Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 24: Kembalikan Pusakanya 5


__ADS_3

Motor-motor mereka ditinggal begitu saja. Ketika melihat Marsya berlari merangkak bak seekor anjing. Tanpa alas kaki dia terus saja berlari merangkak.


Saat itu tidak ada pikiran dalam kepala mereka untuk naik ke atas motor. Prioritas dalam kepala mereka adalah Marsya, Marsya dan Marsya. Sudah itu saja tidak ada yang lain.


"Kamu pegangan yang erat ya, Laras!" ucap Aldo sesekali mengingatkan pada Laras yang saat ini digendongnya. Laras cuma mampu mengangguki itu.


Saat ini pikirannya hanya ada pada Marsya. Beragam pertanyaan memenuhi kepala Laras saat itu juga. Kenapa tiba-tiba khodam miliknya masuk ke dalam diri Marsya?


"Sya, Woi! Berhenti woi!" teriak Bella sambil masih berlari.


Kedua kaki Bella yang sudah lama tidak mendaki itu kembali di asah. Medan tanjakan jalanan aspal ini kembali mengingatkannnya pada gunung.


Mereka terus saja berlari mengikuti Marsya yang tidak berhenti sedikitpun. Lelah rasanya, mereka sudah berlari selama sepuluh menit.


Bahkan Bella tadi sempat terjatuh. Ketika Jalanan aspal itu beralih ke arah jalanan makadam. Di sanalah dia terjatuh dan tergores.


Oalah, mbohkah! Pegel suwi-suwi sikil Iki! Salah sikile cantengen ngene!. Umpat Bella sambil meratapi salah satu jempol kakinya yang tadi tersandung dan berdarah.


Dari kejauhan nampak Marsya berhenti di antara persimpangan jalan. Marsya celingukan sebentar ke arah kanan dan kiri.


Lalu dia mengendus-endus bak seekor anjing. Surainya semerawut tak beraturan lagi. Bagaikan melihat mbak Kunti saja rasanya sekarang.


Jika manusia biasa datang dan melihat Marsya seperti ini. Yakin sekali, mereka pasti akan lari terbirit-birit.


Ada dua jalan di persimpangan ini. Apabila memilih arah kiri maka mereka akan sampai di kota. Gedung-gedung besar megah ada di sana.


Sedangkan jalan sebelah kanan adalah area perkebunan. Jauh di belakang perkebunan teh itu terdapat satu gunung tanpa nama.


Tidak pernah dijamah oleh siapapun puncaknya. Gunung itu berdiri, kira-kira tingginya sekitar 500Mdpl saja.


Namun beberapa rekan pemburu biasanya ke sana untuk mencari perburuan. Jadi, di sana hanya ada satu jalur yang dibuat oleh pemburu. Namun mereka tidak pernah ada pikiran untuk naik ke atas.


Konon katanya gunung itu dihuni oleh salah satu pertapa. Yang namanya tersohor di area itu. Satu nama yang aura mistisnya begitu pekat dan jahat.


Di terkenal karena ilmu hitamnya. Manusia di area ini dulu tidak segan karena menghormatinya. Melainkan mereka tunduk karena takut.


Di tengah lelahnya mereka saat itu. Dari kejauhan tepat di belakang mereka. Sebuah cahaya motor tertuju pada Marsya. Cahaya motor itu jelas membuat Aldo,Bella dan Laras menoleh ke belakang.


Rupanya itu adalah Cak Dika dan Rachel yang baru saja sampai. Mereka memakai satu motor dan mereka tumpangi berdua, berboncengan.


Cak Dika menyuarakan klaksonnya sambil berteriak-teriak ke arah mereka yang sedang ia dekati.


"Kuyang tai! Awas koe, wani macem-macem mane karo keluargaku! Entek koe!" ujar Cak Dika sambil terus berkendara ke arah Marsya.


Hal yang dikirim pada Marsya saat itu. Tentu saja langsung membuat Sang Cakar milik Laras murka. Bagaimanapun anggota keluarga Gautama ini adalah kesayangan Nyai Ratu.


Sebagai bawahan setia Nyai Ratu tentu saja mereka akan murka dan melindungi. Cakar tidak memandang bulu. Jika dia benci, maka saat itu juga dia akan menyerang.

__ADS_1


"Ayo!" ujar Rachel yang sedang dibonceng Cak Dika. Rachel menoleh ke belakang.


Dia menggerakan tangannya menyuruh saudaranya itu untuk terus mengikutinya. Sebab Cak Dika tidak berhenti, dia malah terus melakukan motornya mendekati Marsya di sana.


Ketika Cak Dika hampir mendekati Marsya di sana. Marsya masuk ke dalam sisi kanan jalan. Di mana itu adalah jalanan setapak menuju ke arah belantara gelap suram sepi nan sunyi.


Cak Dika berhenti di sisi jalan setapak itu. Ketika motor sudah mati. Dia dan Rachel turun lalu masuk ke dalam belantara itu. Hal itu tentu saja diikuti oleh Bella,Aldo dan Laras.


Di sana gelap tidak ada penerangan sama sekali. Belantaranya cukup rapat pepohonannya.


Di sisi-sisinya terdapat anak-anak Genderuwo. Mata merah mereka memperhatikan rombongan Cak Dika. Suara-suara serangga bersaut-sautan. Bunyi rerumputan yang mereka pijaki semakin riuh.


