Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 49: Taman Safari Setan


__ADS_3

Mereka sampai di rumah Buyut Gautama malam, sekitar magrib. Cak Dika berhenti sejenak melihat ke arah satu rumah besar tiga tingkat di sana. Ya, itulah rumahnya buyut. Dan hanya ada penerangan lampu kuning.


Sungguh random sungguh. Rumah itu terletak di sebuah desa. Di mana tiap rumah ke rumah jaraknya cukup jauh. Dan ada jalanan poros yang kiri kanannya adalah perkebunan teh.


Rara tertegun melihat satu rumah di sana. Rumah itu berdiri seorang diri di sana. Tidak bertangga.


Penerangannya temaram menggunakan lampu dengan Watt rendah, cahayanya berwarna kuning. Rumahnya mungkin besar.


Hanya saja, nampak horor rasanya. Aura di dalam rumah itu juga sangat kuat.


"Rumah setan?" tanya Rara lirih.


Ucapan itu didengar oleh Rachel dan Marsya di belakangnya. Keduanya tersenyum miring kemudian maju mendekati Rara. Mereka menepuk pelan bahunya Rara.


"Hah?" lirih Rara sambil menoleh ke samping kiri dan kanan tubuhnya. Di mana di sana ada Rachel dan Marsya saat ini yang sedang menatap penuh ke arah rumah tua besar itu.


"Kamu lihat apa di sini?" tanya Rachel pada Rara tanpa melepas tatapannya pada rumah tua milik buyutnya.


"Aku lihat ada banyak sekali koleksi arwah di sini! Kayak taman safari sungguh!" ujar Rara jujur


Cak Dika, Bella, Marsya, Laras dan Rachel tertawa mendengar jawaban itu. Rara memang sangatlah jujur. Rumah ini dalam penglihatan mereka seperti Bank Setan.


Mulai dari hantu tanpa kepala. Sosok pendeta Belanda jaman dulu ada di sini. Semua ini, yang menangkap dan mengajak pulang adalah Ibundanya Rachel dan Marsya.


Orang tua itu saat ini sama sekali belum terlihat. Dan ketika Rachel dan Marsya bertanya kenapa Ibundanya senang sekali membawa makhluk astral pulang ke rumah. Ibundanya selalu saja menjawab.


"Rumah kita ini sepi! Kita cuma tinggal bertiga di sini, aku bawa mereka biar rame rumah kita!" itulah jawaban yang selalu Ibundanya Rachel dan Marsya katakan.


Ketika Rachel dan Marsya melangkah maju. Suara pintu dibuka membuat keduanya diam dan mengurungkan niatnya.


Seorang wanita paruh baya keluar dari dalam sana. Itu adalah Ibundanya mereka. Senyum sumringah jelas terpampang dalam wajah Ibundanya.


Cak Dika juga tersenyum melihat kehadiran Budenya itu. Ketika Rachel dan Marsya akan menghampirinya. Ibundanya itu mengangkat salah satu tangannya. Melarang mereka untuk mendekat.


"Nyapo toh, Buk? Aku Karo adek kangen Karo sampean ikiloh!" ujar Rachel pada Ibundanya.


(Kenapa sih, Buk? Aku sama Adek kangen sama Ibuk iniloh!)


Mendengar hal itu Ibundanya Rachel dan Marsya pun mengambil kendi kecil di atas meja kecil di halaman rumahnya. Sambil membawa itu, Ibundanya itu lalu berjalan ke arah mereka.

__ADS_1


Ketika sudah sampai tepat di depan Rachel dan Marsya. Tanpa segan, Kendi kecil itu diayunkan ke arah mereka.


Air segar dalam kendi itu menerpa wajah Rachel dan Marsya malam ini. Sumpah, itu wangi dan dingin. Kelakuan Ibundanya ini memang sangatlah random.


Cak Dika dan yang lain hanya mampu melongo saja tidak mampu berkata-kata lagi rasanya. Mereka tidak tau sebab alasan apakah Ibundanya Rachel sampai melakukan ini pada kedua anaknya.


"Mas, orang ini kenapa sih?" tanya Deni bingung sambil berbisik kecil pada Rahman di sampingnya.


Hal itu membuat Rahman mengangkat kedua bahunya dan berkata,


"Entahlah, keluarganya Cak Dika memang rata-rata seram!" ujar Rahman sambil tetap memperhatikan keduanya.


Hal itu tentu saja didengar oleh Bella di sampingnya. Dia pun berseringai setelah mendengar itu.


"Jangan salah, kami ini gak aneh! Cuma kami memang istimewa!" ucap Bella padanya.


Rahman dan Deni tersenyum lalu diam. Kita lihat Rachel sekarang yang menatap Ibundanya tanpa ekspresi. Rachel yang sudah sangat letih itupun langsung menggandeng tangan Marsya.


