
Kali ini kita akan melipir sebentar ke tengah pulau Jawa. Sebuah kota berinisial T langitnya di sana nampak mendung.
Seorang pemuda bertubuh kekar mengendarai sepeda motornya. Niat dalam hatinya untuk pulang ke rumah sebab langitnya sudah mulai gelap.
Mungkin tak beberapa lama lagi guyuran air dari atas langit akan turun menerpa kota T. Sepeda motornya sudah cukup tua. Astrea tahun lama namun masih baik fungsinya.
Jalanan menuju ke arah rumahnya melewati persawahan. Rumah-rumah berdiri di samping-samping jalan hanya saja jaraknya cukup jauh antara rumah satu dan rumah lainnya.
Pemuda ini bernama Andri. Dia berprofesi sebagai seorang tukang cat. Pekerjaannya adalah mengecat kayu. Cat pintu rumah, cat jendela rumah dan dinding-dinding bangunan.
Dia melakoni pekerjaan itu sudah cukup lama. Itu juga terhitung keahliannya. Sudah banyak sekali tugas yang dibebankan padanya dan dia lakukan dengan cukup baik.
Ketika dia fokus berkendara. Dari arah samping nampak dua sejoli muda berboncengan. Sejoli itu melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi.
Sejoli itu atas motornya menyalip Andri yang berkendara secara santai. Hingga tak beberapa lama dari perkebunan bagian kanan jalan itu. Seekor kucing berwarna hitam menyebrang jalan.
Sebab terlalu tinggi kecepatan motornya maka tidak sempat bagi kedua sejoli itu menghentikan laju motornya.
Kucing itu terlindas ban motornya. Hingga kucing itu mati tepat di sana dengan kepala yang hancur. Beberapa jarak setelah menabrak kucing itu. Kedua sejoli itu berhenti.
Nampak gadis yang dibonceng oleh pemuda itu berbisik-bisik kecil kepada pemuda di depannya. Sepertinya mereka adalah sepasang kekasih.
Gadis itu menepuk-nepuk punggung pemudanya sambil menoleh ke arah satu kucing yang mati itu. Dia menunjuk dan terus berucap entah apa yang dikatakan olehnya.
Namun bukannya turun justru pemuda itu menghidupkan kembali mesin motornya lalu pergi dari sana.
Andri nampak beristighfar melihat kelakuan dari kedua anak muda itu. Lantas ketika motornya sudah dekat dengan jasad kucing itu maka Andri pun berhenti.
Antri mematikan motornya lalu berjalan mendekati kucing mati itu. Itu adalah jalanan pedesaan. Lebih dominan area sawah dan kebun ketimbang pemukiman warga.
Jarang ada orang lewat di sana. Andri tidak memiliki kain untuk membungkus kucing mati itu. Namun dia memiliki inisiatif melepaskan bajunya. Dan hanya tinggallah dia memakai pakaian dalam saja.
Andri membungkus kucing itu dengan bajunya lalu membawa jasad kucing itu bersamanya. Darah dari kepala kucing yang pecah menetes-netes sepanjang jalan.
Hingga ketika dia berjalan cukup lama. Dia menemukan sebuah perkebunan singkong dan pisang. Di sana tidak ada orang. Perkebunan itu sepi.
__ADS_1
Andri kembali menghentikan motornya. Dia menghampirinya perkebunan itu. Nampak ada beberapa potong bambu yang tergeletak di sana. Andri mengambil itu lalu menggali tanah sebagai makam untuk kucing dibawanya.
Beberapa menit Andri menggali maka jadilah makam itu. Dimasukkannya kucing itu ke dalam sana lalu dia menimbunnya lagi. Setelah itu dia pun berkata,
"Maaf ya, pus! Saya cuma bisa bantu segini saja!" ujarnya lalu pergi dari sana.
Ketika dia kembali menaiki motor. Guyuran air dari langit turun perlahan. Masih belum deras tapi Andri yakin jika dia menerjang dan tidak berhenti mungkin hujan akan menerpanya.
Maka sambil berjalan Andri mencari rumah-rumah yang sekirannya bisa menjadi tempatnya berteduh.
Ketika dia menemukan rumah pertama pagarnya tidak terbuka dan rumahnya tertutup rapat. Lalu rumah kedua juga sama posisinya.
Ketiga dia menemukan rumah ketiga. Pagar rumah itu sedikit terbuka. Memungkinkan dirinya untuk masuk ke dalam.
Andri memarkirkan motornya di depan pagar itu lalu dia masuk ke teras rumah itu. Rumahnya cukup besar juga mewah. Di sana di berdiri seorang diri sambil menatap hujan yang langsung lebat.
Samar-samar dari jendela sebelah kiri tempat Andri berdiri. Dia mendengar beberapa aktivitas di dalam sana. Dia tau bahwa di sana ada orang lain. Maka Andri pun berkata,
"Permisi Bapak atau Ibu yang di dalam sana! Saya ijin meneduh di sini nggeh! Hujannya lebat, saya tidak bisa pulang!" ujar Andie sopan.
