Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 83: Rachel Demam


__ADS_3

Hal yang terjadi pada Rachel tiga hari kemarin di Suramadu membuatnya terbaring lemah di atas ranjang. Sebuah hotel bernama Novotel menjadi tempat penginapan yang dipilih oleh Cak Dika sekarang.


Susah sejak tiga hari Rachel dibiarkan berbaring di sana. Memang membuka portal ghaib lalu menarik dua orang yang terjebak di sana cukup sulit. Butuh energi yang cukup besar untuk melakukannya.


Ini sudah terhitung sebagai meditasi. Tapi untuk pulih mungkin membutuhkan waktu seminggu. Rachel dirawat langsung oleh Rara, Bella, Marsya dan Laras.


Sarapan bubur tiap pagi membuatnya seperti nenek tua saja. Saat ini dia sedang makan disuapi oleh Rara. Rachel bersandar di kepala ranjang.


Di atas lemari yang letaknya tak jauh dari sana. Terlihat dia setan Belanda sedang duduk sambil menatapnya.


Barend dan Albert tidak bisa membantu Rachel saat itu. Mereka hanya para setan kelas teri. Jika mereka membantu maka mungkin saat ini mereka tidak berada di sini. Mungkin mereka sudah menjadi tawanan.


"Aku tidak percaya dia bisa tumbang separah ini rupanya!" ujar Barend pada Albert di sampingnya.


Kedua hantu Belanda itu mengobrol sambil memperhatikan Rachel yang disuapi oleh Rara.


"Dia manusia! Dia bisa terluka, dan dia tidak sama seperti kita!" tutur Albert padanya.


Barend lalu mengangguk polos. Dia kemudian terbang ke arah Rachel. Lalu berhenti tepat di sampingnya. Rachel melirik sekilas keberadaan Barend di sampingnya.


Ekor mata Barend sedikit melirik sesuatu yang dibawa oleh Marsya. Itu adalah segelas susu dia biasa menyebutnya Milk.


Marsya yang tau itu pun tersenyum. Dia tau dan paham betapa Barend sangat menyukai itu. Rachel yang tau apa yang sedang Barend inginkan pun mengambil segelas susu itu dari tangan Marsya lalu meminumnya.


"Ahh.. Mantap!" ujar Rachel setelah meneguk setengah gelas susunya.


Barend hanya menatap penuh harap ke arah Rachel. Lalu dia dengan tatapan polosnya menatap ke arah Marsya dan Rara.


"Marsya, kamu tidak ingin membaginya denganku? Aku ingin!" ujar Barend padanya.


Rara menarik sudut bibirnya mendengar itu.


"Kamu mau Milk?" tanya Rara padanya.


Barend mengangguk sambil masih memasang wajah polosnya. Sungguh, dia menginginkan Milk itu.


"Aku mau!" ujar Barend pada Rara.

__ADS_1


Tatapan mata penuh itu membuat Rara iba. Lantas dia pun memandangi Rachel. Dia masih mengunyah bubur di dalam mulutnya.


"Hel, bagilah sedikit untuknya!" ujar Rara padanya.


"Suruh dia buat sendiri!" jawab Rachel padanya.


Tapi tak lama dia ingat. Bahwa Melissa baru saja keluar tadi. Dia bilang ingin membeli sesuatu di supermarket.


Rachel tau, bahwa peran Melissa bagi anak-anak ghaib ini sudah seperti ibu asuh. Dia kemudian berkata lagi.


"Ah... Sebentar lagi juga ibu asuhnya datang itu!" imbuh Rachel sambil melirik ke arah pintu masuk kamarnya.


Satu detik dua detik hingga lima detik berjalan. Pintu kamar itu terbuka. Menampakkan seorang gadis belanda bersurai putih. Dia adalah Melissa datang sambil membawa beberapa bungkusan di tangannya.


"Nah kan!" ujar Rachel lagi lalu meneguk kembali segelas susu di tangannya.


Rara tersenyum melihat keberadaan Melissa di sana. Barend yang duduk di samping Rachel sumringah. Apa yang dibawa Melissa biasanya ada juga untuknya. Melissa sudah seperti kakaknya.


Dua sosok ghaib di belakang Melissa. Yaitu Gelanda dan hantu Melissa nampak datang terbang ke arahnya. Kedua hantu Netherland itu menghampiri Barend.


