Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 119: Sebuah Permintaan (Perjanjian)


__ADS_3

Di tengah hujan yang menderas. Aldo masih berlari tak peduli air itu menerpa tubuhnya. Jikalau angin malam itu berhembus kencang sama seperti hujannya mungkin Aldo akan terkena hipotermia.


Namun tetap saja dalam kepalanya hanya ada Laras. Dia tidak ingin Laras sampai terluka. Sekelebat satu ingatan muncul dalam kepalanya.


Itu perihal tragedi Rachel dan Thariq. Sungguh memiliki kemampuan ghaib seperti ini rupanya ada banyak resiko yang harus didapat.


Di lain sisi Laras di sana terengah-engah. Dadanya sakit sekali. Makhluk di sana terlalu kuat. Rasanya kemampuannya tidak sebanding dengan mereka.


Lima genderuwo di atasnya itu tersenyum senang. Darah segar masih mengucur deras dari dalam hidung Laras. Kedua mata yang terpejam itu terbuka.


Dari kecil pandangannya selalu buram. Dia tidak bisa melihat apapun. Namun Laras merasakan apapun. Keberadaan para setan itu masih di sini.


Demi menyelamatkan Joko bocah kecil yang malang itu. Mantra kejawen yang dia pakai itu ada timbal baliknya. Jikalau sang pemakai kalah maka mereka para penghuni ghaib akan mengambil alih tubuh Laras.


"Hahahahahahah..." tawa beberapa genderuwo di sana.


Ini perlawanan yang tidak adil. Namun mantra itu konsekuensinya tetap berlaku.


"Ya Allah..." lirih Laras mencoba mengatur nafasnya namun tak mampu.


Sebab dadanya rasanya seperti dihantam dibekap. Ketika Laras mengarahkan kepalanya ke atas. Dia melihat satu orang manusia.


Apakah ini keajaiban? Apakah aku akan mati? Kenapa wajah Simbahku ada di sini?. Ujar Laras dari dalam hatinya.


Simbah Gautama tersenyum padanya. Dengan pakaian serba putihnya dia berdiri di hadapan Laras. Di sana Simbah mengulurkan kedua tangannya pada Laras.


"Anakku!" panggil Simbah Gautama padanya.


Namun mendengar itu Laras hanya diam. Dia tidak mampu mengatakan apapun saat ini. Lelah sungguh! Kemampuan ini menguras banyak tenaga.


Tapi tak sopan rasanya bagi Laras jika tidak menjawab panggilan itu. Lantas dia pun menyunggingkan senyumnya pada Simbahnya.

__ADS_1


"Simbah..." lirih Laras lemah.


"Aku sudah melakukan apa yang mampu aku lakukan! Simbah, ini batasanku! Aku tidak mampu melawan mereka lagi! Susah payah aku menahan mereka tidak keluar dari dalam mall ini. Supaya Aldo di sana bisa membakar sumber masalahnya. Simbah, apakah aku akan mati?" tanya Laras kini menangis.


Simbah Gautama tersenyum mendengar itu. Dia menangkup wajah Laras. Tanpa sepatah katapun sosok itu berbalik menatap ke arah langit-langit mall.


"Anakku bukan mainan yang bisa kalian mainkan seperti ini! Jika kalian ingin menantangnya atau beradu ilmu dengannya. Lawan kalian adalah aku!" ucap Simbah Gautama pada mereka.


Gengster setan di atas itu lantas menatap tajam ke arah Simbah Gautama. Mereka sudah tau pasti resiko yang akan terjadi pada Laras jika menggunakan mantra itu.


"Mantra itu punya resiko! Dengan dia membaca mantra itu maka dia sudah menciptakan satu arena. Dia bisa menggantikan bocah itu yang akan mati di sini!" ucap satu suara besar dari salah satu Genderuwo.


"Hahahaha..." tawa Simbah Gautama menanggapi apa yang dikatakan oleh para Genderuwo untuknya.


"Bagaimana jika barter atas itu adalah perjanjian Baru yang akan kubuat untuk kalian?" ujar Simbah Gautama melanjutkan perkataannya.


Sejenak para gengster genderuwo itu terdiam. Penampakan para suster yang dahulu pernah ikut serta merawat korban peperangan mulai bermunculan.


"Apa maksudmu wahai Kakek Tua?" tanya suara besar itu lagi.


Simbah Gautama menggerakkan tangannya. Lalu ketika dia membuka telapak tangannya. Muncul satu cincin di atas telapak tangan itu.


