Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 29: Dari dalam Kain Kafan 1 (Pelaris)


__ADS_3

Malam itu tepat pukul dua belas malam. Di antara hujan deras dengan kilatan petir. Seorang lelaki memakai jas hujan berwarna hitam pekat datang sambil membawa sebuah cangkul yang ditenteng tepat di tangan kanannya.


Lelaki di antara guyuran hujan itu datang. Melangkah setapak demi setapak masuk ke dalam satu gerbang. Di atas gerbang itu bertuliskan beberapa kalimat. Kalimat itu adalah Pemakaman Jenazah.


Di sana gelap sekali. Tapi lelaki ini tetap berjalan. Raut wajahnya datar menatap ke depan, ke arah gelapnya pemakaman saat itu.


Tiba tepat di hadapan pemakaman. Pagar besi kecil itu pun dia buka. Lalu dia berjalan masuk ke dalam. Jika dilihat lagi tepat di belakang pria ini berdiri satu sosok seram dengan taring yang sangat panjang.


Di taring makhluk itu terlihat bercak darah. Sepertinya makhluk itu baru saja mendapatkan jamuan atau semacam mangsa.


Tibalah lelaki itu berhenti di hadapan satu batu nisan. Dan di sana mendadak saja lelaki itu jatuh bersimpuh. Lalu dia menoleh ke arah kanan dan kiri secara cepat seperti orang ling lung.


Berulang kali bahkan lelaki itu mengusap-usap wajahnya. Menatap tak percaya ke arah tempat dirinya pijaki.


Padahal dia ingat betul bahwa beberapa jam lalu dia sedang tidur dan berada di rumah. Tapi ini apa? Ke apa dia berada dalam kegelapan.


"Ak... Aku di mana?" tanyanya sambil melihat kiri kanan pemakaman.


"Kenapa aku bisa berada di sini?" tanyanya lagi lalu mencoba berdiri.


Namun rupanya kakinya itu sulit sekali membantu tubuhnya untuk berdiri. Pelan dia menatap tepat ke depan. Tepat di hadapan satu batu nisan yang langsung menyapa pengelihatannya. Itu adalah kuburan Bapaknya.


"Bapak, sebenarnya aku ini kenapa?" tanyanya lagi sambil melihat ke arah batu nisan di hadapannya.


Lelaki itu menangis di tengah pemakaman tepat tengah malam. Guyuran hujan itu dibiarkan menerpa tubuhnya.


Dingin memang, tapi siapa yang peduli itu? Dia sudah berusaha untuk pergi. Namun nyatanya dia tidak mampu menggerakkan tubuhnya.


Seakan tubuhnya punya kehendak sendiri dan dia adalah budaknya.


"Hahahahahaha..." satu suara gelap datang tepat menerpa gendang telinganya dari arah belakang.


Lelaki itu diam. Dia terpaku, dia takut, bahkan rasanya dia ingin sekali pingsan saat ini. Tapi entah mengapa kedua matanya itu tetap memaksanya untuk bangun dan melihat.


Perlahan dari dalam tanah tempat Bapaknya dimakamkan. Menyembul satu sosok hitam, muncul pelan-pelan.


Awalnya hanya hitam. Setelahnya muncul sepasang mata merah.

__ADS_1


Lalu terus muncul sampai memperlihatkan wujudnya. Lelaki itu terkejut dan dia berteriak. Namun teriakannya itu tidak bersuara.


Seperti halnya TV yang dimute secara tiba-tiba. Sambil terus berontak lelaki itu mencoba pergi namun nihil. Itu adalah upaya yang sia-sia buatnya.


Seperti sedang dibekap oleh sesuatu. Lantas saja, lelaki itu mencoba melirik ke arah belakang tubuhnya. Ditemukannya di sana sosok Bapak kandungnya.


Bapak kandungnya itu berdiri di sana sambil membekap mulut lelaki itu. Dia bungkam bisu dengan kulit pucatnya.


Bola mata itu kosong menatap ke depan tepat pada satu sosok hitam itu. Wajahnya nampak begitu sedih dan lelaki itu sama sekali tidak tau penyebab kesedihan bapaknya.


Ya Allah, tolong saya!. Ucap lelaki itu pasrah meminta perlindungan pada sang penguasa.


Lelaki itu hanya mampu menangis ketika kembali melihat ke depan. Di sana setan itu malah meringis menatapnya. Dia tertawa kencang sekali. Lengkingan suara tawa itu menusuk Indra pendengarannya.


Membuatnya ketakutan setengah mati. Bulu kuduknya meremang. Bukan hanya dingin saja yang menyiksanya saat ini.


"Ajian Bapakmu, kamu harus terus meneruskannya! Keluargamu itu, ada di bawah perintahku! Bapakmu itu, dia sudah kuberikan kekayaan melimpah. Jika kamu tidak mau jatuh miskin. Maka berikanlah aku tumbal tiap malam Jumat!" ucap sosok itu.


Dia berbicara keras sekali di antara guyuran hujan yang deras. Tubuh itu tidak basah sekalipun. Air seakan tidak mau menyentuhnya. Dia terkena air memang. Tapi tubuhnya itu tidak basah.


