
Babi Ngepet adalah salah satu ritual pesugihan dari seseorang yang menggunakan ilmu hitam dengan cara mengubah dirinya untuk sementara menjadi babi siluman sehingga dapat dengan mudah melakukan pencurian.
Mitos menceritakan bahwa tindakan pesugihan ini dilakukan hanya pada malam hari tertentu dan oleh dua orang.
Biasanya sepasang suami istri dengan suami sebagai tuan yang akan menjadi babi dan istri sebagai pembantunya.
Tindakan ini didahului dengan puasa beberapa hari sebelumnya. Tindakan ini juga disertai sesaji yang terdiri atas kembang setaman, minyak wangi, kopi pahit, jajan pasar, kemenyan atau setanggi dan darah ayam cemani.
Serta dilengkapi dengan baskom berisi air yang di tengahnya ditaruh sebatang lilin atau lampu minyak kecil.
Malam ini adalah malam khusus bagi sepasang suami istri. Sebut saja nama mereka adalah Tina dan Wahyu.
Sudah sepuluh tahun mereka menikah. Lima tahun pertama mereka dikarunia sepasang anak kembar bernama Nadin dan Nanda. Mereka berdua adalah gadis yang sangat cantik di kampungnya.
Selama lima tahun pertama itu mereka mengasuh bayi mereka dengan makan dan minum seadanya.
Ekonomi mereka melorot drastis. Memang pada dasarnya mereka adalah dua orang manusia kelas bawah.
Sebab bosan hidup susah. Keduanya memutuskan untuk pergi ke dukun. Meminta cara agar hidup mereka dilimpahi dengan kekayaan.
Sampai pada saat itu mereka dipanggil oleh dukun itu. Diberikan mereka selembar kain dan jimat.
"Pergunakanlah ini dengan baik! Kalian jika ingin kaya. Lakukan pesugihan babi ngepet. Maka kalian akan dilimpahi banyak kekayaan dengan ini," ucap dukun itu memberitahu.
"Baik Mbah! Terima kasih, kami sangat menghargainya!" ucap Wahyu pada dukun itu.
Sang Dukun lantas tertawa. Dia senang sekali jika ada manusia yang melenceng jalannya dari keimanan dan lebih percaya pada setan.
Sang Dukun memberitahu cara bagaimana menggunakan ilmu pesugihan babi ngepet. Hingga ritual itu sepasang suami istri jalankan selama lima tahun selanjutnya.
Lima tahun berikutnya mereka dilimpahi kekayaan. Sungguh miris rasanya ketika anak mereka besar dengan separuh uang haram yang mendarah daging ikut tumbuh bersamanya.
Saat ini Nanda dan Nadin sedang bermain dengan bocah sebayanya. Mereka sedang bermain kelereng di salah satu tanah lapang yang tidak cukup besar.
Ada lima bocah di sana termasuk dengan Nanda dan Nadin. Tawa mereka terdengar begitu meriah.
Terlarut dalam permainan mereka. Mereka saat itu tidak memperhatikan langit. Di sana langit mulai gelap. Suara ngaji dari masjid mulai terdengar. Pertanda bahwa magrib sebentar lagi datang.
Di Jawa akan menjelang magrib langitnya akan menggelap. Di sana ada satu pos kecil. Tepat di belakangnya adalah pohon beringin besar.
"Apa kita tidak pulang saja, Nan?" tanya Nadin pada Nanda.
"Ah," pekik Nanda pada Nadin. Nanda masih asik sekali melempar kelereng sejak tadi. Dia unggul dalam permainan ini itulah sebabnya dia betah.
"Nantilah! Kita bisa pulang nanti setelah magrib!" ujar Nanda pada Nadin.
Nampak wajah Nadin terkejut mendengar itu. Mereka tidak biasa pulang malam saat langit gelap.
"Tapi nanti Bapak sama Ibuk marah!" ujar Nadin kembali mengingatkan Nanda.
__ADS_1
"Ndak Nadin, tenang aja! Lagian juga jarang-jarang kita pulang malam," ucap Nanda padanya.
"Yah... kalah lagi aku! Habis ini kelerengku!" ujar salah satu teman mereka.
Mereka merasa sudah cukup rasanya bermain hari ini. Nanda menang banyak. Dua botol Aqua besar penuh dengan kelereng. Itu adalah hasil dari permainannya hari ini.
"Yeay aku menang banyak!" ucap Nanda girang.
Nadin memperhatikan saudaranya yang sangat bahagia itu.
"Yowes, ayo pulang!" ucap Nadin lagi mengajaknya.
"Iyo sek! Bantu aku masukkan kelerengnya!" ujar Nanda dia bersimpuh memungut kelereng hasil permainannya itu.
Nadin tidak menjawabnya. Dia ikut bersimpuh di sana lalu membantu saudaranya memasukkan kelereng itu.
"Yowes Nan, kita pulang dulu Yo!" ujar ketiga temannya.
"Iyowes pulanglah!" jawab Nanda tanpa menoleh sedikitpun pada temannya.
Beberapa detik kemudian. Kelereng sudah berada di dalam botol Nanda. Nadin dan Nanda lantas berjalan pulang.
ketika mereka berjalan menuju ke arah rumah mereka. Suara adzan pun berkumandang. Entah apa yang terjadi pada mereka.
Sehingga keduanya saat adzan berkumandang memilih untuk lari mempercepat langkahnya.
