
Untuk sampai ke desa itu. Mereka lebih memilih untuk menyewa grab. Sebab, membawa orang tak sadarkan diri akan cukup kesulitan jika naik angkutan umum.
Cak Dika dan Laras menyewa dua mobil grab. Di mobil pertama ada Laras, Cak Dika, Rara, dan Pak Joko. Sedangkan di mobil kedua ada Rahman, Deni, Marsya, Bella, Aldo dan Rachel.
Mobil Cak Dika jalan lebih dulu menyusuri jalanan untuk menuju ke desa Karang Kenik. Katanya saat ini desa itu dijadikan area destinasi.
Marsya usul pada Cak Dika sebelum ini. Setelah sampai di sana dia dan Bella ingin menikmati keindahan Desa Keramat itu.
Butuh sekitar satu setengah jam untuk sampai di desa itu. Grab itu menurunkan mereka di sebuah gapura. Katanya, dia tidak bisa masuk ke dalam sebab jalannya tidak akan muat.
Pak Sopir itu juga bicara bahwa jarak antara tempatnya berhenti dan desa sudah cukup dekat. Hanya sekitar dua puluh menit berjalan maka mereka akan sampai.
"Maaf ya, Mas! Saya gak bisa antar sampai masuk! Mobil susah nanti keluarnya, Mas!" ujar sopir itu pada Cak Dika.
"Iya..." jawab Cak Dika sambil mengangguk.
"Gapapa kok Mas! Santai aja, terima kasih ya!" ucap Cak Dika lagi padanya sambil memberikan lembaran uang sebagai biaya ongkos.
"Ya sudah, saya pamit dulu mas!" ucap sopir Grab padanya. Cak Dika mengangguk. Anggukan itu membuat sopir Grab itu bergegas pergi kemudian.
Ketika Cak Dika berbalik. Dia disambut oleh Aldo yang menahan tubuh Pak Joko agar tidak jatuh ke tanah.
Cak Dika menghampiri Aldo. Lalu dibantu Aldo, Pak Joko saat ini digendong oleh Cak Dika. Dari belakang Rara tersenyum memperhatikan itu.
Lelaki itu kuat sekali!. Pikir Rara dalam kepalanya.
"Yaudah, ayo jalan!" perintah Cak Dika lalu berjalan mendahului mereka.
Mereka mengangguk lalu berjalan ke arah Desa Karang Kenik. Di perjalanan nampak Rachel dan Bella memperhatikan sekitar. Kedua matanya tidak pernah berhenti memperhatikan area persawahan yang membentang di sisi kanan kiri mereka.
Mereka disambut oleh beberapa arwah petani. Mereka yang tadinya sibuk dengan aktivitasnya. Merasakan aura khodam-khodam Gautama pun berhenti.
Salah seorang hantu petani laki-laki melepas topi campingnya. Dia tersenyum sambil memberi hormatnya pada Rachel, di mana dialah Maskot sesungguhnya di sini.
Assalamualaikum!. Ucap Rachel dalam hatinya. Salam itu sekejap membuat mereka mengangguk dan tersenyum.
Ramah sekali aura mereka sungguh. Tidak ada raut wajah menakutkan terpampang. Keramahtamahan ini pasti dia dapat dari Nyai Ratu.
Juga, tidak ada orang yang tidak mengenal buyut Gautama dulu. Rachel ingat betul, dahulu Ibundanya pernah mengatakan bahwa buyutnya adalah penggila ilmu.
Ketua Adat di desanya itu, pernah merantau kemari. Nyai Ratu sudah lama mengikuti buyutnya. Seluruh anggota Gautama ini benar-benar memiliki aura istimewa yang luar biasa.
Beberapa menit berjalan. Cak Dika tiba-tiba memekik.
"Hah!!!" teriak Cak Dika kaget lalu berhenti.
Hal itu membuat rombongannya juga terkejut. Mereka sontak saja berhenti sama sepertinya.
