
Masih seputar di wilayah kota S. Saat ini Cak Dika dan tim memutuskan untuk menikmati penyetan di salah satu warung.
Terlihat Rahman dan Deni sedang mengotak-atik laptopnya. Mereka sedang bekerja mengedit Vidio yang sudah mereka rekam beberapa hari lalu.
Setelah keluar dari rumah Rara. Sebenarnya Cak Dika memutuskan untuk pulang. Tapi Bella dan Marsya mereka masih ingin menelusuri seluk beluk Tapal Kuda.
Entah sejak kapan mereka menjadi pribadi yang seberani ini. Padahal dahulu mereka begitu penyakit. Mungkin saja ini efek terlalu sering ikut campur ekplorasi jelajah hal ghaib.
Secara gak langsung mental mereka terasah. Katanya, mumpung di sini kenapa kita gak eksplorasi sebanyak-banyaknya aja?
Terlihat Rara sedang menyeruput teh hangat miliknya. Di sampingnya ada Cak Dika yang sesekali memperhatikannya.
Selain pribadinya yang menarik dan berani. Rara ini cukup unik di mata Cak Dika. Pautan usianya dan Rara selisih lima tahun. Gadis ini, usianya sama seperti Bella, Rachel dan Laras. Marsya adalah yang paling muda di sini.
Ada banyak pertanyaan yang mengendap dalam kepala Cak Dika. Perihal Rara, kenapa gadis ini bisa punya kemampuan mata ghaib seperti keluarganya. Padahal keturunan Rara tidak memiliki itu.
Seharusnya jika menurut pemahamannya. Rara tidak mungkin bisa memiliki kemampuan khusus itu. Kemampuan itu hanya akan ada dan didapatkan.
Apabila leluhur sebelum Rara memiliki ajian atau mungkin memiliki kemampuan supranatural sama seperti buyut Gautamanya.
Rara menghela nafas sejenak lalu memalingkan wajahnya ke arah samping. Tepat ketika wajahnya dan Cak Dika bertemu. Cak Dika terkejut.
Tatapan itu datar menatapnya kali ini. Dalam hatinya Cak Dika bertanya-tanya. Apakah dia melakukan kesalahan pada Rara sampai ditatap semacam itu.
"Aku tau apa yang kamu pikirin itu!" ujar Rara menatapnya datar.
Cak Dika tertegun sambil membulatkan kedua matanya tak percaya. Gadis ini bisa membaca pikirannya rupanya.
"Huh.." lirih Cak Dika sambil membulatkan matanya.
Reaksi itu membuat Rara tersenyum miring. Lucu rasanya seorang maskot berekspresi seperti itu.
"Kamu heran ya, kenapa aku bisa punya kemampuan mata ghaib. Anggap aja itu anugerah! Tuhan ciptain aku beda dari keluargaku yang lain!" jawab Rara lalu kembali meminum teh hangat miliknya.
Jawaban itu sekejap membuat Cak Dika tersenyum. Orangnya tidak bertele-tele. Gadis ini benar-benar membuat Cak Dika tertarik.
Bella dan Rachel yang duduk di depan mereka sejak tadi memperhatikan keduanya. Menurut mereka Cak Dika dan Rara ini cocok sekali.
Terbesit dalam kepala Rachel saat ini satu pertanyaan. Perihal alasan jelas kenapa Rara ingin ikut bersama mereka. Dia pun melirik ke arah Bella di sampingnya. Lalu menyenggol sedikit tubuhnya.
"Apa?" tanya Bella menoleh pada Rachel di sampingnya.
"Menurutmu kenapa dia ikut kita ya?" tanya Rachel padanya.
"Kamu itu, kan dia udah bilang dia naksir Mas Dika!" jawab Bella santai.
"Ya masa' secepat itu sukanya?" tanya Rachel lagi padanya.
