Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 67: Pembantaian Orang Kulit Putih


__ADS_3

Malam, adalah waktu dimana aturan Nippon diterapkan. Sudah dua minggu ini, banyak orang kulit putih mati setelah pergi meninggalkan Camp di malam hari.


Mereka, hanya di izinkan berkelana kesana kemari saat pagi hingga sore. Petang, adalah jam para pemburu orang kulit putih berkeliaran.


Saat ini, Anna dan Pieter sedang melihat lima mayat mengapung di danau. Mereka adalah orang Belanda.


"Verdomme!" umpat Anna kesal.


(Sialan)


Bagaimana dia tidak kesal. Mayat orang Belanda dibuang bak sampah saja. Tak ada penguburan layak bagi mereka.


Berbeda dengan Anna, Pieter hanya diam saja sambil masih menatap ke arah mayat yang mengapung itu. Kejam, memang!


Tapi, bagi Pieter mungkin inilah perasaan yang dirasakan oleh para Inlander ketika mereka dijajah, dirampas, disiksa dan dibunuhi.


Mengapa orang Netherlands begitu tamak? Itu adalah pertanyaan yang masih ada dalam kepalanya Pieter. Dia iba, sekalipun mantan veteran militer.


Hari ini dengan kedua matanya sendiri. Pieter menyaksikan bahwa karma itu benar-benar ada. Sedikit kulit dari mayat itu mengelupas mengeluarkan binatang-binatang kecil.


"Rasanya, seperti karma saja ya, An?" tanya Pieter seraya masih menatap mayat itu.


Mendengar itu, Anna pun merasa sangat kesal.


"Ulah Nippon sialan itu! Jaman kita jajah dulu, tidak sekeji ini!" jawab Anna masih dengan amarahnya. Pieter tersenyum mendengar itu.


Dia lalu berbalik sambil melipat kedua tangannya.


"Tapi kita, banyak membunuh orang Pribumi!" jawab Pieter lagi pada Anna.


Anna melotot mendengar itu. Pieter seorang Veteran Belanda, kenapa dia membela Pribumi. Adalah hal sangat memalukan rasanya.


Bagi Anna, Belanda tidak pernah tunduk pada pribumi. Anna memiliki watak yang sangat keras. Dia juga merasa tanah ini adalah tanahnya. Padahal nyatanya, ini tanah Indonesia. Bukan tanahnya Netherlands!


"Kau membela Inlander? Itu menjijikkan!" protes Anna memakai Pieter.


Dirasa Anna tidak akan mengerti apa yang ada dalam hatinya. Pieter pun mendahului Anna sekarang, Anna mengikuti Pieter dan berjalan di sampingnya.


"Kenapa kau membela kaum pribumi, Pieter?" tanya Anna lagi masih tak percaya.


Terdengar Pieter menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan itu.

__ADS_1


"Aku bukan membelanya An! Aku hanya meluruskan, apa yang kita lakukan itu tidak benar!" jawab Pieter lagi padanya. Anna diam mendengar itu.


Hatinya sedikit luluh ketika Pieter berbicara. Logikanya mulai bekerja. Mengusir ego besar bangsa Netherlands dalam dadanya. Sifat seorang penjajah yang tamak pun perlahan meredup.


"Ini tanah mereka, kita tidak berhak merampasnya. Kecuali..." ucap Pieter terpotong.


"Kecuali apa?" tanya Anna. Pieter menatap Anna saat ini.


"Kecuali, mereka bertempur dan menyerang Neterland lebih dulu!" jawab Pieter mantap menatap Anna di sampingnya. Anna diam mendengar itu.


Seperti biasanya, Pieter mulai membeli beberapa keperluan di pasar. Tak jarang, ada warga yang menolak menjual barangnya untuk mereka.


Tapi, Pieter dengan lembut mencoba meyakinkan mereka. Berbeda dengan Anna yang selalu terbawa emosi, setiap kali menghadapi penolakan.


Sekarang, belanjaan mereka sudah cukup penuh. Pieter dan Anna pun memutuskan kembali ke Camp penampungan.


Mereka jalan kaki, mengingat para Inlander memboikot segala fasilitas untuk orang Belanda. Dendam para Inlander itu sudah kesumat saja rasanya saat ini. Mereka benci Belanda setengah mati.


Di sela-sela ramainya pasar, seorang lelaki menyembunyikan wajahnya berlari kencang ke arah mereka.


