Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 126: Setan Bangsat (Selesai)


__ADS_3

Gelap sekali sungguh. Tidak ada penerangan di sana. Kabut-kabut itu meminimkan jarak pandang Thariq dan Rachel.


Sejenak mereka mendongak melihat langit yang masih hitam di atas sana. Ada rerimbunan yang sedikit menutup langit itu.


"Sepertinya kita sedang di ajak masuk ke dalam hutan!" ujar Rachel pada Thariq di sampingnya.


Thariq memperhatikan sekitar. Meskipun jarak pandang mereka minim. Namun pepohonan besar masih terlihat walaupun samar.


Thariq mendekati salah satu pohon itu. Ah, dia tau. Ini adalah pepohonan jati. Sepertinya sudah bertahun-tahun usianya.


"Ini kebun jati!" ucap Thariq sambil menyentuh pohon itu.


Rachel mengangguk kemudian kedua matanya mencari-cari sumber muasal yang membawa mereka kemari.


Ketika matanya sibuk mencari tahu sosok setan apa yang membawanya datang kemari. Dari atas sana terdengar suara cekikikan.


Rachel dan Thariq sontak saja menatap ke arah langit. Sesosok kuntilanak terbang antara pohon satu ke pohon yang lain.


Sosok kuntilanak itu awalnya hanya satu. Tapi tiba-tiba muncul lagi beberapa. Thariq dan Rachel tidak lari dari sana. Mereka dim sambil memperhatikan sosok itu.


"Kalian mau apa datang ke dalam dimensi kami? Wahai manusia!" ujar satu suara besar.


Suara itu bicara di antara suara cekikikan itu. Namun sosoknya tidak ada. Rachel sama sekali tidak menemukan keberadaan pemilik suara dari sosok itu.


"Aku tanya sekali lagi! Untuk apa kalian kemari?" tanya sosok besar itu lagi.


Rachel tersenyum kemudian. Kalung jimat turun temurun yang dia kenakan di leher mulai dia tunjukkan pada sosok itu.


Jimat itu! Jimat itu membuat pemilik suara besar itu pada akhirnya menampakkan dirinya. Dia hampir sama seperti genderuwo rupanya.


Namun bedanya yang ini ukurannya menyamai tinggi pohon jati. Mata merahnya itu menatap lekat ke arah jimat yang Rachel kenakan.


"Kau keturunan Gautama?" tanya Genderuwo itu padanya.


Rachel tidak menjawab itu. Dia hanya tersenyum sambil mengangguk.


"Apa yang kau inginkan sampai datang masuk kemari?" tanya Genderuwo itu lagi.


"Aku ingin mencari jawaban!" jawab Rachel padanya.


"Sebuah jawaban yang dari seseorang berna Tasya. Seingatku mereka yang mati dengan masalah yang belum selesai maka sebagian dari diri mereka akan berada di sini. Jadi, di mana dia? Apa kau ingin menunjukkannya padaku?" tanya Rachel menjelaskan maksudnya datang kemari.


Genderuwo itu mengaung. Auman itu sontak saja membuat para kuntilanak yang tadinya tertawa lantang diam.


Kali ini bak dihadapkan pasukan. Seluruh kuntilanak itu diam menatap ke arah Rachel. Cukup mengerikan rasanya.


"Hel!" panggil Thariq pada Rachel yang diam dan masih menatap mereka.


"Kenapa kita gak cari sendiri aja?" tanya Thariq lagi.


Sejujurnya Thariq takut sekali dengan posisi ini. Kawanan ghaib itu seperti akan menerkam mereka saja rasanya.


"Kamu tenang aja, Riq! Ndak akan bisa dia nyentuh kita! Coba lihat di belakang kita sekarang!" ucap Rachel menoleh ke samping menatap lekat ke arah Thariq.


Melihat kesungguhan di kedua mata Rachel. Thariq pun mengalihkan netranya ke belakang.


"Huh!" pekik Thariq ketika melihat sebuah kereta kencana dengan kuda putih berada di belakang mereka.


Berdiri di atas kereta kencana itu sosok Nyai Ratu dengan pusakanya. Dengan beberapa pasukan maung miliknya. Lalu pasukan berwujud manusia dengan baju pasukan kerajaannya.


"Aku perintahkan kamu untuk membuka jalan pada Anakku ini!" perintah Nyai Ratu pada sosok Genderuwo itu.


Genderuwo itu diam kemudian perlahan sosok besar itu memudar seakan dihisap oleh rimbunnya dedaunan pohon jati.


Ketika sosok itu hilang. Meninggalkan langit petang yang masih menjadi latar langit. Angin tidak berhembus di sini. Suasana di dimensi sebelah sangatlah sunyi.

