Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 146: Bau Babi


__ADS_3

"Ah.. Hoam.." Thariq terus saja menguap di samping Rachel.


Keduanya saat Inis Edang bersembunyi di salah satu area. Letak para Gautama Family bersembunyi berjarak tidak jauh. Tiap persembunyian yang mereka tempati berisi dua orang saja.


Rachel yang bosan sejak tadi mendengarkan Thariq menguap pada akhirnya ikut jengkel juga. Kemudian dia melirik Thariq di sampingnya dengan tatapan kesalnya.


Thariq yang tau ditatap seperti itu hanya mampu diam sambil menatap Rachel dengan wajah jenakanya.


"Ada apa istriku? Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Thariq dengan pertanyaan jenakanya.


Rachel menaikkan salah satu alisnya.


"Istri?" tanya Rachel padanya.


Dengan polosnya wajah Thariq. Dia menganggukkan begitu saja kepalanya sendiri ketika Rachel melontarkan pertanyaan.


Rachel yang sempat kesal pun pada akhirnya memilih untuk diam dan tersenyum. Jenakanya Thariq membuatnya berbunga-bunga rasanya.


Brukkkk


Suara benda jatuh di area belakang rumah Pak Johan membuat Thariq, Rachel beserta Gautama lainnya membulatkan mata.


Mereka lalu bersamaan fokus menatap tepat ke arah satu rumah mewah milik Pak Johan. Begitu jenakanya pula si babi ngepet itu muncul tepat di depan pagar rumah Pak Johan.


Marsya mencengkram baju Bella yang saat ini sedang memandangi babi jelmaan itu melalui lensa kameranya.


Kamera ajaib itu pun mampu melihat bahwa babi itu ternyata benar seorang manusia. Begitu pula Pak Johan yang ikut bersembunyi bersama dengan Pak RT mereka memperhatikan dengan betul.


Bahwa kedua tangan babi itu serupa tangan manusia jarinya. Sedangkan kakinya pun begitu jari jemari manusia.


"Oh ngene toh, Pak? Babi ngepet iku!" bisik Pak RT pada Pak Johan yang berada di sampingnya.


(Oh gini, Pak! Babi ngepet itu!)

__ADS_1


Sumpah Demi Allah! Rasanya Pak Johan ingin pergi dan berlari dari samping Pak RT. Bukan sebab karena ketakutan akan jelmaan babi ngepet itu.


Tetapi, dia ingin kabur dan berlari dari bau mulut Pak RT yang rasanya seperti bau babi akibat selesai memakan jengkol.


Sontak Pak Johan pun hanya diam lalu menenggelamkan kepalanya di antara lengannya sendiri.


Terlihat di sana Cak Dika memberi aba-aba pada saudaranya yang lain. Aba-aba itu melalui mata saja juga gerak tangan.


Ketika jari jemari Cak Dika mulai menghitung dan membentuk angka tiga. Mereka sontak saja berlari menghampiri sosok Babi itu dengan cepat.


Cak Dika membawa satu senapan. Pelurunya adalah obat bius. Ketika babi itu melihat keberadaan kerumunan orang menghampirinya. Dia tidak tinggal diam.


Sang babi berlari tunggang langgang mencoba lari. Dengan cepat Cak Dika membidik babi itu lalu melepaskan pelurunya. Peluru bius itu masuk menembus kulit babi.


Beberapa detik Babi itu masih berlari. Hingga dia ambruk sendiri. Sedangkan di tempat ritualnya.


Istri dari jelmaan babi itu terheran melihat nyala api lilin yang berkobar ke sana kemari padahal tak ada angin masuk. Ruangan itu tertutup.


melihat Lilinnya yang tak lagi tenang itu. Sang istri pun teringat perihal satu hal. Bahwasanya apabila lilin yang ada di hadapannya nantinya berkobar-kobar tak karuan maka arti Sang penjelma sedang dalam masalah besar.


Seorang guru yang berbicara seperti itu pada mereka yang tak lain adalah seorang dukun. Petuah dari kakek tua itu sang istri pun segera meniup lilinnya.


