
kejadian yang cukup mengerikan menimpa sepasang pengantin baru. Terlihat sepasang suami istri telah menginjakkan kakinya di depan sebuah rumah mewah.
Pelelangan Bank yang membawa mereka ke sana. Baru saja mereka menikah dan mereka membeli rumah dengan harga yang sangat murah.
Nampak di wajah pengantin itu Aura bahagia memancar begitu kuat. Pasutri baru ini cukup bahagia rasanya mendapatkan rumah mewah dengan perabotannya.
Tetapi dibalik kemewahan itu rupanya lantai rumah itu haus akan darah. Pasutri itu mati tragis tepat di depan rumah yang baru saja mereka beli.
Melalui mata batinnya ketika Thariq mendekat dan hendak masuk ke dalam rumah itu.
Kemampuannya mendadak menghentikannya. Tubuhnya yang tadinya berdiri perlahan lututnya mulai lemas dan dia menjadi jatuh bersimpuh.
Cak Dika mencoba melanjutkan langkahnya. Namun dia terbelalak ketika melihat apa yang ada di hadapannya sekarang.
"Kamu Ndak papa, kan Riq?" tanya Rachel khawatir.
Thariq masih diam bersimpuh di sana. Kedua matanya terpejam. Dahinya mengkerut. Di dalam penglihatannya dia menyaksikan itu.
Seorang lelaki datang menemui sebuah keluarga tidak berada di dalam rumah itu.
"Apa yang kamu lakukan di sini, hah?!!" tanya lelaki tua berpakaian jawara itu pada satu keluarga yang saat ini berdiri tepat di teras rumah itu.
"Apa maksudmu? Kami seharusnya yang bertanya kenapa kamu di sini? Ini adalah kediaman kami? Kenapa kamu kemari lalu membentak kami?" tanya sang Bapak dari keluarga itu.
Jawara itu melotot ke arah Bapak itu. Dia sudah dikendalikan amarah. Tangan kanannya meraih golok yang berada tepat dia simpan di sisi kiri tubuhnya.
Clinggg
Suara golok itu ketika dikeluarkan dari sarung tempatnya.
"Hah!!!" pekik beberapa anak dari bapak itu.
"Apa maksudnya ini?" tanya Bapak itu pada Sang Jawara.
Sang Jawara yang sudah naik pitam lantas menodongkan goloknya ke arah Bapak itu. Kebencian itu menghindari hatinya ingin dia buta matanya ada beberapa anak kecil yang menatapnya dengan rasa takut.
Malah itu Simpati jikalau amarah sudah membuat menguasai dirinya. Tak lagi peduli dia dengan tatapan rasa takut dari anak-anak kecil itu.
"Bapak.." lirih salah seorang anak kecil sambil mencengkram kain baju Bapaknya.
Sang Bapak yang khawatir lantas hanya mampu menatap tak percaya ketika golok itu dilayangkan begitu saja oleh sang jawara.
__ADS_1
"Bapak!!!" teriak ketiga orang anak ketika Sang Bapak menahan golok sang jawara degan kedua tangannya.
"Mati kau perebut!" murka Sang Jawara.
Sekalipun goloknya ditahan. Tetapi murkanya tak kunjung usai. Walaupun darah dari tangan sang Bapak menetes. Dia tetap mengerahkan sekuat tenaga goloknya pada Sang Bapak.
"Lari Nak! Lari!!!" teriak Sang Bapak berusaha melindungi ketiga buah hatinya.
Tangisan ketiga anak kecil itu tak terbendung lagi rasanya. Mereka benar-benar ketakutan. Ketentraman yang ada sebelum ini tiba-tiba berubah menjadi suasana seram.
Manusia mana yang tak takut melihat secara langsung pembunuhan di depan matanya.
"Pergi Nak!!!" teriak Sang Bapak.
"Huaaa.. Ndak mau Pak! Ibuk sudah pergi, bapak jangan pula pergi!" ucap ketiga anak itu menangis tak karuan.
"Hah!!!" pekik Sang Jawara.
Buaghhhh
"Bapak!!!" teriak ketiga anak kecil itu memekik ketika melihat bapak mereka ditendang begitu saja oleh Sang Jawara hingga tersungkur.
"Mati Kau!!!" teriak Sang Jawara.
Satu sabitan golok tajam itu. Mengenai tepat ke arah leher Sang Bapak. Dengan brutal karena kepala itu tidak terputus langsung. Sang Jawara pantas menggorok leher Sang Bapak layaknya sapi qurban.
Pembunuhan sadis itu disaksikan oleh ketiga anak itu langsung. Sungguh betapa sangat memilukan apa yang mereka lihat.
Bahkan mereka juga mendengar suara nafas bapaknya yang hampir sekarat. Hingga ketika kepala itu terlepas dari tubuh sang bapak.
