
Suramadu adalah jembatan terpanjang sepanjang sejarah Indonesia. Jembatan ini adalah pemisah sekaligus penghubung antara Surabaya dan Madura.
Jembatan sepanjang 5.438 meter yang menghubungkan Pulau Jawa dan Madura ini, pertama kali dibangun pada tahun 2003 dan diresmikan pada tahun 2009.
Untuk membangun jembatan terpanjang dan termegah di Indonesia ini membutuhkan biaya yang tak sedikit. Pemerintah Indonesia harus menggelontorkan uang kurang lebih Rp 4,5 T.
Banyak sekali isu yang mengatakan perihal jembatan ini. Beberapa isu itu adalah. Banyak pekerja yang mati ketika pembangunannya. Kesuksesan ketika jembatan ini berdiri kokoh. Rupanya dilumuri dengan darah dan nyawa.
Jembatan ini adalah kebanggaan bagi orang Jawa Timur. Akan nampak indah dipandang saat malam. Sebab lampu pernak-perniknya terlihat sangat menawan memikat siapa saja yang memandang.
Dari arah Kenjeran, jembatan ini terlihat. Dan dari sanalah banyak penikmat keindahannya. Saat mudik jembatan ini akan penuh dengan lautan manusia. Yang berlomba-lomba untuk pulang ke Surabaya. Atau ke Madura.
Dua pasang kekasih dari Jakarta asalnya melaju cukup kencang melewati jembatan Suramadu. Dua kekasih itu baru saja mengunjungi kerabat mereka yang berada di Madura letaknya.
Dalam perjalanan kembali ke kota Surabaya itu. Keduanya lantas mengungkit-ungkit perihal mitos dari jembatan itu.
Nama dari kedua kekasih itu adalah Herman dan Elsa. Mereka dikenal di kotanya sedikit gamblang. Juga keduanya ini berstatus mahasiswa.
Sedang liburan semester di rumah orang tua Herman yang letaknya di Surabaya. Dan yang tinggal di Madura adalah neneknya Herman.
Dari balik kaca mobil itu pemandangan laut Kenjeran nampak luas. Dan di sana dia kembali ingat perihal mitos dari jembatan Suramadu.
"Yang, kamu tau gak? Katanya jembatan ini dulu dibangun dengan darah dan nyawa?" tanya Elsa pada Herman yang masih fokus menyetir.
Herman berseringai mendengar itu. Memang ada mitos seperti itu dan dia pernah mendengarnya berulang-ulang kali.
"Ah iya, katanya pernah ada yang lihat sundel bolong di sini! Katanya juga banyak pekerja yang mati waktu pembangunannya!" jelas Herman pada Elsa.
Elsa berseringai mendengar itu. Baginya dia sama sekali tidak percaya keberadaan hantu. Apa itu? Bahkan Elsa sama sekali tidak pernah melihatnya. Maka dari dalam lubuk hatinya. Saat ini dia berkata dengan sombongnya.
Kalau memang kamu ada, coba perlihatkan dirimu! Selama ini, aku tidak menganggapmu ada! Karena kamu memang ilusi!. Batin Elsa dalam hatinya meminta agar penghuni di area Suramadu itu mendengar pintanya.
"Kalau emang itu bener! Seharusnya dari tadi kita lihat mereka kan?" ujar Elsa lagi.
Herman terkejut mendengar itu. Dia lantas menoleh sebentar ke arah Elsa. Di sana Elsa hanya tersenyum tipis.
"Ayang, bisa tidak kita jaga omongan dulu selama di sini?" ujar Herman menasehati Elsa.
"Tidak, karena aku emang penasaran kalau memang mereka benar ada! Maka tunjukan wujudmu!" ujar Elsa langsung lantang.
Herman hanya mampu menggelengkan kepalanya. Dia terus saja fokus pada jalanan.
Ungkapan yang Elsa katakan didengar oleh para makhluk ghaib di sana. Mereka geram menatap benci ke arah mobilnya Elsa.
__ADS_1
Dalam hitungan menit mendadak langit yang cerah itu berubah warnanya. Mendung entah dari arahana datang memenuhi langit.
Herman terkejut melihat perubahan cuaca yang cukup cepat itu. Elsa menatap ke arah langit. Tapi dia tidak heran. Logikanya masih bekerja dengan baik. Sehingga membuatnya mengatakan bahwa mungkin memang cuacanya sedang tidak bagus.
"Mendadak gelap gini, Yang?" ujar Herman bertanya pada Elsa di sampingnya.
Elsa hanya mengangguk sambil memperhatikan langit.
"Mau hujan kayaknya!" jawab Elsa pada Herman.
"Aneh, kalau cuacanya lagi gak baik biasanya jembatan ini bakalan ditutup. Tapi, kenapa kok ini enggak ya?" ujar Herman curiga.
"Ya siapa yang bisa meramal cuaca?" ujar Elsa pada Herman.
Herman lalu hanya mengangguk mendengar itu. Tak beberapa lama guyuran hujan deras mulai berjatuhan. Itu membuat penglihatan Herman pada jalanan cukup minim.
Karena dibangun di atas laut, jembatan ini pun rawan terkena badai. Maka, pemerintah pun melakukan buka tutup jembatan saat cuaca tak memungkinkan.
Herman mulai merasa aneh sekarang. Hujan ini bukan hujan biasa. Ini hujan badai, dan jika memang ada hujan seperti ini hari ini. Maka pihak jembatan pasti akan menutup jembatan ini.
Ditambah tiap lima menit sekali. Akan ada orang menyebrang dan itu membuat Herman sesekali mengerem mendadak lalu berhenti. Lalu berjalan lagi, berhenti lagi.
