Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 76: Mengusir Setan Psikopat


__ADS_3

Setelah narasi diceritakan seluruhnya dan mereka tau asal mula dari keberadaan setan Jason itu. Melissa diberi tempat untuk dua hari menetap di dalam villa mereka.


Kemarin Vidio itu juga baru saja diupload. Seperti biasa kolom komentar banjir. Mereka berlomba-lomba mengatakan pada Cak Dika dan Rachel untuk membantu Melissa mengusir setan Jason.


Tapi memang hal itulah yang Melissa inginkan. Selama berada di villa itu. Setan Jason sama sekali tidak ikut dengannya. Sepertinya dia takut akan apa yang ada di dalam area ini.


Ya, Maungnya Cak Dika dan saudaranya. Beserta Nyai Ratu dan Senopatinya. Aura sebesar itu tentu saja membuat Nyalinya Jason ciut dan tak berani masuk kemari.


Melissa sedang berdiri di balkon villa lantai dua. Dia sedang menunggu para penjelajah ghaib itu keluar dari kamar mereka.


Ini tepat pukul sebelas malam. Katanya, Cak Dika akan membantunya mengusir setan itu. Dia juga mengatakan bahwa. Itu lebih baik dilakukan saat malam menjelang.


Beberapa menit menunggu suara langkah kaki di belakangnya membuat Melissa menoleh. Rupanya itu adalah Mas'ud sambil membawa ransel di punggungnya.


"Kamu sudah siap?" tanya Mas'ud pada Melissa.


Tanpa banyak berkata-kata lagi Melissa pun menganggukkan kepalanya.


"Aku udah siap dari tadi! Dan, bagaimana dengan mereka semua apakah sudah siap?" tanya Melissa pada Mas'ud.


Mas'ud berbalik lalu berkata,


"Mereka semua udah siap kok! Sekarang ada di mobil. Ayo cepat turun, kita tinggal berangkatnya aja ini!" ujar Mas'ud seraya berjalan meninggalkan Melissa yang masih diam mematung.


Mendengar itu Melissa pun mengekori Mas'ud dari belakang. Malam itu hampir tengah malam. Mereka masuk ke dalam mobil.


Jalanan Jawa Tengah itu cukup sepi saat malam. Itu mempermudah mereka untuk cepat sampai ke tempatnya Melissa.


Melissa berada satu mobil dengan Rara, Rachel dan Marsya. Ini mobil grab. Mereka menyewa tiga mobil grab. Di perjalanan hanya ada hening. Mungkin saja mereka lelah sebab ini hampir larut malam.


Setengah jam perjalanan akhirnya mereka tiba juga di hotel tempat Melissa menginap. Mereka semua turun dari dalam mobil. Lalu masuk ke dalam.


Melissa memimpin mereka masuk dengan Cak Dika di sampingnya. Mereka lebih memilih naik tangga untuk sampai di kamarnya. Katanya biar mata mereka gak ngantuk. Kalau pakai yang serba instan malah ngantuk mereka.


Hingga tibalah mereka di lantai empat hotel ini. Melissa sudah berhenti tepat di depan pintu kamar hotelnya.

__ADS_1


Benar, kata Melissa. Auranya sangat kelam dan hitam. Ini adalah aura dari mereka yang mati sebab memuja setan. Padahal hanya di depan pintu. Tapi auranya begitu kelam sekali.


"Aku akan buka ini! Kamu udah siap ketemu sama setan psikopat itu?" tanya Melissa tanpa menoleh pada Cak Dika.


Tangan kanannya sudah siap berada di gagang pintu. Cak Dika mendengar itu dia juga memperhatikan Melissa.


Mendengar itu lantas dia mengeluarkan jimatnya. Di susul dengan seluruh anggota keluarganya yang juga mengeluarkan jimat itu.


"Gaslah, aku udah siap ini!" ujar Cak Dika pada Melissa.


Lantas Melissa mengangguk. Kemudian dia segera membuka pintu kamar hotel itu. Akhirnya mereka bertemu dengan setannya Jason.


Setan itu duduk di ranjangnya Melissa sambil menatap benci ke arah Melissa yang membawa rombongan Cak Dika kemari.


Cak Dika masuk lebih dulu dengan tampang polosnya dan tersenyum. Ketika Cak Dika maju mendekatinya. Pintu kamar hotel itu tiba-tiba tertutup.