Maka di situlah Sang Jawara membawa kepala itu di tangan kirinya bak seorang eksekutor.
"Bapak kalian sudah mati! Tanah ini milikku! Bagaimana bisa kalian menempati rumah ini. Aku memang tinggal di sini tanpa adanya surat-surat kuasa. Tapi aku sudah lebih dulu memijakkan kaki di sini. Hanya karena tidak ada surat kuasa. Lantas apakah kalian berhak memiliki rumahku? Aku pergi tiga bulan saja. Ketika kembali kenapa rumah ini menjadi milik kalian? Kepala desa yang biadab itu juga sudah kubunuh. Kekuasaan yang dia miliki membutakan matanya pada keadilan. Kalian yang merebut tanahku. Pasti akan mati!" ujar Sang Jawara murka.
Bughhh
"Hah!" pekik salah seorang anak dari bapak itu.
Dia melihat Sang Jawara melepaskan kepala bapaknya. Lantas kepala itu terjatuh tepat di atas tanah itu.
Sang Jawara mencoba menundukkan kepala. Dia melihat tanah yang dia pijaki. Lantas dengan golok yang masih bersimbah darah itu. Dia menggaruk tanah.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian tanah itu sudah cukup dalam. Bak seperti melempar bola. Sang Jawara pun memasukkan kepala itu ke dalam lubang yang baru saja dia buat.
Tanpa kain untuk membungkus kepala itu. Dia menguburnya di sana.
"Aku bersumpah! Siapapun yang memijakkan kakinya di sini. Maka dia akan mati! Tanah ini milikku. Akan selamanya menjadi milikku. Tidak ada satupun orang yang berhak memilikinya kecuali diriku!" ujar Sang Jawara.
Dia lalu memasukkan goloknya kembali. Ketika tubuhnya berbalik. Dia menatap kosong ke arah tiga orang anak yang tidak berdosa itu.
Ditatap semacam itu oleh sang jawara pembunuh. Lantas ketiga bocah itu merinding. Mereka mundur perlahan ketakutan.
Ketika Sang Jawara mendekat. Ketiga anak itu berlari sembari menangis. Namun Sang Jawara sama sekali tidak memperdulikan itu.
Dia terus berjalan meninggalkan kediamannya. Saat itulah gambaran yang Thariq lihat selesai.
Thariq kembali membuka kedua matanya. Namun darah segar mengucur dari kedua lubang hidungnya.
Sejak tadi Rachel menjaga Thariq di sana. Dengan sapu tangannya. Rachel menyeka tiap darah yang keluar dari lubang hidung Thariq.
Sementara Cak Dika, dia mencoba memanggil keberadaan maungnya. Namun ternyata sang Maung tidak kunjung datang.
"Ini kenapa lagi?" tanya Melissa kali ini yang sejak tadi memperhatikan Cak Dika yang nampak frustasi.
"Aku gak bisa manggil maungku! Barend juga dari tadi Ndak kelihatan!" ucap Cak Dika menjelaskan keluhannya.
Bella memperhatikan rumah itu dengan seksama. Mereka memang tidak bisa masuk ke dalam sejak tadi. Sebab ada lima Genderuwo yang berdiri di hadapan mereka saat ini.
Seolah para Genderuwo itu melarang mereka untuk masuk. Lima sosok besar itu juga tersenyum licik melihat kehadiran mereka.
Rachel sudah muak rasanya dipermainkan oleh setan seperti ini. Rachel berdiri setelah selesai dengan Thariq.
Belum sempat dia memejamkan kedua matanya. Thariq menggenggam tangan kanannya. Itu membuat Rachel terkejut lalu menoleh ke samping ke arah Thariq.
"Apa?" tanya Rachel padanya.
Thariq menggelengkan kepalanya mencoba memberi Rachel isyarat agar tidak melakukan itu.
"Jangan pergi sendiri!" ucap Thariq memperingatkan.
Cak Dika tersenyum mendengar itu. Dia kemudian berdiri di sampingnya Rachel.
"Kalau gitu, panggillah Nyai! Biar Nyai dan para Maung yang menghajar Genderuwo ini! Kita masuk berdua. Kita cari Maungku, Barend, dan bocah kecil yang terperangkap di dalam sana!" ucap Cak Dika.
__ADS_1
Mendengar itu Thariq pun melepaskan genggaman tangannya. Ketika genggaman tangannya mulai terlepas. Rachel pun memejamkan kedua matanya begitupun dengan Cak Dika.
Tubuh mereka ambruk. Namun dengan sigap Bella dan Marsya menahan tubuh Cak Dika. Sedangkan tubuh Rachel ditahan oleh Thariq dan Rara.