Baginya, cinta itu datangnya tidak instan. Cinta yang datang insan rata-rata adalah nafsu bukan perasaan. Nafsu terpikat oleh kecantikan. Sedangkan perasaan dan hubungan itu butuh dibangun lebih dulu.
"Cintanya jalur instan kok! Udah biarin, Ben Ndang nikah itu Masku!" jawab Bella lagi padanya.
Ketika Rachel pasrah lalu membuang nafas panjang. Lima orang lelaki datang masuk ke dalam warung tepat di mana mereka makan. Suara gaduhnya mereka membuat Rachel terkejut sekilas.
Lima orang itu membawa satu orang dibopong masuk ke dalam sana. Riuh suara mereka sempat memecah obrolan yang terjadi antara Rachel dan Bella di dalam warung itu.
Rombongan Cak Dika jelas saja langsung memperhatikan mereka. Pemilik warung datang menghampiri rombongan itu.
__ADS_1
"Ada apa ini Mas?" tanya Ibu Yem, sang pemilik warung.
Tubuh itu dibaringkan tepat di atas bayang. Bayang adalah semacam bangku panjang dari kayu yang cukup lebar.
Salah seorang dari mereka sambil menunjuk ke arah Pak Joko dia berkata,
"Ini Pak Joko buk, dia ini udah hilang selama satu Minggu lebih. Dia tinggal di desa Karang Kenik. Ibuk tau desa itu, toh?" ujar salah seorang dari mereka menjelaskan perihal masalahnya.
"Lah ini dia kena kok bisa lusuh pucat gini? Mana banyak belur juga?" tanya Ibu Yem.
"Huh.." salah seorang dari mereka menghela nafas lalu menggelengkan kepalanya.
"Tadi saya temuin dia di dekat rawa buk! Teman saya kebetulan tinggal di daerah Jarang Kenik. Dan dari story' WhatsAppnya, saya kenal orang ini. Dialah yang dikabarkan hilang dari sana. Menurut teman saya, Pak Joko ini harus segera dikembalikan ke desanya!" ujar salah seorang dari mereka lagi menjelaskan.
Ibu Yem manggut-manggut mendengar itu. Tentu saja dia tau perihal desa keramat itu. Desa itu berjumlah dua puluh enam Kartu Keluarga.
Dua puluh enam kepala rumah tangga dan itu tidak boleh lebih. Dan jika Pak Joko sebagai salah satu kepala rumah tangga di sana hilang selama seminggu.
Maka sudah dipastikan di desa itu saat ini ada orang yang sakit. Yang sebentar lagi menuju kematian. Di sana ada kutukan.
"Harus segera dikembalikan Mas! Kalau gak gitu nanti ada yang mati di sana!" jelas Ibu Yem pada mereka.
Rombongan Cak Dika satu sama lain saling tatap mendengar itu. Bagaimana bisa, satu orang keluar dari dalam desa mengakibatkan kematian untuk orang lain.
Kebingungan mereka sirna ketika melihat ekspresi wajah Rara yang terlihat tidak tegang. Dia bersikap biasa sambil memperhatikan rombongan lelaki itu.
Dari sana, mereka yakin bahwa Rara tau sesuatu perihal desa yang disebutkan itu. Terlebih lagi, Rara ini sudah lahir dan besar di area Tapal Kuda.
"Kenapa wajahmu netral sekali?" tanya Bella pada Rara.
Rara hanya menghela nafas. Kejadian itu sudah terjadi berulang-ulang kali. Sudah banyak yang datang dan pergi di desa itu.
"Huh, itu udah biasa! Desa itu udah terkenal, kalian baru tau ya?" tanya Rara padanya.
Pertanyaan itu semakin membuat mereka bingung. Belum pernah sekalipun mereka mendengar perihal desa yang dikutuk. Baru pertama kali ini mereka mendengarnya.
"Terkenal gimana maksudmu?" tanya Rachel padanya dia bingung.
Rara tersenyum kemudian.
