
Tiga orang pemuda sedang berjalan menyusuri area Lawang Sewu. Konon katanya area ini terkenal dengan kemistisannya. Tiga orang itu adalah pengunjung pagi tadi.
Mereka datang kemari sebab rasa ingin tahu mereka perihal bangunan ini. Ketika mereka akan pulang balik menuju hotel. Ada satu benda milik mereka yang katanya tertinggal di sana.
Mereka datang dari kota orang. Kota yang jauh dari Jawa Tengah tentunya. Mereka pendatang dari Jember. Kemari untuk liburan.
Tiga orang itu bernama, Sandi, Siska, dan Leo. Ini sudah malam dan jam tepat menunjukkan pukul sembilan malam.
Seorang penjaga area itu memperingatkan mereka. Untuk segera kembali ketika adzan magrib berkumandang. Tapi karena benda milik Siska masih belum ketemu. Jadilah mereka masih menyusuri area itu sampai saat ini.
Lampu di sana sudah diredupkan. Memang ketika malam menjelang, pemadaman demi penghematan biaya listrik itu akan dilaksanakan.
Mereka berjalan menyusuri area itu hanya berbekal nyala lampu flash light ponsel mereka. Berjalan demi berjalan. Mereka menuju ke arah bawah tanah. Tempat di mana katanya di sana Siska kehilangan benda miliknya.
"Lagian, kamu juga gitu! Kenapa sih kok harus pakai jam rolex mahal? Dilepas lagi waktu itu! Hilang itu udah!" ujar Leo kesal pada Siska.
Leo berada di barisan paling depan. Memimpin dua Srikandi yaitu Siska dan Sandy. Terdengar, Siska yang berada di barisan tengah hanya mampu menghela nafas panjang.
Dia sadar bahwa dia terlalu teledor memang. Apa yang dikatakan oleh Leo itu benar. Dan Siska sama sekali tidak mampu mendebat itu. Dia menyesal lalu berkata,
"Ya, maaf! Aku juga gak tau bakalan jadi kayak gini, Yo!" ujar Siska menyesal pada Leo.
Sandy di belakang hanya tersenyum melihat keduanya yang sudah berdebat sejak tadi. Sandy lalu mengecek jam tangan miliknya.
"Ini udah malam banget, rek! Kamu mau sampai kapan di sini? Apa gak bisa kita cari itu besok aja?" tanya Sandy pada keduanya.
Leo di depan nampak berhenti setelah mendengar apa yang Sandy katakan. Leo berbalik kemudian. Di sana dia menatap Sandy dan tersenyum.
"Ya, Sis! Kamu tau kan besok masih ada waktu? Kenapa gak besok aja carinya, terangkan?" ujar Leo pada Siska.
Siska mengerutkan keningnya. Hatinya kesal rasanya. Barang itu adalah peninggalan Papanya. Papa Siska sudah tidak ada lima tahun lalu. Itu adalah satu-satunya kenangan milik Siska perihal papanya.
"Gak mau!" jawab Siska keras kepala dan ngotot.
"Besok aja dicarinya! Ini udah malam banget. Lagian, belum tentu juga di bawah sana jam itu masih ada!" ucap Leo padanya.
__ADS_1
"Gak peduli, aku harus lihat dulu! Kalau emang gak ada aku bakalan cari sampai ke tiap sisi Lawang Sewu!" ucap Siska keras kepala dan begitu berambisi.
Sandy yang mendengar itu hanya mampu membuang kasar nafasnya. Dia sudah cukup letih berjalan menyusuri area Lawang Sewu ini.
Seram hawanya semakin malam. Sandy berjalan ke arah tembok lalu bersandar sebentar di sana. Leo dan Siska masih berdebat.
Sandy lalu menengok ke arah satu pintu. Di situlah ruang bawah tanahnya Lawang Sewu. Entah mereka akan masuk atau tidak ini, masih belum tau.
"Kalian kalau gak mau nemenin aku! Pulang aja, aku gapapa kok sendirian cari barang itu! Lagian juga, kalian gak bakalan tau betapa pentingnya benda itu buat aku!" ucap Siska murka.
Sandy sudah tidak tahan lagi rasanya. Dia lalu mendekati Siska dan Leo lagi.
"Yaudah iya! Ayo masuk, ayo cari! Cepat balik ke hotel lagi. Aku udah ngantuk banget!" ucap Sandy pada keduanya.
