
Sudah sehari sejak kejadian itu. Cak Dika beserta saudaranya memutuskan untuk beristirahat sejenak. Banyak orang-orang yang datang ke rumah Cak Dika meminta bantuan. Pawang Ghaib satu ini siapa yang tidak mengenalnya.
Seluruh warga desa ini mengenal dengan baik perihal Cak Dika. Lika-liku keluarga Gautama mereka juga mengenalnya. Bak seorang aktris.
Keluarnya anggota Gautama dari dalam rumahnya sedang dinanti oleh sepuluh orang yang saat ini sedang berdiri tepat di depan pagar rumah Cak Dika.
Dari balik gorden kamarnya Bella melihat sejenak sepuluh orang itu. Mereka datang sejak shubuh tadi. Katanya, datangnya mereka kemari untuk meminta bantuan pada Cak Dika perkara ghaib.
"Mereka masih ada nih?" tanya Marsya yang duduk di pinggir ranjang Bella, sambil menyendok es krim yang dia bawa.
"Hu'um.." lirih Bella sambil menganggukkan kepalanya.
"Ada berapa orang sekarang?" tanya Marsya lagi pada Bella.
"Masih sama, ada sepuluh orang di sana!" jawab Bella lagi lalu menutup gordennya.
Bella kemudian menatap ke arah Marsya dan es krimnya. Tatapannya berubah datar ketika matanya melihat bungkus es krim yang sedang Marsya nikmati.
"Ya Allah, bisa-bisanya! Kamu ambil itu di mana?" tanya Bella pada Marsya.
Marsya menghentikan suapannya lalu menatap ke arah Bella di sana.
"Aku ambil ini di kulkas!" jawab Marsya polos.
"Ini punyaku! Sengaja kutaruh sana biar nanti malam bisa tak nikmati sambil lihat TV!" ujar Bella murka.
Marsya menelan sisa es krim terakhir yang ada di dalam mulutnya. Kemudian pelan-pelan dia meletakkan es krim itu di meja tepat pinggir ranjang Bella. Lalu dia tersenyum.
"Wah sepertinya kamu akan dibunuh!" ujar Barend yang sejak tadi juga ikut menikmati es krim itu di samping Marsya.
"Maaf ya, Bella! Aku tidak tau, nanti aku ganti! Dadah, Bella!" ujar Marsya berdiri lalu berlari meninggalkan Bella yang hampir naik pitam di sana.
Bella menaikkan satu alisnya mendengar itu. Lalu dia berjalan mendekati es krim yang Marsya taruh di atas mejanya.
Barend masih di sana. Bocah Belanda itu masih setia duduk di pinggir ranjang sambil menatap ke arah Es krim yang masih ada separuh.
Bocah itu sama sekali tidak mengalihkan netranya dari es krim itu. Dia hanya diam, sambil terus memandanginya.
Bella sesekali meliriknya. Kasihan juga rasanya melihat bocah ini begitu menginginkan es krim. Bella memang jarang sekali bicara pada setan Belanda yang ini.
"Kamu mau?" tanya Bella sambil menggenggam wadah es krim itu.
Barend mendongak menatap Bella di sana. Tidak biasanya Bella akan sebaik ini padanya. Dan tidak selalu, anggota keluarga Gautama ini mengikuti keinginannya.
"Apa aku tidak akan dimarahi olehmu jika kuambil ini?" tanya Barend polos.
__ADS_1
Bella tersenyum lalu menggeleng pelan. Tak lama di sisi kanan tubuhnya. Albert, selalu salah satu setan Belanda yan mengikutinya pun muncul.
"Hei, kamu beruntung sekali! Jarang bagi Bella, membagi makanannya dengan makhluk seperti kita. Bella itu pelit, sungguh!" ujar Albert pada Barend.
Ucapan itu membuat Bella sejenak menatapnya. Nun ketika dia menoleh ke arah Albert. Setan itu, menghilang cepat.
"Tidak apa, jika memang kamu mau. Kamu bisa mengambilnya, Barend!" ucap Bella lagi padanya.
Kemudian Bella meletakkan wadah es krim itu lagi di atas mejanya. Lalu dia berbalik dan meninggalkan Barend sendirian di kamar itu.
Bella berjalan menuruni anak tangga. Dia ingin pergi menemui Rachel dan Cak Dika yang sedang melaksanakan meditasi katanya.
Mereka berdua melakukan meditasi di belakang halaman rumahnya. Tenaga mereka berdualah yang paling terkuras kemarin. Lain lagi dengan yang lain.
Ketika Bella melewati ruang tamu. Terlihat di sana Aldo dan Laras duduk. Aldo sedang menyuapi Laras di sana.
Mereka sengaja ikut kemari untuk menghindar dari malapetaka dari neneknya Aldo, si Kuyang.
Katanya, mereka akan mencari pekerjaan sebagai seorang penyiar radio di sini. Sangking mesranya, keduanya bahkan tidak sadar bahwa saat ini Bella berhenti di ambang pintu sambil memperhatikannya.
"Hei!" sapa Bella sambil menatap keduanya.
Sontak Aldo langsung menghentikan aktivitasnya menyuapi Laras di sana. Setan Cakar di samping Laras seketika menghilang ketika Bella menyapa Laras di sana.
Mereka berdua pun menoleh ke arah Laras yang saat ini masih berdiri di ambang pintu sambil menatap mereka.
"Kita udah kaya' artis aja ini! Di luar ada banyak pasien Cak Dika sama Rachel tuh. Kata Cak Dika, kita gak boleh keluar dulu, itu kenapa?" tanya Laras pada Bella. Dia sedikit memainkan tongkat miliknya.