Hingga tibalah mereka di rumah mereka. Nadin membuka pintu rumah mereka saat itu. Pencahayaan di sana selalu remang. Seperti, tidak mengizinkan cahaya masuk sedikitpun.
Tak sengaja Nadin melihat salah satu ruangan yang pintunya terbuka. Lantas dia berhenti sejenak memandangi ruangan itu.
"Apa?" tanya Nanda padanya.
Nadin menggelengkan kepalanya. Lalu jari telunjuknya menunjuk ke arah pintu yang terbuka sedikit itu. Letaknya agak jauh memang dari kamar mereka.
"Aku selalu penasaran dengan ruangan itu! Sejak dulu kita tidak diizinkan untuk melihatnya. Dan ruangan itu selalu saja terkunci!" ucap Nadin pada Nanda.
"Terus apa maumu?" tanya Nanda pada Nadin.
Lantas Nadin menatap melas ke arah Nanda.
"Apa Nadin?" tanya Nanda yang sama sekali tidak mengerti arti dari tatapan Nadin.
"Aku penasaran, tapi aku juga takut! Lalu bagaimana?" tanya Nadin padanya.
Nanda meletakkan dua botol kelerengnya di lantai. Kemudian dia menatap ke arah ruangan itu.
"Yaudah, kita ke sana! Tapi pelan-pelan aja Yo! Takutnya nanti Bapak Ibuk tau!" ucap Nanda mengusulkan.
Sejenak Nadin berpikir memantapkan hatinya. Kemudian dia pun mengangguk. Nanda juga mengangguk. Keduanya saling tersenyum.
__ADS_1
Lalu Nanda saat itu melangkahkan kakinya lebih dulu menelusuri lorong rumah mereka. Sungguh pencahayaan yang dipakai di dalam rumah ini adalah lampu kuning yang remang sekali.
Bukankah teknologi sudah maju? Lantas mengapa, Bapak dan Ibuknya Nanda memilih untuk memakai lampu kuning.
Bukankah mereka kaya? Lalu untuk membeli lampu yang lebih terang seharusnya bukanlah hal sulit.
Perlahan langkah kaki mereka mulai mendekat. Memotong jarak demi jarak antara mereka dan kamar itu.
Ketika mereka akan dekat dengan kamar itu. Mereka mendengar suara deruh nafas yang sangat berat. Suaranya bergemuruh.
Di situ mereka terdiam. Tubuh mereka meriang ketika mendengar suara bajak tawa yang cukup kecil seperti ditahan.
"Itu apa Nan?" tanya Nadin pada Nanda yang berada di depannya. Dia bertanya dengan suara lirih.
"Entahlah," jawab Nanda padanya yang juga berbisik.
"Lanjut Ndak?" tanya Nanda pada Nadin.
"Iyo lanjut!" jawab Nadin.
Jawaban itu membuat mereka bersamaan menelan ludah. Sejujurnya mereka sangat takut untuk meneruskan kembali penelusuran mereka.
Namun apa daya, sudah sampai di sini. Mereka mau rasa penasaran mereka terjawab saat ini.
Ketika Nanda menyibak sedikit kelambu yang menjadi penghalang dari isi ruangan itu. Matanya membulat penuh. Nadin di belakangnya juga ikut membulatkan mata.
Sungguh apa yang mereka lihat benar-benar mengerikan. Mereka melihat bapak mereka duduk di atas meja beralaskan kain berwarna hijau.
Kedua mata bapak mereka memutih. Kedua tangannya memegang ayam hitam yang masih utuh dan sekarat. Darah dari leher ayam itu mengucur deras.
Dan Ibuknya saat ini sedang berada tepat di depan sesajen. Bau dupa juga menyengat di sana sampai tepat mengenai hidung Nanda dan Nadin.
Pemandangan itu sakral hingga membuat Nadin dan Nanda cukup ketakutan. Mereka masih kecil. Namun rupanya mereka masih tau benar dan salah.
Sebelumnya para orang tua di desa membicarakan perihal pencurian. Orang di desa juga mengatakan bahwa mereka melihat babi tiap malam berkeliaran. Ketika dikejar babi itu selalu hilang.
Saat itulah, Nanda lalu berbalik begitupun dengan Nadin. Mereka masuk ke dalam kamar mereka. Tubuh mereka bergetar sangking takutnya.
"Nan!" panggil Nadin pada Nanda di sampingnya yang masih syok.
"Bapak sama Ibuk, itu tindakan salah kan Nan!" ucap Nadin lagi.
Nanda dengan tatapan kosongnya hanya mampu mengangguk.
"Kita kudu opo Nan?" tanya Nadin lagi padanya.
Pertanyaan itu lantas membuat Nanda ingat. Ada salah satu Channel YouTube kesukaannya yang menceritakan tentang perjalanan astral menyusuri area-area tanah Jawa yang lekat sekali mitosnya.
Nadin menghampiri meja belajarnya. Mengambil tabletnya. Di sana dia pun mulai melihat kolom deskripsi YouTube itu.
__ADS_1
Mereka menerima segala permintaan dan konsultasi Ghaib. Di sanalah, jari jemari Nanda mulai mengetik. Mengirim satu pesan kepada Cacak dan rombongannya.
Sambil berdoa dalam hatinya semoga pesan itu sampai dan dia baca secepatnya oleh Cak Dika dan timnya.