"Oh Monggo mas! Barangkali mau masuk silahkan!" ujar lelaki tua di dalam sana.
Beberapa detik setelah ucapan itu. Maka pintu rumah yang tertutup itu terbuka. Andri menoleh kebelakang. Pintunya tidak terbuka sempurna. Hanya sedikit saja terbukanya. Tak lama terdengar lagi suara dari dalam rumah itu,
"Masuk Mas!" ucap suara seorang lelaki di dalam rumah itu.
Maka tanpa ragu Andri pun masuk ke dalam. Di sana dia menemukan seorang lelaki tua duduk di atas kursi rodanya. Lelaki itu memakai baju kokoh putih dengan sarung.
Sarungnya cukup panjang hingga tidak menampakkan kakinya. Lelaki tua itu lantas tersenyum kepada Andri.
"Masnya dari mana?" tanya Lelaki tua itu pada Andri.
"Saya dari pulang kerja Pak!" jawab Andri sopan.
"Oh Alhamdulillah, Mas! Kalau boleh tau masnya kerja apa?" tanya Lelaki tua itu lagi pada Andri.
__ADS_1
"Saya tukang cat pak! Biasa cat jendela, pintu, dinding. Mengecat kayu Pak!" jawab Andri pada lelaki tua itu.
"Oh kebetulan Mas, cat di rumah ini cukup cukup usang sudah jelek semuanya. Barangkali Masnya mau mengecat jendela-jendela yang sudah jelek itu saya bantuan mas! Saya mau pintu depan dan belakang dicat ulang. Kayu tangga juga dicat ulang. Kalau boleh tau habisnya berapa nanti Mas bilang saja!" ujar lelaki tua itu pada Andri.
"Alhamdulillah Pak, terima kasih! Kalau begitu saya hitung dulu pak sambil lihat keadaan jendela dan pintu yang ingin dicat boleh?" tanya Andri pada Lelaki Tua itu.
"Boleh Mas, Monggo!" ujar lelaki tua itu.
"Kalau boleh tau nama bapak siapa nggeh, biar saya enak panggil jenengan?" tanya Andri pada lelaki tua itu.
"Saya Joko Mas! Monggo dihitung dulu nanti kembali lagi ke saya. Biar saya siapkan upahnya!" ujar Pak Joko.
Andri pun mengangguk. Dia mulai berkeliling melihat tempat yang ingin dicat ulang. Di sana dia juga menghitung biaya pengeluaran yang harus dikeluarkan untuk merenovasi.
Setelah cukup lama berkeliling sambil menghitung maka Andri pun balik lagi ke Pak Joko. Di membicarakan nominal untuk renovasi itu.
"Boleh Mas, Masnya bisa bekerja besok! Tapi, mohon maaf sebelumnya. Saya tidak bisa menyiapkan minuman atau jamuan. Tapi saya akan memberikan uang makan setiap harinya perorang seratus ribu. Uang makan dan kunci, beserta uang bahan akan saya taruh di pot depan ya mas! Silahkan ambil! Saya jarang ada di rumah. Jadi silahkan mas langsung masuk saja kemari untuk bekerja!" ujar Pak Joko pada Andri.
Andri menganggukkan kepalanya mengerti. Setelah persetujuan itu hujan di luar pun mereda.
"Hujannya sudah reda, Pak! Saya pamit pulang dulu nggeh!" ucap Andri.
Ketika dia berdiri dan hendak mendekati Pak Joko untuk mencium tangannya lalu pergi. Pak Joko menahannya dengan sebuah isyarat tangan.
"Tidak perlu seperti itu Mas, tidak perlu terlalu formal! Ya sudah, jenengan Monggo pulanglah dulu. Mumpung hujannya sudah berhenti! Oh enggeh, ini uang bahan ya Mas! Ini juga ada yang DP untuk Mas! Selamat bekerja nggeh!" ucap Pak Joko meletakkan lembaran uang di atas meja kecil.
"Kalau begitu saya mau istirahat dulu!" ucap Pak Joko lalu pergi meninggalkan Andri di sana.
Andri mengambil lembaran uang itu. Kemudian ketika dia menatap lorong sungguh dia terkejut melihat pak Joko yang sudah tidak ada di sana.
Anehnya jika memang lelaki tua itu masuk ke kamar. Seharusnya dia mendengar suara pintu terbuka.
Namun Andri tidak ingin mengambil pusing. Dia pun segera pergi dari sana. Andri menyalakan mesin motornya lalu tak sengaja dia menoleh ke arah teras rumah Pak Joko lagi.
Di sana dia melihat seorang dua orang anak kecil menatapnya. Andri yang terkejut pun langsung beristigfar.
__ADS_1
Dia kemudian tersenyum ke arah anak kecil itu lalu mengucapkan salam dan pergi.