"Itu desa kutukan jaman Majapahit. Nama Karang Kenik itu dalam bahasa Indonesia artinya pekarangan kecil. Kita flashback dulu ya tentang desa itu!" ucap Rara lalu menyeruput kembali teh dalam gelas miliknya yang tinggal separuh.
Sebelum bercerita, Rara melirik sekilas ke arah orang yang sedang dibopong itu. Lalu dia menatap Cak Dika di sampingnya. Rara bersimpati pada orang itu. Kondisinya benar-benar memprihatinkan.
"Cak, setelah aku ceritain ini! Aku mau, kita antar orang itu kembali ke desanya secepatnya. Kalau bisa hari ini! Sebab Malapetaka akan datang pada orang yang sakit di dalam desa itu!" jelas Rara menatapnya serius.
Penjelasan itu semakin membuat Rachel dan yang lain menatap serius ke arahnya Rara. Cak Dika mengangguk mengiyakan apa yang Rara katakan.
Anggukan itu membuat Rara siap menceritakan perihal desa Karang Kenik.
"Dahulu kala, Majapahit ketika runtuh itu berubah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Salah satu dari pangerannya melarikan diri karena ada serangan dari Mataram. Akhirnya di wilayah yang saat ini namanya menjadi Desa Karang Kenik, Raden Tumenggung Adipati atau yang bergelar Pangeran Tunggul Angin mendirikan perguruan di desa itu. Sebanyak dua puluh delapan pengikut ada di sana. Pada masa itu ada satu pantangan, di mana tidak boleh ada perkawinan antar sesama anggota perguruan. Saat itu ada yang melanggar, hingga membuat guru besar mereka Pangeran Tunggul Angin ini membuat satu kutukan. Bahwa anak-anak yang ada di Karang Kenik anak cucunya akan tetap menjadi dua puluh enam. Sedangkan dua orang yang kawin dan melanggar itu, diusir dari Karang Kenik. Jadi kutukan itu sampai sekarang masih terjadi. Apabila di dalam desa itu ada lebih satu orang lalu menjadi dua puluh tujuh kepala keluarga. Maka salah satu dari mereka akan mati. Jika kurang dari dua puluh enam, salah satu dari mereka juga akan mati atau terkena malapetaka!" jelas Rara menceritakan perihal asal usul kutukan desa Karang Kenik.
Kutukan orang jaman dahulu itu pasti akan terjadi. Dan sudah terbukti sampai sekarang. Orang Jawa itu bisa membunuh tanpa menyentuh. Orang jaman kerajaan dulu sangat sakti. Indonesia punya dua suku sakti, Jawa dan Dayak.
Mendengar itu jelas saja Cak Dika tidak tinggal diam. Setelah manggut-manggut Cak Dika kemudian berdiri. Lalu Cak Dika pun mengusap puncak kepala Rara. Yang membuat si empunya menoleh ke arahnya.
Cak Dika yang ditatap Rara langsung saja berpaling ke arah Rahman. Dan dia berkata,
__ADS_1
"Duh, bocah Iki ora ngomong Ket mau! Ketok apik iku, Man! Isok digawe cerita tambahan nak deskripsi YouTube. Engko Aldo Karo Laras sing cerito, kan penyiar radio pintar ngomong!" ujar Cak Dika sambil tersenyum menatap ke arah Rahman yang juga menatapnya.
(Duh, anak ini gak ngomong daritadi! Kelihatannya bagus itu, Man! Bisa dibuat cerita tambahan di deskripsi YouTube. Nanti Aldo sama Laras yang cerita, kan mereka penyiar radio pintar ngomong!)
Aldo dan Laras tertawa mendengar itu. Kemudian Cak Dika menghampiri lima orang lelaki itu.
"Permisi Mas, Bapak ini kira-kira nanti siapa yang antar ya?" tanya Cak Dika pada mereka.
"Lima diantara kami gak ada yang bisa Mas! Tapi dia harus segera dikembalikan sebelum malam. Takutnya kalau gak cepat-cepat bakalan ada malapetaka di sana!" jelas salah satu dari mereka.
