba kembali ke jalur yang mereka lewati. Jalanannya licin. Sebab treknya turun. Ranting-ranting yang mereka pijaki adalah pantangan terbesar kaki mereka.


Tak jarang mereka terpeleset berulang kali. Mereka tidak memakai sepatu. Hanya berbekal sandal gunung saja. Itu membuat kulit kalo mereka juga ikut tergores.


Bahkan goresan itu pun mengeluarkan darah. Baik Rachel dan Rara masih berusaha kuat untuk sampai tepat ke tempat Cak Dika berada.


Di lain tempat Cak Dika dengan ketiga Maungnya masih berusaha melawan sosok monyet hitam yang begitu menyeramkan rupanya itu.


Monyet sialan itu masih keras kepala. Dia berusaha mendekati Niko yang saat ini dijaga oleh Marsya, Bella, dan Thariq.


Dari kejauhan nampak akhirnya Rachel dan Rara hampir mencapai tempat Cak Dika. Melihat saudaranya yang kesusahan itu. Rachel pun bergegas ke arah Cak Dika.


Ketika Rachel berdiri tepat di sampingnya Cak Dika. Rachel menatap benci ke arah sosok seram itu. Perlahan perlawanan sosok monyet hitam itu memudar.


Dia mundur secara perlahan melihat keberadaan energi besar dari dalam tubuh Rachel. Ketika monyet hitam itu pergi. Baik Rachel dan Cak Dika membuang nafas lega sejenak.


Lalu mereka pun menghampiri Niko dan Ilham yang masih syok tak berdaya itu.


"Ini ceritanya gimana sih? Habis dimakan binatang buas atau apa?" ujar Thariq tak percaya ketika melihat kondisi tangan Ilham yang tak berjari.


"Gak tau, tau-tau udah gitu aja tangannya!" jawab Rachel.


"Yowes, ayo kita bantu keluar dulu! Baru kita bawa ke rumah sakit abis itu!" ucap Cak Dika.


Sejujurnya dia ngeri melihat keadaan dua orang itu. Jika dilihat dari kondisi lukanya. Kaki yang putus itu seperti bekas gigitan. Tapi jika itu ulahnya si monyet bangsat itu. Rasanya tidak mungkin.

__ADS_1


Sebab mulut monyet itu kecil. Bagaimana bisa dia melahap kaki manusia yang besarnya lebih besar daripada mulutnya. Bisa tersedak si monyet jika itu sampai terjadi.


Ketika mereka akan kembali keluar. Marsya lagi-lagi dirasuki oleh Senopati Cakar. Kembali dia mengendus-endus sambil berjalan layaknya seekor macan.


Marsya lalu berlari ke belakang. Melihat Marsya yang berlari mereka pun segera mengikutinya. Senopati Cakar itu seakan tau jika rombongan mereka ada yang tertinggal maka laku larinya akan diperlambat.


Lalu kembali kencang, lalu melambat lagi. Sampailah pada akhirnya mereka luar dari dalam belantara gelap itu.


Mereka terkejut mendapati langit di atas mereka yang sudah cerah. Di depan belantara itu nampak berada Laras, Aldo dan Mas'ud.


Ada beberapa warga sekitar dan Abah Abdullah. Kakek tua yang mengundang mereka datang kemari. Alam sebelah memang unik. Rasanya baru beberapa jam mereka berada di sana.


"Alhamdulillah nak, kalian selamat!" ucap Pak Abdullah lalu menghampiri Cak Dika dan yang lainnya.


Aldo menuntun Laras untuk mendekati saudaranya. Semalam, ketika adzan shubuh berkumandang. Laras sudah tidak tahan lagi.


Saudaranya masih belum kembali. Dan dia begitu takut jika sampai terjadi apa-apa pada saudaranya. Laras saat itu memerintahkan Mas'ud untuk turun lalu memanggil Abah Abdullah.


Naiklah saat itu Abah Abdullah ketika shubuh telah usai. Abah Abdullah membawa sepuluh orang warga sekitar untuk menemaninya.


Laras menceritakan bahwa seluruh saudaranya berlari ke arah kaki gunung Pengamun-amun. Saat itulah, mereka mendatangi kaki gunung Pengamun-amun.


Mereka berdiri di sana sambil terus berdoa. Doa itu dipimpin oleh Abah Abdullah selalu kyai di sini. Sejenak Abah Abdullah menatap dua orang yang kehilangan anggota tubuhnya itu.


"Ya Allah ini kenapa bisa seperti ini?" tanya Abah Abdullah tak percaya melihat kondisi Niko dan Ilham yang masih diam membisu.


Rachel tersenyum miring sambil menatap keduanya sayu. Benar-benar kasihan. Tapi, dua orang itu harus segera dibawa ke rumah sakit.


"Iya Mas, ayo... Ayo... tolong dibantu ini!" ucap Abah Abdullah pada rombongan warga yang dia bawa.


Mereka pun mengangguk lalu segera membopong tubuh Niko dan ilham untuk turun dari sana menuju desa.


