
Laras sembari dituntun Aldo mereka berdua kembali masuk ke dalam Mall yang jelas sudah sepi. Hanya ada dua atau tiga satpam yang berlalu lalang.
"Joko!!!" teriak salah seorang bocah dari balik tubuh Laras dan Aldo.
Bocah itu melewati Laras dan Aldo tanpa peduli. Bocah itu adalah Dimas. Yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah Joko. Tidak ada yang lain kecuali Joko adiknya.
Terlihat toko-toko di mall itu sudah tutup. Lantai atas terlihat gelap. Gedung mall ini terdiri dari lima lantai. Dan hanya lantai satu dan dua saja yang masih menyala lampunya.
Yang artinya lantai di atas yang mati lampunya sudah diperiksa oleh satpam. Tinggal lampu-lampu yang menyala yang belum di periksa oleh satpam.
Setibanya Laras semakin masuk di sana. Perlahan aroma bau Danur mulai tercium. Dia mendapatkan gambaran lama perihal gedung besar itu.
Gedung yang berdiri megah di kota Surabaya ini dahulu adalah rumah sakit.
"Uhh.." Laras meringis kecil tatkala gambaran itu semakin jelas menampakkan wujudnya.
"Laras kamu gapapa?" tanya Aldo yang berhenti ketika Laras berhenti tiba-tiba.
Kepalanya semakin sakit. Gambaran itu pula semakin jelas. Korban pertempuran 10 November semuanya dilarikan kemari.
Mereka yang datang bersimbah darah. Bermuka hancur, kaki patah dan apalah itu bentuknya datang kemari demi meminta pertolongan.
Suara manusia memekik, meringis kesakitan terdengar begitu pilu. Rasanya tak kuat bagi Laras melihat itu semua. Namun anehnya ketika dia masuk ke dalam Mall ini bersama Aldo tadi.
Dia memang melihat dahulu bangunan mall ini adalah rumah sakit. Tapi Laras tidak mendapatkan gambaran bahwa dahulu mall ini dipenuhi oleh para korban perang.
Riuh manusia mulai berlalu lalang. Sepatu prajurit terdengar datang bergerombol. Di tengah keramaian yang dia lihat Laras melihat satu sosok menyedihkan.
Jauh di ujung sana terlihat seorang wanita berpakaian suster. Wajahnya sangat kelam. Dia menatap ke arah Laras sekarang.
Mereka saling bertatapan dengan jarak yang cukup jauh. Ketika Laras hendak mendekati sosok itu. Sosok itu semakin mundur.
Namun Laras tidak menyerah. Dia terus berjalan ingin menggapai sosok itu.
"Berhenti!!!" perintah Laras pada sosok itu.
Rasanya dia sudah bosan terus menerus mengikuti sosok itu. Kemudian karena perintah Laras sang Suster itupun berhenti.
"Gautama?" ucap sosok itu pada Laras.
Laras memicingkan matanya. Bagaimana sosok itu bisa mengenali Simbah Gautama?
"Kamu anak cucu dari Gautama? Aku sudah tau bahwa malam ini aku tidak bisa menyantap tumbalku dengan tenang jika ada kau!" ujar sosok itu nada bicaranya geram penuh dengan kekesalan.
Laras mengepalkan tangannya kuat. Kenapa dia harus dihadapkan pada kondisi seperti ini. Dia hanya mampu melihat hantu dalam gambaran lama. Sedangkan secara nyata melalui matanya dia tidak mampu melihat apapun.
__ADS_1
"Jangan ganggu manusia! Bocah kecil itu gak salah! Kenapa kau mau menghabisinya. Kamu tidak ada hal untuk mengambil nyawa manusia!" ujar Laras.
"Hihihihih!" tawa sosok itu kencang melengking hingga membuat Laras menutup kedua telinganya.
"Lihatlah kau begitu lemah! Kau tidak memiliki pendamping di sisimu. Maka aku pasti bisa mengalahkanmu dengan muda!" ujar sosok itu sesumbar.
Sungguh kengerian dalam penglihatan itu semakin kelam. Tadinya yang masih ada penerangan juga manusia yang berlalu lalang dalam penglihatan Laras. Sekejap hilang!
"Laras!" panggil Aldo pada Laras yang masih bersimpuh sambil memejamkan kedua matanya.
Darah segar mengalir deras dari dalam hidungnya. Aldo mencoba memanggil Laras berulang kali. Namun tetap saja Laras tidak menggubris itu.
"Joko!!!" teriak Dimas di lantai dua.
Suara itu membuat Aldo mengalihkan perhatiannya dari Laras. Dia mendongak ke atas mencoba mencari keberadaan dua bocah yang masuk kemari tadi.
Sungguh, Aldo dibuat terperangah ketika melihat Joko berdiri menghadapnya. Di sana, di atas sana Joko dengan pandangan kosongnya kedua bola matanya mengarah ke arahnya.
Joko menatap Laras dan Aldo dari atas sana. Bertepatan dengan itu Dimas berhasil menyusul Joko.
Ketika jarak antara tubuhnya dan Joko hanya tinggal sepuluh langkah. Dimas berhenti dia mencoba mengatur nafasnya yang terengah-engah itu.
"Kamu kenapa?" tanya Dimas di sela-sela mengatur nafas.
