Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 97: Bilik Penyesalan (Suara Pezina)


__ADS_3

Semak belukar semakin meninggi tiap kali mereka semakin masuk kakinya menjelajahi hutan. Masih asrih dan hanya ada suara burung dan hewan seperti serangga terdengar.


Rara benar, Banyuwangi ini masih sangatlah asrih. Tapal kuda, berjuta misteri tersimpan di sini. Namun keindahannya juga luar biasa.


Alam semacam ini, adalah kesukaan Bella. Rachel berhenti ketika dari kejauhan sana sosok nenek itu juga berhenti.


Di sana Rachel melihat berdiri satu rumah kecil yang terbuat dari kayu. Rumah itu sendirian di sana tak bertetangga. Di belakang rumah itu ada pohon bambu yang tumbuh lebat.


Sedangkan di samping kiri kanannya adalah pohon pisang. Rumahnya bagus, masih nampak terawat. Ketika Rachel hendak menghampiri rumah itu.


Dia melihat seorang pemuda datang muncul dari balik celah pohon bambu. Pemuda itu tinggi, cukup tampan, kulitnya bersih putih. Dia bertelanjang dada.


Pemuda itu membuka pintu rumah itu. Rachel dari jauh masih memperhatikan pintu rumah yang dibiarkan terbuka di sana.


"Ada orang tinggal di dalam hutan lebat begini?" ujar Thariq tak percaya.


Rachel hanya mempu mengangguk mendengar itu. Benar, ini sangat tidak masuk akal. Kenapa ada orang yang tinggal di dalam hutan ini. Sedangkan hutan ini jauh dari pemukiman warga.


Sosok hantu nenek tua itu menangis sesenggukan. Rachel tidak mendekatinya dia hanya memperhatikan itu. Dia hanya mendengarkan suara Isak tangisnya.


"Kenapa kau menangis wahai orang tua?" tanya Rachel padanya.


Satu detik dua detik tiga detik tak ada satupun jawaban terlontar. Namun sosok itu memutar kepalanya ke belakang. Sedangkan tubuhnya masih tetap tegap menghadap ke arah rumah itu.


Rachel dan Thariq jelas saja terkejut dibuatnya. Jika nenek ini manusia. Memutar kepala sampai ke belakang maka akan membuat putus kepala itu bukan?


Dengan raut wajah bencinya. Kedua bola mata nenek itu memerah. Dia mengeram lalu berteriak kencang pada Rachel dan Thariq di sana.


"Aku tidak peduli! Bunuh pemuda itu!!! Cucuku, cucuku, sengsara karenanya!!!" teriak nenek tua itu lagi menghilang.


Brukkkkkkk


"Riq!" pekik Rachel ketika melihat Thariq bersimpuh memegangi dadanya.


Sesak sungguh, hilangnya nenek itu dari hadapan mereka membawa banyak memori lampau masuk melalui diri Thariq. Dan di sanalah Thariq saat ini.


Seorang gadis belia nampak anggun dengan dress motif batiknya. Surainya tergerai menjuntai. Sepoi angin yang meniup surainya membuat dia bak seorang bidadari.


Thariq melihat rumah kayu di tengah hutan ini dihias cukup elegan. Ya, yang menghias adalah kedua tangan dari gadis ini.


Di halaman itu nampak sebuah meja kecil dengan dua kursi. Di atasnya ada jamuan minuman di dalam teko. Thariq mengenali teko itu.


Teko lama berwarna hijau itu sudah ada sejak jaman dulu. Dan di sana Thariq yakin bahwa isi di dalam teko itu adalah teh.


Tak lama pemandangan berganti ketika gadis itu duduk berdua bersama dengan seorang pemuda. Ah, Thariq baru saja melihat pemuda ini. Ini adalah pemuda yang sama yang masuk ke dalam rumah itu tadi.


Di sana mereka saling bercengkrama namun apa yang mereka bicarakan tak jelas. Hingga malam pun tiba, adegan ranjang itu terjadi.


Pemuda itu membawa tubuh ramping gadis itu dalam gendongannya. Sedangkan gadis itu terbuai dengan ciuman lembut sang kekasih.


Mereka bermadu kasih dalam kenikmatan saat itu. Ketika tubuh rampingnya terhempas. Mereka malam itu mencapai euforia paling tinggi bagi mereka.


Gadis itu tak lagi gadis. Dia membiarkan pemudanya memilikinya seutuhnya malam itu. Dia membiarkan pemudanya itu mengirimkan jutaan benih masuk dalam dirinya.

