Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 113: Kesepakatan dan Bebas


__ADS_3

Sementara di sana Bella beserta Marsya menyaksikan battle royal yang terjadi antara Senopati Cakar bersama Simbah Gautama maju di hadapan kolong Wewe mencoba menahan agar kolong Wewe itu tidak mengambil Andhika dan Richard.


"Siapa kamu?" tanya suara besar dari kolong Wewe.


Senopati Cakar mengerang benci menatap ke arah kolong Wewe itu.


"Aku mau mereka!" jawab Simbah Gautama padanya berani.


"Hahahahahaha...." tawa sosok kolong Wewe itu. Lalu dia kembali menatap tajam ke arah Simbah Gautama.


Simbah Gautama di sini memakai pakaian serba putih. Dahulu kala kolong Wewe mengenal betul pakaian putih itu. Itu adalah pakaian turun temurun dari generasi Majapahit.


"Kamu!" ucap Kolong Wewe itu berhenti tertawa.


Bayangan perihal sesosok wanita bermahkota kecil di atas kepalanya membuat kolong Wewe itu ingat. Bahwa sosok kakek tua yang berdiri di hadapannya saat ini bukanlah sosok biasa.


"Ada apa Kisanak? Kenapa kau diam?" tanya Simbah Gautama pada Kolong Wewe itu.


Kedua mata kolong Wewe itu memerah. Dia betul membenci kedua sosok di hadapannya itu.


"Kau pengikut setia Nyai Ratu?" tanya Kolong Wewe pada Simbah Gautama.


Simbah Gautama menarik sudut bibirnya dia berseringai. Tangan kanannya dia letakkan tepat di atas dadanya. Lalu tubuhnya sedikit membungkuk mencoba memperkenalkan diri.


"Aku Gautama, leluhurku dahulu adalah salah satu panglimanya Nyai Ratu. Di tanah Jawa ini tepatnya di gunung Anjasmoro dan Arjuno. Leluhurku, pernah bertapa di sini bersamaku! Begitu pula leluhur atasku! Siapa kau yang berani mengusik wilayah kekuasaan kami meskipun sudah kami tinggalkan bertahun-tahun lamanya? Kaum tak kasat mata tidak berhak mengambil jiwa hidup sesuka hatinya tanpa ada kesalahan pada makhluk itu. Jika dia merusak maka kita berhak memberikan hukuman. Tapi jika tidak, maka kita tidak berhak berprotes! Alam ini bukan tempat setan saja! Melainkan manusia pun berhak atas bumi dan pijakkannya!" jelas Simbah Gautama santun tanpa ada tutur kata yang meninggi nadanya.


Hal itu membuat kedua cucunya yaitu Bella dan Marsya terkesima. Begitu sangat berwibawanya sosok kakek leluhurnya itu.


"Bel..." lirih Marsya sambil kedua matanya tidak lepas memperhatikan Simbah Gautama.


"Apa?" jawab Bella yang juga terpaku menatap sosok kakeknya itu.


Rasanya mereka jatuh cinta pada kakeknya sendiri saat ini.

__ADS_1


"Selama ini aku Ndak pernah lihat Simbah! Ternyata leluhur kita itu sekeren ini!" puji Marsya.


Bella tersenyum mendengar itu. Dia kemudian ingat bahwa Andhika dan Richard masih ada di sana. Bagi Bella itu adalah kesempatan untuk mereka berdua lari ke arah Richard dan Andhika.


Dalam kepalanya saat ini Bella ingin membawa dua orang itu ikut bersamanya. Kembali pada Cak Dika dan yang lain.


Ketika Bella hendak beranjak maju. Kakinya tidak bisa digerakkan.


Jambu! Opo Iki?. Pikirnya dalam kepalanya.


Perlahan kedua bola mata yang fokus ke arah Andika dan Richard mulai turun pandangannya. Dia terkejut mendapati dua sosok tuyul yang memegangi kakinya.


Marsya mengalihkan netranya juga ke bawah melihat apa yang sedang menghambat Bella saat itu. Dia juga sama terkejutnya.


Namun mereka adalah pawangnya ghaib. Terkejut itu hanya sekedar terkejut bukan terkejut lalu takut. Marsya menatap datar ke arah dua sosok tuyul itu.


Kepala besar berurat lebih besar dari pada tubuhnya. Mukanya tua sekali. Matanya putih dan ya, bibirnya tegak.