"Yaudah Mas, bapak itu biar saya sama adik-adik saya yang ngantar ke sana! Mas-masnya bisa pulang!" ucap Cak Dika menawarkan.
"Nggih, Mas? Tenan sampean Iki?" tanya salah satu dari mereka tak percaya.
"Iya Mas! Tapi, kalau boleh tau kenapa si bapak ini bisa lusuh gini pakaiannya?" tanya Cak Dika pada mereka.
Sejenak lima orang itu saling tatap satu sama lain. Lalu kembali menatap Cak Dika.
"Mungkin ulah bandit Mas! Mungkin dia dirampok atau apa? Saya gak tau, tapi sebelum pingsan dia bilang kalau dia dibuang di rawa-rawa sama mobil Jeep! Terus dia pingsan, sudah itu saja!" jelas salah satu dari mereka.
Cak Dika mengangguk mendengar itu.
"Mungkin lebih jelasnya nanti bisa Mas tanyakan ke orangnya kalau sudah sadar!" ucap salah seorang dari mereka.
"Iya Pak, nanti saya tanyakan!" ucap Cak Dika sambil mengangguk dan tersenyum.
Kelima lelaki itu mengatupkan kedua tangannya pada Cak Dika lalu tersenyum.
"Ya sudah Mas, saya tinggal dulu ya! Sebab kami ini masih di dalam jam kerja! Pripun, titip nggih Mas! Matursuwon!" ucapnya lagi lalu bergegas pergi dari dalam warung.
Cak Dika duduk di samping tubuh Pak Joko. Tangan kanannya mencoba menyentuh kepala Pak Joko. Kepala itu sudah beruban.
"Bismillahirrahmanirrahim!" ucap Cak Dika, dia mencoba menyadarkan Pak Joko yang masih terpejam.
Ketika dia fokus di sana. Di depannya terlihat dia sosok astral. Sosok itu tidak lain adalah Barend dan Albert.
"Sepuh!" panggil keduanya.
Cak Dika membuka kedua matanya lalu menatap ke arah Albert dan Barend di depannya.
"Dia tidak akan sadar di sini! Karena yang bisa membuka matanya hanya kepala adat di desa itu! Jadi, segera kembalikan dia!" ujar Albert pada Cak Dika.
"Bagaimana kalian bisa tau?" tanya Cak Dika padanya.
Lantas kedua sosok setan Belanda itu menunjuk ke arah satu sisi ruangan. Ketika Cak Dika menoleh ke arah itu. Terlihat seorang lelaki berpakaian kerajaan jaman dulu. Dia di sana menatap Cak Dika.
"Dia yang bicara pada kami!" ucap Alberta dan Barend.
Cak Dika memberi hormat pada sosok itu melalui maungnya. Sebelum pergi, sosok itu berkata.
"Maung, kembalikan orang itu ke asalnya!" perintah sosok itu lalu menghilang.
_________
Tentang Karang Kenik, itu ada ya! Kalian bisa cari di google. 😄 Tapi untuk narasi ini, ini dari pikiran saya. Yang nyata hanya desa dan kutukannya. Sampai sekarang masih ada desanya, dan berlaku kutukannya!
Dusun Karang Kenek di Desa Olean, Kecamatan Situbondo menjadi salah satu dusun paling terkenal di Situbondo. Dusun ini dikenal oleh masyarakat luas karena mitos yang melingkupinya. Di dusun Karang Kenek, terdapat mitos bahwasanya dusun tersebut hanya bisa dihuni oleh 26 kepala keluarga.
__ADS_1
Letak kawasan wisata Karang Kenek 26 tidak jauh dari pusat kota Situbondo. Waktu tempuh yang dibutuhkan untuk sampai ke kawasan wisata ini sekitar 15 menit. Kemudahan akses jalan menuju kawasan wisata Karang Kenek 26 memungkinkan pengunjung menggunakan modal transportasi apa saja.