"Wuhhhh!" begitulah sekirannya bunyinya ketika bibirnya meniup tepat ke arah lilin itu.


Ketika lilin itu tertiup. Ini di tempatnya Cak Dika. Babi ngepet itu pun perlahan mulai berubah wujudnya.


di tangan merambat sampai ke tubuhnya perlahan mulai berubah menjadi seorang manusia.


Melihat sang target sudah tertangkap Pak Johan dan Pak RT keluar dari tempat persembunyiannya.


Mereka berdua mulai berlari menghampiri Cak Dika dengan timnya. Mereka benar-benar tidak percaya rasanya mereka seperti syok melihat hal itu.


Rupanya dugaan mereka benar. Sosok penjelma ini adalah orang tua Nanda dan Nadin.

__ADS_1


"Ya Allah! Benar apa dugaan kami! Bapak ini ternyata dalang di balik semua masalah!" ujar Pak RT.


Cak Dika dan yang lain lalu menatap sejenak ke arah bapak dari Nanda dan Nadin. Kemudian Cak Dika ingat, dia takut apabila warga di sana tau maka akan main hakim sendiri. Manusia terkadang beringas tak karuan.


"Pak, ini masalahnya sudah saya selesaikan! Jadi, saya cuma mau minta satu hal saja dari bapak!" ujar Cak Dika dia berbalik menatap Pak Johan juga Pak RT.


"Apa yang ingin kamu minta, Nak?" tanya Pak RT pada Cak Dika.


Cak Dika lalu mengatupkan kedua tangannya. Di sana dia menatap lembut penuh dengan iba. Sambil di dalam kepalanya dia mengingat dengan baik kedua bocah kecil anak dari penjelma babi ngepet ini.


"Kalau bisa, hanya kita saja yang tau ini Pak! Sebab apabila warga tau perihal hal ini. Mungkin mereka akan main hakim sendiri!" ujar Cak Dika.


"Tapi warga berhak tau ini!" ucap Pak Johan tak terima.


Rachel yang sejak tadi mendengarkan pun maju di samping Cak Dika.


"Begini saja, kita bawa dulu bapak ini ke rumahnya! Kita bicarakan dengan baik. Memang selama ini kalian merugi. Tapi, mungkin jika kita berbicara dengan baik nanti. Lalu meminta tebusan pada mereka. Mereka akan mengerti. Setelah itu usir mereka dari sini! Tapi tutupi aibnya. Jika tidak nyawa mereka akan terancam amukan massal. Lalu jika jika mereka tiada. Maka bagaimana nasib Nanda dan Nadin?" jelas Rachel.


Ucapan itu sedikit mengingatkan Pak Johan kepada anak semata wayangnya yang masih kecil. Akibatnya hatinya pun iba.


Malam itu Sang Penjelma dibawa pulang ke rumahnya. Sesampainya di sana ketika Sang istri membuka pintu dia begitu terkejut melihat sang suami tertangkap.


Awalnya sempat terjadi percekcokan yang teramat brutal. Namun ketika Si Kembar Nanda dan Nadin keluar dari dalam kamar mereka.


Cak Dika kembali mengingatkan kepada suami istri penganut ilmu hitam itu untuk melihat anak mereka.


Bahwa selama ini harta yang mereka pakai untuk membesarkan anak tak berdosa itu adalah haram.


Harta itu sudah mendarah daging di dalam tubuh Si Kembar. Lantas manusia hidup hanya sesaat. Seharusnya bukan dosa yang mereka cari.


"Karena surga tidak dibayar dengan dosa! Surga uangnya adalah kebaikan. Untuk masuk ke sana maka kita harus menjadi manusia baik dan selalu senantiasa mentaati peraturan perintah Tuhan. Kita makhluk sementara! Semua punya durasinya masing-masing. Jadi jika kalian berkenan maka gantilah sedikit demi sedikit uang, harta yang sudah kalian curi selama ini!" ujar Cak Dika menjelaskan.


Dalam perkataan itu wibawa Cak Dika terpancar begitu jelas. Memukau Rara yang saat ini memperhatikannya.

__ADS_1


__ADS_2