Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 152: Sumur yang dikeramatkan


__ADS_3

Pada area persawahan terdapat sebuah sumur yang cukup tua. Itu dijaga oleh seorang lelaki tua bernama Pak Pardi.


Pak Pardi ini mengatakan bahwa sejak dia kecil sumur itu sudah berdiri di situ bangunannya.


Pagarnya yang berkarat serta rerumputan yang itu menandakan bahwa sumur yang berada di sana sudah cukup tua.


Ada satu tragedi yang membuat penjaga sumur ini cukup was-was. Semalam dia mendengar satu suara anak kecil yang berteriak parah sumur itu.


Malam sudah cukup larut kira-kira sekitar pukul 01.00 malam. Malam itu adalah hari Jumat hari di mana seharusnya Pak Pardi menebarkan bunga-bunga 7 rupa.


Ya, itu adalah ritual khusus dilakukan di sana setiap Jumat. Konon katanya sumur itu pernah dilihat berapa rombongan indigo.


Rombongan itu hanya mampu melihat saja tetapi dia tidak mampu berkomunikasi. Pernah ada salah satu diantara mereka yang mengatakan pada Pak pardi saat itu.


"Bapak tahu ini sumur bekas apa?" tanya seorang anak indigo pada Pak Pardi.


Kak anak indigo itu masih menatap lekat ke arah sumur tua itu. Mereka berdua berdiri cukup jauh namun masih nampak sumur itu.


Pak Pardi yang ditanya seperti itu jelas aja hanya mampu tersenyum kecut. Bukankah dia adalah penjaga sumur ini sejak dulu?


Namun Pak Pardi tidak mengatakan apa-apa dia hanya beda anak indigo ini,


"Memangnya ada apa di sumur itu nak?" tanya Pak Pardi pada anak indigo itu.


"Pak begini, di sini saya melihat ada banyak sekali perempuan cantik yang mengelilingi sumur ini!" jelas anak indigo itu.


penjelasan itu jelas aja Pak Pardi tertawa. Dia sudah tahu semuanya yang ada di sumur itu.


"Lalu saya juga melihat satu pergantian yang terjadi ketika malam menjelang maka sumur ini tidak hanya dihuni oleh wanita-wanita cantik tetapi para Genderuwo juga ikut berkerubung di sana!" jelas anak indigo itu pada Pak Pardi.


Pak Pardi hanya mampu menganggukkan kepalanya. Sungguh apa yang dikatakan oleh anak indigo itu benar adanya. Sumur itu memang banyak sekali penghuninya.


"Tentu saja apa yang kamu katakan itu pasti benar dan tidak berbohong, Nak!" jelas Pak Pardi pada anak indigo itu.


"Kalau Bapak sudah tahu, berarti Bapak memang sangat berani menjaga sumur ini! Padahal wajah-wajah mereka sangat-sangat mengerikan!" jelas anak indigo itu lagi.


Pak Pardi terkekeh ketika mendengar jawaban dari anak indigo itu. Memang rasanya sudah menjadi makanannya setiap hari melihat hal-hal mistis di sekitar sumur itu.

__ADS_1


Terkadang ada di antara mereka yang ikut pulang bersama dengan Pak Pardi. Lalu dengan ajian Jawa Pak Pardi mengusir mereka.


"tidak salah ini sudah cukup lama saya menjaga sumur itu, Le! Tapi saya tidak menghitung. Mungkin uban saya ini bisa jadi saksinya. Saya di sini berdiri sudah cukup lama menjaganya!" ujar Pak Pardi menjelaskan.


Aura dari para Genderuwo itu berganti-ganti. Ada yang gelap ada yang tidak. Anak indigo itu jelas merasakannya.


Lalu dia cukup terkejut ketika mendengar salah satu dari Genderuwo itu bicara. Suaranya hanya mampu anak indigo ini dengar. Salah satu Genderuwo itu berkata,


"Darah!"


Mendengar itu kemudian anak indigo itu berkata pada Pak Pardi.


"Bapak sudah terikat dengan sumur ini! Jangan sampai ritual tiap Jumat itu tidak terlaksana sehari pun. Jika bapak tidak mampu berangkat, maka minta tolonglah pada orang lain untuk menebar kembang tujuh rupa itu! Ritual itu tidak boleh terputus! Atau nanti akan datang petaka yang sangat seram!" pesan anak indigo itu.


