
Malam itu Cak Dika diceritakan segala keanehan yang terjadi sejak pertama kali mereka tinggal di dalam rumah ini.
Memang bangunan rumah ini cukup kuno. Ketika semua bangunan Belanda di area Jakarta ini mengikuti trend. Hanya bangunan ini saja yang tetap mempertahankan bangunannya dan gayanya.
"Jadi sebenarnya ada apa dalam rumah kami ini, Tuan?" tanya Tuan Colline kepada Cak Dika yang masih duduk sambil menikmati jamuan.
Cak Dika memperhatikan sau persatu wajah dari anggota keluarga Colline. Kemudian pandangan Cak Dika tertuju kepada seorang bocah lelaki yang duduk di pangkuan ibunya.
Cak Dika tersenyum ke arah bocah itu. Kemudian dia pun berkata,
"Nak, jadi apa yang kamu temukan di dalam lemari itu?" tanya Cak Dika pada anak kecil itu.
Anak kecil itu adalah Albian. Albian menatap Cak Dika datar. Dia tau apa yang Cak Dika maksudkan.
"Aku menemukan benda yang bagus!" jawab Albian pada Cak Dika.
Cak Dika menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Kemudian dia kembali berucap,
"Oh ya? Bisakah aku lihat benda apa yang kamu temukan itu?" tanya Cak Dika padanya.
Albian mengarahkan tangannya ke atas. Dia mencoba memberitahu Cak Dika bahwa barang itu saat ini ada di kamarnya.
__ADS_1
"Aku meletakkan barang itu di atas!" jawab Albian lagi.
Marsya tersenyum kecil mendengar itu. Dia kemudian berdiri.
"Kalau begitu mari kita ambil barang itu bersama!" ujar Marsya pada Albian.
Marsya mengulurkan tangannya pada Albian. Namun Albian hanya menatap uluran tangan itu. Kemudian kedua sorot matanya menatap samping kanan Marsya.
Tepat di samping kanan Marsya, Albian bisa melihat. Barend yang berdiri sambil menatapnya tanpa ekspresi.
Melihat manusia di depannya bisa menatapnya. Barend pun tersenyum kecil padanya.
"Kamu tidak perlu takut padanya! Mereka yang berada di sini ada untuk menolongmu dan keluargamu!" ujar Barend memberitahu Albian.
Jawaban itu membuat Ibunya Albian terkejut begitu pun dengan Tuan Colline. Beberapa saudaranya juga terkejut. Albian seperti sedang berbicara sendiri.
"Jangan khawatir Tuan dan Nyonya Colline! Albian sama istimewanya seperti kami. Dia memiliki mata penjelajah alam arwah. Kami memiliki teman Belanda. Dia sedang berbicara dengan Albian saat ini!" jelas Rachel pada Nyonya Colline.
Tuan dan Nyonya Colline pun mengangguk. Albian kemudian berdiri menyambut uluran tangan Marsya.
"Kamu juga ikutlah bersamaku Melissa!" ujar Marsya.
__ADS_1
Melissa yang sejak tadi duduk pun berdiri. Dia menemani Marsya dan Albian menuju lantai atas. Mereka berjalan menaiki tangga-tangga rumah itu.
Hingga tibalah mereka di kamar Albian dan Lorensa. Ketika mereka akan sampai di sana mereka melihat satu bocah perempuan yang berdiri diam.
"Albian!" panggil bocah perempuan itu tanpa menoleh sedikitpun pada Albian.
Bocah itu berdiri di ambang pintu. Wajahnya mengarah ke arah kamar Albian. Dia memanggil nama Albian berulang kali tanpa mengalihkan pandangannya.
Albian menunjuk ke arah sosok itu. Sosok dengan baju putih. Baik Marsya dan Melissa menatap sosok itu biasa saja. Sebab sudah sering bagi mereka menatap penampakan semacam itu.
"Albian, ibu tidak suka kamu membawa mereka kemari! Ibu jahatku itu, tidak akan membiarkan kamu tenang! Tapi aku juga tidak tenang. Albian, tolong cari tubuhku! Aku sedang terjebak di salah satu sudut rumah ini. Jasadku mati membusuk tanpa dikuburkan!" ujar sosok itu.
Perlahan ketika sosok itu menoleh tubuh kecilnya terbang melesat ke arah Albian. Tubuh astral itu masuk mendekap Albian hingga Albian pingsan.
"Cak... Cacak!!!" teriak Marsya memanggil Cak Dika di bawah.
Mendengar suara adiknya di atas baik Cak Dika beserta Gautama lainnya pergi ke atas. Ketika mereka pergi ke atas. Ditemukannya Albian yang tak sadarkan diri dengan busa dimulutnya.
Kedua mata Albian memutih. Suara nafasnya berat. Pemilik mata ghaib pasti akan melihat satu sosok yang bersemayam dalam diri Albian.
Sosok itu adalah sosok orang tua berbaju hitam. Dia sedang mendiami tubuhnya Albian saa ini. Di tengah kepanikan itu. Rachel mendengar satu suara. Suara itu berkata,
__ADS_1
"Temukan dia, gadis yang mati sesak di lemari!" ujar suara itu.