Mendengar ucapan Sandy. Leo dan Siska pun menoleh. Nampak Siska tersenyum saat itu. Kali ini Siska lah yang memimpin perjalanan itu.
Mereka kembali berjalan mendekati pintu bawah tanah. Pintu itu nampak terbuat dari kayu. Dan ada bagian yang cukup lapuk.
"Bismillahirrahmanirrahim!" ucap Siska lalu membuka pintu itu.
Mereka masuk semakin dalam di antara sepinya lorong yang gelap itu. Sesekali, Leo memeluk tubuhnya sendiri sambil mengusap-usap tangannya. Di bawah ini dingin sekali.
"Kamu tadi jatuhinnya di mana?" tanya Leo pada Siska di depan.
Siska yang masih fokus hanya mampu menyipitkan matanya. Mencoba mempertajam penglihatannya di antara minimnya penerangan di bawah sana.
Ketika mereka masuk semakin jauh. Suara langkah kaki dari depan membuat mereka terhenti. Suara langkah kaki itu, dari kegelapan, yang berada tepat di depan mereka.
Debar jantung mereka tak beraturan rasanya ketika mendengar suara-suara orang berbincang-bincang. Tapi perbincangan itu tidak jelas artinya. Entah bahasa apa yang mereka pakai itu.
"Kamu dengar kan?" tanya Leo pada Sandy di belakangnya.
Sandy hanya mengangguk. Mereka mengarahkan nyala cahaya ponsel itu ke depan. Ke arah sumber suara yang semakin mendekat.
Tidak ada orang di sana. Jalur di lorong itu kosong. Tida ada siapapun di sana. Hanya suara, menggema tanpa wujud.
__ADS_1
Leo menarik sudut bibirnya. Dia benar-benar merinding kali ini. Lalu, dia menoleh ke belakang ke arahnya Sandy.
Matanya membulat ketika melihat beberapa orang besar dengan pakaian militer berdiri tepat di belakang Sandy.
"Heh kamu kenapa?" tanya Sandy pada Leo yang tercengang.
Tapi di sana, Leo hanya mampu menunjuk sambil membeku tak berdaya menatap itu. Siska sontak saja menoleh ke belakang. Dia juga sama membeku. Orang itu berpakaian seperti layaknya penjajah.
Orang itu besar dan tinggi. Dia menatap datar ke depan dengan raut wajah memucat. Tak lama bola mata orang itu, menatap ke arah Siska dan Leo.
Anjir, kenapa aku gak bisa bergerak gini! Aku gak bisa ngomong juga, Ya Allah!. Ucap Sandy dalam hatinya.
Benar-benar menakutkan. Tubuhnya membeku tak berdaya.
"Itu, itu, di belakang kamu!" ucap Leo sambil membulatkan matanya.
Siska juga sama, dia bergetar. Siska kemudian berucap, tapi sebelum dia berucap. Suara setan besar itu sambil merendahkan kepalanya dan melotot ke arah Leo dan Siska berkata,
"Pergi kalian Inlander!!!" teriak sosok besar itu.
Bulu kuduk Leo dan Siska meremang seketika. Mereka lari sekencang-kencangnya meninggalkan Sandy yang masih membeku di sana.
******!. Ucap Sandy dalam hatinya ketika melihat kedua temannya lari terbirit-birit meninggalkannya seorang diri di dalam lorong gelap itu.
Sandy berusaha berontak. Tapi tetap saja, area ini kemistisannya begitu kuat. Hingga hawa dingin seperti mengelilingi kakinya. Lalu menjalar ke atas, hingga ketika hawa dingin itu menyentuh kepalanya. Sandy kehilangan kesadarannya.
_________
Pagi itu, setelah kejadian semalam. Leo dan Siska kembali mencari keberadaan Sandy. Tetapi nyatanya Sandy tidak ada di tempat.
Mereka ketakutan setengah mati. Lalu melapor pada pihak penjaga. Di sana mereka berdua sempat ditegur. Tapi, pada akhirnya pihak penjaga memanggil keluarga cenayang yang sedang tersohor namanya.
Mereka memanggil Gautama Family untuk datang ke Lawang Sewu. Hal itu membuat Cak Dika, Rachel dan yang lain. Datang kemari secepatnya, setelah persetujuan dari Pak Rudi.
Ekspedisi tentang Lawang Sewu beserta sejarahnya. Akan dikuak, ketika keluarga Gautama ini memijakkan kaki di atas tanah Semarang. Tepatnya di bangunan bernama Lawang Sewu.
__ADS_1