"Kenapa sih kok dari tadi berhenti-henti mulu' Yang?" tanya Elsa yang mulai merasa aneh dengan tingkah laku Herman.
Itu membuat Elsa membulatkan mata. Masalahnya ini jalanan satu arus. Bagaimana bisa ada orang yang menyebrang di sini tiap lima menit sekali.
Elsa juga tidak merasa melihat keberadaan orang sejak tadi. Sebab penasaran dia pun langsung membuka kaca mobilnya.
Ketika kaca mobil itu dibuka. Betapa terkejutnya Elsa ketika melihat di luar sana sudah gelap malam dan tidak hujan.
Ini aneh, dan ini tidak logis. Logikanya yang sejak tadi mengaitkan segala kejadian sesuai dengan pikiran manusia mendadak hancur patah. Lantas Elsa pun menoleh ke arah Herman yang masih fokus menyetir.
"Yang, di luar gak ada hujan!" ujar Elsa pada Herman di sampingnya.
Ucapan itu perlahan membuat Herman menoleh ke arah Elsa. Benar, tidak ada rintikan hujan turun dari sana. Langitnya gelap sekali seperti tengah malam.
Tidak ada suara klakson mobil terdengar. Bahkan suara mesin mobil tidak terdengar. Herman saat ini yakin bahwa. Apa yang dikatakan oleh Elsa membuat penunggu di sini marah sepertinya!
"Udah tutup aja kacanya!" ujar Herman. Elsa yang syok pun langsung menutup kembali kaca mobilnya.
Jantungnya berdebar cukup kencang. Herman masih melakukan mobilnya. Mereka diam, mereka diam membiarkan hening menyelimuti mereka.
Semakin lama mereka melaju maka udara semakin dingin. Elsa menggigil, meriang rasanya. Padahal AC mobil sudah dimatikan oleh Herman.
__ADS_1
Elsa memeluk tubuhnya sendiri sambil mengusap-usap tubuhnya menggunakan tangannya. Bibirnya mulai pucat.
Herman khawatir melihat kondisi Elsa yang seperti tersiksa oleh sesuatu itu. Dia pun memilih untuk menepi sejenak.
Mobil mereka berhenti, menepi sejenak. Saat itu, Herman pun menoleh ke arahnya Elsa.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Herman pada Elsa.
"A... Aku... Kedinginan, Her!" jawab Elsa padanya sambil mencengkram tangan Herman yang berada di pipinya.
"Ya Allah, dingin banget kamu!" ujar Herman terkejut ketika menyentuh kulit wajah Elsa.
"Ayo pergi! Ke rumah sakit! Her, bawa aku pergi!" ujar Elsa meracau padanya.
Merasa kasihan, Herman pun langsung saja tancap gas dari sana. Perjalanan yang ditempuh cukup panjang dan tak berujung.
Akibat ucapan meremehkan itu. Para makhluk ghaib penunggu jembatan itu murka. Mereka mulai mempermainkan dan menggoda sepasang kekasih itu entah sampai kapan.
Memang benar, ada keberadaan gerbang ghaib yang cukup kuat di Suramadu ini. Berhati-hatilah dalam bercakap.
Beruntungnya setelah rentetan kejadian yang ada di Jawa tengah. Cak Dika, Rachel dan timnya memutuskan untuk berlayar sejenak menikmati pantai Kenjeran.
Ya, mereka sedang berada di Surabaya. Mereka sedang bersantai di pantai Kenjeran. Ini masih pukul dua belas siang. Rencananya Cak Dika ingin mengeksplorasi daerah Madura. Katanya dia ingin lewat Suramadu.
Itu tentu mendapat persetujuan dari saudaranya. Dari semua timnya. Nampak Thariq dan Rachel duduk di atas pasir putih. Sambil memakan pop mie rebus yang baru saja mereka pesan.
"Emang di Madura ada apa, hel? Kenapa cacak kok pingin banget ke sana?" tanya Thariq pada Rachel di sampingnya.
Jarak mereka duduk hanya selangkah. Sebab Thariq memegang teguh prinsip. Bahwa wanita tidak boleh di sentuh laki-laki jika masih belum muhrim.
"Gak tau juga Yo! Tapi, Cak Dika itu, memang gak pernah di sini. Kita hidup itu di dataran tinggi. Di kaki gunung, kita gak pernah ke sini! Jadi wajarlah, namanya juga wong ndeso!" ujar Rachel menjelaskan.
Selama menjelaskan itu Rachel sama sekali tidak menatap Thariq. Dia hanya menatap laut dengan erik mataharinya yang cukup kuat itu.
Sedangkan Thariq sejak tadi memperhatikannya saat bicara. Tiap bibir itu berucap Thariq merasa sangat tertarik. Surai lurus hitamnya itu menjuntai terombang-ambing ditiup oleh Sepoi angin.
Itu adalah mahkota indah milik Rachel. Semua yang melekat pada Rachel itu pas porsinya. Seakan gadis ini memang diciptakan lahir dengan kesederhanaan namun luar biasa kecantikannya.
Thariq sambil tersenyum kembali menatap ke arah pantai. Jika bukan karena aturan agama. Dia ingin sekali memegang tangan putih itu. Menggenggamnya dan berkata,
Hei, Rachel! Aku mencintaimu!
Tapi, biarlah! Biar hati Thariq ini mantap dulu untuk mengatakan itu. Untuk saat ini sepertinya jangan dulu. Biarlah ini menjadi perasaan terpendam.
__ADS_1