Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 37: Diputarin dalam Dimensi Ghaib


__ADS_3

Saat itu dari tempat kerjanya. Rahman dan Deni berjalan menuju halte bus. Jarak antara kota dan desa memang cukup jauh. Kira-kira akan memakan waktu sekitar setengah jam perjalanan.


Bus itu akan mengantar mereka tepat di halte bus di dekat desa. Lalu dari sana biasanya Rahman dan Deni akan naik ojek atau becak untuk sampai ke rumah.


Jalanan masuk ke pedesaan mereka akan melewati jalanan setapak yang cukup untuk dua motor. Jalanan ini kiri kanannya adalah hutan jati. Lalu setelah melewati hutan jati kalian akan bertemu dengan persawahan.


Penerangannya minim sekali di sini. Jarak antara lampu tiang ke lampu tiang berikutnya cukup jauh. Konon, katanya di sini tiap malam menjelang dulu komplotan begal sering beraksi.


Korban begal banyak berjatuhan di sana. Dahulu kala bahkan disebutkan. Ada sekitar sepuluh orang mati di sana akibat begal.


Beruntungnya polisi cepat meringkus para pelaku itu. Saat ini, jalan poros penghubung ke desa itu sekarang dinyatakan aman.


Tidak ada rumah penduduk di sana. Hanya jalanan dan sawah. Biasanya tarif ojek yang mau lewat di sini cukup mahal.


Tapi bagi Deni dan Rahman tidak apa. Mereka sudah memperhitungkan segalanya dengan baik.


Sudah sekitar satu jam mereka berdiri di halte, menunggu bus datang. Beberapa menit yang lalu mereka sempat mampir ke masjid untuk melaksanakan sholat magrib.


Dulu ketika Bapak mereka masih hidup. Mereka sekeluarga tidak pernah sekalipun melaksanakan sholat. Mereka Islam, tapi hanya Islam KTP.


Rahman sesekali menghisap rokoknya sambil memperhatikan sepeda motor dan mobil yang berlalu lalang di depannya.


Semakin malam, kota akan semakin ramai. Berbeda jauh dengan desa yang semakin malam semakin sepi.


"Kok tumben busnya lama ya?" tanya Deni pada Rahman.


Baginya tidak biasanya bus mereka datang terlalu lama. Selepas adzan magrib setelah orang sholat tepatnya pukul 18:20 WIB bus itu pasti sudah berada di depan halte.


"Tunggu aja, mungkin macet atau apa di sana!" jawab Rahman.


Rahman menghisap putung rokok terakhir miliknya lalu membuangnya asal. Kemudian dia yang letih memilih duduk di bangku panjang yang ada di halte.


Semilir angin malam itu dingin. Tapi bagi mereka yang tinggalnya di area dataran tinggi seperti Deni dan Rahman sudah terbiasa.


Lalu dari arah kiri jalan nampak seorang wanita tua dengan dagangan yang dia pikul. Dia berjalan pelan ke arah halte bus. Wanita tua itu diam dan hanya menunduk.


Wanita itu duduk agak jauh dari tempatnya Rahman duduk. Dia diam di sana dengan tatapan sedihnya. Deni yang berdiri memperhatikan wanita tua itu. Bibirnya pecah, kulitnya pucat dan kantung matanya sangat ketara.


Deni lalu melihat bagian bawah wanita itu. Belum sempat dia melihat ke bawah. Bus yang mereka tunggu pun datang. Pintu bus itu terbuka, menampakkan seorang Kernet yang sudah berdiri di sana.


"Mari masuk... Mari masuk!" ucap Kernet itu dengan ramahnya.


Rahman dan Deni yang letih itu pun masuk ke dalam. Rupanya wanita tua itu juga sedang menunggu bus yang sama. Wanita itu ikut masuk ke dalam lalu duduk tepat di sebrang samping kursi Deni dan Rahman.


Saat ini, Rahman duduk di dekat kaca. Sedangkan Deni, dia duduk bersebelahan dengan wanita tua itu. Wanita tua itu duduk seorang diri di sana. Dagangannya diletakkan tepat di sisi kiri tubuhnya.


Deni memperhatikan dagangan wanita itu. Keranjang dari anyaman bambu ditutup dengan kain putih. Sesekali Deni memperhatikan Rahman di sampingnya.


"Mas!" panggil Deni padanya.


Rahman yang memejamkan matanya itupun hanya berdehem.


"Heh Mas, ibuk Iki loh rada aneh!" lirih Deni berbisik di samping telinga Rahman.


Rahman lalu membuka kedua matanya lalu menatap ke arah samping. Anehnya, wanita tua yang tadi duduk di sana sudah tidak ada lagi saat Rahman menoleh.

