
Hutan rimba itu tidak bising. Hanya jejak kaki langkah Rachel saja terdengar. Ketika dia terus berjalan menjauhi jalur lintasan. Rachel memilih masuk lebih jauh ke dalam belantara.
Telah berdiri sejak tadi beberapa, beraneka ragam sosok demit. Juga beberapa anak kecil tanpa yang utuh yang sejak tadi dalam perjalanan menyapa mobil mereka di sisi jalan.
Ada yang membawa potongan tangan. Ada yang kakinya buntung. Ada yang kedua matanya bolong. Lalu ada juga yang isian perutnya keluar.
Entahlah, dahulu sebelum menjadi tol. Area apa ini sebenarnya? Rachel menyipitkan kedua matanya. Dia melihat di antara kegelapan jauh di depan sana nampak seorang nenek berdiri menatapnya.
Postur tubuh itu jelas nenek-nenek. Sebab tubuhnya bungkuk kecil membelakanginya. Rambutnya putih tergerai sampai ke ujung kaki.
"Akhirnya kau datang, Nak!" ujar nenek itu pada Rachel.
Jarak antara mereka jauh namun suara dari nenek itu berhasil Rachel dengarkan. Itu dekat sekali padahal jarak mereka jauh.
Suaranya seakan menangkup area itu. Tidak berteriak nada bicaranya berbisik. Pelan sampai ke telinga Rachel. Ajaib bukan?
"Siapa kamu?" tanya Rachel padanya.
Pertanyaan itu membuat sosok nenek itu kemudian tersenyum tipis. Dia membalikkan tubuhnya. Di sana Rachel melihat wajah nenek itu yang begitu pucat warnanya. Ciri khas orang mati.
"Aku Penasihat Kerajaan!" jawab Nenek tua itu.
Rachel terkejut mendengar itu. Kemudian dia ingat bahwa leluhurnya turun temurun berurusan dengan kerajaan Majapahit dahulu.
Dan Rachel ini adalah salah satu dari darah mereka yang masih murni. Lama berpikir kemudian Rachel kembali menatap nenek tua itu.
Namun saat matanya kembali menatap nenek tua itu. Keberadaannya sudah tidak ada. Itu membuat Rachel terkejut.
Dia mengedarkan pandangannya ke segala arah. Hilangnya nenek itu juga menghilangkan banyak arwah setan laknat yang sejak tadi bertengger di atas pepohonan.
"Kenapa mereka bisa menghilang? Dan penasehat katanya? Apa nenek tua itu ada hubungannya dengan leluhurku dan Nyai?" lirih Rachel. Kepalanya penuh dengan banyak pertanyaan saat ini.
Rachel tidak ingin ambil pusing. Kemudian ketika dia akan melangkah lagi.
"Apapun yang terjadi jangan pernah menengok ke belakang! Kamu berjalanlah terus ke depan. Maka kamu akan menemukan dia yang kamu cari!" bisik nenek tua itu berdiri tepat di belakang Rachel saat ini.
Ketika sosok itu hadir. Rasanya badan Rachel seperti ditekan. Hawanya besar sekali. Aura sekuat ini melebihi aura Simbahnya.
Rachel mengerti, sekalipun jantungnya saat ini berdegup sangat kencang. Namun apa yang dikatakan oleh nenek tua itu Rachel paham.
"Baiklah, aku tidak akan menoleh ke belakang! Tapi tolong katakan, siapakah anda ini? Kenapa aura anda lebih besar daripada buyut kami, Gautama?" tanya Rachel padanya.
Sosok itu tersenyum dengan bibir pucatnya. Bayangan kerajaan Jaman dulu kembali terngiang. Kemudian dia berbisik pada Rachel,
"Aku juga salah satu petinggi kerajaan Majapahit di jamannya! Kamu tidak perlu tau aku siapa. Tapi aku dahulu adalah seorang penasehat!" jelas nenek tua itu.
__ADS_1
Rachel terdiam sebentar. Lalu ketika dia akan melangkah pergi. Lagi-lagi nenek itu berbisik,
"Aku sudah menahan mereka! Jalur ini aman dan aku sudah membersihkannya. Lalu jika kamu menemukan dia nanti. Katakan padanya bahwa bayi laki-laki itu sekarang sudah besar. Tapi itu bukan kepunyaannya! Dia berhak hidup, perjanjian itu sudah tidak berlaku. Kami di sini berperang demi mengeluarkan kalian dari tempat ini!" jelas Nenek tua itu.
Rachel menarik nafas dalam-dalam. Lalu dengan hati cukup mantap. Dia kembali melangkah masuk menjelajahi kegelapan.
Nyai Ratu, Maungnya Cak Dika, dan Simbah Gautama. Mereka di sini melindungi Rachel beserta dengan yang lainnya.
Arwah dukun biadab itu akan sangat susah mengambil anak-anak Gautama. Beberapa dari anak buah dukun itu terpental jauh.
Adu mekanik antara kekuatan Ghaib bergumuruh di atas sana andai saja kalian melihatnya. Mungkin peperangan itu akan mirip seperti film Naruto.
Sementara di lain tempat Thariq melihat sepasang suami istri. Mereka berdua duduk di depan sesajen.
"Bau dupa!" ujar Thariq sambil memperhatikan keduanya.
