Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 108: Hilang di Dalam Dekapan Everest


__ADS_3

Semakin tinggi datarannya maka semakin minim pula energi mereka. Istirahat memang sudah mereka lakukan. Beberapa jam akan berhenti, lalu beberapa jam pula mereka akan berjalan.


Dataran itu terus meruncing. Terjal sekali rasanya. Hawa dingin semakin dingin jikalau kalau kaki mereka semakin ke atas.


Buliran keringat memang tak ada. Sebab suhu dingin ini mengukung mereka. Puncak Everest sudah terlihat. Bendera negara banyak berada di sana.


Sebelum mereka ada banyak pendaki lain datang kemari lalu mereka meninggalkan jejak berupa bendera negaranya. Mereka taruh tepat di atas Everest.


Wushhhh


Wushhhhh


Anginnya berhembus cukup kencang. Gelanda sejak tadi memperhatikan alam. Sepertinya sebentar lagi cuaca tidak kondusif.


"Anginnya kencang juga ya?" ujar Gelanda pada dua orang temannya yang juga berstatus guide.


"Gunung itu random sungguh! Terkadang jika di bawah kita sudah memperkirakan segalanya. Tetapi alam rupanya berbeda!" ucap Jacob.


Gelanda mengangguk mendengar itu. Kemudian mereka yang saat ini berhenti itu mendongak ke arah puncak Everest yang mulai terlihat di sana.


Puncak itu seakan melambaikan tangannya. Merayu agar mereka semakin dekat pula ke atas menghampirinya.


Candu rasanya, mereka adalah pendaki. Hati mana yang tak goyah ketika melihat puncak gunung dekat dengan mata mereka.


Tapi, Gelanda takut. Cuacanya ini sepertinya akan buruk. Gelanda berpikir apabila mereka melanjutkan kaki mereka ke atas. Mungkin akan ada badai yang akan melahapnya.


"Kita berhenti saja!" ujar Gelanda sambil menoleh ke arah rombongannya.


"Kenapa kita harus berhenti, Gelanda? Puncak sebentar lagi!" ujar Jacob tak terima.


Gelanda menunjuk ke arah langit. Dia berusaha memberitahu rekannya itu jika saja ada kemungkinan badai yang akan datang.


Tapi Jacob adalah pria yang keras kepala. Dia tidak ingin berhenti jika tujuannya hendak tercapai.

__ADS_1


"Bagaimana jika kita voting saja, Gelanda?" tanya Jacob padanya.


Gelanda menaikkan salah satu alisnya mendengar itu. Bola matanya itu sesekali melirik ke arah para rombongan mereka yang saat ini juga menatap mereka seakan meminta jawaban.


Gelanda lalu kembali menatap ke arah Jacob. Tak adil memang rasanya jika Gelanda memutuskan hal ini sendiri. Tapi, ini demi keselamatan mereka. Sungguh sebagai salah satu guide gunung Gelanda bingung.


Tapi, pada akhirnya keputusan dalam hatinya bulat. Gelanda menerima tawaran itu. Voting dilakukan. Rupanya banyak di antara mereka yang memilih untuk tetap melanjutkan perjalanan.


Akhirnya Gelanda pun menyerah. Dia pasrah ikut serta berjalan ke atas menuju ke arah puncak Everest.


Gemuruh angin semakin kuat. Salju yang turun itu pun terbawa. Dingin... Dingin... sangar dingin sungguh.


Baju pendaki Everest itu berat. Baju mereka tebal menyamakan dengan cuaca. Di sela-sela perjalanan itu. Gelanda mencium aroma yang tidak biasa.


Ini, bau darah!. Pikir Gelanda yang berada di barisan ketiga.


Ya, dia tidak memimpin lagi sekarang. Melainkan dia menyerahkan kepimpinannya pada Jacob. Sebab Jacoblah yang sejak tadi ingin ke atas tanpa peduli cuaca.


Pendaki Abadi!


Es di atas puncak luruh dalam jumlah besar. Melihat itu Gelanda pun berbalik. Dia mengisyaratkan pada seluruh rombongannya untuk mencari perlindungan.


Beberapa dari mereka berhamburan tak karuan. Gelanda melihat Jacob juga berusaha membimbing rombongannya untuk berlindung.