__ADS_1
"Ono opo toh, Cak?" tanya Rara padanya.
Cak Dika menoleh ke samping lalu tersenyum.
"Dek Ra, ada orang nyebrang!" jawab Cak Dika sambil berseringai.
Rara dan yang lain melihat ke depan saat itu. Tapi rupanya tidak ada siapapun di sana. Kedua mata mereka tidak menangkap siapapun di sana.
"Mana ada sih, Cak?" tanya Rachel padanya.
Pertanyaan itu lalu membuat Cak Dika menoleh ke arah Marsya. Dan benar saja, Marsya saat ini berlagak aneh di sana.
"Lah iku!" ujar Cak Dika sambil menunjuk ke arah Marsya.
Ketika seluruh perhatian mereka terfokus pada Marsya. Di sana Marsya menggaruk-garuk dirinya. Dia bersikap seperti halnya monyet.
Marsya berjalan ke arah Cak Dika. Cara berjalannya juga seperti monyet. Saat ini yang mereka lihat adalah sosok kera putih berwajah manusia.
Sosok itu berada tepat di depan Cak Dika kali ini. Sebelum berjalan, sosok kera putih menoleh ke arah mereka. Lalu dia melanjutkan lagi langkahnya.
"Apa gak apa kita biarin Marsya kaya' gitu?" tanya Rachel padanya. Dia khawatir pada adik kandungnya itu sungguh.
Entah kenapa rawan sekali kesurupan. Kenapa setan tidak ingin masuk ke dalam orang selain Marsya. Kenapa harus Marsya? Itu masih menjadi sebuah misteri buat mereka sampai saat ini.
Semakin masuk ke dalam. Sepoi anginnya semakin sejuk. Semakin masuk ke dalam. Dari kejauhan nampak rumah-rumah kayu.
Beberapa sapi dan kerbau di lepas di ladang. Lalu beberapa anak ayam dan induknya juga dilepas bebas di halaman rumah.
Benar-benar asrih sekali di sana. Hingga tapak kaki mereka berhenti di sebuah gapura kayu. Gapuranya sederhana.
Beberapa orang tua di sana yang sedang bercengkrama menoleh ke arah mereka. Mereka saat ini sedang ditatap oleh mereka. Sebuah tatapan yang mempertanyakan perihal siapakah rombongan itu?
Ketika salah seorang dari mereka melihat siapa yang sedang Cak Dika bawa. Mereka pun langsung menghampirinya.
"Ya Allah, Pak Joko! Dari mana saja kamu?" tanya sekelompok ibu-ibu itu sambil mengusap-usap tubuhnya Pak Joko.
"Dia kenapa Mas?" tanya salah seorang ibu pada Cak Dika. Dia meminta penjelasan perihal alasan hilangnya Pak Joko.
"Iya Buk, boleh saya bertemu dengan ketua adat di sini? Sebab saya diberitahu untuk segera membawa Pak Joko ke ketua adat. Jadi di mana beliau?" tanya Cak Dika sopan sambil tersenyum.
"Oh, iya Le!" jawab salah seorang ibu itu padanya.
Le, adalah panggilan untuk anak laki-laki di Jawa. Lebih tepatnya anak laki-laki akan dipanggil Tole, sedangkan untuk anak perempuan akan dipanggil Nduk.
"Mari Le, Monggo pinarak dulu!" ujar salah seorang ibu pada Cak Dika.
Cak Dika beserta rombongannya mengangguk. Mereka lalu dituntun masuk lebih dalam ke dalam desa itu. Hingga ibu-ibu itu berhenti tepat di sebuah rumah bercat putih.
__ADS_1
"Ini tempat ketua adat kami, Le! Monggo, silahkan diketuk saja nggih! Makasih banyak loh Le, berkat kamu malapetaka di sini Insyaallah gabakalan terjadi!" ujar salah seorang ibu padanya.