__ADS_1


Rachel menyipitkan matanya melihat ke depan. Ada satu cahaya di sana kecil sekali yang tidak sengaja tertangkap matanya.


Melihat itu Rachel pun menarik tangan Thariq untuk mengikutinya.


"Hel... ada apa?" tanya Thariq sembari masih berjalan berdampingan bersama Rachel.


Dari pepohonan besar itu masih bertengger sosok aneh yang ada di atas pohon. Mulai dari pocong, kuntilanak, juga anak setan lain dengan wajah yang tak utuh.


Bahkan ada satu sosok bocah yang sejak tadi mengikuti mereka sembari membawa sepotong tangannya yang putus.


Dia seorang gadis. Sampai ketika cahaya kecil yang Rachel lihat hilang. Dan di sinilah dia. Di hadapan rimbunnya rerumputan.


"Dia di sini!" ujar Rachel.


"Huh!" pekik Thariq tak percaya.


"Dia di sini! Ayo ke sana!" ucap Rachel membuka rimbunnya rerumputan yang tingginya setinggi dada mereka.


Ketika rerumputan disibak. Terbukalah jalan bagi mereka untuk tetap melangkah. Lagi... Lagi dan lagi mereka terus datang tanpa rasa takut.


Ketika rerumputan tinggi itu mulai habis. Nampak di sana seorang wanita menatap mereka dingin.


Wajah itu mengingatkan mereka pada wajah seseorang yang terbaring mati sebelum mereka datang kemari.


Rachel tersenyum. Ya, inilah Tasya. Separuh dari dirinya yang masih belum selesai di dunia masih berada di sini.


"Kamu pasti terjebak!" tebak Rachel padanya.


Sosok Tasya itu masih diam. Dia masih menatap dingin ke arah Thariq juga Rachel yang saat ini masih berada di hadapannya. Wajah itu pucat sekali putih khas orang mati.


"Kenapa kalian membawanya?" tanya Tasya pada mereka setelah lama diam.


Rachel tersenyum mendengar itu.


Tasya masih mempertahankan wajah itu. Wajah yang sama sekali tidak menunjukkan keramahan.


"Sebenarnya apa yang membuatmu membenci bapakmu sendiri?" tanya Rachel padanya.


Di sana lalu kedua bola mata yang tadi fokus menatap Rachel kini menatap penuh ke arah Thariq.


"Kamu membawa salah satu penjelajah Ghaib yang pas! Maka aku akan memberi tahu kalian!" ucap Tasya pada mereka.


Suasana hutan jati itu seketika mulai memudar. Berganti dengan cahaya yang entah datang dari mana.


Sekarang mereka masuk tepat di satu kejadian. Di sana mereka melihat bapak tua itu sewaktu masih muda.


Kehidupannya begitu jaya dan dia memilik dua orang putra dan satu anak gadis.


"Gadis kecil itu adalah aku! Dan dua orang putra itu adalah saudaraku!" ujar Tasya menatap kembali memori kehidupannya.


Baik Rachel dan Thariq setia mendengarkan apa yang Tasya katakan. Uneg-uneg manusia yang sudah mati.


Kemudian adegan berpindah di masa jatuhnya bapak itu. Di mana di sana diperlihatkan Tasya, Bapak itu, Ibunya, juga dua orang putra bapak itu tinggal bersama di dalam satu rumah kecil.


Awalnya kebahagiaan ada di sana. Namun semakin hari frustasi semakin melahap kewarasan dari bapak itu.


Dia brutal memukuli anak-anaknya. Mengucapkan kalimat-kalimat kasar. Sang Ibu hanya bisa diam menahan sakit tak mampu melawan.


Sebab prinsip ibunya adalah. Suami adalah raja. Sebab seperti itu tak ada yang mau melawan. Bapak itu merasa menjadi Raja.


Adegan kembali berganti di mana Bapak itu kehilangan kedua putranya. Akibatnya hanya tinggal Tasya saja anaknya.


Tasya adalah anak terakhir di keluarga itu. Kehilangan tidak merubah bapak itu. Dia tidak bekerja.


Dia hidup dengan kedua putranya. Lalu saat kedua putranya mati. Tasya lah yang saat itu di gembleng menjadi seorang tulang punggung.

__ADS_1


Hari demi hari Tasya banting tulang ke sana kemari. Sedang sang bapak dan ibu hanya berdiam di rumah dengan uang milik Tasya.


Sampai hal yang paling membuat Tasya benci adalah ketika menemukan bapaknya itu berada di salah satu warung seorang janda. Sedangkan pada waktu itu ibunya sedang sakit keras.


