
Kota Pahlawan atau lebih dikenal dengan nama Surabaya. Adalah kotak kedu terbesar setelah Jakarta.
Kota yang terkenal dengan senjata sederhana kala itu. Senjata apa adanya kala itu mereka gunakan melawan penjajah dengan hanya menggunakan bambu yang ujungnya dibuat meruncing.
Sebut saja namanya bambu runcing.Monumennya saat ini masih berdiri megah.
Semegah apapun kota itu tetapi tingkat kemiskinan masih tetap ada. Seperti halnya saat ini. Seorang anak berusia tujuh tahun sedang berjalan di atas trotoar.
Menggunakan gitar kecil empat senar dia berjalan ke sana kemari. Ketik lampu lalu lintas mulai memerah. Roda kendaraan itu berhenti. Menjadi peluang bagi anak itu untuk bernyanyi lalu diberi lembaran uang oleh para pengendara yang merasa iba atau terhibur.
"Joko!" panggil salah seorang anak lain yang sepertinya lebih tua darinya.
Ya, nama anak kecil itu adalah Joko dan anak lain yang memanggilnya adalah Dimas. Joko dan Dimas ini bersaudara tetapi beda ayah.
Mereka berdua ditelantarkan begitu saja oleh kedua orang tuanya sebab masalah ekonomi. Mereka tinggal di sebuah rumah kayu kecil yang letaknya berada di TPS (Tempat pembuangan sampah).
"Kamu dapat berapa duit?" tanya Dimas pada Joko.
Bungkusan rinso yang dia pegang yang sudah kosong dia buat sebagai wadah menaruh uang hasil mengamennnya.
__ADS_1
Lantas pertanyaan itu membuat Joko menunduk memeriksa uangnya. Joko kemudian tersenyum. Lalu dia memamerkan hasil mengamennnya.
"Ini gak banyak! Tapi ini cukup buat makan nanti dan besok. Lalu kita tabung untuk membeli buku. Dan kita bisa mencatat apa yang dikatakan oleh para guru di sekolah sana!" ujar Joko.
Ya, beginilah kisah dua orang bocah jalanan yang tidak beruntung menitih nasib. Dimas mendongak melihat ke arah langit. Langitnya mulai menggelap. Awan abu-abu itu mulai berkumpul membentang semakin luas.
"Sebentar lagi akan turun hujan sepertinya!" ujar Dimas sambil menunjuk ke arah langit.
Hal itu tentu saja membuat Joko ikut menatap ke atas. Benar, langitnya mulai menggelap. Lalu dia ingat sesuatu perihal satu benda yang dia temukan di sampah beberapa saat lalu saat mengamen.
"Mas... Aku tadi Nemu ini!" ucap Joko sambil menenteng kresek berwarna hitam.
Apa itu?. Pikir Dimas.
Terlihat Joko tersenyum lalu kedua tangannya mulai membuka kresek hitam itu. Joko mengeluarkan sebuah selimut yang masih bagus masih putih dan layak pakai.
"Ini bisa kita gunakan jika hujan turun. Bukankah kita selalu kedinginan jika hujan turun? Maka Tuhan kasih kita ini untuk membalut tubuh kita biar gak dingin!" jelas Joko pada Dimas.
"Wahhh... Bagus sekali! Kelihatannya ini masih baru!" ujar Dimas pada Joko.
__ADS_1
"Ya!" ujar Joko lalu kembali memasukkan selimut itu ke dalam kresek.
"Kalau begitu mari kita pulang!" ucap Joko pada Dimas.
Dengan senang hati Dimas pun mengangguk. Mereka berdua pun berjalan pulang kembali ke rumah kayu kecil dekat tempat pembuangan sampah.
Jauh dari tempat mereka berada. Sejak tadi terlihat seorang kakek tua dengan banyak cincin batu aki di jari tangannya.
Kakek itu tersenyum menatap dua bocah yang pergi semakin jauh di lahap jarak. Tak lama tibalah seorang wanita asing. Sosok itu datang entah dari mana asalnya.
Dia ikut berdiri tepat di samping kakek tua itu. Wajah pucat pasih. Kedua kakinya tak tersentuh tanah. Baju putih itu adalah seragam suster rumah sakit tempo dulu.
"Aku sedang menanti hadiahmu wahai kakek tua!" ujar sosok suster itu.
Kedua matanya yang tadi normal itupun memerah. Darah segar keluar dari dalam bola matanya. Kakek tua yang sedang diajak bicara itu hanya mampu mengangkuk sambil masih tersenyum.
"Mereka makananmu selanjutnya!" ucap kakek tua itu sambil menunjuk ke arah Dimas dan Joko jauh di sana.
Kedua bola mata berdarah itu menyipit. Tubuh seram itu perlahan mulai menghilang seperti hanyut di lahap sesuatu kehadirannya.
__ADS_1