Lalu ketika Gelanda memutar matanya ke arah lain. Dia melihat satu orang gadis kira-kira usianya sekitar delapan belas tahun.


Gadis itu tersenyum padanya lalu dia berjalan pergi dari hadapan Gelanda. Gelanda kembali menoleh ke arah lain. Salju itu luruh ke arahnya.


Akibatnya Gelanda pun berlari menghampiri gadis itu. Gelanda terus berlari hingga tubuhnya jatuh ke dalam jurang es yang cukup dalam.


"Arghhhhh..." pekik Gelanda sambil memegangi kakinya yang sakit.


Sepertinya tulangnya patah. Gelanda mendongak ke atas. Di sana dia hanya bisa pasrah ketika luruhan es itu masuk mengguyurnya. Menguburnya hidup-hidup di dalam jurang.

__ADS_1


Hari itu adalah hari terakhir di mana Gelanda menatap langit Everest. Itu adalah hari terakhir di mana Gelanda harus mengakhiri petualangannya.


Gelanda mati di atas Everest. Dia ditelan salju. Mayatnya ditemukan memang. Tetapi, pendaki Everest yang mati di atas sana. Tidak akan diangkut ke bawah.


Biaya operasional untuk itu sangatlah mahal. Ketika berita itu sampai tepat di telinga orang tuanya. Hari itu mereka sangat terpukul. Begitupun dengan Melissa.


Melissa saat itu menatap ke arah ambang pintu. Di sana dia melihat Gelanda menangis ke arahnya. Ada banyak penyesalan dalam hati Gelanda. Mengapa dahulu dia tidak mendengar perkataan ayahnya.


Melissa sambil merengkuh bonekanya. Dia berjalan ke arah ambang pintu. Dia berdiri tepat di hadapan Gelanda di sana.


Gelanda terkejut ketika mendapati adiknya itu berdiri tepat di depannya. Perlahan dia memperhatikan bola mata Melissa.


Gelanda tidak pernah tau bahwa Melissa bisa melihat makhluk tak kasar mata sepertinya. Melissa mengulurkan tangannya ke arah Gelanda. Dia mencoba membelai wajah kakaknya itu namun tembus.


"Kakak..." lirih Melissa padanya.


Gelanda hanya mampu diam sambil menatapnya kosong. Dia menangis, tapi air matanya tak bisa keluar.


"Kakak sudah bukan bagian dari manusia. Tapi kakak, akan selalu bisa aku lihat. Kedua mataku istimewa! Terima kasih sebab selalu ada di sampingku yang aneh ini. Kamu pergi sebagai pendaki Abadi di puncak Everest sana. Aku tidak akan mengucapkan terima kasih atas matimu. Asuransi kematianmu sudah cair! Ayah mungkin akan membeli rumah dari itu. Tapi, kakak... Bicaralah padaku jika kau ingin. Aku akan selalu menemanimu! Supaya kamu tidak merasa sepi!" ujar Melissa padanya.


Gelanda terharu mendengar itu. Awalnya dia merasa mungkin akan kesepian. Namun ketika Melissa mengatakan itu. Pikirannya perihal sendiri pun hilang.


Hari itu Gelanda tidak menjawab apapun. Dia diam, tersenyum lalu pergi menghilang dari sana. Melissa tersenyum melihat itu. Kemudian dia berbalik menghampiri Ayah dan Mama nya yang masih menangis.


Begitulah kisah Gelanda yang mati dalam rengkuhan Everest. Sejak saat itu dia selalu ada di samping Melissa. Gelanda selalu muncul tiap kali Melissa memanggilnya.


Dalam ruang televisi itu. Mereka yang mendengar kisah Gelanda pun iba. Tapi setelah itu beberapa di antara mereka mulai tersenyum.


Mereka bilang dari hati mereka untuk Gelanda. Bahwa tempat Melissa diterima di sini. Itu sama dan berlaku pula untuk Gelanda.


Mereka mengatakan bahwa, Gelanda adalah bagian dari mereka juga.


"Sepertinya boleh jika ini aku bilang ke Rahman?" tanya Rachel sambil menghapus air matanya yang turun akibat kisah Gelanda.

__ADS_1


Gelanda tersenyum mendengar itu. Begitupula dengan Melissa. Keduanya kemudian mengangguk.


"Ya, kisah ini boleh dibagi!" ujar mereka berdua.


__ADS_2