Dia berbicara memang pada lelaki ini. Tapi, mulutnya sama sekali tidak komat-kamit. Mulut itu tertutup rapat dan hanya mampu tersenyum seram saja.


Lelaki ini bernama Rahman. Dia berusia sekitar dua puluh lima tahun. Baru saja seminggu Rahman ini ditinggal Bapaknya. Dia selama ini hidup bertiga bersama dengan Deni, adiknya.


Si Deni ini umurnya tujuh belas tahun. Dia masih sekolah. Sulit memang membiayai adiknya itu. Bapaknya Pak Eko, adalah seorang pedagang kaki lima.


Tiap sore sampai jam sebelas malam baik Rahman dan Bapaknya akan berkeliling menjual dagangan mereka di kompleks perumahan.


Mereka memiliki dua gerobak sate. Dan akan beroperasi setiap harinya. Mereka hanya akan berhenti berjualan ketika hari Jumat.


Sate mereka dikenal cukup enak bagi warga komplek. Bahkan banyak di antara mereka yang akan rela menghabiskan uangnya demi satu porsi sate ini berkali-kali.


Dagangan mereka ini tidak pernah sekalipun tidak laku. Itu selalu habis tiap mereka pulang. Mujur sekali memang nasib mereka ini.


Tapi, uang itu tidak pernah bisa bertahan lama dalam lingkup kehidupan mereka. Uang mereka memang banyak.


Tetapi selalu habis dan hanya mampu mencukupi kehidupan mereka saja. Bisa dibilang yang itu pas-pasan tapi cukup.

__ADS_1


Setelah kematian Bapaknya. Rahman sering bangun tengah malam. Dia tidak sadar saat itu. Seperti sedang ada yang merasuki tubuhnya.


Minggu pertama setelah kematian Bapaknya. Rahman selalu ditemukan oleh Deni di dalam kamar milik almarhum bapaknya.


Ketika Deni memanggilnya berulang-ulang kali. Rahman hanya berdiri membelakangi dirinya tanpa menyahut panggilan dari Deni adiknya.


Puncaknya dua Minggu setelahnya. Tepat pukul enam pagi. Deni terkejut melihat kakaknya tidak ada di kamarnya. Lalu dia keluar dari dalam rumahnya.


Deni berlari ke arah rumah pak RT. Di sana dia melaporkan perihal apa saja yang terjadi padanya selama seminggu ini bersama kakaknya.


Tanpa pikir panjang. Melihat warganya kesusahan. Beberapa wara mulai dikerahkan. Mereka berbondong-bondong menyusuri kampung. Mencoba menemukan keberadaan Rahman.


Tiga jam sudah mereka mencari. Hingga tibalah tiga orang warga berlari terbirit-birit ke arah Pak RT dan Deni.


Lalu warga itu mengatakan bahwa saat ini. Deni sedang berada tepat di sebuah pemakaman. Dia di sana duduk bersimpuh. Tatapannya kosong mengarah tepat ke arah pohon beringin yang letaknya tepat berada di tengah pemakaman.


Sontak saat itu juga Deni berlari diikuti Pak RT dan warga di belakangnya. Ketika mereka tiba di pemakaman. Rupanya hal itu benar. Rahman ada di sana dan diam terpaku.


"Le, koe Lapo teng mriku Le?" tanya pak RT dari belakang tubuh Rahman.


Mendengar itu. Rahman hanya menoleh. Bola mata itu membulat tapi bibirnya tetap tersenyum. Menyeramkan sekali ekspresinya. Ditambah wajahnya yang pucat saat itu pagi ini membuat bulu kuduk Pak RT berdiri rasanya.


"Hahahahaha..." tawa Rahman, suaranya yang berat seperti bukan suara Rahman. Membuat mereka para warga seketika mundur perlahan tapi tidak pergi.


Mereka hanya diam di sana sambil terus menatap. Ketika Rahman berbalik, dia merangkak pelan ke arah para warga.


Perlahan pelan dan pelan. Lalu gerakannya menjadi cepat mengarah ke arah para warga. Melihat itu mereka yang ketakutan hanya bisa terpaku.


Ketika salah seorang dari mereka maju bak sebuah tameng. Rahman di sana terkejut. Dia berhenti seketika. Kedua tangannya mencakar-cakar tanah. Kemudian teriakan amarahnya menggelegar.


Dia yang berdiri saat ini di hadapan para warga adalah Cak Dika.


"Loh Mas, kapan datang?" tanya Pak Rt pada Cak Dika.


"Nggeh Pak, baru aja datang kok! Udah ribut aja ini ada apa?" tanya Cak Dika sambil menoleh ke arah Pak RT.


Pak RT hanya mampu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Tak lama dari kerumunan warga. Rachel mulai berjalan ke arah Cak Dika. Lalu dia berdiri tepat di samping Cak Dika.

__ADS_1


Aura kehadiran Rachel yang luar biasa. Membuat sosok jahat dalam diri Rahman menghilang. Hingga menyusahkan tubuh Rahman yang terkapar di sana kehilangan kesadarannya.


Melihat itu, segera Pak RT menyuruh warganya untuk membopong Rahman kembali ke rumahnya.


__ADS_2