
Gerimis mengguyur kota Surabaya kali ini. Langitnya sudah perang sejak dua jam lalu. Seorang kurir Gojek bersama motornya mulai melintasi jalanan yang sudah cukup sepi itu.
Hujannya lebat sekali. Tapi demi uang dia rela menerobos hujan itu. Ada orderan makanan yang harus diantar.
Kurir Gojek ini berna Pak Naufal. Pak Naufal adalah orang asli Bandung. Dia datang kemari untuk meminang istrinya yang orang Surabaya.
Genap dua bulan sudah mereka menikah. Saat ini istri tercintanya sedang duduk santai di rumah. Perempuan itu hamil muda.
Dan itulah yang membuat Pak Naufal giat mencari cuan walaupun diterpa badai sekalipun. Hasil keringatnya nanti untuk istri dan anaknya. Dia adalah calon ayah sekaligus suami. Bahunya harus sekuat baja.
Naufal mulai memelankan laju motornya. Dia berhenti tepat di sebuah bangunan. Bangunan itu cukup tua. Bangunan itu cukup kuno.
Sebuah bangunan nuansa Belanda berdiri tepat di sampingnya. Naufal berhenti tepat di depan pintu gerbangnya. Gerbang itu terbuat dari besi. Ini malam dan gelap. Di bangunan itu tidak ada penerangan sama sekali.
Sambil memandangi bangunan itu. Naufal sesekali bertanya dalam hatinya. Apakah benar alamat yang dia tuju ini?
Lantas dia kembali mengecek google mapsnya. Terlihat di sana titik pemesan yang dia pijaki itu benar. Tapi keberadaan orang yang memesan itu Naufal sama sekali tidak menemukannya.
"Masa' iya ini tempatnya? Tapi kenapa suram begini ya?" tanya Naufal sambil bola matanya melihat sekeliling bangunan itu.
Lama memperhatikan itu. Seorang wanita berbaju bak seorang dokter berjalan ke arahnya. Dia dari arah lain. Dia berjalan di belakangnya Naufal. Wanita itu membawa payung lalu dia berhenti tepat di samping Naufal.
Berhentinya wanita itu di sebelahnya membuat Naufal terkejut. Tanpa berucap apapun, tanpa menoleh ke arah Naufal.
Lantas Naufal yang merasa aneh itupun menunduk penasaran ingin melihat wajah dari wanita yang saat ini berhenti di sampingnya.
"Maaf mbak..." lirih Naufal sambil sesekali mencari celah untuk menengok wajahnya.
Surai yang menutupi wajah itu mulai terbuka ketika pemiliknya menegakkan lagi kepalanya. Perlahan kepala itu menengok ke arah Naufal.
Naufal terkejut mendapati wanita itu rupanya bulan keturunan Indonesia. Dia tersenyum ke arah Naufal. Bola mata birunya indah sekali.
"Iya, ada apa?" tanyanya lirih pada Naufal.
Naufal yang terpaku terkesima atas keanggunannya itu perlahan mulai sadar. Dia kemudian menunjukan bungkusan makanan yang dia bawa.
"Saya menerima orderan mbak! Alamatnya berhenti di sini! Tapi kalau saya boleh tau ini tempat apa ya mbak? Rumah siapa ini?" tanya Naufal pada wanita itu.
Wanita itu tersenyum. Tidak ada sepatah katapun terlontar dan menjawab seluruh pertanyaan Naufal. Wanita itu justru tangannya bergerak menutup payung miliknya. Yang sejak tadi melindunginya dari derasnya hujan.
Sambil tersenyum ke arah Naufal. Perlahan payung itu dipindahkan ke tangan kirinya. Tangan kanannya yang kosong melambai ke arah Naufal.
Bak terhipnotis Naufal pun mematikan mesin motornya. Wanita itu kemudian berbalik dan masuk ke dalam bangunan tua itu.
__ADS_1
Suara pintu besi tua itu mulai dibuka. Keduanya masuk ke dalam. Posisi Naufal berada di belakang wanita itu.
Naufal masuk sambil memperhatikan sekeliling. Ini seperti bangunan penjara. Rumput di samping dirinya setinggi lutut orang dewasa. Belukar panjang melilit pondasi bangunan.
Gelap dan tidak ada siapapun di sana. Bangunan ini sepertinya sudah ada sejak jaman dulu kala. Mungkin ketika penjajahan masih berjaya. Bangunan ini mungkin masih beroperasi saat itu.
Naufal berhenti ketika mendapati wanita di depannya juga berhenti. Dengan hati-hati Naufal bertanya pada wanita itu,
"Mbak, sebenarnya ini tempat apa ya?" tanya Naufal padanya.
Wanita itu lantas berseringai mendengar pertanyaan dari Naufal. Dia kemudian membalikkan tubuhnya secara perlahan ke arah Naufal.
Pakaian putih itu perlahan mulai memudar. Tergantikan oleh belas darah yang memerahkan kain itu. Payung yang tadi di pegangnya di tangan kanan. Berubah menjadi jantung manusia dengan darah yang masih mengucur di sana.
Rambut blonde wanita itu yang rapi. Bak seperti disapu angin topan. Berantakan tak karuan. Wajahnya pucat, setengah dari wajahnya menghitam.
Bibirnya biru seperti mayat. Di tambah kedua bola mata yang tadinya indah itu berubah memutih. Wanita itu tersenyum ke arah Naufal.
Sedangkan Naufal dia terpaku. Bulu kuduknya meremang. Bungkusan makanan yang dibawanya itu terjatuh bersamaan dengan ponsel yang baru saja dia beli beberapa Minggu lalu.