Joko diam dan tetap menatap Aldo di sana. Di sana Aldo memperhatikan dengan betul bahwa kedua mata yang kosong itu menyimpan benci padanya.
Grepp
"Hah!" pekik Aldo ketika lengannya di pegang oleh Laras.
"Sayang kamu?" tanya Aldo terkejut ketika melihat Laras sudah membuka kedua matanya.
Laras yang buta itu menatap ke depan. Dengan keadaan hidung yang berdarah itu Laras pun berusaha bangkit. Ketika tubuhnya sudah sempurna berdiri. Laras merogoh saku celananya.
Diambillah jimat cincin turun temurun dari keluarga Gautama lalu dipakainya itu.
"Al... Kamu bawa bocah satu itu turun! Itu, yang tadi ngejar bocah bernama Joko itu! Suruh dia tunjukkan di mana gubuk mereka. Setelah itu, bakar selimut yang ada di gubuk itu!" perintah Laras pada Aldo.
Aldo diam sejenak. Dia melihat ke arah bocah yang dimaksud oleh Laras. Dilema rasanya, jika dia ke atas maka Laras akan sendiri. Tapi perintah Laras menyuruhnya pergi.
"Kamu gimana?" tanya Aldo pada Laras.
Laras menoleh ke arah Aldo yang bertanya.
"Gak ada waktu lagi! Aku gapapa kamu tinggal sendiri! Yang penting mereka!" jawab Laras penuh dengan keyakinan.
__ADS_1
Sungguh itu adalah dilema paling besar bagi Aldo. Tapi dia tidak bisa menolak perintah Laras. Kemudian ketika mereka berdebat wajah Joko yang sejak tadi datar pun berseringai.
"Jok... Ayo pulang.."
"Diam!!!" teriak Joko memotong pembicaraan Dimas untuknya.
Wajah itu menoleh ke arah Dimas dengan penuh amarah. Dengan seringainya dan mata yang membulat penuh membuat Dimas yang dekat dengannya gemetar.
Sekarang Dimas tau bahwa adiknya ini sedang kerasukan. Aldo berlari ke arah ekskalator yang sudah mati mesinnya. Dia naik ke atas ke lantai dua.
Sesuai dengan apa yang Laras katakan dia menjemput Dimas di sana. Seorang satpam yang baru saja turun dari lantai tiga berpas-pasan dengan Aldo yang baru saja naik ke lantai dua. Tubuh mereka bertabrakan hingga membuat keduanya lalu saling bertatapan satu sama lain.
"Ya Allah.. Hati-hati mas!" ucap satpam itu sedangkan Aldo yang ditabrak pun hanya mampu meringis. Kemudian mereka saling bertatapan sebentar.
"Mas, tolong anak itu!" ucap Aldo sambil menunjuk ke arah Dimas.
Sang Satpam menoleh ke arah yang Aldo tunjuk. Di sana satpam itu dibuat merinding seketika. Bukan karena Dimas yang diam bergeming sambil menatap Joko.
Tapi karena Joko yang berjalan kayang perlahan ke arah Dimas.
"Astaghfirullah," ucap satpam itu lalu tanpa basa basi lagi dia dan Aldo pun menghampiri Dimas.
"Lari heh!" ucap satpam itu berteriak pada Dimas.
Dimas yang mendengar itu pun menengok ke samping. Ketika Joko melompat ke arah Dimas beruntung sekali tangan satpam itu lebih cepat menarik Dimas dari sana.
"Sekarang opo?" tanya Satpam itu setelah menggendong Dimas.
Aldo menoleh ke arah Joko yang berbalik ke arah mereka. Ketika Aldo kembali memalingkan pandangannya pada satpam dia berkata,
"Yang penting keluar dulu dari sini ke gubuk adek ini! Ada benda yang harus dibakar di sana!" jelas Aldo.
Joko semakin berseringai ke arah Aldo ketika mendengar apa yang Aldo ucapkan. Joko kembali mencoba mendekati Aldo mencoba menyerangnya lagi.
"Bismillahirrahmanirrahim!" ucap Laras lirih sambil memejamkan mata.
Bacaan basmallah dari bawah itu membuat Joko kesakitan. Niatnya ingin menyerang Aldo gagal. Dia terdiam di sana.
Melihat itu Aldo tentu tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia bersama dengan satpam itu juga Dimas pergi keluar dari dalam gedung itu.
Memang Laras tidak sesakti Cak Dika. Tapi dia adalah bagian dari keluarga Gautama. Dari atas langit-langit mall yang tinggi. Hawa negatif mulai menguar.
Sosok genderuwo berdatangan. Ada lima sosok genderuwo dengan kedua mata merahnya menatap benci ke arah Laras.
Bacaan itu, sungguh membuat mereka benci. Saat ini di lantai paling dasar. Laras duduk bersila seperti orang yoga.
__ADS_1
Kedua mulutnya komat-kamit. Ini adalah ilmu kejawen. Di mana para penghuni mall itu tau. Laras sedang berusaha mengeluarkan Joko yang disesatkan di alam mereka.
"Hihihihih... Sejauh apapun kamu berusaha menggapainya! Kemampuanmu tidak sebanding melawan kami di sini!" ucap sosok suster yang saat ini bersemayam dalam diri Joko.