__ADS_1


"Mana ada ibuk-ibuk sih dek? Wong ora enek ngene loh!" ujar Rahman geram dia rasanya.


Deni terkejut melihat kursi di seberang kursinya kosong secara tiba-tiba. Deni yang panik lalu berdiri saat itu juga. Dia mencoba mencari-cari keberadaan wanita tua itu.


Di kursi depan tidak ada. Lalu di belakang juga tidak ada. Wanita tua itu tidak mungkin pergi secepat itu. Dan kalau memang dia turun, maka busnya akan berhenti.


Gak mungkin bukan kalau wanita itu cosplay jadi Spiderman. Lompat dari bus terus mengeluarkan jaring. Ini bukan Avengers. Ini dunia nyata bukan negeri dongeng.


Banyak pertanyaan juga keganjalan ada dalam hati Deni. Kembali matanya dengan jeli memeriksa satu persatu kursi berulang-ulang. Tapi nyatanya wanita tua itu tidak ada di dalam bus itu. Deni lalu kembali duduk, dia syok sungguh.


"Kenapa kamu kok pucat gitu mukanya?" tanya Rahman sambil memperhatikan wajah adiknya.


Detak jantung Deni berdegup kencang. Keringat dingin mulai mengucur menghiasi dahinya.


"Gapapa, aku mungkin kebelet pup ini! Wis aku ke toilet dulu, Mas!" jawab Deni lalu kembali berdiri dan pergi meninggalkan Rahman sendirian di sana.


Rahman hanya menatap kepergian Deni dari sana. Tubuh itu terus menjauh dari tempat duduknya.


Rahman yang sudah cukup lelah memilih untuk tidur saja. Lagi pula, nanti Deni juga bakalan kembali. Lagi pula, nanti ketika tujuan mereka sampai Deni juga akan membangunkannya.


Tidurlah, Rahman saat itu. Penumpang di dalam sana hanya ada enam orang. Lalu Deni yang saat ini masih berada di dalam kamar mandi, totalnya ada tujuh orang.


Di dalam kamar mandi. Deni yang sedang khusyu' buang hajat. Tiba-tiba terkejut ketika orang di luar mengetuk-ngetuk pintu toilet dengan sangat keras.


Tentunya saat itu dirinya terganggu. Rasanya ingin menjambak manusia yang tidak sopan itu. Ditambah yang menggedor pintunya sama sekali tidak berbicara.


"Ada orang woi!" teriak Deni mencoba memberitahu orang itu.


Tapi ternyata orang di luar sana sama sekali tidak menggubris. Deni yang kesal akhirnya harus menjeda upacara keramatnya di dalam toilet.


Bukan sebab penampakan ada di depannya. Tetapi, rupanya tidak ada siapapun di sana. Lantas melihat hal itu Deni pun celingukan mencoba mencari siapakah yang tadi mengetuk pintunya.


Kalau memang itu tadi manusia, pastinya langkah kaki larinya bakalan kedengaran! Tapi, itu, sunyi, senyap!. Ujar Deni dalam hatinya.


Lalu dia memutuskan untuk kembali ke tempat duduknya.


Di sana dia melihat Rahman yang sudah terlelap. Itu hal yang biasa buatnya tiap pulang kerja Masnya itu pasti akan ketiduran selama perjalanan pulang.


Deni duduk di sana. Dia diam sejenak. Lalu netranya menoleh ke arah samping tepatnya ke arah jendela. Anehnya, biasanya pemandangan kota atau mobil akan dia lihat di sana.


Tapi ketika dia melihatnya jalanan itu hitam gelap sekali. Tidak ada mobil ataupun motor yang lewat. Deni lalu memeriksa ponselnya. Rupanya jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam.


Deni terkejut melihat itu. Bagaimana mungkin waktu bisa berjalan secepat itu? Padahal, belum ada satu jam dia berada di dalam kamar mandi.


Ketika Deni berdiri lalu melihat sekeliling. Para penumpang yang tadinya duduk. Mereka tiba-tiba juga ikut berdiri. Lampu bus perlahan mulai meredup pelan-pelan.


Bulu kuduk Deni meremang ketika melihat enam orang penumpang itu meringis. Bibirnya sobek sampai ke telinga. Gigi-gigi manusia itu perlahan berubah menjadi taring-taring panjang.


Deni ketakutan di sana. Dia terpaku tidak mampu berkata apapun. Lalu dia ingat apa kata Cak Dika. Kalau memang makhluk alam sebelah menampakkan dirinya. Selalu ingat nama Tuhan.


