Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 106: Perihal Kematian Gelanda


__ADS_3

Suara berisik dari layar kotak membuat Melissa terbangun tepat tengah malam. Mereka masih berada di kediaman Rara.


Masih belum ada planning bagi mereka untuk berkelana. Sebab Rachel baru saja pulang sehari kemarin.


Rencananya dari planning yang Rahman katakan. Mereka akan memulai ekspedisi baru di Jawa Timur. Kata Rahman ada yang butuh bantuan mereka lagi.


Dua orang hilang di atas puncak Welirang. Di mana gunung itu adalah sebuah gunung besar di Jawa Timur. Gunung yang bertetangga dengan dua gunung lain sekaligus. Gunung Anjasmoro dan Arjuno.


Melissa dari dalam kamar berjalan ke arah ruang tamu. Lampunya remang-remang dan hanya beberapa saja yang dinyalakan.


Memang ini adalah salah satu tradisi keluarga Rara. Ketika malam menjelang mereka akan memilih untuk mematikan lampu.


Menggunakannya di beberapa tempat tapi tidak menerangi seluruh isi rumah. Kata Rara sejak dulu orang tuanya itu hemat sekali. Mereka bukan berasal dari orang berada.


Di antara kegelapan itu Melissa berjalan. Hingga dia sampai tepat di ambang pintu ruang tamu. Yang memisahkan antara ruang tamu dan lorong.


Di sana dengan kedua matanya yang masih sedikit mengantuk. Melissa melihat keberadaan sosok tubuh astral kakaknya yaitu Gelanda.


Gelanda berdiri menghadap ke arah televisi. Di sana dia sedang menyaksikan perihal berita hilangnya dua orang manusia di atas puncak gunung.


"Gelanda? Ada apa?" tanya Melissa lirih di balik tubuhnya.


Mendengar suara Melissa itu lantas Gelanda tersenyum. Tubuh astral itu perlahan mulai menggerakkan tangannya ke arah televisi dan bertanya.


"Aku teringat diriku dulu, Melissa!" ujar Gelanda lirih.


Dia kemudian menangis. Namun dia hantu maka air matanya tidak keluar. Hanya ada Isak tangis juga suaranya yang bergetar.


Melissa tersentuh mendengar itu. Dia juga merasa kehilangan kakaknya. Kakaknya mungkin sudah mati secara fisik. Tapi, yang berada di sini adalah jin yang menyerupai Gelanda.


Sosok jin yang sejak dahulu mengikuti Gelanda. Melissa menghampiri Gelanda. Lalu dia mengambil remote televisi mematikan televisinya.


"Kenapa kau matikan?" tanya Gelanda pada Melissa di sampingnya.


"Kamu terlalu terlarut pada keadaan yang udah lalu!" ujar Melissa pada Gelanda.

__ADS_1


Gelanda tersenyum tipis mendengar itu. Dia kembali mengingat satu fakta bahwa mayatnya masih ada di Everest.


"Gunung memang indah! Tetapi banyak sekali cerita kelam di atas sana. Andai aku tidak tergelincir lalu jatuh di jurang es. Mungkin aku masih berada di sini Melissa!" ujar Gelanda.


Benar, kehilangan Gelanda dulu adalah satu kehancuran yang membuat keluarga mereka kacau. Sebab Gelanda adalah anak kesayangan.


Sama seperti Melissa. Hati orang tua mana yang tidak hancur ketika menerima kabar bahwa anaknya berhenti bernafas?


Melissa duduk di sofa ruang tamu itu. Jika mata manusia normal melihat mungkin itu akan dianggap aneh. Namun jika mereka pemilik mata penjelajah ghaib yang melihat.


Maka mereka akan melihat teman ghaibnya Melissa yaitu Gelanda. Lantas dari arah lorong nampak Rachel dan Marsya menguap sambil berjalan.


"Kok bisa ya malam begini perutku lapar?" tanya Marsya sambil mengusap-usap perutnya.


"Ya, itu memang kamu! Kamu itu hobi makan saat malam memang!" jawab Rachel.


Marsya terkekeh mendengar itu.


"Lah mbak sendiri kenapa bangun?" tanya Marsya pada Rachel.


Keduanya terdiam ketika ekor mata mereka tidak sengaja menengok keberadaan Melissa. Gadis Belanda bersurai putih itu duduk sambil menghadap televisi.


