Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 79: Demit Asuh


__ADS_3

Ketika Rachel masuk ke dalam. Melewati ruang tamu menuju semakin dalam ke arah dapur. Dia merasakan satu kehadiran.


Satu kehadiran kelam yang ada di dalam dapur. Thariq di belakangnya lantas memegang pergelangan tangan Rachel. Itu membuat Rachel menoleh ke arah Thariq.


"Apa?" tanya Rachel padanya.


Thariq menatap Rachel penuh dengan kekhawatiran. Rachel jika sudah berambisi maka dia tidak akan peduli dengan tubuhnya sendiri.


"Kamu loh mau kemana? Wong saudaramu masih di belakang!" ujar Thariq.


Mendengar itu, Rachel menoleh ke arah Cak Dika beserta saudaranya yang lain. Rachel menghela nafas ketika seluruh saudaranya berhenti tepat di depannya.


"Kamu lihat apa dek?" tanya Cak Dika padanya.


Rachel lalu menggeleng menanggapi itu. Dia lalu kembali menatap ke arah dapur. Lampu di dalam masih menyala.


Wajar saja, semalam kontrakan ini ditinggal terburu-buru oleh fajar beserta temannya. Mereka ketakutan, hingga lupa mematikan lampu di sana.


Rachel menunjuk ke arah dapur. Tatapannya fokus pada dapur itu. Seluruh saudaranya lantas mengikuti jari telunjuknya yang mengarah tepat ke arah dapur.


"Apa kalian tidak merasakannya?" tanya Rachel pada mereka.


Lantas Cak Dika dan yang saling tatap. Beragam pertanyaan terbalut di dalam kepala mereka.


"Merasakan apa?" tanya Cak Dika pada Rachel.


"Ada satu kehadiran kelam di dalam dapur itu!" jawab Rachel tanpa mengalihkan netranya dari arah dapur.


Ketika Rachel hendak maju masuk ke dalam dapur itu. Laras di belakangnya jatuh bersimpuh. Seandainya Aldo tidak menangkap tubuhnya. Mungkin lutut gadis itu akan sakit.


"Kamu kenapa Laras?" tanya Aldo khawatir pada kekasihnya itu.


Laras menyipitkan kedua matanya. Seluruh saudaranya juga ikut terkejut. Terlebih lagi Rachel. Mereka diam di sana memperhatikan Laras.


Sembari sedikit meringis menahan sakit dalam kepalanya. Laras berkata pada saudaranya perihal apa yang dia lihat.


"Aku melihat, ada seorang kakek tua yang pernah hidup di sini. Dia ahli ilmu hitam. Dia banyak memakan korban. Duit yang dihasilkan haram. Akibatnya, para warga pun mengusirnya. Akibat dendam itu juga, dukun itu! Menancapkan satu keris di sini! Dan itu berada di depanmu, Rachel! Ruangan itu, adalah sumbernya!" jelas Laras.


Setelah menjelaskan cuplikan singkat perihal apa yang sudah dia lihat dengan kemampuannya. Wajah Laras mulai memucat. Di bergetar, itu membuat Aldo panik tentunya.


Laras mencengkram tangan Aldo yang saat ini masih memapahnya. Ini benar-benar sakit sekali. Panas rasanya. Menembus waktu lampau tidak sebegitu menguras tenaga bisanya. Tapi ini, entah kenapa begitu berbeda untuk Laras.

__ADS_1


"Laras kamu kenapa?" tanya Aldo panik.


"Arghhhh..." lirih Laras menahan sakit yang ada dalam kepalanya. Ketika Rara akan mendekati Laras.


Tubuh yang sudah setengah jatuh itupun kehilangan kesadarannya. Itu membuat, Bella, Marsya, Cak Dika, Rachel dan Thariq terkejut.


Mereka khawatir pada keadaan Laras sekarang. Kemudian Rara bersimpuh. Dia memeriksa denyut Laras. Masih ada, dan itu cukup untuk membuatnya tenang.


"Dia kenapa, Ra?" tanya Aldo panik.


Rara tidak menjawab itu. Dia mengecek lagi suhu dari tubuh Laras. Itu dingin sekali. Bibirnya mulai pucat.


Bisa dibilang, penunggu dari keris yang ditancapkan di kontrakan ini sedang berusaha membawa Laras. Rara lalu berdiri sambil matanya masih menatap memperhatikan Laras yang terpejam.


"Bella dan Marsya! Kalian kasih energi ke Laras, biar gak kebawa!" ujar Rara.


Baik Bella dan Marsya pun mengangguk secara bersamaan. Ketika mereka hendak menyentuh Laras. Melissa menggagalkannya.


"Kenapa?" tanya Marsya dan Bella bersamaan pada Melissa.


Melissa lalu bersimpuh. Dia mengambil alih Laras yang dipapah oleh Aldo. Kepala Laras diletakkan tepat di atas pangkuannya.


"Biar aku yang jaga Laras! Kalian masuk aja kesana! Area hitam itu, harus segera diselesaikan. Jika kalian ingin Laras kembali!" ujar Melissa.


Brakkkkk


Brakkkkk


Pintu mulai terbanting itu membuat Fajar dan keempat temannya di sana terkejut. Mereka sontak beristighfar. Bulu kuduk mereka kembali meremang.


