
"Hah!" pekik Laras dan Aldo ketika Cak Dika dan rombongannya datang tepat di hadapan mereka ketika mereka membuka pintu.
"Astaghfirullah!" balas Cak Dika sambil memegangi dadanya.
Pihak mereka sama-sama kaget satu sama lain. Beruntung sekali mereka tidak memiliki penyakit jantung.
"Ya Allah tak kira siapa kalian tiba-tiba muncul di depanku!" ucap Aldo pada mereka.
"Sama, aku Yo ngira kalian tadi setan!" ucap Cak Dika.
Rara menaikkan salah satu alisnya sambil melirik Cak Dika yang masih kaget di sampingnya. Kemudian kedua matanya menata lekat ke arah dua orang yang sedang berbahagia hari ini.
"Wah cantiknya kamu dengan balutan baju pengantin, Laras!" ujar Rara memuji penampilan Laras yang begitu anggun itu.
Laras tersenyum bahagia mendengar pujian itu. Rachel, Bella dan Marsya dia tidak bisa berkata-kata lagi.
Saudaranya itu memang cantik. Dia sudah melepas kemampuannya. Sekarang balasan untuk itu adalah ini, sebuah pernikahan dengan orang yang Laras cintai.
"Wah selamat Yo, Ras!" ucap Rachel dia kemudian berjalan mendekati Laras lalu memeluknya.
Laras membalas pelukan itu. Berbagai doa Rachel berikan pada Laras. Begitu pun dengan yang lain yang ikut serta mendoakan mereka.
"Nak!" panggil seorang wanita paruh baya bersama dengan seorang pria di sampingnya.
Panggilan itu lantas membuat Laras menaikkan kedua alisnya. Dia kenal betul suara lembut itu berasal dari siapa. Suara itu berasal dari Ibundanya.
"Ya, Ma?" tanya Laras pada Ibundanya.
"Wah, kalian datang cepat nak?" ujar Ibundanya Laras ketika melihat kehadiran keponakannya yang lain.
Cak Dika membungkukkan badannya lalu meraih tangan kanan Ibundanya Laras dan menciumnya. Hal itu membuat yang lain juga mengikutinya.
"Assalamu'alaikum Tante!" ucap Gautama Family bersamaan menyapa Ibundanya Laras.
__ADS_1
"Wa'alaykumussalam nak! Alhamdulillah kalian datang. Ayo mari nikmati acaranya!" ucap Ibundanya Laras.
"Siap te, pasti menikmati kok tenang ae!" ujar Cak Dika sambil mengacungkan kedua jempolnya.
Ibunda Laras terkekeh mendengar apa yang Cak Dika katakan. Lantas dia pun menghampiri putrinya.
"Ayo, semua sudah menunggu!" ucap Ibundanya Laras.
Laras tersenyum mendengar itu lalu mengangguk. Bersama dengan Ibunda juga Ayahnya dan Aldo di sampingnya.
Laras keluar dari dalam rumahnya menuju altar pernikahan. Di sana nampak banyak sekali lautan manusia yang mereka undang untuk datang dan merayakan.
Tidak hanya itu Laras juga menyediakan tempat duduk khusus untuk tamu hantunya. Empat bocah setan keturunan Belanda. Kursi mereka dilapisi kain putih dan wewangian.
Telah duduk mereka di sana menyaksikan penyatuan dua orang insan. Gelanda yang duduk di sana hanya mampu tersenyum. Sungguh beruntung Laras mendapatkan Aldo di sana.
Mereka para setan ini bisa melihat apa yang manusia pikirkan. Kedua insan di sana terlihat sangat bahagia.
Rangkaian acara dijalani tanpa kendala. Hingga ketika momen akan melempar bunga. Saat itu Laras dan Aldo berbalik memunggungi para tamu sambil memegang sebuket bunga di tangan mereka.
"Kenapa mereka lama sekali?" tanya Cak Dika heran melihat kedua saudaranya di sana yang diam belum bergeming.
"Entahlah Cak, aku tidak tau!" jawab Rara di samping Cak Dika.
"Satu.." ucap Aldo dan Laras.
"Dua.."
"Tiga..."
"Huwaaa!!!" teriak para tamu menatap ke arah langit. Namun rupanya Laras dan Aldo tidak melempar itu.
Mereka justru berbalik turun dari panggung pernikahan itu. Mereka sepasang suami istri itu lantas memberikan sebuket bunga itu pada Rachel dan Thariq.
__ADS_1
Rachel dan Thariq yang saat ini berdiri sejajar lantas membulatkan kedua matanya tak percaya. Sedangkan Laras dan Aldo mereka hanya tersenyum menatap mereka.
"Karena Cacak masih single dan cuma kamu yang punya pasangan di sini! Bunga ini untuk kalian. Semoga segera menyusul ya, Rachel dan Thariq!" ucap Laras menjelaskan.
Thariq melirik ke arah Rachel. Begitupun dengan Rachel. Keduanya kemudian tersenyum. Tangan mereka menerima sebuket bunga yang Laras dan Aldo berikan.
"Makasih ya, Aldo dan Laras!" ucap Rachel dan Thariq bersamaan.
Canggung memang. Namun dalam hati mereka sama-sama mengharapkan hal itu. Semoga saja mereka cepat menyusul Aldo dan Laras.
"Kenapa Ndak dikasih di aku?" tanya Cak Dika berprotes pada Laras dan Aldo.
Keduanya kemudian menatap ke arah Cak Dika.
"Kamu sama siapa emang pasanganmu?" tanya Laras padanya.
Cak Dika yang tidak terima mendengar itu pun langsung menggandeng Rara yang berada tepat di sampingnya.
"Dia ini calon istriku!" ucap Cak Dika pada mereka.
Rara sontak memerah wajahnya ketika Cak Dika mengatakan itu di depan orang banyak.
"Hah yang benar?" tanya Marsya tak percaya.
"Iyo, doakan!" jawab Cak Dika mantap.
Mereka tertawa mendengar itu. Cak Dika mengatakan sesuatu yang belum pasti.
"Ya sek on the way! Mangkannya dikasihkan ke mereka yang udah saling ungkapin Cak!" ujar Rahman menenangkan Cak Dika sambil menepuk bahunya.
"Nah Yo iku! Yowes Cacak ojok iri!" ucap Bella dan Marsya bersamaan.
Cak Dika pun membuang kasar nafasnya. Sepertinya dia kalah partai di sini. Cak Dika melepaskan genggaman tangannya pada Rara.
__ADS_1
Kemudian tak sengaja ekor matanya melirik Rara di sampingnya. Di sana Rara terdiam. Dalam tatapan itu Cak Dika paham bahwa Rara sedang malu saat ini karena ulahnya.
Koe Iki bego ancen, Dika!. Ujar Cak Dika dalam hatinya.