Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 162: Uneg-uneg Cak Dika dan Thariq


__ADS_3

Dering Alarm di ponselnya membuat Rachel yang saat ini sekamar dengan Rara pun membuka matanya.


Rachel mengucek kedua matanya kemudian dia mendudukkan dirinya. Rachel yang baru saja berkelana di alam mimpimu mengedarkan pandangannya ke segala arah.


Rachel lalu menoleh ke meja kecil di sampingnya. Di atas meja itu ponselnya masih berdering. Rachel meraih ponsel itu lalu mematikan alarmnya.


Rachel berdiri kemudian. Dia menuju ke kamar mandi yang terletak di dalam kamar itu untuk membersihkan dirinya.


Sementara gadis itu terbangun. Barend yang sejak tadi memperhatikan Rachel dari atas atap pun tersenyum.


"Apa aku harus mengatakannya pada mereka?" tanya Barend kepada Albert di sampingnya.


"Kamu mau mengatakan apa memangnya?" tanya Albert kepada Barend.


"Bukankah hari ini hari di mana Rachel ulang tahun? Thariq dan Cak Dika di bawah bilang padaku untuk mengawasi Rachel!" ujar Barend pada Albert.


"Ah!" seru Albert.


"Aku baru mengingatnya! Ya sudah, kalau memang begitu mari kita laporkan saja pada mereka bahwa Rachel sudah bangun!" ujar Albert pada Barend.


Keduanya saling menganggukkan kepalanya. Tak lama tubuh astral itu menghilang dari sana.


Beberapa menit setelah mereka menghilang maka bangunlah Rara dari tidurnya. Rara menengok ke samping. Ternyata Rachel sudah tidak ada di sampingnya.


Rara melirik kecil ke arah pintu kamar mandi. Di bawahnya ada celah kecil. Di sana dia bisa melihat ada bayangan seorang manusia yang artinya saat ini Rachel sedang ada di dalam sana.


Rara meraih ponselnya lalu membukanya. Dia terkejut melihat begitu banyak pesan di WhatsAppnya.


"Hari ini Rachel ulang tahun?" lirih Rara.


Dia kemudian membuka pesan dari Cak Dika untuknya.


Assalamualaikum Dek Ra,


Rachel hari ini ulang tahun dek! Aku sama Thariq di bawah lagi sibuk siapkan perayaan buat dia.


Dek Ra, Rachelnya hari ini diketuskan saja. Ndak usah dibaikin. Pokoknya hari ini buat dia kesal sepenuhnya.


Itulah isi pesan dari Cak Dika untuk Rara. Usai membacanya Rara pun tersenyum. Bunyi pintu terbuka menyita perhatian Rara..


Rachel keluar dari dalam kamar mandi dengan rambut yang basah dan baunya yang harum. Sejenak Rachel menatap Rara.


"Sudah bangun, mbak?" tanya Rachel pada Rara.


Namun Rara hanya mengangguk saja. Dia tidak berucap apapun. Rara bangkit dari tidurnya lalu berjalan menuju kamar mandi.


Ketika pintu kamar mandi ditutup Rachel memperhatikan pintu itu dengan tatapan bingung.

__ADS_1


"Kenapa dia? Aneh sekali!" ujar Rachel bingung.


Di depannya cerminnya Rachel pun mulai berias. Pagi ini ingin sekali rasanya dia keluar menikmati kota Jakarta.


Ya, mereka masih berada di Jakarta. Rencananya mereka akan pulang beberapa hari lagi. Sebenarnya ketika kasus itu selesai mereka berencana untuk pulang.


Tapi, beberapa dari mereka ada yang tidak setuju. Katanya kapan lagi anak desa seperti mereka berada di kota Jakarta? Apa salahnya jika menikmati kota ini sebentar saja.


Setelah yakin dirinya sudah cukup cantik. Maka Rachel pun mengambil jaketnya lalu memakainya. Dirinya yang sudah cukup cantik pun keluar dari dalam kamarnya.


Rachel tidak berpamitan dengan Rara sengaja memang. Sebab Rara pagi ini cukup aneh tingkahnya menurutnya. Ketika Rachel memasuki lift dia bertemu dengan Thariq.


"Thariq!" panggil Rachel padanya.


Thariq yang terkejut melihat Rachel di depannya hanya diam. Di lift itu hanya ada dia saja. Rachel masuk ke dalam sana.


Rachel memencet angka lantai yang dia tuju. Setelah memencetnya pintu pun tertutup. Rachel tidak mengawali pembicaraan apapun. Begitu juga dengan Thariqnya. Ini aneh menurutnya.


"Kamu mau ke mana, Riq?" tanya Rachel pada Thariq di sampingnya.