Lelaki itu bermata sipit juga berkulit kuning. Sudah hampir beberapa menit yang lalu kedua netranya menatap ke arah kalung yang Anna kenakan.


Settttttttt


Satu tarikan dari Lelaki itu, dan dorongan tangannya pada Anna, membuatnya Anna terjatuh. Terkejut, Pieter membantu Anna untuk berdiri.


"Hei, kau tak apa?" tangan Pieter pada Anna yang terjatuh. Anna menggeleng mendengar itu, tangannya meraba-raba lehernya. Ia terkejut mendapati, kalung miliknya hilang.


Itu adalah satu-satunya kalung kenangan dari Pappanya. Itu adalah benda paling berharga bagi Anna.


"Pieter, dia mengambil perhiasanku!" ucap Anna terkejut dengan hal itu.


Pieter membulatkan kedua matanya. Dia tidak terima sungguh. Pieter tau, kalung yang Anna kenakan adalah salah satu benda berharganya Anna. Tanpa basa-basi lagi Pieter memberikan barang belanjaannya pada Anna.


"Ambil ini, aku akan mengejarnya!" ucap Pieter padanya . Anna menahan pergelangan tangan Pieter.


"Tapi, sebentar lagi gelap!" ucap Anna khawatir pada Pieter. Pieter melepas cengkraman tangan Anna dari dirinya.


"Pulanglah! Barend menunggu makanannya dirumah! Kau harus pastikan, dia makan!" Ucap Pieter, seraya berlari meninggalkan Anna.


"Pieter!!!" Teriak Anna.emcoba menahan kepergian Pieter darinya.

__ADS_1


Tapi pemuda itu keras kepala. Dia masih saja berlari menjauhi Anna yang berteriak-teriak memanggil namanya.


Merasa percuma, Anna pun menuruti apa yang Pieter katakan. Ia lebih memilih pulang, dan memberi Barend makan.


Dalam hatinya Anna berdoa. Semoga saja hal buruk tidak menanti Pieter. Dan semoga saja pemuda itu segera pulang secepatnya.


Senja hari itu, terlihat cukup suram di dermaga. Pieter, berhenti disana nafasnya terengah-engah.


"Cepat sekali!" Ucap Pieter.


Suara benda jatuh, di antara gang gang sempit dermaga itu menarik perhatiannya. Pieter mengikuti suara itu. Dan di sanalah dia, Si Pencuri itu.


Dengan berani Pieter berdiri di sana sambil menatapnya. Lalu bersuara lantang dan berkata,


"Hei, kembalikan!" ucap Pieter, pencuri itu berbalik namun dia tersenyum ke arah Pieter.


"Verdomme!" Umpat Pieter, ketika melihat dua orang Nippon dari belakang Si Pencuri.


(Sialan!)


"Kau mau ini? Ternak!" tanya si Pencuri.


Entah apa yang ada dipikiran Nippon saat ini, mereka menghajar Pieter di sana. Senja itu, dermaga cukup sepi.


Hanya ada para Nippon, yang melakukan perdagangan di sana. Dan secara tidak langsung, Pieter masuk kedalam kandang Singa.


Di mana disana, Nippon akan melenyapkan siapapun orang Belanda yang masuk kesana.


Hari itu, Pieter dihajar begitu lama. Sekitar satu jam an, ia babak belur. Satu orang Nippon lain menjambak surainya, satu lagi memegang sebuah pedang.


Di sana, Pieter digorok saat itu juga. kepalanya di buang begitu saja di pelabuhan. Merasa puas dengan tindakannya, si Pencuri itupun melilitkan kalung itu di tangan Pieter.


Tak lama, mereka membiarkan jasad itu tergeletak begitu saja di depan dermaga.


Pagi tiba, Anna sangat khawatir pada Pieter. Semalam dia tak pulang, Anna terus mencari keberadaan Pieter pagi ini.


Ia mencari ke segala tempat. Lalu, kakinya menuju dermaga. Melihat beberapa Inlander bergerombol, Anna mencoba menerobos masuk kerumunan itu.


Tepat ketika ia tau, apa yang menjadi tontonan mereka. Anna bersimpuh, perih rasanya hatinya melihat Pieter dengan kepala yang buntung. Tak jauh dari sana, terlihat kepala Pieter dikerumuni lalat.


"PIETER!!!" Teriak Anna, terisak.

__ADS_1


__ADS_2