Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 112: Menemukan Andika dan Richard


__ADS_3

Kalian tau? Alam sebelah adalah definisi sunyi yang benar seram diliputi dengan aura mencekam. Di perjalanan tanpa jalur itu. Rachel bersama dengan seluruh saudaranya berjalan.


Jalanan yang mereka tapaki semakin lama semakin ke atas. Medan itu curam. Namun mereka sama sekali tidak melihat adanya jurang di sisi kanan kiri mereka.


Rasanya sudah sekitar setengah jam mereka berjalan. Sosok-sosok astral itu tak terlihat sejauh mata memandang. Hanya ada satu sosok yang mereka ikuti saat ini.


Sosok manusia yang berjalan hilang menghilang tiap kali mereka dekati. Lalu muncul lagi di depan sana dengan jarak yang cukup jauh. Setan ini, benar-benar membuat mereka lelah.


"Kayaknya kita digiring ke puncak!" ujar Bella terengah-engah.


Bola matanya menatap ke arah punggung setan yang juga ikut berhenti jauh di depan sana. Rachel pun sama dia lelah sungguh.


Perjalanan tanpa ujung ini entah sampai kapan akan berakhir. Jika diteruskan maka logistik air minum mereka akan habis. Jika mereka belum keluar dari sana dalam keadaan logistik habis maka mereka pasti akan mati.


Cak Dika bersandar pada salah satu pohon besar. Peluh membanjiri keningnya. Rara memperhatikan Cak Dika yang sepertinya sudah cukup lelah.


"Kamu haus gak?" tanya Rara yang berada tepat di sampingnya.


Cak Dika menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Ndak kok... Masih kuat kok!" jawab Cak Dika.


Cak Dika memejamkan kedua matanya. Dia sedang berusaha memanggil salah satu maung miliknya yang dia tugaskan untuk ikut bersama Barend dan yang lain. Maung itu masih belum kembali.


"Hihihihihi..."


Suara tawa dari atas membuat mereka terkejut. Lantas mereka yang berhenti itu serentak menatap ke atas ke arah rimbunnya pohon yang menutupi langit.


"Hihihihihi... Kalian tidak akan bisa keluar! Kalian mencoba mengambil sesuatu yang sudah menjadi milik kami? Kalian tidak akan selamat!"


Ujar suara itu. Rachel menatap benci ke arah langit-langit. Lalu ketika tatapannya kembali ke arah sosok yang sejak tadi menuntun mereka. Rachel terkejut.


Sosok itu berbalik ke arah mereka. Jauh dari pandangan itu sosok itu perlahan mulai berubah wujudnya.


Tubuh manusia itu perlahan mulai berubah meninggi. Jari jemari lentik itu perlahan mulai memanjang. Menampakkan cakar panjang penuh darah.


Wajahnya yang sejak tadi tidak terlihat. Sudut bibirnya tertarik. Gigi geraham itu menjulang kebawah berganti taring panjang.

__ADS_1


Kedua mata sosok itu memerah menatap benci ke arah mereka.


"Hihihihihih..." gelora tawa sosok besar yang berdiri di di hadapan mereka itu membuat bulu kuduk mereka meremang.


Suara itu tidak hanya suara. Ada aura mengintimidasi mereka. Laras menutup telinganya. Dia tidak sanggup mendengarkan gelora tawa yang menusuk itu.


Rachel mengepalkan kedua tangannya dia kemudian hendak menghampiri sosok itu. Namun Thariq dengan sigap menghentikan tindakan Rachel.


Rachel adalah makhluk yang paling gegabah bagi Thariq. Dia tau niat Rachel baik ingin semuanya segera usai.


"Lepasin aku!" ujar Rachel mencoba melepaskan pergelangan tangan Thariq yang mencengkram tangannya.


"Gak akan! Gak akan lagi!" ucap Thariq membantahnya.


Sosok di sana semakin menyengir lebar menampakkan gigi taring dalam mulutnya.


"Kalian salah berada di sini wahai manusia! Aku tau kalian siapa. Tapi mengambil sesuatu yang bukan milik kalian adalah salah. Dua orang itu adalah milik kami!" ujar sosok itu pada mereka.


