
Hindia Belanda, pada tahun 1942.
DORRRR
DORRRR
Baku tembak di luar sana terlihat begitu kacau. Diiringi dengan beberapa mayat berjatuhan di sepanjang jalan.
Merah darah itu, membanjiri jalanan. Sebuah mobil Sekutu datang, dari arah barat.Banyak mayat, berserakan memenuhi jalannya. Namun, sama sekali belas kasih itu hilang.
Dengan kecepatan yang tinggi, mereka melindas seluruh mayat yang ada di jalanan.
Suara tulang-tulang patah itu, tak lagi mereka pedulikan. Ini tentang, kekuasaan dan kekayaan bagi siapapun pemenangnya.
Mereka, akan mendapatkan Hindia Belanda yang seperti surga Di mata mereka. Negara kaya inilah, prioritas mereka saat ini.
"NIPPON!!!" teriak salah satu Tentara, di garda depan. Seperti memberi isyarat pada seluruh rekannya di belakang. Satu, suar ia tembakkan sebagai pertanda.
"Verdomme, die nippons!" umpat satu suara kesal.
(Sialan, para Nippon!)
Umpatan itu, berasal dari seorang tentara bernama Deiderick. Mendengar aba-aba dari Jendral mereka, mereka pun mundur.
"Lari, lari!" ucap semuanya, berbondong-bondong menuju markas mereka.
BOMMMMM
BOMMMMM
Pintu masuk Batavia, dibom. Seluruh pasukan Belanda berhenti, melihat satu-satunya pintu untuk selamat runtuh.
Tentara Jepang semakin mendekat, dengan peluru yang masih ada, mereka menembak seluruh tentara Belanda yang berdiri pasrah di sana.
Deiderick, mencoba berlari menyelamatkan diri. Namun sayang, satu tembakan dari sniper mengenai kepalanya.
Tubuhnya ambruk di atas tanah itu, tanah yang pernah mereka jajah dengan ketamakan dan segala perilakuan kejam.
Pada para Inlander. Inlander adalah sebutan untuk orang Indonesia, merujuk pada arti Pribumi.
Hari itu, markas besar Belanda di Batavia ditaklukan. Belanda menyerah tanpa syarat kepada Sekutu saat itu.
Berita kemenangan, orang kulit kuning itu sampai dari radio ke radio.
Jatuhnya pemerintahan Belanda pada saat itu, banyak menimbulkan kontroversi dan teror. Rakyat Belanda, dibuat sangat menderita setelah kekalahannya.
Para mayat Veteran, diantarkan langsung ke kediamannya. Seperti halnya mayat Deiderick, yang kini berada di tangan Putra sulungnya Pieter.
Pieter, juga seorang pejuang sama seperti Pappa-nya. Beruntungnya, hari itu mereka tidak ditugaskan bersama, hanya Pappa-nya yang ditugaskan di bagian Garda depan.
Linangan air mata itu turun, mengiringi langkahnya masuk kedalam rumahnya.
Di sana, terlihat Mamma nya menatap syok ke arahnya.
"Deiderick?!!!" pekik Hanna, berlari menghampiri jasad Suaminya. Pieter bersimpuh, meletakkan jasad Pappanya di lantai. Sungguh, ia merasa gagal sebagai seorang putra saat ini.
"Pieter, Kenapa dia bisa tertembak?!!" tanya Mammanya sambil menangis terisak.
Pieter hanya diam, masih dengan tangisan dan kepedihan yang ia rasakan. Sungguh, untuk sekedar menjawab pertanyaan Mammanya ia tak sanggup.
Dari atas tangga, seorang bocah lelaki turun. Menghampiri keluarganya, Pieter menatap sendu ke arahnya.
Dia adalah, Barend, adik dari Pieter. Barend, berjalan mendekati keluarganya. Lalu, ikut bersimpuh di hadapan Pappanya.
"Pieter, Pappa berdarah?" ucap Barend, seraya mengelus lembut wajah Pappa-nya.
Perih rasanya, mengingat adiknya itu belum cukup tau apa yang terjadi.
Pieter, mengusap lembut kepala adiknya itu. Surai, pirang itu mirip dengan Deiderick Pappa-nya.
Bola mata biru itu, wajahnya, adiknya ini mewarisi segala fisik Pappa-nya.
__ADS_1
"Pappa sedang terbang di langit, menemui Tuhan?" jelas Pieter, Barend masih tak tau apa maksudnya itu.
"Pappa tidak mengajakku?" tanyanya polos. Pieter menggeleng pelan menanggapinya.
"Dia, tidak akan pernah kembali!" ucapan itu, membuat Barend terkejut.
Ia melihat lagi Pappa-nya, menaruh kepalanya di dada Pappa-nya.
"Pappa, tidak bernafas?" tabya Barend lagi. Subgguh polos sekali anak kecil itu.