Sungguh pesan itu benar adanya. Malam itu Pak Pardi berhalangan datang menebar bunga. Ternyata ada satu kejadian yang menimpa salah satu anak tetangganya.


Anak itu dikabarkan hilang setelah mengejar layangan yang putus. Kata temannya, anak itu terakhir kali mengarah ke sumur ini.


"Bagaimana ini? Di mana anakku?" tanya seorang ibu meracau.


Saat ini sumur ini sedang ramai dikunjungi para petugas desa. Mereka berbondong-bondong kemari mencari keberadaan Alfi yang hilang secara misterius.


"Iya Pak, tapi apa nanti anak kita bakalan ketemu hidup atau mati?" tanya Ibu itu lagi meluapkan sedihnya kehilangan pada suaminya.


Saat itu Pak Pardi benar-benar menyesal. Petugas desa lalu datang ke arahnya. Mereka menanyakan beberapa hal pada Pak Pardi.


"Bapak penjaga sumur ini kan?" tanya Petugas itu pada Pak Pardi.


"Ya, Pak saya memang menjaga sumur ini!" jawab Pak Pardi pada petugas itu.


"Kalau begitu, apa bapak tau atau melihat seorang anak kecil berkeliaran di sini?" tanya petugas itu pada Pak Pardi.


Pak Pardi yang masih menyesal itu pun menggeleng. Sungguh dia betul tidak tau di mana anak itu berada.


Salah seorang petugas desa yang masih muda kemudian membisikkan sesuatu pada petugas yang paling tua. Mereka nampak berunding satu sama lain.


Ketika selesai berunding. Petugas desa yang masih muda itu pun mendekati Pak Pardi. Dengan tangan kanannya dia menepuk bahu Pak Pardi yang masih menyesal itu.

__ADS_1


"Sing tenang Pak, masih ada jalan kok!" ujar anak muda itu menenangkan.


Pak Pardi mendongak menatap petugas muda itu yang lebih tinggi darinya.


"Gimana, Le?" tanya Pak Pardi padanya.


"Bapak semalam apakah ada sesuatu rutin yang tidak dilakukan di sini?" tanya petugas muda itu pada Pak Pardi.


"Ya, Le!" jawab Pak Pardi jujur.


Petugas itu kemudian mengangguk.


"Kalau begitu ini ulah mereka barang halus Pak! Insyaallah anak itu baik-baik saja. Saya Haikal, saya bisa lihat mereka yang ada di area sumur ini! Sumur ini sudah berdiri cukup lama di sini. Tapi saya tidak bisa membantu bapak! Makhluk semacam ini kelasnya rendah pak. Tapi, mungkin teman saya bisa membantu! Mereka pawang ghaib yang cukup terkenal belakangan ini! Saya akan coba panggil mereka!" ucap Haikal menjelaskan.


Sorot mata Haikal sungguh sangat meyakinkan. Itu lantas membuat Pak Pardi percaya bahwa Haikal mampu melakukan satu hal untuk membantu anak yang hilang itu ketemu.


"Sudah sekarang bubarkan saja mereka!" ucap Haikal berbalik menatap ke arah petugas yang paling tua. Menyuruhnya untuk membubarkan para warga yang berkumpul di sana.


"Bagaimana dengan anakku?" tanya Sang Ibu yang kehilangan anaknya pada Haikal.


Haikal menghampiri ibu itu lalu menepuk bahunya.


"Ibu yang tenang, kami akan membantu! Sekarang ibu pulang dulu saja di rumah. Besok sore kami akan kabari. Kami akan ke rumah!" jelas Haikal.


Bak terhipnotis, ibu itu pun mengangguk. Para warga bubar dan area itu mulai tida padat lagi.


Di situlah Haikal mulai mengeluarkan ponselnya. Dia kemudian menghubungi seseorang.


"Hallo, Dika!" ucap Haikal menyapa orang di seberang sana.


"Opo?"


"Ada yang butuh bantuan, di kota J Yo! Cepat ke sini, nanti tak jelaskan kronologinya!"


"Oh oke, siap!"


Tuttttttt

__ADS_1


Panggilan itu pun ditutup. Baru saja Haikal menghubungi salah satu maskot Ghaib yang cukup fenomenal. Dia adalah Cak Dika, anggota tertua Gautama Family.


__ADS_2