Samar-samar Laras mendengar sesuatu. Ada satu suara yang berbisik di dalam telinganya. Suara itu mengatakan,


"Aku baru saja akan membunuh kalian! Ingat baik-baik bahwa aku tidak akan pernah melepaskan kalian sebelum kalian mati!" tutur kata itu suara seorang wanita yang bahkan wujud fisiknya sama sekali tidak ada.


Suara itu hanya Laras saja yang mendengarnya. Dia yang masih berada dalam gendongan Aldo hanya mampu mengeratkan pegangannya.


"Kenapa Laras?" tanya Aldo lembut pada kekasihnya, ketika Laras mengeratkan pegangannya.


"Al, tolong kamu maju ke Cak Dika! Ada yang mau aku omongin ke dia!" jawab Laras berbisik pelan.


Mendengar itu Aldo pun mengangguk. Langkahnya coba ia percepat di jalan setapak ini.


"Cak.." lirih Aldo ketika berada tepat di samping Cak Dika.


"Cak, ada yang ngomong sama aku!" ucap Laras padanya memberitahu.


"Ngomong opo?" tanya Cak Dika padanya.


Laras pun membisiki Cak Dika di sana. Bisikan itu membuat Cak Dika semakin geram saja rasanya. Pitamnya sudah naik sampai ke ubun-ubun.


Resep oseng-oseng tiba-tiba muncul dalam kepalanya.


Dancuk, goreng temen koe!. Ucap Cak Dika dalam hatinya.


Dari sisi Laras dia berlari kencang menghampiri Marsya yang berada jauh di depannya. Menyalip Rachel. Entah dari mana datangnya kekuatan itu.


"Ayo Laras! Biar tak ajar mereka!" teriak Cak Dika di antara gelapnya belantara.


Ketika Marsya memilih masuk ke dalam pepohonan pisang. Cak Dika pun juga mengikutinya. Terlihat sebuah gubuk berada di sana. Hanya ada satu gubuk itu, dengan penerangan obor.


Obor di sana masih menyala. Pertanda bahwa mungkin masih ada orang di dalam sana. Marsya terus saja mengendus-endus di depan gubuk itu.


Cak Dika menatap ke arah gubuk itu. Ketika Sang Maskot maju. Penerangan obor di sana seketika redup.


Hembusan angin kencang menerpa sisi wajah Cak Dika. Hal itu juga tentu dirasakan oleh saudara-saudaranya.

__ADS_1


Cak Dika membuang kasar nafasnya. Sepertinya rencananya mengoseng-oseng Kuyang gagal malam ini.


Angin yang baru saja menerpa wajah mereka itu adalah satu tanda. Di mana pemilik atau penghuni dari gubuk ini sudah pergi melarikan diri.


"Ini ulah Kuyang jelek itu!" ucap Rachel sambil berjalan mendekati Marsya.


Rachel bersimpuh di sisi Marsya yang masih dirasuki oleh Setan Cakar. Rachel mengelus pelan kepala Marsya. Detik kemudian Marsya pun kembali ke dalam tubuhnya.


"Pegel mbak!" ucap Marsya pada Rachel di sampingnya.


"Gapapa, yang penting kamu baik-baik saja!" ucap Rachel padanya.


"Wis jarno! Pokoke nanti kalau memang kita ketemu lagi sama Si Kuyang! Beneran tak goreng dia!" ujar Cak Dika sambil melirik ke arah Aldo.


Aldo yang kebetulan memperhatikan Cak Dika pun paham. Lirikan itu untuknya. Dan lirikan itu mencoba mengecek apakah Aldo setuju dengan keinginannya.


"Gapapa Cak, aku setuju kok! Toh kamu juga udah kasih kesempatan kedua. Kalau memang dia masih bersikap semacam itu. Ya sudah, tak serahkan aja ke kamu!" ucap Aldo menjelaskan.


Cak Dika lega rasanya mendengar jawaban dari Aldo. Cak Dika lalu berjalan mendekati Marsya yang masih lemah di sana.


Cak Dika ikut bersimpuh di belakang tubuh Marsya. Lalu meletakkan telapak tangannya di punggung saudaranya itu.


Cak Dika sedang membantu menyalurkan energi supaya Marsya bisa berjalan pulang bersama mereka.


"Sudah enakkan dek?" tanya Cak Dika pada Marsya.


Marsya yang menunduk itu mengangguk. Dengan bantuan Rachel, Marsya pun berdiri. Cak Dika juga ikut berdiri kemudian.


"Kerisnya sudah ada sama aku! Jadi, kalau kita berangkat ke Arjuno besok siang. Apa ada yang keberatan?" tanya Cak Dika.


"Gak Cak! Aku udah siap kok jadi guidenya kalian!" jawab Bella pada Cak Dika sambil melipat kedua tangannya di dada.


Laras turun dari gendongan Aldo. Aldo masih menggenggam tangan Laras di sana.


"Aku juga ikut! Ayo kita kembalikan bareng-bareng ke sana!" ucap Laras.


"Yeahhh... Healing kita!" ucap Cak Dika riang. Sambil merangkul Laras dan Rachel.


Bella di sana hanya mampu menggelengkan kepalanya.


"Bawa makanan yang banyak! Howekk...." ucapan Marsya yang menimpali terpotong ketika dia muntah.


"Lemah banget kamu!" sindir Bella pada Marsya yang muntah.


"Lemah mbahmu!" jawab Marsya menimpali.


Perdebatan singkat itu membuat Cak Dika dan Rachel tertawa. Sudah lama sepertinya tidak melihat Marsya dan Bella saling adu bacot.

__ADS_1


__ADS_2