Mereka mendekati Ibundanya lalu berdiri tepat di hadapannya. Sejenak Rachel menghela nafas panjang ketika melihat Ibundanya yang menatapnya seperti orang asing.


"Aku anakmu, buk! Kita manusia, kita pulang sebab perintahnya Simbah!" ucap Rachel pada Ibundanya.


Ketika sudah cukup yakin bahwa mereka adalah manusia. Ibundanya itupun memeluknya.


"Ya Allah, anakku! Lama kalian gak pulang. Gimana, touring lancar kan?" tanya Ibunda mereka sambil mengusap-usap punggung anaknya.


Rachel dan Marsya mengangguk mendengar itu. Lalu mereka melepas pelukan itu. Cak Dika maju bersama rombongannya. Di sana dia memberi salam dan hormat.


Setelah melakukan itu, berulah ibundanya Rachel dan Marsya mempersilahkan mereka untuk masuk. Mereka duduk di ruang tamu. Suguhan kecil-kecilan datang ikut serta menemani percakapan mereka.


Perencana perihal gunung penanggungan. Cak Dika merencanakan untuk berangkat ke sana besok. Siang jam sebelas.


Tidak ada penolakan sama sekali untuk itu. Artinya malam ini atau besok pagi mereka harus sudah prepare. Sebab pendakian itu bukanlah hal yang dilakukan secara mendadak.


Pendakian perlu planning. Sebab di atas sana bukanlah perkotaan. Di atas sana adalah belantara. Mereka yang bertahan hidup di sana adalah pemenangnya.


Tapi ini bukanlah sebuah ajang kontes. Ini adalah kewajiban yang harus dijalankan oleh keluarga Gautama.


Sambil memakan masakan Ibundanya Rachel dan Marsya. Cak dika menatap ke arah Ibundanya Rachel kali ini.

__ADS_1


" Apa Le? Mau nambah nasi lagi kah kamu?" tanya Ibundanya Rachel pada Cak Dika.


Ketika Cak Dika mengangguk dan akan menyodorkan piringnya. Rara pun menahannya.


"Loh, kenapa Dek Ra?" tanya Cak Dika sambil menoleh ke samping tepat ke arahnya Rara.


"Sadar Cak, kamu udah abis tiga porsi! Masih mau nambah lagi, kamu udah tua rawan kolesterol!" ucap Rara padanya.


"Cieee..." ucap Rahman dan Deni bersamaan. Suara godaan itu sontak saja memicu tawa saudaranya.


"Cie Cacak sama Rara!" ucap Den lagi pada mereka.


"Bentar lagi kawin nih!" ucap Aldo menimpali.


Mereka terdiam ketika Cak Dika menoleh ke arah mereka. Tatapan itu membunuh sekali. Nyali mereka ciut seketika.


"Yaudah dek, aku gak nambah! Makasih loh, udah diingatkan!" ucap Cak Dika padanya lalu membiarkan piring miliknya yang dipegang oleh Rara. Tetap digenggam oleh tangannya Rara.


"Jadi.." ucap Cak Dika lagi lalu menyeruput segelas wedang uwuh miliknya sebelum bicara. Ketika gelas kembali diletakkan. Cak Dika kembali menatap Ibunda Rachel dan Marsya secara serius.


"Bude, aku mau ajak anak-anak naik gunung besok jam sebelah siang!" ucap Cak Dika padanya.


Ibunda Rachel dan Marsya mengangguk mendengar itu. Dia nampak senang dan tidak ada raut wajah penolakan.Tapj, jika dipikir berapa kali pun.


Wajahnya ibundanya Rachel dan Marsya ini memang selalu senang.


"Yaudah, Le! Itu perintah dari Simbah toh? Turuti aja, Le!" ucap Ibundanya Rachel dan Marsya.


"Wah makasih, Bude! Yaudah mending sekarang kita istirahat aja dulu nggih bude!" ucap Cak Dika.


"Silahkan, Le!" ucap Ibundanya Rachel dan Marsya.


Acara makan malam dan kumpul malam itu selesai. Mereka masuk ke dalam kamar yang disediakan masing-masing lalu mulai terlelap.


Mereka terpejam untuk menuju hari esok. Hari di mana kaki mereka akan berpihak di atas dataran tinggi kembali.


Gunung penanggungan atau Pawitra ini adalah tujuan mereka besok. Sebelum tidur, keris-keris itu sudah dikumpulkan oleh Cak Dika.


Besok dia tinggal berangkat saja. Pawitra di sana selalu menjadi tempat untuk Cak Dika memandikan keris.

__ADS_1


_________


__ADS_2