Cak Dika, Rachel dan yang lain juga ikut serta menggiringnya. Dia orang itu diantarkan ke rumah sakit. Ketika ranjang dorong itu datang dan tubuh mereka dibaringkan di sana.


Barulah darah segar itu mengucur deras dari luka mereka. Perawat yang menangani itu syok langsung membawa masuk keduanya ke dalam UGD.


Penanganan pun dilakukan. Begitu pula dengan Rachel dan Rara yang kakinya saat itu berdarah-darah sedang diobati oleh para perawat.


"Biyuh... Perih!" ujar Rachel menahan sakit dari goresan luka yang saat ini sedang diobati.


Rara yang berada di sampingnya itu juga sama. Dia meringis kesakitan mencoba menahan perih atas luka yang dia terima.


"Perih, ngalah-ngalahin sakit hati!" ujar Rara asal.


Guyonan itu tentu saja membuat Rachel terkekeh. Lama menunggu selang beberapa jam. Dua orang perawat yang menangani Ilham dan Niko pun keluar.


Mereka menghampiri Cak Dika dan rombongannya. Di sana perawat itu mengatakan. Bahwa kondisi keduanya sudah cukup membaik.


Puji syukur mereka tuturkan saat itu. Jika keduanya selamat maka usaha mereka malam kemarin tidaklah sia-sia.


"Ora sia-sia bojoku sikile sampe getihen!" ujar Cak Dika mengucap syukur sambil mengingat Rara.

__ADS_1


(Gak sia-sia istriku kakinya sampai berdarah!)


"Hah?" lirih Bella sambil memperhatikan Cak Dika yang masih mengucap syukur.


"Iso bojo iloh? Kapan olehmu rabi hah?" protes Bella pada Cak Dika.


(Kok bisa istri ituloh? Kapan kamu nikahin dia, hah?)


Nampak setelah mendengar itu Cak Dika pun menyengir. Thariq tertawa melihat itu. Dia lalu pergi dari sana. Dia ingin melihat keadaan Rachel sekarang.


Kebetulan ruangan UGD dengan ruangan penanganan Rachel dan Rara berada tidak cukup jauh. Ketika pintu ruangan itu dibuka. Nampak Rachel yang sudah berdiri di hadapannya.


"Kamu!" ucap Rachel dan Thariq bersamaan.


Rara di sampingnya hanya mampu tersenyum. Rara tau, dia juga merasakan bahwa Thariq ini menyimpan perasaan pada Rachel.


"Udah dibantu sana ayangmu itu! Kasihan loh dia kakinya sakit sampai pincang-pincang gitu jalannya!" ujar Rara memanasi lalu pergi meninggalkan keduanya.


Jika dibandingkan antara Rara dan Rachel. Luka kaki Rachel memang cukup parah daripada Rara.


"Bisa jalan gak?" tanya Thariq pada Rachel.


"Ya biasalah, lah ini aku jalan toh!" jawab Rachel lalu berjalan melewati Thariq.


Baru beberapa langkah. Rachel kembali meringis kesakitan.


Sial, kenapa aku harus nunjukin kelemahanku di depan orang ini sih!. Ujar Rachel memakai dirinya sendiri ketika tak mampu lagi menahan rasa sakit di telapak kaki kanannya.


Thariq membuang kasar nafasnya. Di ujung lorong yang tak jauh terlihat ada sebuah kursi roda. Thariq lalu berjalan ke arah itu.


Rachel terkejut mendapati Thoriq yang rupanya tidak menghampirinya.


Cowok apaan itu?. Kesal Rachel dalam hatinya lalu berusaha berjalan lagi.


Tapi selang beberapa langkah. Suara langkah kaki Thariq kembali menghampirinya. Ketika Thariq sudah sampai tepat di sampingnya Rachel menoleh.


"Aku gak berhak nyentuh kamu! Kita bukan muhrim, udah cepat duduk dan gak usah sok kuat. Karena kamu bukan Superman!" ujar Thariq pada Rachel.


Rachel tersenyum miring mendengar itu. Dia lalu duduk di kursi roda itu. Thariq mendorong kursi roda itu menghampiri Cak Dika. Di sela-sela perjalanan itu Rachel berucap.


"Kamu tadi bilang aku bukan Superman toh?" tanya Rachel pada Thariq.


Thariq menunduk memperhatikan surai Rachel dan tersenyum.


"Ya, bener, kan?" tanya Thariq pada Rachel.


"Enak ae! Aku ini Superwoman! Saka ndeso!" jawab Rachel dengan gayanya yang gamblang.


Melihat dan mendengar itu secara langsung dari Rachel. Thariq gemas sekali. Dia ingin mengacak-acak surainya Rachel. Tapi tidak!


Satu prinsip Thariq adalah dia tidak akan menyentuh gadis lain jika mereka belum sah. Kecuali kondisinya genting ketika di Lawang Sewu saat itu. Saat di mana Rachel lemah dan dia benar-benar butuh digendong.

__ADS_1


__ADS_2