"Heh bocah!" pekik Marsya murka kepada dua sosok tuyul itu.


"Culno! Duduk riyoyoan Iki! Bella iku dusone akeh dadi ora usah sungkem nak sikile!" ujar Marsya murka mengatakan segala kalimat asal.


(Lepaskan! Bukan lebaran ini! Bella itu dosanya banyak jadi gak usah sungkem di bawah kakinya!)


Sejenak Bella rasanya ingin murka balik pada Marsya. Tapi dia mencoba tetap tenang.


"Culno ora! Gak mok culno dulurku tak ketes ndasmu!" ujar Marsya lagi.


(Lepasin gak! Gak kamu lepaskan saudaraku tak geplak kepalamu!)


Ucapan kasar itu mujarab. Dia sosok tuyul itu pun menghilang. Bella berhasil menggerakkan kakinya kembali.


Bersama dengan Marsya mereka pun menghampiri Andika dan Richard.

__ADS_1


"Kalian siapa?" tanya keduanya bingung.


Sudah lama mereka berada di alam sebelah. Itu membuat mereka trauma sepertinya.


"Jangan takut, kami manusia dan kami mau tolong kalian! Jadi, ikuti kami!" ucap Bella pada mereka.


Richard diam sejenak. Tapi keteguhan yang ada dalam kedua bola mata Bella membuatnya yakin bahwa dia harus mengikuti gadis itu.


Richard mengangguk lalu dia mencoba memapah Andika. Bersama dengan Marsya. Dengan bekal ilmu mapala. Bella mencoba membuka jalan untuk menghampiri Cak Dika dan yang lainnya.


Sosok kolong Wewe di sana masih bermusyawarah sepertinya dengan Simbah Gautama. Pepohonan besar itu mereka lalui.


Baru sepuluh menit mereka melangkah. Mereka berhenti ketika Bella melihat kawanan Nyai Ratu beserta pasukannya berdiri di hadapan sosok yang besar tinggi.


Di situ untuk beberapa saat Marsya dan Bella terdiam. Mereka sekarang tau alasannya mengapa para khodam Cacak dan Rachel sulit dipanggil. Rupanya perang badar sedang mereka hadapi di sini.


Salah satu Senopati maung yang wujudnya berubah menjadi seorang manusia menoleh ke arah Bella yang baru saja tiba.


"Nduk! Kembalilah, kami akan menahan mereka! Bawa pulang segera dua orang itu lalu larilah turun. Katakan pada dua orang itu untuk tidak datang mendaki di gunung ini lagi!" jelas salah satu Senopati maung.


Bella yang terdiam mendengar itu segera mengangguk cepat. Dia pun kembali melanjutkan langkahnya.


Ketika para khodam bertarung maka Cak Dika dan Rachel pasti akan terkena dampaknya. Tubuh mereka akan semakin lemah.


"Anak putuku kae ojok diganggu! Aku nak kene cuma pingin nglurusne. Yen menungso guduk wekmu! Bongso e kene kui ngadek berdampingan ambek mereka! Ojok mane-mane garai aku! Iki biyen panggon topoku. Rojo Podo topo nak kene! Koe setan anyar luweh tuek aku! Culno anak putuku lan pendaki loro iku!" ujar Nyai Ratu kepada sosok besar tinggi itu.


(Anak cucuku itu jangan diganggu! Aku di sini cuma mau meluruskan. Kalau manusia bukan punyamu! Bangsanya kita itu hidup berdampingan dengan mereka. Jangan coba-coba buat aku marah! Ini dulu juga tempat bertapaku. Raja semuanya bertapa di sini! Kamu setan baru lebih tua aku! Lepaskan anak cucuku dan dua orang pendaki itu!)


Sosok tinggi besar itu sudah sejak tadi menghadapi Nyai Ratu. Omongan panjang itu membuat sosok besar itu seketika lenyap pergi ditelan kegelapan.


Di lain tempat, kini Bella sudah melihat rombongannya. Bersama dengan Marsya merekapun mulai mempercepat langkahnya.


"Cacak!!!" teriak Bella histeria.

__ADS_1


Semua orang yang ada di sana seketika menoleh. Bella datang dan dia berhasil membawa dua orang pendaki yang hilang selama beberapa hari.


Cak Dika dan Rachel yang sudah lemas bersandar di pohon besar itu tersenyum. Mereka berhasil.


__ADS_2