Albert di atas lemari tentu saja tidak tinggal diam. Dia pun juga ikut menghampiri kawanannya.


"Kamu tanyakan saja pada Melissa! Apa yang sedang dia bawa itu!" ujar hantu Melissa.


Barend mengangguk dia lalu menoleh ke arah Melissa. Dia menatapnya, di sana Melissa tersenyum padanya. Lalu Melissa mengangkat bungkusan belanjaannya memamerkan itu pada Barend di sana.


"Hei bocah kecil, ini untukmu! Ada Milk juga roti Perfettjess!" ucap Melissa bahagia.


Barend dan Albert tersenyum senang padanya. Mereka berdua lalu menghampiri Melissa. Melissa mengeluarkan Milk kesukaan mereka. Itu adalah ultramilk full cream. Itu adalah kesukaannya mereka.


Marsya di sana juga ikut andil. Mereka berjalan di pojokan sambil membawa Milk dan Perfettjess. Sesampainya di sana mereka pun mulai mediasi.


Barend dan Albert masuk ke dalam tubuh Marsya dan Melissa. Dengan lahap melalui tubuh Melissa dan Marsya mereka pun melahap Milk juga Perfettjess yang Melissa bawakan.


Sementara Melissa dan Marsya sibuk Mediasi. Rara ingat bahwa selama Rachel terbaring di sini. Thariq berulang kali menanyakan kabarnya.


Sempat Rara menyuruhnya untuk masuk dan melihat. Tapi, Thariq tidak mau. Katanya lancang bila seorang pemuda masuk dan menengok keadaan seorang gadis yang sendirian di kamarnya. Itu tentu saja membuat Rara tersenyum.

__ADS_1


Rara tau bahwa Thariq sangat menyukai Rachel. Sebelum dia berkata perihal Thariq. Rara tak sengaja melirik Bella. Di sana Bella tersenyum. Sepertinya Bella tau apa yang akan Rara katakan.


Belle mengacungkan jempol kanannya tanpa sepengetahuan Rachel. Mungkin itu adalah lampu hijau untuk Rara agar mengatakannya segera pada Rachel.


"Hel!" panggil Rara padanya.


Rachel lalu menoleh ke samping ke arah Rara.


"Ya, Ra?" tanya Rachel padanya.


Sambil menyendokkan lagi bubur yang masih ada. Rara pun berkata,


"Thariq, selama kamu berbaring di sini! Dia nyariin kamu terus. Udah kayak wartawan aja kan dia!" ujar Rara lalu menyuapi Rachel kembali.


Rachel manggut-manggut saja sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya.


"Ya, terus? Wajarlah, kita ini kan teman! Kalau satu hilang dari kita pasti bakalan gak enak dan sepi!" jelas Rachel pada Rara.


Itu sekali lagi membuat Bella dan Rara saling pandang. Rachel benar-benar manusia yang tidak peka. Apakah hatinya itu terbuat dari batu? Sampai merasakan tiap perlakuan Thariq yang tak biasa untuknya dia tidak bisa membedakan?


"Kamu bener-bener gak ngerasa aneh ya?" tanya Rara lagi padanya.


"Aneh kenapa?" tanya Rachel lagi padanya.


Bella membuang kasar nafasnya. Sama aja rupanya antara Cak Dika dan Rachel. Hatinya ituloh, hati yang gak peka banget.


Gatal sekali rasanya tangan Bella saat ini. Ingin sekali rasanya dia menoyor kepala Rachel saat ini dan berkata.


Thariq itu suka sama kamu!


Tapi nyatanya itu bukanlah hal yang mudah.


"Kayaknya manusia itu punya Chemistry sama kamu! Dia suka kamu kayaknya!" ujar Laras yang sejak tadi diam dan duduk di sudut ruangan itu.


Pernyataan itu tentu saja membuat Rachel refleks terbatuk. Akibatnya Rara langsung memberikan minum padanya. Sementara Bella dia menepuk-nepuk punggungnya.


"Kenapa bisa gitu?" ujar Rachel tak percaya sambil menatap Laras di sana.

__ADS_1


"Jelas, kan hel? Ayolah, sekali aja rasain itu. Perlakuan Thariq ke kita dan kamu itu beda!" jelas Laras pada Rachel.


Rara dan Bella tersenyum mendengar itu. Ya, sepertinya hari ini Rachel sedikit mendapat tamparan kecil dari Laras untuk menjadi gadis yang peka.


__ADS_2