"Hmmm... Iya memang, soalnya nanti kalau kamu keluar. Kamu bakalan dipaksa sama mereka! Tau sendiri kan, hal-hal ghaib dokternya juga spesialis. Gak mungkin mereka ada problem supranatural datangnya ke dokter umum, kan? Cacak sama Rachel juga manusia! Biasanya meditasinya mereka seharian tuh! Besok mungkin udah bisa terima pasien!" jelas Bella berjalan mendekati keduanya lalu ikut duduk di sana.
Niatnya menghampiri Rachel dan Cak Dika urung. Dia lebih memilih menunggu mereka saja sekarang. Bella meraih remote televisinya, lalu menyalakan layar TV menggunakan itu.
Selagi matanya menatap ke arah televisi. Mereka juga saling berbincang perihal kemarin dan beberapa peristiwa ghaib.
Dari arah pintu utama. Suara langkah kaki berlari mulai terdengar, menghampiri mereka.
"Hei, Bel!" ucap Marsya menyapanya spontan dengan nada yang sedikit tinggi.
Mereka yang berada di ruang tamu sontak terkejut. Sumpah serepah mereka juga jelas saja keluar. Lalu mereka mengalihkan netra mereka ke arah Marsya di sana yang terkekeh. Dia tertawa melihat reaksi saudaranya itu.
"Koe Iki, isok ora ngomonge kalem ae?" ujar Bella padanya.
"Hahahaha... Iya sorry, habis kebiasaan di rumah suka gitu sama mbak!" ucap Marsya lagi menimpali.
"Ada apa?" tanya Bella padanya.
__ADS_1
Marsya kemudian berbalik ke belakang lalu melambaikan tangannya. Detik kemudian dua orang manusia masuk ke dalam. Itu adalah Deni dan Rahman, salah satu pasien yang masalahnya sudah diselesaikan oleh Cak Dika dan Rachel.
"Assalamualaikum mbak, mas!" ucap keduanya menyapa.
"Waalaikumsalam salam, mas! Gimana kabarnya, sehat?" tanya Aldo menjawab mereka berdua.
Kemudian Aldo berdiri menghampiri mereka. Lalu mempersilahkan mereka masuk. Deni dan Rahman pun masuk ke dalam. Lalu mereka duduk di sana.
Sejenak perbincangan mereka adalah tentang kemarin. Lalu perbincangan berpindah ketika Deni mengeluarkan laptopnya.
Di sana dia menjelaskan bahwa Cak Dika sempat mengobrol bersama mereka. Lalu membuat semacam Channel dan Banner.
"Ya jadi gitu mbak! Cak Dika bilang katanya biar mirip Jurnal Risa gitu. Terus katanya, yang jadi pembeda itu. Kalian jobnya dua, satu aktif menelusuri seluk beluknya tanah Jawa. Kedua, kalian juga menerima pasien! Kami di sini selaku manusia yang butuh pekerjaan mbak. Cacak bilang kita bisa direkut jadi editor ghaib!" jelas Deni.
Bella membuang kasar nafasnya. Cak Dika benar-benar gila.
"Loh, kesayanganku wis teko!" ujar Cak Dika dari arah belakang sambil merentangkan kedua tangannya.
Cak Dika menyapa mereka dengan pelukan. Baik Cak Deni dan Rahman membalas pelukan itu. Kemudian dari arah belakang terlihat Rachel datang. Sepertinya meditasi mereka sudah selesai sekarang.
"Gimana-gimana?" tanya Cak Dika lalu duduk di sofanya.
"Apane sing gimana Cak? Kamu buat beginian gak bilang-bilang ke kita?" tanya Bella murka pada Masnya.
"Loh, kan udah kesepakatan kita mau nolongin orang! Iya gak? Punya kemampuan, gunain untuk yang baik-baik, salah satunya ya ini!" ucap Cak Dika.
Rachel di sana hanya mampu menggelengkan kepalanya. Lalu tak lama, suara sang Nyai Ratu muncul berbisik pada Rachel.
"Terima saja, ini bukan sesuatu yang buruk nak!" ucap sosok Nyai Ratu.
"Tapi Nyai, itu juga terlalu beresiko bukan?" tanya Rachel lagi.
"Lama-lama kamu akan terbiasa nduk! Ada maung bukan, ada buyut, ada Abahmu juga. Kamu tenang saja, kita bakalan bantu kamu selama itu baik!" ucap Nyai Ratu lagi.
Rachel berpikir sejenak. Lalu dia menghela nafasnya. Sambil terus memperhatikan Cak Dika. Rachel membiarkan Nyai Ratu mengambil alih tubuhnya.
"Putuku, meluo Iki! Maung gae Iki kui apik tujuane! Dadi Ojo nolak nggeh, nduk!" ucap Nyai Ratu pada mereka.
Ketika Sang Maskot sudah berbicara. Mereka semua pun diam lalu berpikir sejenak. Tak lama mereka pun menyetujui apa Cak Dika rencanakan.
Dan dari sinilah, ekspedisi tanah Jawa akan dimulai. Segala bangunan mistis, tempat bersejarahnya. Bahkan juga konsultasi pasien perihal ghaib akan mereka datangi dan selesaikan.
__________
Halo-halo! Mohon maaf ya, kalo saya up nya jadi 1 bab perhari. Sebab kesibukan di real life benar-benar gabisa ditinggalkan atau dipending dulu.
__ADS_1
Tapi, tetap saya usahakan buat tetap up walau hanya satu bab. Nanti insyaallah kalau libur, saya triple kalau gak double up. Makasih ya, buat kalian yang udah baca ceritaku.
Cukup kalian komentari tiap babnya, itu udah jadi mood booster banget buat saya. Jempol dan komentar kalian itu dukungan terbaik buat seorang penulis. Makasih banyak, Happy reading! Dan semoga selalu suka!