Pertanyaan itu, membuat tangis Hanna semakin pecah. Suami yang begitu ia cintai, gugur dalam Medan pertempuran. Jadilah statusnya Janda sejak hari itu.
Dua minggu sejak mereka berduka. Rakyat Belanda kini dipindahkan, menjadi satu dalam area camp pengungsian.
Di mana, di sana seluruh warga Belanda dikumpulkan dan di buat sengsara.
Camp ini, langsung diawasi oleh pihak Sekutu. Mereka dibuat begitu sengsara di sini, dengan tujuan mereka akan meninggalkan Hindia-Belanda secepatnya.
Tak jarang, perlakuan tak senonoh dari Nippon membuat mereka meringis kesakitan.
Seperti saat, anak-anak bermain dan mainan mereka masuk di kawasan Nippon.
Ketika salah seorang anak mengambilnya, dengan keji mereka menendang anak itu masuk ke dalam area camp kembali.
Mereka, memang akan di kembalikan pada negaranya. Kapal, untuk mengangkut mereka kembali akan datang setiap Senin. Mereka akan diusingkan setiap Senin.
Pagi ini, terlihat Pieter sedang mengantri air. Stok air bersih di rumahnya sudah habis, yang membuatnya begitu semangat kemari adalah, ketika Barend bilang padanya,
"Pieter, aku haus! Di sini, ibu sama sekali tidak peduli. Dan aku lapar, aku ingin sepotong roti Perffertjes seperti dulu!" ucapan adiknya itu, membuatnya bersemangat kemari.
Nippon juga menerapkan satu aturan, di mana Orang kulit putih tidak boleh beraktivitas keluar saat petang.
Banyak para Inlander yang memboikot seluruh fasilitas, untuk orang kulit putih.
Angkutan umum, hotel, dan seluruh fasilitas lainnya tidak lagi menerima orang kulit putih.
Mereka hanya akan, mendapatkan seluruh fasilitas seperti Air, makanan, tempat tinggal hanya pada Camp.
Termasuk, anak-anaknya. Dia seperti, sangat terpukul atas kematian suaminya.
Seperti, masih tidak bisa menerima hal itu. Bahkan, untuk menguru Barend saja dia sudah tak mau. Hari-harinya dia habiskan dengan, meratap dan meratap.
Barend masih kecil, dia tidak tau tentang apa-apa di sini. Yang dia tau saat ini adalah, bermain dengan beberapa anak yang juga ada di sini.
Jika lapar, dia akan minta sepotong roti pada Pieter. Jika mengantuk, dia akan memberitahu Pieter dan Pieter akan menyiapkan tempat tidur untuknya.
Hari itu, selepas sudah mengambil Air. Pieter tergiur pada sesuatu di luar area Camp. Sebuah sepatu boot kecil, mungkin seukuran kaki Barend.
Sambil membawa ember air di tangannya, Pieter mendekati penjual itu. Dalam hatinya, ia ingin membawakan sepatu itu untuk Barend. Dia pasti, sangat senang.
Belum sempat ia keluar dari sana, seorang tentara Jepang menghalangi jalannya.
"Ushi yo, tachisaru kyoka o emashita ka?" ucap seorang tentara Nippon padanya.
(Kau sudah dapat izin keluar, ternak?)
Ucapan yang dilontarkan oleh Sekutu ini, sungguh tidak mampu Pieter pahami.
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan!" jawab Pieter.
BUAGHHHHH
Dengan senapannya, Nippon itu memukul Pieter hingga tersungkur. Air yang ia dapatkan dengan mengantri itu, tumpah sekarang.
Geram, dengan apa yang Nippon ini lakukan Pieter bangkit dan hendak memukulnya.
Namun, seorang gadis dari belakangnya menarik bajunya, mencoba mencegah tindakan bodoh yang akan Pieter lakukan.
"Biar aku, yang bicara!" bisik gadis itu pada Pieter.
Itu Anna temannya sejak kecil. Pieter mencoba meredam emosinya, lalu membiarkan Anna bicara dengan Nippon itu.
__ADS_1
"Watashitachi wa soko ni kutsu o kai ni dekakeru koto ga dekimasu ka? Watashitachi ga nigetara, anata wa watashitachi o utsu koto ga dekimasu. Sore wa yoi mลshidedesu ne." ucap Anna pada Nippon itu.
(Kau bisa mengijinkan kami keluar untuk membeli itu? Kau bisa menembak kami, jika kami kabur. Itu tawaran yang bagus, bukan?)
Pieter terkejut mendengar, betapa fasihnya Anna dalam bahasa Jepang. Sejak kapan, dia menguasainya.
Ucapan dari Anna, membuat Nippon itu mengangguk. Tak lama, Anna menghampiri Pieter membawanya ke arah penjual sepatu itu.