"Loh!!!" pekik Rara terkejut melihat pintu kamar hotel yang tiba-tiba tertutup.


Dia khawatir rasanya sekarang. Cak Dika ada di dalam sendirian.


Rachel yang merasakan kepanikan Rara pun duduk di depan pintu itu. Dia memejamkan kedua matanya lalu mencoba masuk ke dalam pintu melalui ilmu mata batin miliknya.


Rara diam ketika mendapati Rachel yang duduk diam itu. Thariq yang berada di belakangnya itu pun hanya mampu menghela nafas.


Tepak tangannya kini menangkup kepala Rachel dari belakang. Thariq mencoba membantu dengan memberi energi tambahan untuk Rachel. Juga menjaga tubuh kosong itu agar tidak ditempati oleh makhluk lain.


"Udah sekarang berdoa aja! Cak Dika gak sendirian di sana! Ada Rachel juga yang bantu!" ujar Thariq menjelaskan dengan nada tenangnya.


Mereka mengangguk lalu mencoba membantu Cak Dika dengan doa.


Di dalam sana. Setan yang tadinya berwujud sama ukurannya dengan manusia itu mendadak berubah menjadi besar. Dia menatap benci ke arah Cak Dika.


"Mau kamu berubah sebesar apapun! Aku gak bakalan takut!" ujar Cak Dika menantang dan masih tersenyum.


Seringai penuh taring itu mulai terpampang. Wajahnya yang menyeramkan itu lebih menyeramkan lagi ketika tersenyum.

__ADS_1


Bau dari setan ini busuk seperti pocong. Mungkin hanya mbak Kunti saja salah satu setan yang bersihin dan selalu tampil wangi tiap kali datang.


Setan itu mulai mencoba menyerang cak Dika. Memanipulasi penglihatannya. Dia mencoba mengecoh Cak Dika.


Namun tidak segampang itu. Cak Dika bukan orang biasa ada banyak penjaganya. Ketika setan itu mencoba memperkuat kemampuannya. Dari belakang Cak Dika berjalan satu arwah manusia.


Di belakang manusia itu ada keberadaan kuat. Setan Jason mulai diam sambil membulatkan mata menatapnya.


Wanita itu berpakaian seperti halnya orang Jawa. Dia memakai mahkota kecil di atas kepalanya. Perhiasan kecil yang melilit di tangannya juga lehernya.


Dialah Nyai Ratu. Dia datang bersama Rachel. Kemudian dia berhenti tepat di samping Cak Dika. Di belakang mereka para maung mulai keluar beserta Senopatinya.


"Kamu bangsa lain kenapa datang kemari? Mau apa kamu? Pergi dan jangan ganggu lagi! Atau aku beserta pasukanku akan menawanmu. Menjadikanmu tahanan kami lalu menyiksamu!" ujar Nyai Ratu pada setan Jason.


Setan Jason diam di sana. Aura sekuat ini bahkan membuatnya membeku hingga tidak bisa bercakap apapun.


Setan itu lalu bersimpuh. Kehadirannya memudar perlahan menandakan bahwa dia menyerah. Dia tidak sanggup melawan sosok Nyai Ratu beserta dengan seluruh pasukannya.


Ketika kehadiran itu hilang. Cak Dika menoleh ke belakang ke arah Rachel.


"Udah balik sana!" ucap Cak Dika padanya.


Rachel mengangguk kemudian dia juga menghilang dari sana. Rachel di luar kembali membuka kedua matanya. Bersamaan dengan itu pintu kamar hotel itu terbuka.


Menampakkan Cak Dika yang tersenyum kebarah mereka sambil melambaikan tangan.


"Wes beres!" ujar Cak Dika pada mereka.


Bahagia sekali rasanya mendengar itu. Thariq membantu Rachel berdiri.


"Kamu gapapa? Butuh minum?" tanya Thariq padanya. Lantas Rachel memperhatikan tangan Thariq yang masih menyentuh tangannya.


"Katamu bukan muhrim, kenapa masih disentuh?" tanya Rachel.


Itu membuat Thariq mengalihkan netranya. Ketika dia sadar bahwa tangannya masih berada di sana. Segera dia menariknya lagi.

__ADS_1


__ADS_2