Lalu Thariq diperlihatkan. Sang istri berdiri dari tapanya. Kemudian dia masuk ke dalam salah satu ruangan. Ruangan itu tertutup tirai.
Sang Istri berjalan masuk. Lalu kembali keluar beberapa saat kemudian sambil membawa bayi.
Bayi itu tertidur sangat pulas. Bayi itu terlihat cukup menawan. Sang istri membawa bayi itu dekat dengan suaminya. Lalu di sana dia kembali duduk berdampingan.
Di depan sesajen itu mantra-mantra Jawa mulai diucapkan. Ini ilmu kejawen. Dan bahasanya sangat kuno.
Thariq tidak mengerti arti dari bahasa itu sekalipun dia orang Jawa. Bahasa itu sangat-sangat asing.
Kedua tangannya mengitari menari-nari di atas dupa. Lantas kedua matanya lalu membulat. Dia mendongak ke atas entah apa yang dia lihat di sana.
Detik kemudian sang suami mengatupkan tangannya. Dia memohon pada sosok di atas itu untuk menerima persembahannya.
Lantas saat sang suami bersimpuh. Sang istri menggerakkan tangannya ke arah leher sang bayi.
"Terimalah darah ini wahai Rajaku! Kami tidak akan mengkhianatimu!" ujar Sang istri.
Leher bayi itu dicekik begitu kuatnya. Bayi yang terpejam itu langsung menangis membuka mata.
Thariq menyipitkan kedua matanya. Rasanya jika dia tidak penasaran dia akan kabur saja dari sana.
Tapi ada sesuatu di hatinya yang memantapkan tubuhnya untuk tetap kokoh melihat adegan itu.
"Masyaallah!" ucap Thariq menahan kengerian yang menjalari tubuhnya.
Tapi anehnya bayi itu tidak mati sekalipun dicekik sangat kuat oleh sang istri.
"Kenapa dia tidak mati?" tanya Sang Istri.
__ADS_1
Dia merasa ada yang aneh dengan bayi itu. Kemudian ketika Sang Suami hendak mengambil alih bayi itu.
Brakkkkk
Pintu ruangan mereka digebrak. Rombongan orang berbaju putih datang ke arah mereka. Thariq tidak mengenali siapa rombongan itu.
"Gautama!" teriak Sang Suami pada salah satu orang di rombongan itu.
"Gautama?" lirih Thariq. Dia tidak asing nama itu.
Hingga dia ingat bahwa Gautama adalah dia yang disebut Simbah oleh Rachel dan yang lain. Beliau adalah leluhurnya Rachel.
"Kenapa kamu mengganggu ritualku?" ujar Sang Suami murka.
"Kamu berdosa! Bayi ini tidak memiliki salah. Kamu akan membunuhnya? Menjadikan dia tumbal? Bodoh kau!" ucap Simbah Gautama mencacinya.
"Kenapa memangnya? Ini untuk kekayaanku dan ilmuku agar lebih kuat darimu!" ucap Sang Suami.
Lantas Simbah Gautama mengeluarkan buntalan kain. Kain itu berwarna merah. Dibuntal berbentuk bulat.
Sang suami nampak terkejut melihat keberadaan benda itu di tangan Simbah Gautama.
Simbah Gautama adalah kepala adat. Dia memiliki cucu yang sama kecilnya dengan bayi yang saat ini berada dalam gendongan istri dukun itu.
"Jika kamu macam-macam dan berani mengorbankan bayi itu. Maka ajianku ini akan mengejarmu hingga kamu mati!" ucap Simbah Gautama.
Sepasang suami istri itu menatap benci ke arah Simbah Gautama. Lantas, perlahan Sang Istri kembali meletakkan bayi laki-laki itu di atas lantai.
Perlahan kedua dukun itu pergi dari sana. Bayi itu diberikan oleh Simbah Gautama pada orang kepercayaan.
Thariq kembali diperlihatkan tentang bayi itu yang kini sudah besar seusia Cak Dika. Bayi itu bernama Dwipa. Dia bekerja di salah satu rumah duka sebagai seorang sopir pengantar jenazah.
Dwipa inilah yang kemudian ditarik masuk ke dalam alam sebelah. Dan jenazah yang dia bawa saat ini.
Sepasang suami istri yang mati itu adalah orang tuanya sendiri. Namun Dwipa tidak mengetahui itu.
Ada satu perjanjian yang dia orang itu berikan pada sosok penguasa. Penguasa itu adalah lelembut. Mereka meminta kesaktian.
Untuk mendapatkan itu maka mereka harus menumbalkan Dwipa saat itu. Namun ternyata Simbah Gautama saat itu menyelamatkannya.
Akibat tidak terpenuhinya janji itu. Mereka berusaha memberikan tumbal lain. Awalnya mereka berhasil menumbalkan bayi-bayi yang baru saja lahir.
Namun lama kelamaan pada akhirnya ritual mereka diketahui banyak orang. Diusir lah mereka dari tempat satu ke tempat lainnya.
Janjinya pada lelembut tidak terpenuhi. Pada akhirnya kesaktian mereka memudar. Dan ya, akibat kematian mereka tidak ada yang tau.
__ADS_1
Beberapa orang menemukan mereka mati di depan dupa sesajen persembahan dengan mulut yang berbusa.