__ADS_1


Sepertinya beberapa bulan lagi perutnya akan membuncit. Adegan kembali berpindah saat ketika gadis itu menangis di hadapan pemudanya.


Perutnya sudah membuncit. Pemudanya di sana nampak sangat menyesal. Namun dia terus saja memakai gadis itu. Gadis itu menangis sesenggukan.


"Kenapa kamu tidak bertanggung jawab, Dan!" ujar gadis itu. Ah, sepertinya Thariq harus memasang baik-baik telinganya sekarang. Sebab nama-nama mereka akan disebut.


"Gandis, aku mencintai wanita lain selainmu. Dan bapak akan menikahkan aku dengannya! Pergi dan jangan ganggu hidupku!" ujar pemuda itu.


Thariq akhirnya mendapatkan nama dari gadis itu. Ya, dialah Gandis. Pantas saja seluruh warga di sana menyebutnya kembang desa. Wajah Gandis memang sangat rupawan. Bahkan Thariq pun mengakui itu.


Tapi jika dibandingkan dengan Rachel. Maka Rachel adalah yang paling menawan untuknya.


Setelah keputusan itu dibuat. Maka larilah Gandis dari hadapan Bondan. Dia menangis membawa perih dan aib dari tempat itu.


Thariq kembali ditarik pada satu kejadian. Di mana di sana di dalam kamarnya. Bondan tengah meringkuk frustasi setelah mengatakan itu. Dia menangis terisak setengah mati di sana.


Dari dalam laci dia mengambil satu potret. Sebuah foto dirinya dan Gandis.


"Maafkan aku, ini bukan inginku! Kamu tau bukan jika dulu ayahmu dan ayahku adalah saingan. Mereka tidak mengizinkan kita bersama rupanya. Aku menyesal Ndis, maafkan aku. Aku terpaksa berpura-pura membencimu. Semoga kamu kuat ya!" ujar Bondan terisak.


Ada kesimpulan baru di sini. Rupanya ini terjadi sebab cinta mereka tidak ada restu.


Thariq kembali ditarik ke arah memori Gandis saat itu. Di mana dia yang putus asa dengan perut buncitnya memilih untuk tetap berada di rumah.


Dia enggan keluar dari dalam kamar. Sang nenek bahkan memanggilnya di atas tempat tidur. Kamar mereka bersebelahan.


Namun sebab frustasi Gandis benar-benar seperti kehilangan semangat untuk hidup. Neneknya tak lagi mampu bangun. Nenek tua itu sakit keras dan Gandis sama sekali tidak peduli.


Hingga hari itu tiba. Di mana dia memutuskan untuk mati saja. Tak sanggup rasanya menanggung segalanya sendiri. Ini terlalu berat untuknya.


Di pohon itu, Bondan dengan celurit di tangannya berusaha menyakiti Rachel.


"Lari! Riq, lari! Cari Cacak!" ujar Rachel yang mundur menghindari Bondan yang menggila.


Apa yang Rachel katakan itu? Dia menyuruhnya lari? Sedangkan Rachel di sana sedang dalam ambang kematian.


Kepalanya masih pusing akibat jelajah waktu. Tapi Thariq langsung berlari ke arah Rachel. Dia langsung menahan tubuh Bondan di sana.


"Bangsat! Kon wes gendeng Yo!" ujar Thariq murka lalu merampas celurit itu dan membuangnya asal.


Ketika Thariq hendak menghajarnya. Dia mendengar Rachel meringis kesakitan. Ya, dia terluka tepat di bagian perutnya yang terkena sabetan celurit.


"Hel, kamu kenapa?" tanya Thariq menoleh ke arah Rachel yang saat ini bersandar di sebuah pohon besar.


Kedua mata itu sahu menatap Thariq di sana. Sedangkan Thariq dia membulatkan matanya ketika melihat perut Rachel yang berdarah.


Bangsat!. Ujar Thariq hendak menghajarnya. Namum kedua mata Bondan saat itu memberitahunya bahwa pemuda ini frustasi.


"Aku mau ikut Gandis! Gandis... Di mana dia! Gandis!" ujar Bondan terisak.


Thariq kemudian memukulnya sekali sebagai pelampiasan. Lalu dia berbalik menghampiri Rachel. Thariq menggendong tubuh itu.