Cincin itu mirip sekali dengan jimat yang dikenakan oleh Cak Dika, Bella, Marsya dan Laras. Ini adalah jimat turun temurun keluarganya.


Lantas ketika jimat itu berada dalam telapak tangan Simbahnya. Laras memperhatikan jari jemarinya. Tangannya yang tadi mengenakan cincin itu. Sekarang cincin itu tak lagi ada di sana. Cincin itu hilang.


Dan sudah dapat dipastikan bahwa cincin yang berada di atas telapak tangan Simbahnya adalah miliknya.


"Ini!" ucap Simbah Gautama sambil menunjukkan cincin yang ada di atas telapak tangannya.


Para Gengster Genderuwo itu lantas menunduk. Mereka memberi hormat pada cincin itu. Apa yang ada di dalam cincin itu adalah sesuatu yang lebih kuat dari mereka.

__ADS_1


Dia yang bersemayam di sana adalah sesuatu yang hidup ratusan tahun lebih tua daripada mereka.


"Aku paham kalian muak atas apa yang manusia katakan! Sejarah kadang meleset seiring berkembangnya zaman. Aku tau kalian ingin kebenaran yang sesungguhnya! Tapi pola pikir manusia itu tidak bisa dirubah. Sejarah yang hanya setengah diterapkan akan terus begitu. Percuma, kita tidak bisa meluruskan itu! Saat ini, setelah aku memberikan cincin ini di atas tanah ini. Maka, tidak ada manusia yang datang dengan keinginan keji. Meminta kekayaan mengandalkan kalian!" jelas Simbah Gautama pada mereka.


Benar, sejarah yang hanyalah setengah membuat mereka muak. Terkadang ada beberapa orang yang datang kemari sebab satu isu palsu.


Mereka berdatangan menguji nyali ketika mall tutup. Mereka bahkan ditantang ini itu. Dan ketika ilmu mereka kalah oleh manusia maka manusia akan berusaha menjadikan mereka bonekanya.


Lalu satu perjanjian perihal kekayaan mulai diajukan. Sungguh buta para manusia untuk materi dan kekayaan mereka segan melakukan apapun walaupun itu sesat dan menyesatkan.


"Untuk itu! Maka Laras..." ucap Simbah Gautama berhenti lalu menoleh ke belakang.


"Anakku, kamu akan kehilangan kemampuanmu! Kemampuan ini memiliki banyak resiko. Tapi sebab Laras sudah banyak membantu orang. Kurasa sudah cukup sekarang saatnya bagi kamu Laras merelakan kemampuan ini pergi! Hiduplah bahagia setelah ini, wahai anakku Laras Gautama!" ujar Simbah Gautama menjelaskan perihal resiko jika jimat itu ditanam di atas tanah mall ini.


Sejenak Laras dan Simbah Gautama saling bertatapan. Laras paham apa arti dari tatapan itu. Simbahnya meminta jawaban darinya.


Tanpa banyak berpikir lagi. Laras pun juga sudah cukup lelah atas segala hal ghaib yang berulang kali datang padanya. Sungguh memiliki kemampuan semacam ini sangat melelahkan.


Lagi pula dia dan Aldo datang kemari adalah untuk membeli sepasang cincin. Mereka sudah memikirkan perihal masa depan. Hasil dari keputusan itu adalah sepasang cincin itu.


"Ya Simbah, aku ikhlas melepaskan kemampuan ini! Biarlah itu pergi! Aku akan melanjutkan kisahku sebagai manusia yang normal. Bukan sebagai pawang ghaib lagi!" jawab Laras mantap.


Simbah Gautama tersenyum menanggapi itu. Kemudian tangannya kembali menggenggam cincin itu. Dalam sekejap pandangan Laras mulai mengabur lagi.


Dia tidak lagi melihat Simbahnya. Gengster Genderuwo dan para setan suster itu hilang lenyap meninggalkan buram yang akan selalu menjadi apa yang akan dia lihat.


Pusing, sungguh! Namun ada sepasang tangan yang menyanggah tubuhnya yang hampir jatuh pingsan. Aldo, ya dia adalah Aldo. Sepasang kekasih itu kemudian saling pandang. Dan di sana Laras pun tersenyum.


"Al..." lirih Laras dalam dekapan Aldo sambil memejamkan kedua matanya.


"Ya?" tanya Aldo padanya.

__ADS_1


"Al... Sepertinya hari-hari tenang kita sebentar lagi tiba!" jawab Laras padanya.


__ADS_2