Nyai, aku membutuhkanmu ke mana kamu?. Ujar Rachel berusaha memanggil Khodam ratunya.


Namun tak ada sahutan dari Nyai Ratu. Terlihat Cak Dika yang bersandar sejak tadi di salah satu pepohonan besar juga merasa aneh. Maungnya yang dia tugaskan bersama kawanan hantu Belanda tidak merespon.


"Kenapa? Kalian ingin tau di mana para khodam kalian?" tanya sosok itu pada mereka berdua.


"Hahahahahaha!!!" tawa sosok setan itu semakin meledak.


Tawanya membuat dedaunan rimbun yang menutup langit di atas mereka bergerak. Ada suara tawa lain di atas sana. Suaranya bak paduan suara.


Lagi-lagi mereka diperlihatkan para bidadari ghaib bukan berpakaian putih tetapi hitam. Mereka bertengger di pohon-pohon besar sambil terus tertawa. Panas, sungguh sangat panas hawa di sana.


Brukkkkkkk


"Laras!" pekik Aldo terkejut ketika melihat Laras bersimpuh sambil memekik kecil.


Melissa mencoba membantu Laras untuk bangkit kembali. Tapi, ketika Melissa hendak menolongnya. Marsya seketika berlari ke belakang menuju ke arah Belantara lain.


"Huh!" pekik Bella menoleh ke arah Marsya.

__ADS_1


"Kejar Dek! Kejar Marsya!" ujar Cak Dika pada Bella.


Tanpa berpikir panjang lagi. Bella pun berlari mengejar Marsya yang berlari entah akan ke mana.


Rumput liar setinggi lutut orang dewasa itu Marsya masuki. Dia masuk lebih jauh ke dalam belantara. Melenceng lebih jauh dan dalam dari kawanan Cak Dika.


Bella berusaha mempercepat langkahnya. Sepertinya khodam cakar itu masuk ke dalam tubuh Marsya. Tiap kali mereka masuk lebih jauh ada banyak suara neh di samping kiri kanan mereka. Pepohonan mulai merapat. Hingga Marsya berhenti mendadak.


Hal itu tentu membuat Bella juga berhenti. Sambil terengah-engah dia mencoba menghampiri Marsya. Ajar pohon beringin yang menggantung itu sedikit menutupi apa yang terjadi di balik sana.


Bella maju perlahan sambil menyipitkan matanya. Mencoba memperjelas sesuatu apa yang ada di balik sana. Ketika Bella mengulurkan tangannya menyibak akar gantung pohon beringin itu dia terkejut bukan main.


Itu adalah kolong Wewe!


"Huwahhhhhh!!!" Andika berteriak sejadi-jadinya tatkala kolong Wewe itu perlahan mulai merambat ke arahnya.


Sedangkan Richard dia terpaku sambil bersimpuh menghadap ke arah sosok seram kolong Wewe.


"Astaghfirullah!" ujar Bella.


Dia tidak tau harus apa saat ini. Dia bukanlah pemegang khodam tertinggi. Jika dia ke sana jelas saja ilmunya akan kalah.


"Saya akan membantumu, Nak!" ujar satu suara berbisik kecil di samping Bella.


Hal itu membuat Bella lantas menoleh. Dia terkejut mendapati satu orang leluhurnya yang namanya ada di belakang nama Bella juga.


Ya, dia adalah Simbah Gautama.


"Simbah, Pripun!" ujar Bella memberi hormat.


Namun Simbah Gautama itu hanya tersenyum. Simbah mengalihkan netranya ke arah Marsya yang di mana tubuh Marsya saat ini sedang dihuni oleh Senopati Cakar.


"Keluarlah!" ucap Simbah Gautama pada Marsya.


"Errrrrr..." lirih Marsya.


Sosok dalam tubuhnya itu pun keluar. Marsya lemas seketika.

__ADS_1


Dia mengerjap beberapa kali hingga pandangan matanya tertuju pada buyut gautama dan Senopati Cakar yang sudah berada di depan sana menghalau kolong Wewe bangsat yang sedang mengganggu Andika dan Richard.


__ADS_2