Ketika Deni terus beristighfar. Orang-orang yang berdiri itu mengatakan,


"Hihihihihi... Asik, ada santapan baru nih!" ujar enam orang penumpang yang sedang berdiri itu.


Bulu kuduk Deni meremang. Segera dia menampar-nampar wajah Rahman di sana agar segera bangun.

__ADS_1


"Heh, mas!!!" teriak Deni sambil masih menampar-nampar wajah Rahman.


"Opo toh dek?!" pekik Rahman murka lalu membuka kedua matanya lebar-lebar.


"Mas, iku! Iku.. Ikuloh!" ucap Deni kemudian berdiri lalu menunjuk ke arah beberapa penumpang.


Penumpang yang tadinya berdiri itu duduk. Lampu yang tadinya padam. Kembali menjadi terang ketika Rahman menengoknya.


Rahman berdiri kemudian. Dia melihat ke arah tempat yang Deni tunjuk. Tapi, ternyata tidak ada apapun di sana.


Rahman yang kesal pun langsung mengusap wajah Deni dengan telapak tangannya.


"Wis turuo! Bocah kok buat jantungan aja daritadi!" ujar Rahman kesal lalu dia kembali duduk.


"Sampean Iki, moto kucing kok! Wis mudun wae mas!" ucap Deni pada Rahman.


Ketika Deni bergegas pergi ke arah sopir. Seorang wanita dengan keranjang bambu berdiri tepat menghalangi jalannya.


Wanita itu berdiri agak jauh dari tempat duduk Deni. Lantas Deni terdiam melihat itu. Wanita itu membelakanginya. Rahman yang melihat adiknya terpaku diam pun juga ikut berdiri.


Seorang wanita tua dengan rambut terurai membelakangi mereka. Keranjang anyaman yang dia bawa diletakkan begitu saja di pinggir kursi kosong.


Lalu wanita tua itu menarik surainya ke kiri, mengumpulkannya di sana. Wanita tua itu memainkan rambutnya sendiri.


Tak beberapa lama, suara cekikikan mulai terdengar. Tubuh wanita itu perlahan berbalik ke arah Deni dan Rahman.


Ketika tubuh itu berbalik. Nampaklah wajahnya yang pucat dengan satu mata kanan yang masih utuh. Mata kiri wanita tua itu hancur. Darah-darahnya mengucur deras.


"Ya Allah!" ucap Rahman kemudian berpindah posisi di belakangnya Deni.


"Ya Allah... Ya Allah... Ya Allah.." ucap Rahman terus menerus sambil mencengkram kedua bahu Deni yang berada di depannya.


"Hihihihihi..." tawa wanita tua itu pada Deni dan Rahman.


Deni yang sudah tidak kuat itu seketika pingsan saat itu juga. Sedangkan Rahman dia kebingungan melihat saudaranya yang sudah tidak sadarkan diri.


"Mas, sopir, kernet! Tolong!" teriak Rahman.


Namun nihil, tidak ada jawaban dari mereka di depan. Mereka acuh seakan tidak mendengar apa yang Rahman teriakkan.


"Hihihihih..."


Wanita tua itu tertawa dan terus tertawa. Dia melayang menuju ke arah Rahman. Tubuh Rahman bergetar. Dia benar-benar ketakutan.


Lalu ketika sosok itu hampir mendekati Rahman. Dia berhenti di sana. Sosok itu tatapannya berubah benci pada Rahman di sana.


Tanpa sepengetahuannya Rahman. Salah satu Maung milik Cak Dika sengaja ditinggalkan untuk mengawasi Rahman beserta Deni.


Dan itulah nanti, yang akan menjadi penghubung antara Rahman dan Cak Dika yang saat ini sedang berada di rumahnya.


Cak Dika yang baru saja menunaikan sholat isya' pun terkejut. Salah satu khodamnya akan melakukan Battle Royal.


Bangkitlah Cak Dika kemudian dari duduknya. Lalu dia menuju ke ruang tamu. Di sana ada para saudaranya yang sedang asik bercengkrama satu sama lain.


"Ada masalah! Ayo pergi, Rahman dan Deni ditarik di alam sebelah. Bawa kameramu dek, ayo ikut semua. Kalau bukan kita yang nolong terus siapa lagi?" ujar Cak Dika kemudian memakai pecinya.

__ADS_1


Mendengar itu tak ada penolakan sama sekali dari mereka. Mereka semua mulai masuk ke dalam mobil dan Aldo adalah yang menyetirnya. Sesuai arahan dari Cak Dika. Mobil itu di arahkan ke arah kota.


__ADS_2