Dengan penuh amarah Tasya menarik bapak itu. Dia membawa bapak itu masuk ke dalam rumahnya. Di sana mereka bertengkar hebat. Saling mengungkit apa yang sudah sama-sama mereka berikan.


Setelah pertengkaran itu usai. Dua Minggu setelahnya Ibunda Tasya tiada. Raut wajah kesedihan itu ada jelas dalam diri bapak itu.


Tapi Tasya yang terlanjur berburuk sangka pada bapak itu pun hanya menganggap itu sebagai pencitraan.


Hari itu Tasya meninggalkan bapak itu sendiri. Orang itu dibiarkan di sana sendirian. Rumah itu adalah hasil kerja kerasnya Tasya. Sebuah rumah sederhana.


Kesepian melanda bapak itu. Hingga adegan berganti saat Tasya kembali ke rumah itu. Dia berbicara pada bapaknya bahwa dia akan menikah. Tapi bapaknya tidak mengijinkan dia pergi lagi.


Tasya murka saat itu. Hatinya yang dongkol membuatnya menjadi sosok yang kejam. Kembali dia mengungkit apa yang sudah dia berikan.


Rumah itu Tasya yang membeli. Tapi dulu sebelum hatinya dongkol rumah itu dibeli sebagai kado untuk bapak dan ibunya.


Rumah itu atas nama bapaknya. Sebab kebencian yang membara. Hari itu rumah di jual dan bapak itu di pindah ke panti jompo hingga mati terbakar di sana.


"Jadi kalian sudah mengerti kan? Kenapa aku sangat membencinya? Itu karena dia ketika Ibundaku sakit! Dia tidak ada bersamanya!" ucap Tasya.


Dia terisak di sana.


"Kenapa kamu tidak menanyakan pada bapak itu? Apa yang dia perbuat di dalam warung itu?" tanya Rachel padanya.


Tasya diam lalu dia kembali menatap Rachel.


"Tidak ada yang perlu dijelaskan. Semua sudah jelas!" jawab Tasya.


"Kau bahagia Tasya di sini?" tanya Rachel padanya.


"Hihihi..." pertanyaan itu mengundang satu suara tertawa dari balik punggung Tasya.


Thariq terkejut melihat itu. Namun tidak dengan Rachel.


"Dia bangga sekali menjerumuskan kamu Tasya!" ujar Rachel pada Tasya.


Kedua matanya menatap lekat sosok setan di balik punggung Tasya. Mendengar itu Tasya pun menoleh. Dalam sekejap dia pun ketakutan.


"Siapa dia?!" pekik Tasya.


Sosok setan itu berwujud wanita. Dengan kedua bola mata merahnya. Wajahnya rusak separuh. Tangan kanannya busuk menghitam penuh dengan luka.


"Dia yang mempengaruhi pikiranmu selama ini! Kamu lemah iman Tasya. Bapakmu itu tidak membencimu meskipun kamu berburuk sangka padanya! Maka izinkan dia kemari dan selesaikanlah masalah kalian!" ujar Rachel menasehati.


Sosok setan bermata merah itu terus mendekati Tasya. Dia berusaha menyentuh Tasya namun masih tak mampu. Sekarang tergantung pada Tasya


"Baiklah! Aku mau bertemu bapak!" ucap Tasya pada Rachel.


Ketika Rachel tersenyum di belakangnya tepat muncullah sosok kakek tua itu. Dia adalah bapaknya Tasya. Di sana dia menatap Tasya sendu.


Keduanya sama-sama menyesal perihal sifat mereka semasa hidup. Bapaknya yang terlalu keras pada anak-anaknya. Dan Tasya yang berburuk sangka pada bapaknya.


Momen hari itu berakhir ketika kedua sosok itu perlahan mulai hilang. Di sana Rachel tersenyum. Pada akhirnya masalah ini usai.


Ketika Rachel dan Thariq akan kembali. Barend CS muncul di hadapan mereka. Anak-anak kecil itu menarik tangan Rachel dan Thariq. Menuntun mereka keluar dari zona dimensi alam mereka.


Ketika mereka berhasil keluar. Di sana mereka berdua menceritakan semuanya.


Mayat Tasya yang tadinya berwajah datar sekarang nampak tersenyum tipis. Raut wajah itu sudah tidak suram lagi.


Kevin mengucapkan banyak terima kasih pada Gautama Family. Sebab sudah beberapa kali para perias berlarian tak sanggup mengurus jenazah Tasya.


Tapi di tangan Ibundanya Rachel. Mayat itu berhasil diurus. Komisi jelas Kevin berikan untuk mereka.

__ADS_1


__ADS_2