
Sejak tadi bola mata Rahchel tidak berhenti menari-nari kesana kemari. Bagaimana tidak? Rasanya saat ini Rachel seperti sedang berada di dalam ruang sirkus.
Para setan yang ada di sana beraneka ragamnya. Mulai dari si tubuh kecil kurus yang merangkak dari atas pohon Turun ke bawah dengan kuku panjangnya.
Sampai dengan rombongan anak kecil yang sejak tadi ada di sisi jalan dengan wajah yang tinggal separuh.
"Kamu tahu nggak apa yang aku rasain di sini sekarang?" tanya Rachel pada Rara di sampingnya.
"Opo yang kamu rasain?" tanya Rara padanya.
"Rasanya kayak masuk alas Roban, Ra!" jawab Rachel mencoba mengingatkan Rara prihal alas Roban.
Jalur sakral di Jawa.
Tapi, benar apa kata Rachel. Memang rimba ini tidak biasa. Ini adalah dimensi sebelah. Jelas suaranya membuat bulu kuduk mereka meremang sekalipun rasa takutnya berusaha mereka kubur dalam-dalam.
Sopir Grab yang menyetir di depan itu jujur saja ketakutan. Namun Rachel mencoba menjelaskan agar dia tetap tenang.
Sampai ketika bensin mereka terpantau akan habis. Namun jalanan tak kunjung berubah. Jalanan itu tetap lurus tak berujung.
Bahkan Rachel dan yang lain tidak menemukan adanya palang. Sekalipun di tol. Biasanya akan ada palang yang menunjukkan mereka dekat dengan satu area.
Brmmmmmm
"Kita berhenti dulu nggeh, Mbak!" ucap Sang Sopir.
Baik Rachel, Rara dan Marsya yang ada dalam satu mobil itu. Mereka saling tatap.
"Kenapa kita berhenti, Pak?" tanya Rachel padanya.
Pak Sopir itu lantas menunjuk ke depan. Rupanya mobil Cak Dika di depan sana juga ikut berhenti.
__ADS_1
Namun ada yang aneh dengan mobil Cak Dika. Tidak ada yang turun dari dalam mobil itu.
Sementara di depan sana. Cak Dika beserta orang-orang di dalam mobil itu terkejut. Melihat sosok nenek tua yang berdiri dengan pakaian compang-campingnya.
Rambutnya lusuh dan panjang. Matanya putih menatap lekat ke arah mobil Cak Dika.
"Cak iku opo?" tanya Rahman mematung sambil menatap lekat ke arah sosok tua yang berdiri di sana.
Mereka yang tidak memiliki mata batin pun bisa melihat itu. Wajar saja. Sebab mereka saat ini sedang berada di alam mereka.
Cak Dika menatap malas ke arah sosok itu. Selalu saja mengganggu. Rasanya ingin sekali Cak Dika turun lalu menjambaknya saat ini.
"Senopati Maung!" panggil sosok tua itu di luar.
Cak Dika terkejut mendengar panggilan itu muncul dari nenek tua itu. Cak Dika menaikkan salah satu alisnya.
Dia tidak mengerti bagaimana bisa sosok tua itu mengenali maung dalam dirinya. Cak Dika menatapnya lagi lekat. Dan di sana sosok itu perlahan memudar dan hilang.
"Loh ilang Cak!" ujar Deni sumringah. Tenang rasanya hatinya ketika melihat sosok setan itu hilang dari depan mereka.
Lantas setelah mengatakan itu Cak Dika ingat bahwa dia tidak sendirian di sana. Cak Dika menoleh ke belakang menatap ke arah mobil saudaranya yang juga berhenti di sana.
Itu pesan sebuah isyarat. Sebuah tanda dan Cak Dika pun juga merasa bahwa mereka jangan sampai keluar dari dalam mobil.
"Telpon Rachel sekarang!" perintah Cak Dika pada Rahman.
Kesungguhan dalam mata Cak Dika saat mengucapkan itu membuat Rahman terkejut. Tanpa banyak basa-basi lagi. Rahman pun mencoba menelpon Rachel di sana.
Namun sial, sungguh! Sinyal di tempat itu tidak ada. Sehingga panggilan mereka tidak tersambung.
"Sinyal e gak ada Cak!" ucap Rahman pada Cak Dika. Dia menunjukkan layar ponselnya itu pada Cak Dika.
__ADS_1
"Sial!" umpat Cak Dika.
Merasa tak tenang. Akhirnya Cak Dika melakukan sesuatu. Dia memejamkan kedua matanya.
"Maung, masuklah gantikan aku! Jika raga fisikku tidak boleh keluar dari dalam sini. Maka biarkan sukmaku menggapai dan memberitahu mereka!" ucap Cak Dika pada salah satu maungnya.
Mendengar itu salah satu maungnya pun menempati tubuh Cak Dika. Saat itu juga Cak Dika yang lain sudah berada di luar mobil.
Jarak berhentinya mobil Cak Dika dan saudaranya cukup jauh. Cak Dika berjalan ke sana.
Setibanya dia di depan mobil Rachel. Rachel yang masih menatap ke samping memperhatikan sekitar itu terkejut. Cak Dika di sana di hadapannya.
"Loh!' ucap Rara dan Rachel bersamaan. Mereka terkejut.
"Apapun yang terjadi jangan keluar dari dalam mobil!" ujar Cak Dika memberitahu.
Rachel dan Rara mengangguk mendengar itu. Kemudian Cak Dika beralih lagi ke arah mobilnya Thariq. Di sana dia juga mengatakan hal yang sama.
Ketika Cak Dika akan kembali ke mobilnya lalu masuk kembali ke dalam tubuhnya. Siren ambulance datang dari belakang tubuhnya.
Cak Dika terkejut. Kemudian dia menoleh ke samping. Nampaklah di sana sebuah mobil ambulance dengan seorang pemuda.
Pemuda itu manusia, dan Cak Dika tau. Sekarang dia yakin bahwa ada yang sengaja menarik mereka masuk kemari. Mungkin karena itu lah alasannya.
Segera Cak Dika masuk ke dalam raganya kembali.
"Ikuti mobil itu!" ucap Cak Dika pada pak sopir.
Mendengar itu pak sopir pun mengangguk. Kemudian dia mulai tancap gas dari sana. Yang lain pun juga mengikuti mobil Cak Dika ketika berjalan.
"Ambulance itu rupanya yang menarik kita masuk kemari! Sebab ada orang yang butuh bantuan!" ucap Cak Dika.
__ADS_1
Rahman dan Deni sama sekali tidak mengerti apa yang Cak Dika bicarakan di sana. Tapi mereka mengerti satu hal. Bahwa situasi ini genting.
Untuk keluar dari sini hanya kemampuan Cak Dika dan Tim saja yang mampu memecahkan beragam misteri di alam sebelah ini.