Cak Dika hanya manggut-manggut. Aldo yang peka pun langsung mengetuk pintu rumah itu. Butuh tiga kali ketuk untuk seseorang di dalam sana mulai membuka pintunya.
Ketika pintu itu terbuka. Nampak seorang pria membulatkan kedua matanya. Dia terkejut bukan main melihat kehadiran Joko di sana.
"Loh, Pak Joko!" ucapnya tak percaya.
"Mari Mas, masuk Monggo!" ucap kepala adat itu lagi.
Cak Dika pun segera masuk ke dalam. Dia dituntun untuk membaringkan tubuh Pak Joko di atas ranjang.
Setelah tubuh itu terbaring. Cak Dika pun bercerita pada Ketua adat itu. Perihal mengapa Pak Joko bisa sampai seperti itu.
Kepala adat itu hanya manggut-manggut sambil tersenyum. Dia tidak menyangka Cak Dika dan rombongannya ini orang-orang istimewa. Bahkan mereka bisa melihat keberadaan Adipati Pangeran Tunggul Angin.
Sambil menyembuhkan Pak Joko, kepala adat itu juga mengatakan. Bahwa pangeran itu masih tetap berada di sini. Dan dialah yang menjaga wilayah ini.
Beberapa saat setelah pengobatan selesai. Pak Joko kembali sadar. Dia seperti orang ling lung untuk beberapa saat lalu.
Seiring waktu berjalan dia pun ingat semuanya. Dan benar saja, apa yang orang itu katakan. Orang yang membawa Pak Joko ke warteg itu mengatakan bahwa hilangnya Pak Joko akibat ulahnya bandit.
Pak Joko menceritakan bahwa ketika dia baru saja pulang dari kebun. Sambil membawa hasil panennya malam itu dia pulang.
Tapi ada beberapa orang dengan parang merampas kepunyaannya. Hasil panen itu dibawa menggunakan motor.
Pak Joko mencoba melawan saat itu. Tapi preman itu jauh lebih kuat darinya. Hingga ketika balik kayu itu dipukulkan pada kepalanya Pak Joko pun pingsan.
Saat itu dia tidak mengingat apapun. Hanya saja ketika bangun dia pun menemukan dirinya berada di rawa. Kepalanya sakit saat itu.
Suara mesin mobil dan motor dia dengar. Sambil merayap menghampiri sumber suara. Pak Joko berteriak kecil. Suaranya melemah sama seperti kondisinya.
Beruntungnya ketika dia sampai di jalan raya. Dia mobil berhenti di hadapannya yang tak berdaya. Saat itu barulah dia ditolong. Setelah beberapa pertanyaan diajukan, Pak Joko pun pingsan.
"Makasih nggeh Le! Kalian gak mau nginap semalam di sini?" tanya kepala adat padanya.
"Gapapa Pak, saya tolong beliau itu sudah ikhlas kok!" ujar Cak Dika pada kepala adat.
Hal itu membuat Bella menginjak kakinya. Cak Dika memekik kecil, lalu menoleh ke arah adiknya. Di sana Bella berbisik kecil padanya,
"Minta dong ke mereka, tiket destinasinya gratis! Itu udah gapapa kan?" ujar Bella padanya.
"Gak sopan Dek!" jawab Cak Dika padanya.
"Gapapa, kan? Yang jelas kita gak minta duit!" ujar Rara menimpali tanpa menatapnya.
Hal itu membuat Cak Dika pada akhirnya menyerah. Wanita benar-benar tau caranya mencari kesempatan dalam kesempitan.
__ADS_1
Dengan berat hati dan sedikit paksaan. Cak Dika pun mengatakan keinginan Bella itu. Beruntungnya saat itu juga Kepala adat tidak keberatan.
Kepala adat malah menawarkan pada mereka untuk diantar sampai ke tempatnya. Hari itu, setelah misi mereka selesai. Mereka istirahat dan bersenang-senang sejenak di desa Karang Kenik.