"Selamat datang, Mas! Sayalah yang memesan makanan itu. Dank Je! Sebab sudah mengantarnya sampai kemari!" ujar wanita itu. Suaranya berubah menjadi berat.
Cukup rasanya bagi Naufal terpaku dan menatap. Mungkin ketakutan itu membuat tubuhnya membeku. Tapi logikanya terus berteriak untuk lari.
Logika itu akhirnya menguasai tubuhnya. Tubuh yang tadi membeku sukar bergerak pun memerintahkan kedua kakinya untuk berlari.
Terdengar suara tertawa kencang wanita itu. Membuat Naufal hampir kehabisan akal rasanya. Dia duduk di atas motornya. Kunci motor dia tancapkan di sana. Berulang kali dia berusaha menghidupkan mesin motornya. Tapi nihil!
Mesin motor itu tak kunjung menyapa. Hingga suara pagar besi yang terbuka membuat Naufal kesetanan rasanya. Dia semakin cepat memaksa motornya untuk menyala.
Sosok seram itu keluar dari sana secara perlahan. Dengan seringai menakutkan itu. Rasanya jantung Naufal ingin mencelat saja.
"Woii taik kau!" ujar Naufal menyumpah.
Brummmmm
Brummmmm
Bersamaan dengan umpatan itu. Mesin motornya mulai menyala kembali. Tanpa berpikir panjang Naufal langsung saja tancap gas pergi dari sana.
Motornya melaju bak sebuah pistol. Membelah kota mengantarnya sampai ke kediamannya dalam hitungan menit.
Naufal yang masih ketakutan itu kemudian segera melepas jas hujannya. Dia kemudian mengetuk pintu rumahnya.
__ADS_1
Wanita hamil bernama Clara itu berjalan mendekati pintu ketika pintu rumah miliknya diketuk berulang kali.
Sebelum membukanya, Clara nampak menyingkap gorden jendelanya. Mendapati suami tercintanya pulang. Clara pun langsung membuka pintunya.
"Udah pulang, Yang?" tanya Clara padanya.
"Astaghfirullah dek!" jawab Naufal padanya.
Clara menaikkan satu alisnya. Dia menatap aneh ke arah suaminya.
"Ada apa Mas? Kamu kenapa kok kayak abis lihat setan gitu?" tanya Clara lagi padanya.
Dengan cepat Naufal mengangguk lalu menyentuh kedua bahu istrinya menatapnya penuh.
"Dek... Aku abis lihat setan! Waktu ngantar makanan pesanan di Jl. Kasuari No.5, Krembangan. Serius dek, ada bule di sana ngajak mas masuk di bangunan tua. Bangunan itu kuno seperti jaman Belanda!" jelas Naufal padanya.
Clara yang asli orang Surabaya menyipitkan matanya. Jalan yang disebutkan oleh suaminya itu dia tau. Dan hanya ada satu bangunan kuno Belanda di sana. Itu belas penjara dulu. Penjara kelam dalam pemerintahan Belanda.
"Itu penjara Kalisosok! Gak ada orang di sana, ngapain kamu ke sana?" tanya Clara padanya.
"Ya Allah, tadi ada orderan dek! Mana handphoneku jatuh di sana lagi!" jawab Naufal padanya.
"Ya Allah mas, terus gimana?" tanya Clara padanya.
"Aku tak tenangin pikiran dulu, dek! Nanti kita bahas lagi ini Yo!" jawab Naufal padanya.
Clara mencoba memaklumi itu. Dia kemudian mulai merawat suaminya. Menyiapkan makanan, memasak air hangat untuk suaminya mandi.
Setelah seluruh kegiatan santainya usai. Mereka duduk di sofa. Mereka di sana sedang memikirkan cara untuk datang ke tempat itu lalu mengambil handphonenya Naufal.
Sampai ada satu konten menarik yang membuat mereka tertarik. Sebuah komplotan cenayang bernama Gautama Family. Kebetulan mereka saat ini sedang berada di kota yang sama dengan Naufal. Yaitu di kota Surabaya.
Malam berbalut hujan lebat itu Cak Dika dihubungi. Nomor itu tersambung langsung ke para Crew Kameramen.
Tapi ini sudah cukup malam. Dan hanya Rachel saja yang mendengar dering ponsel Deni saat itu. Dia sedang berada di kamar para Crew. Sebab perintah dari Laras menyuruhnya mengantar camilan di sana.
Rachel lalu mendekati sering ponsel itu. Dia mengangkatnya. Ketika panggilan mereka terhubung dan percakapan terjadi. Rachel langsung menyetujui itu.
Dia lalu meletakkan kembali ponselnya Deni. Rachel keluar dari dalam kamar itu. Ketika dia hendak kembali masuk ke kamar hotelnya. Satu suara di balik tubuhnya memanggil. Rachel mengenali suara itu, itu adalah Thariq.
Rachel membalikkan tubuhnya ke belakang. Terlihat di sana Thariq berjalan menghampirinya. Dia membawa dua bungkusan di tangannya.
Setelah sampai di depan Rachel. Thariq menenteng dua bungkusan itu seakan memamerkannya.
__ADS_1
"Hel, kalau kamu sudah cukup sehat! Gimana kalau kita habisin waktu sebentar malam ini di bawah. Sambil lihat keramaian kota, ayo kita makan sate angkringan. Aku udah bawain ini, tahu tempe mendoan kesukaan kamu!" akak Thariq.
Bagaimana Rachel bisa menolak ajakan lembut itu. Tanpa berpikir panjang, Rachel pun mengangguk. Dia setuju malam ini duduk berdua bersama Thariq sambil memperhatikan kota.