"Terima Kasih, Annie!" ucap Pieter pada Anna. Anna tersenyum mendengar itu, seraya mengangguk.
"Kau pasti, ingin membahagiakan Barend bukan?" tanya Anna, ketika Pieter sibuk memilih sepatu boot kecil itu.
"Tentu saja!" jawab Pieter padanya.
"Aku belum mengatakan ini." lirih Anna ketika mengingat sesuatu dalam kepalanya.
"Apa?" tanya Pieter padanya. Pertanyaan Pieter itu membuat Anna tersenyum iba.
"Aku turut berduka cita, atas kepergian Tuan Deiderick!" ucap Anna.
Pieter tertawa mendengar itu, ia yakin Anna juga pasti sedih atas kematian Pappanya yang juga ikut gugur bersama dengan Deiderick.
"Kita, sama-sama dalam keadaan duka waktu itu. Tak apa, aku tidak begitu mempermasalahkan itu!" jawab Pieter mencoba menenangkan.
Anna mengangguk mendengar itu, Pieter sudah memilih sepatu mana yang akan ia berikan pada adiknya itu.
Ia menyerahkan sepatu itu pada penjual, sementara penjual itu menatap mereka sinis.
"Kenapa kau melihat kami seperti itu?" tanya Anna, heran.
"Bagaimana rasanya dijajah sekarang?" ucap penjual itu, Anna terkejut mendengar itu.
Rasanya, tangannya gatal sekali ingin menjambak manusia ini.
"Aku yakin, kalian yang dikelilingi kemewahan. Pasti sangat menderita!" ucap penjual itu lagi.
"Berapa totalnya?" ketus Anna, Pieter hanya diam melihat dua manusia di depannya itu.
Karena ia tau, ia pun tak berhak melawan Inlander ini. Mungkin, mereka sakit hati atas penjajahan yang Belanda lakukan pada mereka.
"Sebenarnya, aku berhak menolak apa yang kalian mau di sini. Biasanya, kami menjual itu 15 Gulden. Tapi, karena ini penjualan ilegal jika untuk ternak seperti kalian. Aku menjualnya 30 Gulden!" ucap penjual itu. Anna terkejut mendengar itu, harganya dua kali lipat.
Gulden adalah mata uang Belanda yang berlaku sejak 1858 Tahun yang lalu hingga saat ini.
Beritanya, mata uang itu akan segera diganti dengan mata uang Jepang. Mereka berencana menggantinya tahun besok.
Karena tak ingin memperpanjang masalah. Pieter mengeluarkan sejumlah uang yang diminta Inlander itu. Anna terkejut melihat itu.
"Hei, kenapa kau berikan?" tanya Anna, Inlander itu menerimanya dengan senang hati. Pieter, membawa barang yang ia beli itu setelah mengucapkan terima kasih.
"Kau tau, mungkin setelah ini Nippon akan lebih parah menjajah kalian! Kau bersikap, seolah-olah negaramu sudah merdeka!" ketus Anna, lalu pergi menyusul Pieter yang sudah mendahuluinya.
_________
Satu atau dua part berikutnya, masih menyangkut tentang Barend ya! Ini cerita, yang harus di sampaikan pada jutaan nyawa di bumi.
Bukan untuk suatu ketenaran. Melainkan, untuk satu alasan tentang apa yang terjadi di zaman itu. Di tahun itu, mengenai Nusantara.
Narasi punyaku mungkin akan banyak yang dilebihkan. Tapi kejadian perihal nusantara, perang antara sekutu dan Nippon pada waktu itu nyata terjadi.
Kepala manusia banyak berserakan di sembarang tempat. Sejarah saat itu berbalut dengan darah dan nyawa!
Orang asing mencoba merebut tanah ini. Tapi orang kita menjaganya setengah mati dengan nyawa.
Maka untuk yang hidup saat ini. Harus bersyukur atas kebebasan yang diraih berbalut kematian para leluhur.
Kita sedang berpijak di atas deretan jasad mereka yang perih terkubur di dalam tanah. ๐ kalo udah bicara tentang sejarah itu, rasanya ngena banget rek! ๐ Al-fatihah buat seluruh pahlawan Indonesia, amin...
Untuk readers tercintaku. Mohon jadi pembaca yang baik ya! ๐ Setidaknya tinggalkan jejak setelah membaca karya ini. Tolong bantu dukung karya ini jika kalian suka. Jangan jadi pembaca gelap ya ๐
Kalian boleh like,vote, komentar atau gift๐ Aku gak maksa kok. Intinya tolong tinggalkan jejak dan hargai karya author. Manapun dukungan kalian, itu udah jadi penyemangatnya author.
__ADS_1
Thanks, buat yang udah ngikutin kisah ini ya! Ditunggu update an selanjutnya. Happy reading guys, semoga kalian selalu sehat dan semoga kalian selalu suka dengan ceritanya! ๐ค