"Jangan mati hel! Tolong bertahan!" ujar Thariq lalu berjalan pergi dari sana.

__ADS_1


Beberapa langkah kemudian dia berpas-pasan dengan Cak Dika dan yang lain. Saat itulah mereka dibuat terkejut.


Secara singkat Thariq pun menjelaskan kejadiannya. Cak Dika dengan cepat langsung membagi timnya. Dia langsung pergi ke arah bajingan bernama Bondan itu.


Sedangkan Thariq, Bella dan Rara pergi keluar dari dalam hutan. Beruntungnya Bella di sini ahli navigator perhutanan. Dia yang sudah banyak mendaki ini bisa menemukan jalan keluar secara cepat.


Rara memanggil ambulance. Beberapa menit kemudian ambulance pun datang. Rachel masuk ke dalam ambulance bersama dengan Thariq, Rasa dan Bella.


Terlihat jelas di sana Thariq begitu sangat ketakutan. Dia takut terjadi apa-apa pada Rachel. Dia takut kehilangan Rachel.


Thariq menggenggam kuat tangan Rachel. Bajunya juga ikut berdarah sebab dia menggendong Rachel sejak tadi.


Tabung oksigen itu kembang kempis. Dengan kedua mata satunya Rachel memperhatikan Thariq. Rachel mengangkat tangan kanannya lalu menyentuh kepala Thariq dan berkata,


"Aku... Baik... Maaf ya, aku tidak mendengarmu!" ujar Rachel lirih.


Thariq menganggukkan kepalanya. Dia menggenggam tangan kanan Rachel yang menyentuh kepalanya membiarkannya tetap di sana lalu menciumnya.


Hari ini dari dalam hati Thariq mendekatkan wajahnya tepat di samping telinga Rachel dan berkata.


"Jangan pergi, aku mencintaimu!" ujar Thariq lirih namun masih bisa didengar oleh Rara dan Bella di sana.


Mereka takut, sama takutnya dengan Thariq. Namun ketika kalimat hangat itu diucapkan Thariq mereka bahagia. Pada akhirnya Thariq jujur alak perasaannya pada Rachel.


Mendengar bisikan itu Rachel pun tersenyum. Dia kemudian kehilangan kesadarannya saat itu juga.


Sementara di tempat lain. Cak Dika menggiring Bondan untuk di sidang. Namun pemuda ini hampir gila. Tak adil rasanya saat ini menghantam Bondan sedangkan psikisnya kini terguncang.


"Saya gak mau tau pak ya! Wong Iki, pokoknya harus di penjara! Atau kalau gak gitu masukin di rumah sakit jiwa!" ujar Cak Dika murka.


Dia tidak habis pikir. Ada manusia yang ringan tangannya menyakiti manusia lain. Di sana Cak Dika juga menjelaskan bahwa matinya Gandis adalah karena frustasi. Bahkan cak Dika juga menjelaskan. Bahwa ini terjadi atas dasar dari tidak adanya restu.


Pak Kades yang ditemui oleh Wati dan Sukma. Dia sebenarnya adalah bapak dari Bondan. Dan dia sangat membenci keturunan Gandis.


Dahulu bapak Bondan dan bapak Gandis adalah saingan. Namun sebab bapak Gandis selalu mujur itulah mengapa bapak Bondan membencinya. Hingga tega mematahkan hati keduanya.


Di situlah akhirnya warga murka. Hari itu juga bapak Bondan dilengserkan. Cak Dika pamit pergi dari sana setelah semuanya usai.


Pikirannya kalut rasanya. Rachel terluka akibat sabetan celurit. Sungguh, jika boleh membunuh. Mungkin saat ini juga Cak Dika akan menghabisi nyawa Bondan.


________


Hallo Readers tercinta 😄 apa kabar nih? Semoga kalian selalu sehat Yo rek!


Aku mau tanya nih, enaknya ini novel ditutup berapa episode ya? Aku masih bingung rek 😓 Kalau masih mau lanjut komen ya. Kasih saya masukan 😄. Sebab ada karya yang harus dilahirkan lagi.


Tapi, saya juga pasti bakalan terusin novel ini. Itu tergantung kalian, minta ditutup di episode berapa ini?


Akan lahir buah hati baruku pertengahan April berjudul Sang Pemenggal (Sarden).


Cooming Soon!🤗😄


Dan semoga kalian selalu suka ya... Aamiin.. Sehat selalu rek. Aamiin...

__ADS_1



__ADS_2