Terkejut rasanya, bagaimana aura demit bisa sekuat ini padahal ini masih pagi. Dan terik matahari masih nampak. Biasanya setan akan takut bukan pada matahari.


Kembali di dalam sana, Cak Dika dan yang lain masih tetap tenang. Sedangkan kameramen mereka mulai ketakutan. Sekalipun sering meliput kejadian aneh bersama dengan mereka. Deni, Rahman dan Mas'ud masih tetap saja akan ketakutan.


Pemilik mata penjelajah ghaib itu mulai fokus ke arah dapur. Sebab ada bunyi barang jatuh di sana. Dan jatuhnya berulang-ulang.


Mereka menatap dan masih menatap. Hingga aura kelam itu perlahan mulai nampak. Kelam, gelap dan sangat-sangat menyeramkan.


Jari jemari panjang berwarna hitam mulai keluar dari sana. Itu merayap perlahan ke tembok. Cak Dika dan yang lain hanya biasa menatapnya.


Tak lama kepalanya mulai menyembul. Menampakkan juntaian rambut sampai ke lantai. Tubuhnya kurus kering namun tinggi.

__ADS_1


Dan tidak ada gigi geraham sama sekali yang dimiliki oleh sosok itu, melainkan seluruh isi mulutnya adalah taring dengan lidah panjang yang menjuntai kebawah.


"Maung!!!" ujar sosok itu setelah menampakkan diri sepenuhnya.


"Mau apa kalian kemari hah? Ini tanahku, kenapa kalian datang kemari? Kalian mau mengusirku?" tanya sosok itu penuh dengan kemurkaannya.


Rachel mengepalkan tangannya. Dia lantas berani menjadi perisai dari saudaranya. Dia menepis tangan Thariq yang menahannya. Lalu maju menghadap tepat lima langkah dari sosok itu.


"Kamu, kenapa kamu bawa Laras hah? Kamu siapa berani nyakitin saudaraku hah?" ujar Rachel murka.


Kehadiran Nyai Ratu di belakang Rachel sama sekali tidak membuat sosok itu takut. Nyai Ratu, juga nampaknya tidak berkata apapun.


"Maaf Nyai, tapi aku tidak bermaksud untuk menyakiti keluargamu! Tapi jika tujuan mereka kemari untuk mengusirku maka aku tidak akan segan menyakiti mereka! Nyai, aku sudah cukup lama di sini! Maka jangan usir aku!" ujarnya.


Nyai Ratu paham atas apa yang dikatakan oleh sosok itu. Benar, apa kata sosok itu. Cucunya tidak berhak mengusir sosok ini dari sini. Tapi pengaruh keris itu harus dihilangkan.


"Aku tidak akan mengusirmu dari sini! Dengan dua syarat, kamu tidak boleh mengganggu penghuni rumah ini. Mereka tidak mengganggumu! Maka jangan pernah mengganggu mereka. Ingat, bangsa kita ini hidup berdampingan dengan mereka. Salinglah menghormati! Lalu, aku akan mengambil keris itu di tanganku! Sebab aura negatifnya kuat sekali. Dan itu mengganggu para manusia yang tinggal di sini! Apakah kau sanggup menerima syaratku itu? Atau, kau mau menjadi tawanan kami?" tanya Sang Nyai Ratu pada sosok itu.


Sosok itu terdiam. Dia lalu memudar perlahan. Sosok itu hilang dari hadapan Rachel. Kemudian Rachel masuk ke dalam dapur itu.


Hanya dirinya saja yang mampu melihat keberadaan keris kelam itu. Itu tertancap di sana. Rachel bersimpuh di depan sebuah gundukan tanah. Dia meletakkan tangannya di atas tanah itu.


Bismillahirrahmanirrahim!. Ucap Rachel lalu mengusap tanah itu.


Tak lama sebuah keris kecil berada dalam genggaman tangannya. Thariq di belakang Rachel sedaritadi memperhatikan itu pun terkejut.


Sejak kapan gadis yang dipujanya itu menjadi sesakti ini?


Rachel lalu berdiri dia berbalik menunjukkan keris kecil itu pada Thariq. Bersamaan dengan dicabutnya keris itu. Laras kembali mampu membuka kedua matanya.


"Cak ini!" ucap Rachel berjalan keluar dari dalam dapur.


Cak Dika menghampiri Rachel lalu memperhatikan keris itu. Benar, auranya kelam sekali. Itu aura dendam.


Pintu depan mulai terbuka. Fajar beserta rombongannya masuk. Dia lalu memperhatikan Cak Dika beserta dengan seluruh saudaranya. Ketika Fajar memperhatikan keris itu, dia pun menyeletuk.


"Keris e Boboiboy iku!" ujar Fajar yang membuat Cak Dika dan Rachel menoleh.


"Keris Petir!" ucap Fajar lagi menirukan gaya Boboiboy. Sebuah kartun animasi dari Malaysia itu.


Cak Dika menggelengkan kepalanya begitupun Rachel.

__ADS_1


"Ya... Yang kaya' gini ini rawan diganggu demit! Demit suka sama yang kaya' gini!" ujar Cak Dika gamblang.


Itu disambut dengan bahak tawa seluruh saudaranya beserta dengan crew dan temannya Fajar.


__ADS_2