Benar-benar pose tubuh yang seram. Rasanya seperti melihat penampakan Mbak Kunti saja di sini.


"Itu Melissa mbak?" ujar Marsya tak percaya.


Rachel mengangguk.Dia mulai penasaran a yang sedang Melissa lakukan di sana. Di sampingnya ada Gelanda.


Rachel maju mendekati keduanya. Baru beberapa langkah Rachel pun berhenti. Melissa menoleh ke belakang. Di sana nampaklah Rachel dan Marsya yang berdiri menatapnya.


"Kamu lagi ngapain?" tanya Rachel padanya.


"Aku sedang mendengar kisah kakakku yang mati i Everest! Apa kalian mau dengar juga?" tanya Melissa pada mereka.


Rachel dan Marsya sejenak saling bertatapan. Kemudian tatapan mereka kembali ke arah Melissa.

__ADS_1


"Aku dengan senang hati mendengar keluh kesahnya!" ujar Rachel sambil menengok ke arah hantu Gelanda.


Melihat itu, Gelanda pun tersenyum.


"Ya, lihatlah itu Gelanda! Banyak yang peduli padamu. Apakah kau mau membagi kisahmu itu pada kami? Padahal kau seja dulu tidak pernah membagi secara rinci perihal matimu! Jadi apakah sekarang kau mau membaginya bersama kami seperti halnya Barend, Albert dan Melissa?" tanya Melissa padanya.


Gelanda terdiam sejenak. Ini adalah kali pertama untuknya mau dan ingin mengatakan perihal pilu dan sakit yang ada dalam dadanya perihal sesak kehabisan oksigen di atas Everest.


Di sela-sela dirinya yang masih kebingungan. Dari balik tembok yang kosong tepat di ujung ruang tu itu muncullah tiga sosok hantu Netherlands lain.


Mereka adalah Barend, Albert dan Melissa. Pada Gelanda mereka tersenyum Kemudian mereka berdua berkata,


"Gelanda, didoakan oleh manusia itu rasanya luar biasa! Maka ceritalah, tidak akan ada yang melukaimu!" ujar Melissa pada Gelanda.


Barend dan Albert mengangguk mendengar itu. Mereka juga sudah merasakan bagaimana rasanya didoakan.


"Sejuk sekali!" ucap keduanya.


Gelanda semakin termotivasi rasanya. Aura ingin dalam dirinya membuat dia pun mengangguk. Rachel dan Marsya merasakan aura itu.


Rachel dan Marsya kemudian duduk di sofa. Gelanda mulai menerka kembali kejadian itu. Bagian sekarat dan rasa sakitnya.


"Kami berangkat bertiga! Membawa bendera negara kami! Ketinggian adalah hal yang menyenangkan sungguh. Aku mencintainya! Sudah banyak gunung yang kami pijaki. Sebelum pergi kami akan melihat cuaca dulu. Jika cuacanya baik, maka kami akan berangkat. Dan hari itu cuaca membaik. Bendera Belanda sudah kami bawa masuk ke dalam salah satu tas kami! Dengan bahagia kami pun pergi dari rumah menuju ke atas puncak Everest. Dia bukan satu-satunya gunung tertinggi. Tapi kami perlu merasakan sensasi di atas sana! Melalui lembaran peristiwa itu aku akan membaginya. Pejamkan mata kalian dan lihatlah aku!" ujar Gelanda pada mereka.


Ketiga manusia yang saat itu duduk di sofa pun mulai memejamkan kedua matanya. Sosok Astral lain.


Dia orang teman Gelanda yang juga ikut mati di atas puncak Everest pun datang menyambut Sukma ketiganya yang saat ini berdiri tepat di ambang pintu dimensi sebelah.


Pintu merah di depan adalah jalur dimana merek akan melihat semuanya. Tragedi matinya ketiga pendaki gunung.


"Kami akan membawa kalian melihat detik terakhir kami di atas sana!" ujar dua orang teman Gelanda.


Baik Marsya, Rachel dan Melissa ketiganya mengangguk. Mereka bertiga berpegangan tangan. Ketika dua orang itu berbalik. Otomatis pintu merah itu terbuka.


Dan inilah, Gelanda dan dua orang temannya sebelum mati di atas puncak Everest.

__ADS_1


__ADS_2