
Perjalanan dari kota satu ke kota lainnya memakan waktu yang sangat lama. Hari ini Cak Dika dan timnya kita akan pergi ke kota B.
Katanya Di sana ada satu kasus yang tidak bisa dipecahkan oleh cenayang manapun. Sampai pada akhirnya Pak RT di sana, dia adalah fans berat Gautama family.
Pak RT itu segera menelpon Cak Dika dan timnya. Dan di sinilah mereka. Sudah sekitar setengah jam mereka berjalan menaiki 3 mobil grab.
Jalanan perkotaan yang tadi merekasuri perlahan menghilangnya tergantikan oleh Rimba Rimba kiri kanannya.
Hari semakin malam penerangan minim sekali Ini tadinya adalah jalan tol mulus sekali tidak ada sama sekali Rimba Rimba di sisi kiri kanannya.
Namun entah apa yang terjadi sampai pemandangan tol mulus itu mendadak menjadi hutan rimba kiri kanannya.
"Ini Kenapa ya? Padahal tadi kiri kanan ini bukan Rimba. Kiri kanan Ini tadi masih ujung pembatas tol. Kenapa tiba-tiba berubah menjadi Rimba Rimba?" tanya pak sopir grab pada Cak Dika dan yang lain.
Cak Dika yang diajak ngobrol oleh konsumen hanya bisa diam sambil memperhatikan sekelilingnya.
Hawa semacam ini tentu saja Cak Dika kenal. Ini adalah dimensi Alam Sebelah mobil mereka ditarik masuk ke dalam sini di pasukan mana yang berani menarik masuk.
__ADS_1
"Kita sedang terjebak. Kita terjebak di dalam alam sebelah. Entah setan mana yang sudah menarik kita? Tapi Intinya kita tidak boleh panik. Pasti ada sesuatu yang akan kita temukan di sini!" ucap Cak Dika sambil memperhatikan sekeliling jalanan itu dari balik kaca mobil.
"Padahal tadi tidak apa-apa kenapa tiba-tiba kita ditarik di sini? Memangnya penunggu sini Apakah mereka mengenali buyutmu?" tanya Rahman pada Cak Dika.
Rahman yang tidak memiliki kedua bola mata penjelajahan itu hanya mampu bertanya. Pepohonan Rimba itu besar itu.
Di sana di ujung hutan sana ada seorang anak kecil yang menatap mereka. Anak-anak kecil itu menatap mobil mereka dengan kedua mata yang berdarah.
Tadinya Cak Dika hanya mendapati satu orang saja yang berdiri selalu di sisi jalan. Tapi semakin mereka masuk ke dalam semakin banyak pula anak kecil itu.
Sementara di mobil lain Rachel sejak tadi merasakan pusing yang teramat sangat di dalam kepalanya.
Sejujurnya Saya masih belum sadar bahwa mobil mereka saat ini sedang terjebak di alam sebelah.
"Kamu kenapa, Hel?" tanya Rara pada Rachel.
"Ndak apa kok cuma pusing aja!" jawab Rachel pada Rara.
__ADS_1
"Ah.. kamu pasti terganggu dengan kehadiran setan-setan baru di kawasan ini kan?" tanya Rara lagi menebak.
"Kayaknya iya sih!" jawab Rachel padanya.
Clingggg
"Hah!" pekik Rara dan Rachel bersamaan ketika kepala Barend mendadak keluar dari bawah kursi mobil.
"Jancok!" ucap Rachel kesal. Dia pun mengumpat.
"Setan kecil ini! Ada apa kamu kemari, Barend?" tanya Rara padanya.
Barend tersenyum.
"Hei Rara! Hei Rachel! Cobalah lihat lagi. Kalian sedang ditarik masuk ke dalam dimensi kami!" jelas Barend pada mereka.
Baik Rara dan Rachel pun terkejut. Lantas merekapun segera mengecek apa yang terjadi dari balik kaca mobil.
__ADS_1
Betapa terkejutnya mereka ketika melihat apa yang dikatakan oleh Barend itu benar. Rimba yang mereka lewati bukanlah rimba biasa.
Beraneka ragam setan di sana sedang berdiri. Sekarang Rachel tau apa penyebab dari sakit kepalanya.