Mendengar pertanyaan Rachel. Tangan Thariq pun terulur memencet salah satu tombol lift hingga membuat lift itu berhenti di satu lantai yang tidak dia kehendaki.


Ketika pintu lift mulai terbuka Thariq pun keluar dari sana. Membiarkan Rachel seorang diri kebingungan di dalam lift.


Rachel menaikkan salah satu alisnya sambil memandangi punggung Thariq yang peri menjauhinya. Ketika pintu liftnya kembali tertutup di sana Rachel berkata,


"Padahal dia sering sekali menggodaku. Awas saja, perlakuanmu ini akan aku balas nanti!" ujar Rachel kesal sambil melipat tangannya.


Lift itu berhenti di lantai dasar. Ketika pintu lift terbuka Rachel pun keluar dari dalamnya. Tujuannya pagi ini adalah jalan-jalan sekaligus olahraga.


Sengaja memang Gautama Family membiarkan Rachel keluar sendirian. Sementara di lantai atas hotel itu. Di sebuah ruangan Cak Dika beserta yang lainnya sedang sibuk menyiapkan sebuah pesta.


"Kuenya sudah jadi?" tanya Cak Dika pada Bella dan Marsya yang sedang menghiasi dinding hotel dengan beberapa aksesoris.


"Aku sudah memesannya!" jawab Melissa yang juga sibuk meniup beberapa balon.


Di tengah kesibukan mereka terlihat Thariq yang baru saja datang. Dia menghampiri Cak Dika yang sibuk dengan ponselnya.


"Mas!" panggil Thariq pada Cak Dika.


"Apa Riq?" tanya Cak Dika padanya.


"Aku mau bicara, Mas!" ujar Thariq menyampaikan niatnya.


Cak Dika memasukkan ponselnya ke dalam saku lalu tersenyum sambil menatap Thariq.


"Mau bicara apa?" tanya Cak Dika padanya.

__ADS_1


"Tadi aku lihat Rachel keluar! Mau jalan-jalan mungkin. Pakaiannya kayak orang mau olahraga!" ujar Thariq memberitahu Cak Dika.


"Kami sudah memberitahunya lebih dulu!" ucap Barend yang tiba-tiba saja muncul di samping Cak Dika.


Melihat itu Thariq pun menganggukkan kepalanya. Dia kemudian kembali menatap Cak Dika serius kali ini.


"Mas, aku mau ngobrol di tempat yang rada pribadi boleh?" tanya Thariq pada Cak Dika.


Melihat tatapan Thariq yang serius itu maka Cak Dika pun langsung mengangguk. Dia dan Thariq pun keluar dar dalam gedung itu. Mereka menuju ke salah satu tempat di lantai atas.


Itu adalah area kolam renang. Karena masih sangat pagi maka tidak ada orang yang berenang di sana. Dari sana mereka juga bisa melihat pemandangan kita Jakarta.


"Jadi apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Cak Dika pada Thariq.


Thariq sambil menatap ke depan ke arah tugu Monas yang nampak dari atas sana. Dia pun tersenyum.


"Mas, aku sudah lama suka sama Rachel adekmu! Tapi dia selalu menghindari aku. Entahlah, tapi aku ngrasa yakin kalau Rachel pun juga punya perasaan sama terhadapku. Cuma dia mungkin belum siap jawabnya!" ujar Thariq menyampaikan Uneg-unegnya.


Cak Dika tersenyum tipis. Kemudian dia pun menatap langit sambil mengingat bahwa dia pun juga memiliki rasa terpendam yang belum diuntarakan.


"Sama!" jawab Cak Dika.


Thariq menoleh ke arah Cak Dika kemudian,


"Sama?" seru Thariq padanya.


Cak Dika menepuk bahu Thariq lalu berkata,


"Aku juga punya perasaan terpendam sama Rara! Tapi aku tak utarakan itu aku takut! Ancen wong ndeso Iki gocik!" ujar Cak Dika.


(Ancen wong ndeso Iki gocik\= Memang orang desa ini pengecut)


Thariq dibuat tertawa mendengar apa yang Cak Dika katakan.


"Aku ada niatan mau lamar Rachel langsung mas, boleh Ndak?" tanya Thariq padanya.


"Kok ijin aku kamu?" tanya Cak Dika pada Thariq.


"Lah pean mas e!" jawab Thariq pada Cak Dika.


"Coba kamu bilang saja! Kamu mau nglamar dia di depan anak-anak atau pribadi?" tanya Cak Dika pada Thariq.


"Nek Iso di publish Yo Ndak Popo Mas!" jawab Thariq mantap.


(Kalau bisa di publish ya gak apa Mas!)


"Wih mantap!" ujar Cak Dika tersenyum sambil mengacungkan kedua jempolnya.

__ADS_1


__ADS_2